Perempuan dalam Jebakan Feminisme

Dengan alasan gender dan feminisme, banyak perempuan yang menuntut persamaan. BANK MANDIRI

Tema perempuan akan menjadi sensitif ketika bicara mengenai kewenangan dan kewajiban. Teknologi tidak bisa mengubah jalan cerita mengenai babak drama perempuan dalam keseharian. Sejarah, sampai hari ini tidak pernah terlihat menemukan titik temu yang tepat, dan tentu mustahil menemui persamaan, apalagi bicara jenis kelamin.

Pada cerita kehidupan manusia dikatakan bahwa perempuan pada awalnya diciptakan dari tulang rusuk Adam, yaitu laki-laki. Hal ini banyak diterjemahkan bahwa perempuan ini lemah karena diciptakan dari bagian tubuh laki-laki, sehingga secara nalar tentunya tidak kuat sebagaimana tubuh yang utuh. Atau justru sebagai kelemahan?

Namun, apakah ada yang berpikir bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk itu karena agar bisa dilindungi, agar bisa selalu di samping, bukan di belakang maupun di depan. Seperti fakta letak tulang rusuk tersebut berada.

Ibarat sebuah organisasi yang baik, ia akan memiliki struktur dan sistem. Salah satu sistem tersebut adalah pembagian tugas atau job description. Tuhan paham mengenai job load atau beban kerja setiap makhluk yang Dia ciptakan. Pengaturan Tuhan itu adil, jika Tuhan tidak adil maka Tuhan akan memiliki sifat bukan maha Adil.

Dalam sebuah organisasi tidak ada rangkap pekerjaan, semua diatur sebagaimana kompetensi dan potensi yang dimiliki oleh masing-masing penghuni organisasi tersebut. Tentu, seorang manager akan mendapatkan beban kerja yang lebih tinggi, gaji yang lebih tinggi dan kompetensi yang lebih baik pula.

Pekerjaan menejer tentu tidak sama dengan staf, bahkan dengan supervisor sekalipun. Sesama menejer pun, jika sudah lintas departemen, job desc dan wewenang juga akan berbeda.

Perumpamaan organisasi tersebut adalah sebuah keluarga, tentu kewajiban sesama anggota keluarga tidaklah sama. Suami tentu memiliki peran sendiri, begitupun dengan istri sebagai perempuan. Sebagai anak juga memiliki kewajiban tertentu terhadap orang tua, sama seperti orang tua yang memiliki tanggung jawab terhadap anak.

Semua sudah diatur dalam job desc yang disusun Tuhan. Bahkan kompetensi itupun sudah given dari Tuhan. Seperti contohnya fisik laki-laki lebih besari dari perempuan, itu karena laki-laki memiliki tugas untuk melindungi, mencari nafkah dan mengayomi.

Susunan otak laki-laki juga berbeda dengan perempuan, sehingga laki-laki lebih bisa berpikir logis dalam menyelesaikan masalah. Hal ini dibutuhkan laki-laki karena dia sebagai suami dan bapak yang membutuhkan kemampuan tersebut untuk menjauhkan keluarganya dari gangguan atau masalah-masalah.

Namun, dengan alasan gender dan feminisme, banyak perempuan menuntut persamaan. Tuhan sudah memberikan tempat sesuai susunan fisik dan emosi dari masing-masing jenis kelamin. Ibarat mobil, susunan mesin sudah diatur sedemikian rupa agar berjalan lancar.

Kesetaraan Tidak Berarti Ambil Peran

Jika penulis memaknai pesan dari Raden Ajeng Kartini adalah bahwa beliau menginginkan perempuan diberikan kesempatan untuk sekolah maupun beraktivitas sosial lainnya. Bukan kesetaraan dalam mengambil peran. Namun, maksud Raden Ajeng Kartini ternyata banyak disalah artikan.

Gebrakan yang dilakukan seorang bangsawan seperti RA Kartini tidak hanya berhenti pada keinginannya untuk memiliki hak pendidikan, namun juga kesempatan untuk bekerja sama dan berjuang dalam memajukan rakyat atau bangsa, yaitu kebermanfaatan. Sebagai perempuan, dalam waktu yang sama, beliau juga menghargai budaya yang berlaku saat itu, salah satunya yaitu perjodohan.

Gender menurut Kamus Bahasa Indonesia (KBBI V) merupakan perbedaan konstruksi sosial antara laki-laki dan perempuan, sedangkan jenis kelamin adalah pembedaan biologis saja. Sangat jelas bahwa inti gender adalah perbedaan. Kampanye persamaan hak yang diserukan setiap April ini seperti tidak berkorelasi dengan gender itu sendiri.

Misalnya, dimana seorang perempuan yang bekerja meninggalkan keluarga merupakan sosok Kartini masa kini. Tolak ukurnya adalah pengorbanan meninggalkan keluarga, atau kerelaan melepaskan peran perempuan itu sendiri untuk alasan berkarir atau berkarya. Dan sadisnya, hal tersebut disebut sebagai pahlawan, selayaknya Kartini. Sebagaimana seharusnya perempuan ditempatkan sebagai tiang negara.

Sebagai sebuah tiang, ia harus kokoh dalam menahan bangunan. Bangunan tersebut adalah keluarga. Bagaimana mungkin bangunan tersebut kuat ketika tiang ingin merebut peran sebagai atap atau pondasi. Ketika seorang perempuan memiliki kelebihan dalam kemampuan yang sangat dibutuhkan, maka boleh jadi ia mengambil peran yang lain.

Namun, tidak melupakan fungsi utama, yaitu menjadi tiang agar bangunan itu tetap berdiri, agar negara tetap kokoh karena memiliki generasi penerus yang berkualitas, karena menempatkan perempuan sebagai kunci pendidik penerus bangsa.

Isu feminisme akan ramai diperbincangkan setiap 21 April. Bahkan, jika ada kesempatan untuk melakukan orasi, maka akan banyak perempuan turun berjajar-jajar di jalan berteriak menuntut persamaan hak dengan laki-laki. Mungkinkah perempuan akan menuntut persamaan hak sebagai pencari nafkah, bukan dinafkahi.

Ingin sebagai pelindung, bukan ingin dilindungi. Apakah mereka juga akan mengganti tulang rusuk mereka dengan tulang punggung? Pada peristiwa tertentu, perempuan bisa menggantikan peran laki-laki, itupun karena kondisi maupun kemampuan atau kompetensi perempuan tersebut di butuhkan. Jadi peran tersebut bukan karena mereka perempuan, namun karena kompetensi atau kebermanfaatan.

Begitupun dengan perempuan single parents, entah karena perceraian atau kematian. Atau juga karena suami membutuhkan bantuan dalam mencari nafkah. Maka karena alasan kondisi itulah perempuan terpaksa harus mengambil peran laki-laki. Dan bukan berarti mengambil alih paksa dari laki-laki itu sendiri.

Menggaungkan feminisme memang bisa menjadi isu yang menarik di tengah carut marut sistem politik di dunia ini, terutama negara-negara yang sangat patriarkis. Nilai agama dan budaya seakan akan menjadi kambing hitam dengan isu diskriminasi. Tatanan agama yang sebenarnya meletakkan perempuan pada kemuliaan justru digambarkan sebagai ketidakadilan karena memiliki tanggung jawab yang berbeda dengan laki-laki.

Bahkan pada budaya tertentu, pemaknaan perbedaan peran tersebut justru kebablasan dalam mengartikannya. Sehingga muncul bahwa perempuan itu konco wingking dan lain-lain, walaupun yang sebenarnya tidak ada nilai agama manapun yang menempatkan perempuan pada posisi dibawah atau perempuan sebagai subyek yang melayani.

Dalam agama keduanya justru saling melayani. Perempuan dimuliakan, dan laki-laki dihormati. Kata “saling’ bermakna take and give, bekerja sama dan berperan seimbang antar keduanya. Peran yang berbeda namun dilakukan bersama-sama. Bukan bersama-sama melakukan pekerjaan yang sama.

Saat ini tugas kita mengembalikan semangat Kartini, yaitu menginginkan perempuan menjadi manusia terdidik. Menjadi perempuan maju tidak harus memiliki karir atau pekerjaan. Namun menjadi perempuan terdidik itu harus diperjuangkan.

Pendidikan akan membawa pada kemajuan, entah dengan peran apapun. Seperti yang diidealkan Kartini, perempuan bekerja, maupun perempuan dengan jabatan tinggi adalah semata-mata karena kesempatan, peluang dan kompetensi serta kebutuhan saja, bukan karena menginginkan persamaan hak, apalagi alasan demi feminisme.

 

Add Comment