Merekonstruksi Makna Perempuan

Pengakuan sepihak tentang superioritas kaum laki-laki yang mengaburkan kemuliaan dan kehormatan kaum wanita. RUMAH SAKIT ISLAM KLATEN

Kata perempuan berasal dari suku dasar empu, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata empu memiliki arti gelar kehormatan yang berarti tuan atau orang yang sangat ahli.

Kata dasar ini mendapatkan imbuhan per- dan akhiran -an, dengan membayangkan objek yang disebut dengan kata ‘perempuan’ maka kita akan mendapatkan pemahaman bahwa apa yang disebut dengan istilah ‘perempuan’ adalah sosok yang terhormat, sosok yang mulia, sehingga layak untuk disebut sebagai ‘tuan’.

Istilah tersebut juga mengungkapkan kapasitas dan kualitas karena dapat memiliki arti orang yang mahir, ahli, atau memiliki kemampuan lebih yang diakui eksistensinya.

Apa dan siapakah yang disebut dengan istilah perempuan itu? Mendapatkan pertanyaan tersebut dalam otak kita pastilah langsung memberikan jawaban tentang apa dan siapa yang disebut dengan istilah perempuan, tak lain dan tak bukan adalah kaum wanita.

Dari istilah ini tentunya dapat dijadikan sebagai fungsi penuntun bagaimana kaum perempuan menyadari akan eksistensi kemuliaannya, kehormatannya, sekaligus makhluk Allah yang diberi kemampuan lebih.

Akan tetapi, nampaknya sejarah kurang berpihak kepada kaum perempuan, karena stigma negatif, pengakuan sepihak tentang superioritas kaum laki-laki yang mengaburkan kemuliaan dan kehormatan kaum wanita, ibarat pepatah ‘akibat setitik nila, rusak susu sebelanga’.

Ditunjang oleh budaya yang seolah secara sistematis menempatkan kaum perempuan dibawah genggaman hegemoni kaum laki-laki. Suatu contoh dalam budaya Jawa tempo dulu menyebut seorang istri dengan istilah konco wingking, atau kata wanita yang diartikan wani ditata.

Biarpun di sisi lain, budaya Jawa telah memproteksi kehormatan kaum wanita, ini bisa kita temukan ketika mengurai falsafah Jawa ajining diri gumantung ing busana. Sedemikian rapatnya cara berbusana kaum perempuan jawa, memakai kain kebaya yang menutup penuh buah dada sekaligus tangan secara keseluruhan, memakai jarik yang menutup aurat sampai mata kaki, tentu tidak akan ada istilah jahit mini sebagaimana rok mini di zaman ini.

Bahkan, untuk memproteksi ‘keamanan’, kaum perempuan Jawa masih memakai kain stagen yang cukup panjang, terlebih saat kecil seorang wanita Jawa dilarang duduk di depan pintu dengan alasan ora ilok atau tidak elok, tidak baik, karena bisa ‘dimangsa’ Bathara Kala.

Akan tetapi dalam realitanya tetap saja kedudukan perempuan menjadi kasta kedua, bahkan dipojokkan dalam peran kehidupan yang antagonis serta menjadi kambing hitam terhadap persoalan persoalan moralitas.

Sebagai contoh, banyaknya laki-laki priyayi yang memiliki selir-selir, juragan-juragan yang memelihara gundik, bahkan dalam hukum warisan orang jawa dikenal istilah sak gendong sak pikul.

Pada era globalisasi ini fakta sosial hampir sama, modernisasi zaman berjalan seiring dengan modernisasi pergaulan, modernisasi perseliran, modernisasi pergundikan yang sesungguhnya hanya sekian persen dari totalitas keberadaan kaum perempuan.

Akan tetapi setitik nila ini telah di-gebyah uyah untuk memberikan stigma negatif terhadap kaum perempuan.

Rasanya hati ini geram dan ingin memberontak ketika kemuliaan dan kehormatan kaum perempuan yang tak lain dan tak bukan adalah kaum ibu. Kaum yang telah berjuang bertaruh nyawa mengandung sembilan bulan sepuluh hari, pahlawan sesungguhnya dalam perang sabil, yang dengan kemampuannya menjadi kawan hidup kaum laki-laki bahkan menjadi guru pertama sekaligus guru terbaik bagi anak turun kita, posisinya ternistakan!

Penulis merasa gusar dan membuka KBBI untuk menambah pengetahuan tentang makna perempuan, alangkah terkejutnya ketika makna perempuan adalah orang (manusia yang memiliki puki, dapat menstruasi, hamil, melahirkan anak, dan menyusui), istri atau bini, atau betina.

Apakah makna puki? Dalam KBBI juga puki berarti alat kelamin perempuan, rasa-rasanya pengertian ini kurang mampu menguatkan gerakan kesetaraan gender, terkesan sangat sederhana, dan memperkuat stigma negatif yang sudah selayaknya untuk dilakukan revisi.

Peribahasa ‘buruk muka janganlah cermin dibelah’ sudah saatnya dikonstruksi, di tengah genderang emansipasi wanita dan perjuangan kesetaraan gender. Kaum wanita perlu melakukan koreksi total keberadaannya baik dari sisi istilah maupun fakta sosial guna mengikis stigma negatif serta penempatan budaya yang mendiskreditkan eksistensi kaum perempuan. Sudah waktunya kiranya perempuan menggugat ‘perempuan’ atau bahkan sebuah revolusi kebudayaan.