Perempuan dan Kesehatan Mental

Perempuan memiliki kerentanan terhadap gangguan mental oleh banyak faktor. KEMENKES RI

Kesehatan mental merupakan modalitas penting dalam hidup selain kesehatan fisik. Keduanya seperti dua sayap burung, jika digunakan keduanya, maka akan mengantarkan burung terbang tinggi. Kesehatan mental bersama kesehatan fisik dapat mengantarkan manusia untuk menuju aktualisasi diri. Akan tetapi, persepsi tentang pentingnya kesehatan mental belum terlalu tinggi jika dibandingkan dengan kesehatan fisik.

Banyak individu yang mudah merasakan dan sadar bahwa ada yang tidak beres pada tubuhnya jika mengalami gangguan pada kesehatan fisik. Akan tetapi, tidak banyak individu yang bersedia menyadari jika terjadi gangguan pada kesehatan mental.

Kesehatan mental dapat didefinisikan sebagai kapasitas individu untuk berinteraksi dengan individu lain dan kelompok lain dengan tujuan menggunakan dan mengembangkan kemampuan kognitif, afektif, dan relasionalnya guna pencapaian tujuan individual maupun kolektif (Rowling, Martin, & Walker, 2002).

Berdasarkan pengertian tersebut, dapat dipahami bahwa kesehatan mental memiliki beberapa poin penting. Pertama, kesehatan mental berkaitan dengan interaksi antara individu dengan individu lain dan kelompok lain. Interaksi merupakan suatu ciri individu memiliki kesehatan mental karena individu membutuhkan berbagai keterampilan dalam berinteraksi, misalkan kemampuan membuka diri, kemampuan menerima orang lain, dan keterampilan interpersonal. Kemampuan dan keterampilan tersebut bisa berkurang ketika individu mengalami gangguan mental, sehingga individu dengan gangguan mental akan cenderung menarik diri.

Kedua, penggunaan dan pengembangan kemampuan kognitif, afektif, dan relasional. Ketiga kemampuan tersebut pada dasarnya dimiliki oleh setiap individu. Persoalannya adalah tidak setiap individu menyadari akan potensi tersebut untuk dikembangkan. Individu yang menyadari potensi tersebut maka akan mendorong dirinya untuk mengembangkannya.

Pengembangan kemampuan tersebut akan membawa individu pada pencapaian aktualisasi diri, keberhasilan, dan kebermaknaan, sehingga individu bisa mencapai kesehatan mental.

Ketiga, kesadaran terhadap adanya tujuan kolektif selain tujuan individual yang harus dicapai dalam kehidupan.

Di sisi lain, kesehatan mental juga dapat diartikan sebagai keadaan yang dinamis dari keseimbangan internal yang memungkinkan individu untuk menggunakan kemampuan mereka selaras dengan nilai-nilai universal masyarakat. Kemampuan tersebut misalkan keterampilan kognitif dan sosial dasar; kemampuan untuk mengenali, mengekspresikan dan memodulasi emosi seseorang, serta berempati dengan orang lain; fleksibilitas dan kemampuan untuk mengatasi peristiwa kehidupan yang merugikan dan berfungsi dalam peran sosial; serta keterampilan menjaga hubungan yang harmonis antara tubuh dan pikiran merupakan komponen penting (Galderisi, Heinz, Kastrup, Beezhold, & Sartorius, 2015).

Ketika individu memiliki permasalahan, maka akan berpotensi mengganggu stabilitas kesehatan mentalnya. Sehingga, individu tersebut rentan terkena gangguan mental. Pada tahun 2020, jumlah pengidap gangguan mental di Indonesia sebanyak 277 ribu kasus. Jumlah ini meningkat jika dibandingkan dengan jumlah gangguan mental di tahun 2019 yang sebanyak 197 ribu kasus.

Terlebih lagi, sepanjang tahun 2020 Indonesia dan negara lain dilanda pandemi Covid-19 yang berdampak ke berbagai aspek kehidupan, salah satunya aspek mental (Susanto, 2020). Adapun dalam skala global, pada tahun 2020, menurut Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, terdapat hampir 1 miliar kasus gangguan mental dan satu orang meninggal setiap 40 detik karena bunuh diri (Idhom, 2020).

Data tersebut menjadi bahan renungan kita bahwa kesehatan mental masih harus terus diupayakan, terlebih lagi masyarakat Indonesia dan dunia dihadapkan pada pola kehidupan yang baru akibat pandemi Covid-19.

Pada dasarnya, setiap komponen masyarakat memiliki peran dalam meningkatkan kesehatan mental. Tak terkecuali perempuan. Terlebih lagi di era digital yang penuh dengan permasalahan kompleks yang berpotensi menyebabkan gangguan mental. Data menunjukkan bahwa perempuan memiliki kerentanan terhadap sebagian dari gangguan mental, misalkan stres, gangguan kecemasan, dan depresi.

Hal ini disebabkan perempuan memiliki sensitivitas perasaan yang tinggi (Wilhelm, 2014). Selain itu, perempuan memiliki kerentanan yang tinggi terhadap gangguan mental karena perempuan sering kali menjadi objek kekerasan dan pelecehan serta objek dari ketidakseimbangan peran antara laki-laki dan perempuan. Kondisi tersebut menyebabkan perempuan rentan mengalami pengalaman traumatik, stres, kecemasan, dan depresi (Riecher-Rössler, 2017).

Banyak faktor yang menyebabkan perempuan memiliki kerentanan terhadap gangguan mental, misalkan sensitivitas perasaan yang tinggi, dinamika perubahan hormon ovarium, dinamika hormon estrogen (Albert, 2015), faktor kehamilan (Franks, Crozier, & Penhale, 2017), dan peran ganda (Maclean, Glynn, & Ansara, 2004; Reddy, Vranda, Ahmed, Nirmala, & Siddaramu, 2010; Verbrugge, 1983).

Di satu sisi, perempuan memang memiliki kerentanan terhadap gangguan mental akibat berbagai faktor tersebut. Akan tetapi, di sisi lain, kerentanan tersebut bisa menjadi “kekuatan” bagi perempuan untuk mengambil peran dalam pencapaian kesehatan mental. Sebagian perempuan memiliki pengalaman terkait berbagai peristiwa yang berpotensi mengganggu stabilitas kondisi mental mereka. Pengalaman tersebut menjadikan perempuan belajar untuk menghadapi berbagai peristiwa tersebut.

Selain itu, bagi perempuan lain yang belum pernah mengalami peristiwa serupa dapat menumbuhkan pengalaman senasib sepenanggungan. Sehingga, kaum perempuan dapat membuat gerakan untuk peduli terhadap kesehatan mental.

Seiring perkembangan zaman, emansipasi juga menyebabkan perempuan dapat berpartisipasi dalam berbagai peran yang setara dengan laki-laki. Kondisi tersebut menjadi peluang bagi kaum perempuan untuk menyuarakan peningkatan kesehatan mental. Misalkan, dalam konteks politik Indonesia, perempuan mendapatkan ruang yang dianggap cukup lebar untuk menyampaikan aspirasinya. Sehingga, perempuan yang menjadi wakil rakyat dapat mendorong anggota legislatif yang lain untuk membuat peraturan terkait kesehatan mental.

Selain itu, perempuan juga dapat mengambil perannya dengan menjadi psikolog. Sensitivitasnya yang tinggi menjadi modalitas berharga bagi kaum perempuan untuk menjadi psikolog sehingga lebih dapat berempati dan membantu masyarakat untuk mencapai kesehatan mental.

Dalam konteks agama, perempuan juga dapat menjadi pemuka agama dan pendakwah. Dalam hal ini, perempuan yang menjadi pemuka agama dan pendakwah dapat melakukan reformasi pemahaman terhadap berbagai teks keagamaan yang dapat disalahartikan menuju ketimpangan peran laki-laki dan perempuan. Reformasi pemahaman tersebut dapat diarahkan pada kesetaraan hak antara perempuan dan laki-laki tanpa harus mengubah ketentuan tertentu yang sudah ditetapkan oleh Tuhan.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa salah satu faktor penyebab perempuan rentan terkena gangguan mental adalah adanya kekerasan dan pelecehan yang dilakukan oleh laki-laki terhadapnya. Salah satu penyebab kekerasan tersebut adalah adanya pemahaman dan sikap yang kurang tepat terkait teks keagamaan. Dengan demikian, ketika kaum perempuan mereformasi pemahaman terkait teks keagamaan terkait peran gender yang berpotensi disalahartikan, maka diharapkan kekerasan dan pelecehan terhadap kaum perempuan dapat dihindari. Pada akhirnya, kerentanan kaum perempuan terhadap gangguan mental juga dapat diminimalisasi.

Dalam konteks masyarakat luas, perempuan juga dapat berperan melalui organisasi kemasyarakatan. Misalkan, melalui organisasi Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK). PKK memiliki sepuluh program pokok. Program ketujuh berupa program kesehatan dan program kesepuluh berupa program perencanaan sehat. Pada program tersebut, kaum perempuan dapat memberdayakan masyarakat untuk menuju kesehatan mental.

Program yang diadakan berorientasi pada peningkatan kesehatan mental masyarakat. Program tersebut juga dapat berupa berbagai bentuk, misalkan psikoedukasi tentang pola pengasuhan dan kesehatan mental, penyuluhan, pelatihan kader kesehatan mental, serta mendirikan pusat konseling dengan bekerjasama dengan tenaga profesional. Ditambah lagi dengan peran kaum perempuan dalam organisasi yang lain. Sehingga, kaum perempuan dapat menjalankan perannya sebagai agen kesehatan mental di berbagai organisasi sekaligus.

Kaum perempuan juga dapat berperan terhadap kesehatan mental dalam wilayah keluarga. Perempuan sebagai ibu memiliki peran vital dalam keluarga. Misalkan, dalam hal pengasuhan dan komunikasi, meskipun peran tersebut juga harus dijalankan oleh laki-laki sebagai ayah. Ibu memiliki kelekatan yang tinggi dengan anak karena ibu membangun hubungan dengan anak sejak bayi (Seibert & Kerns, 2015).

Kelekatan ini terus berlanjut ketika anak menginjak remaja. Kelekatan antara ibu dengan anak selama rentang waktu tersebut dapat digunakan oleh ibu untuk menerapkan pola asuh yang otoritatif, yaitu pola asuh dengan komunikasi yang terbuka, empati, penuh arahan, berorientasi pada kebebasan yang bertanggung jawab, dan penuh penerimaan (Baumrind, 1991).

Pola asuh yang otoritatif dapat berdampak positif terhadap kesehatan mental, misalkan anak menjadi penuh tanggung jawab dan independen (Baumrind, 1966). Sehingga, jika para ibu menerapkan pola asuh tersebut, maka para ibu telah berkontribusi menciptakan generasi penerus yang memiliki kesehatan mental.

Selain itu, kelekatan antara ibu dengan anak juga dapat digunakan oleh ibu untuk mengajarkan tentang kesehatan mental kepada anak-anaknya. Misalkan, mengajarkan tentang empati, sensitif terhadap perubahan perilaku orang lain, serta berinteraksi dengan penuh kehangatan dan penerimaan. Keterampilan-keterampilan tersebut berperan penting bagi tercapainya kesehatan mental.

Pada era digital, kaum perempuan dapat menggunakan berbagai alat digital guna mengkampanyekan kesehatan mental. Kaum perempuan dapat membuat grup di media sosial atau membuat akun di media sosial, kemudian diisi dengan konten-konten (baik visual maupun video) yang berkaitan dengan kesehatan mental. Misalkan, membahas tentang jenis-jenis gangguan mental, ciri-ciri dari beberapa gangguan mental, faktor penyebab dari gangguan mental, dan cara mencapai kesehatan mental.

Di era digital, perempuan yang menjalani peran ganda juga semakin banyak, yaitu menjalani peran sebagai ibu sekaligus pekerja. Dalam konteks ini, kaum perempuan dapat mengasah keterampilannya agar tidak rentan terhadap gangguan mental, namun justru menjadi model atau percontohan sebagai figur yang mampu mengaktualisasikan diri dan mencapai kesehatan mental meski memiliki tanggung jawab di berbagai peran.

Berbagai peran tersebut dapat dijalankan oleh kaum perempuan untuk meningkatkan kesehatan mental masyarakat. Akan tetapi, bukan berarti kaum perempuan harus berjuang sendiri dalam mencapai tujuan mulia tersebut. Peran tersebut hendaknya didukung penuh oleh komponen masyarakat yang lain sehingga terjadi sinergitas yang nyata.

Bahan Bacaan

Albert, P. R. (2015). Why is depression more prevalent in women? Journal of Psychiatry and Neuroscience, 40(4), 219–221. https://doi.org/10.1503/jpn.150205

Baumrind, D. (1966). Effects Of Authoritative Parental Control On Child Behavior. Child Development, 37(4), 887–907. https://doi.org/10.2307/1126611

Baumrind, D. (1991). Parenting Styles and Adolescent Development. In J. Brooks-Gunn, R. Lerner, & A. C. Petersen (Eds.), The Encyclopedia of Adolescent (Vol. 2). New York, USA: Garland.

Franks, W. L. M., Crozier, K. E., & Penhale, B. L. M. (2017). Women’s mental health during pregnancy: A participatory qualitative study. Women and Birth, 30(4), e179–e18. https://doi.org/10.1016/j.wombi.2016.11.007

Galderisi, S., Heinz, A., Kastrup, M., Beezhold, J., & Sartorius, N. (2015). Toward a new definition of mental health. World Psychiatry, 14(2), 231–233. https://doi.org/10.1002/wps.20231

Idhom, A. M. (2020). Hari Kesehatan Mental Dunia 2020: Dampak Pandemi & Hasil Survei WHO. Retrieved from Tirto.id website: https://tirto.id/hari-kesehatan-mental-dunia-2020-dampak-pandemi-hasil-survei-who-f5Ne

Maclean, H., Glynn, K., & Ansara, D. (2004). Multiple Roles and Women’s Mental Health in Canada. BMC Women’s Health, 4(Suppl 1), 1–9. https://doi.org/10.1186/1472-6874-4-S1-S3

Reddy, N. K., Vranda, M. N., Ahmed, A., Nirmala, B. P., & Siddaramu, B. (2010). Work–Life Balance among Married Women Employees. Indian Journal of Psychological Medicine, 32(2), 112–118.

Riecher-Rössler, A. (2017). Sex and gender differences in mental disorders. The Lancet Healthy Longevity, 4(1), 8–9. https://doi.org/10.1016/S2215-0366(16)30348-0

Rowling, L., Martin, G., & Walker, L. (2002). Mental Health Promotion and Young People: Concepts and Practice. Roseville, New South Wales: McGraw-Hill Australia.

Seibert, A., & Kerns, K. (2015). Early mother–child attachment: Longitudinal prediction to the quality of peer relationships in middle childhood. International Journal of Behavioral Development, 39(2), 130–138. https://doi.org/10.1177/0165025414542710

Susanto, D. (2020). Kasus Gangguan Jiwa di Indonesia Meningkat Selama Masa Pandemi. Retrieved from Media Indonesia website: https://mediaindonesia.com/humaniora/352006/kasus-gangguan-jiwa-di-indonesia-meningkat-selama-masa-pandemi#:~:text=KEMENTERIAN Kesehatan (Kemenkes) mencatat selama,kasus kesehatan jiwa di Indonesia.

Verbrugge, L. M. (1983). Multiple Roles and Physical Health of Women and Men. Journal OfHealth and Social Behavior, 24(1), 16–30. https://doi.org/10.2307/2136300

Wilhelm, K. A. (2014). Gender and mental health. Australian & New Zealand Journal of Psychiatry, 48(7), 603 –605. https://doi.org/10.1177/0004867414538678

Add Comment