Tinjauan Kritis Beban Perempuan dengan Anak Penyandang Disabilitas

Ibu selalu ada untuk anak disabilitasnya belajar. KEMENSOS

Setelah uforia kegembiraan atas tanda garis merah dua pada testpack usai, calon orang tua harus segera bergegas menyadari bahwa menjadi orang tua memanglah tidak mudah. Perlu persiapan fisik mental juga ilmu agar bisa mendampingi tumbuh kembang anak dengan baik. Terlebih jika ternyata diagnosa menyatakan anak yang dilahirkan memiliki kebutuhan khusus.

Ya, anak berkebutuhan khusus (ABK) adalah adalah anak yang terlahir menyandang disabilitas (ketidakmampuan) tertentu yang ada pada dirinya. Ia memerlukan perlakuaan khusus, beda dengan anak-anak yang lain. ABK terdiri dari dua kelompok, ABK mental dan ABK fisik. ABK mental meliputi; down syndrome, cerebralpalsy, hiperaktif, keterlambatan bicara, keterlambatan belajar. Sementara ABK fisik meliputi; tuna rungu, cacat kaki, cacat tangan, CTEV, dll

Anak-anak penyandang disabilitas ini membutuhkan bantuan bahkan ada yang hingga sepanjang usianya. Ia tidak dapat 100 % mandiri seperti anak-anak normal lainnya. Ketergantungan ABK terhadap orang tuanya inilah yang kemudian menimbulkan kesenjangan peran anatara laki-laki dan perempuan. Faktanya, pengurusan ABK lebih dibebankan kepada seorang perempuan dalam hal ini, ibu. Beban gender lebih mengarah pada beban mental, meskipun secara fisik perempuan juga luar biasa mengalami kelelahan. Belum lagi tekanan dari lingkungan keluarga yang biasanya cenderung menyalahkan perempuan bahwasanya ada proses yang salah, kesalahan yang dibuat oleh seorang perempuan sehingga melahirkan anak dengan ketidak normalan.

Berkembangnya mitos tentang kecerobohan seorang perempuan juga semakin menambah beban mental psikologis bagi perempuan itu sendiri. Coba telisik kembali kasus seorang ibu yang tega membunuh anak bayinya karena mengalami baby blues. Betapa publik hanya melihat persoalan secara serampangan dan subyektif bahwa perempuan sebagai sosok yang lemah dan bodoh tak mampu mengasuh bayinya. Hingga kefatalan itu terjadipun publik masih ngoceh bahwa betapa perempuan adalah sosok yang sensitif dan mudah marah hingga tega menghabisi nyawa bayinya demi terhindar dari tangisannya yang memekakkan telinga. Bukan hanya sang ibu yang menghabisi nyawa sang bayi, tetapi mulut-mulut tak teredukasilah yang telah merenggut semangat dan optimisme seorang perempuan yang baru saja melahirkan hingga ia putus asa dan melakukan tindakan pembunuhan.

Perempuan dalam kerentanan fisiknya sangat sensitif atas isu mitos dan ketabuan. Mulai dari masa kehamilan yang sarat dengan bayang-bayang ancaman kegagalan karena tidak melakukan ritual tertentu hingga mitos-mitos seputar melahirkan dan merawat anak yang bertentangan dengan ilmu pengetahuan dan justru mitos itu merugikan bahkan membahayakan sang ibu sendiri. Perempuan yang memiliki anak berkebutuhan khusus lebih memiliki tantangan lebih lagi dalam bersosialisasi, baik itu tantangan intrinsik maupun ekstrinsik. Tantangan intrinsik merupakan tekanan mental meliputi kecemasan diri tentang kelangsungan hidupan dan kelangsungan sosial anaknya kelak di kemudian hari, masalah komunikasi dengan anak disabilitas (sebagian anak dengan disabilitas mengalami kendala komunikasi), rasa malu memiliki anak tidak normal, hingga masalah keuangan (biaya terapi anka dengan disabilitas itu relatif tinggi dan membutuhkan konsistensi). Tantangan ekstrinsik berupa celaan masyarakat baik itu berkaitan dengan kondisi fisik dan mental anak maupun yang berkaitan dengan anggapan dan tuduhan mitos terhadap kesalahan atau kecerobohan yang dilakukan sang ibu hingga melahirkan anak dengan ketidakmampuan tertentu.

Perempuan dan Social Awarreness

Kesadaran sosial dapat digambarkan sebagai kondisi dimana individu memiliki kemampuan lebih dalam berempati, sehingga individu tersebut kemudian mampu mengangkap sinyal-sinyal sosial yang tersirat, yang mengisyaratkan sesuatu yang dibutuhkan orang lain. Dengan kesadaran sosial individu lebih mampu menerima sudut pandang orang lain, peka terhadap apa yang sedang dirasakan orang lain dan lebih mampu untuk mendengarkan serta menerima pendapat orang lain.

Kesadaran sosial dapat pula menumbuhkan suatu ketertiban di masyarakat serta menjadikan kehidupan menjadi lebih harmonis dan selaras, dengan berdasarkan pada nilai sosial dan norma sebagai pedoman di masyarakat.

Perempuan dalam lingkungan sosial yang memiliki kepekaan dan kesadaran sosial yang tinggi akan menemukan kepercayaan dirinya sebagaimana perannya. Dalam lingkungan sosial yang mendukung perempuan akan mampu bersosialisasi sempurna hingga produktif dalam karya. Perempuan dengan anak penyandang disabilitas pun akan mendapat tempat yang tepat dan ruang yang bisa mengakomodir kepentingan sosialnya. Kesadaran sosial berkaitan erat dengan kondisi pendidikan masyarakat tersebut.

Menurut Goleman, Kesadaran Sosial adalah kemampuan seseorang untuk mengenali orang lain atau kesadaran yang menumbuhkan suatu kepedulian, yang kemudian dapat menunjukkan kemampuan empati seseorang terhadap seseorang lainnya yang berada di sekitarnya.

Empati adalah pemakluman dan motivasi intrinsik seseorang untuk memahami orang lain. Ini ditunjang dengan kadar keilmuan atau pendidikan entitas masyarakat itu sendiri. Disabilitas adalah ketidak mampuan baik bawaan ataupun bukan. Disabilitas ini terjadi atas sebab-sebab ilmiah yang sangat dibenarkan secara ilmu. Terlebih vonis disabilitas bawaan (congenital) tegak oleh diagnose dokter bukan karena mitos-mitos yang terjadi dalam masyarakat. Dalam lingkungan masyarakat progresif dan berkemajuan menumbuhkan rasa kesadaran sosial sangatlah mudah, berbeda dengan masyarakat yang berpemikiran konvensional dan masih percaya pada hal-hal tahayul.

Banyaknya studi tentang beban ganda perempuan, beban mental seorang ibu dengan anak penyandang disabilitas ini juga memperpanjang deret beban ganda perempuan. Selain menjalani beratnya kehamilan, resiko melahirkan, juga masih menanggung banyak tuduhan tidak ilmiah atas vonis disabilitas yang disandang buah hatinya. Di sinilah peran laki-laki (pasangan) agar menjadi bijak dalam menjalankan fungsinya sebagai mitra dan juga pengayom keluarga. Pasangan suami istri yang dikaruniai anak dengan kebutuhan khusus haruslah siap menjadi tempat bergantung si anak. Bisa jadi seumur hidup, tergantung jenis disabilitas dan daya juang serta daya dukung keluarga tersebut.

Add Comment