Merangkul Remaja Desa Ngargoyoso untuk Merajut Motif Batik Solo

Monitoring pelatihan bersama Tim PKM-PM, dosen pembimbing, dan pihak karang taruna Ngargoyoso. DOKUMENTASI PRIBADI

Sektor ekonomi merupakan salah satu sektor yang sangat terpengaruh dengan adanya pandemi ini, penurunan tingkat pendapatan hingga meningkatkan angka pengangguran membuat pemerintah bersusah payah mencari jalan supaya pandemi segera berakhir. Kebijakan-kebijakan diterapkan sebagai upaya pencegahan penularan virus Covid-19, di antaranya adalah social distancing dan pembatasan sosial berskala besar.

Dari kebijakan-kebijakan yang telah diterapkan oleh pemerintah, mayoritas memberikan dampak terhadap sosial, ekonomi, maupun tingkat pengangguran. Berbagai riset menunjukkan bahwa pandemi memberikan dampak yang sangat besar bagi sektor ekonomi, terutama pada wilayah domestik.

Kabupaten Karanganyar adalah salah satu wilayah terdampak pandemi Covid-19, di mana pada pertengahan tahun 2020 ekonomi kabupaten tersebut mengalami penurunan sebesar 5,83 persen (Diskominfo Kabupaten Karanganyar, 2020). Dengan menurunnya keadaan ekonomi Kabupaten Karanganyar tersebut menyebabkan beberapa desa di daerahnya turut terpengaruh, salah satunya adalah Desa Ngargoyoso yang berada di Kecamatan Ngargoyoso.

Ngargoyoso merupakan desa yang memiliki sektor unggulan yang notabene sebagai pekerjaan mayoritas di sana, yaitu pertanian. Sektor pertanian di Ngargoyoso menjadi penghasil sayuran tertinggi setelah Tawangmangu, yang setiap tahunnya menghasilkan sayuran seperti cabai, sawi, dan wortel.

Saat pandemi harga sayur-sayuran menurun drastis hingga 65 persen. Warga Ngargoyoso, Siti Sutarmi, mengatakan harga mentimun dari Rp3.000 turun menjadi Rp800. Sayur-sayuran lain seperti sawi yang sebelum pandemi mencapai harga Rp2.500 per kilogram, kini hanya berkisar Rp1.000 per kilogram.

Menurunnya angka perekonomian dan pendapatan masyarakat di saat pandemi dapat memengaruhi beberapa bidang lainnya seperti pendidikan anak. Menurut catatan pemerintah Desa Ngargoyoso tahun 2020, terdapat 437 usia produktif dengan rentan usia 18-26 tahun dan diatasnya

Sebagian besar jumlah tersebut adalah remaja lulusan SMA/SMK yang tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Menurut penduduk desa, remaja di Ngargoyoso susah untuk mendapatkan pekerjaan karena masa pandemi. Sebagian besar pemuda Ngargoyoso sangat tidak tertarik untuk menggeluti sektor pertanian, sehingga untuk memberdayakan pemuda serta memanfaatkan waktu luang dengan positif maka dibutuhkan inovasi yang dapat meningkatkan kreativitas dalam menciptakan suatu produk.

Selain itu inovasi yang ditawarkan dapat dilakukan secara fleksibel baik waktu maupun lokasi, sehingga tidak terjadi kebosanan dalam melewati masa pandemi ini.

Berangkat dari persoalan itu, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta membentuk tim PKM-Pengabdian Masyarakat beranggotakan Dicki Heru Saputra sebagai ketua, Indriyanti Feronika, Alfina Damayanti, Sonya Agustina Dewi Rahayu, dan Shafira Allayda Hernany Eddy. Tim PKM-PM ini memberikan inovasi pelatihan merajut motif batik solo sebagai solusi pengangguran lulusan SMA/SMK di Desa Ngargoyoso.

Pelatihan merajut motif batik Solo ini dilakukan untuk memberdayakan remaja karang taruna Desa Ngargoyoso, kegiatan merajut dapat dijadikan sebagai hobi yang memiliki nilai kebermanfaatan yang bernilai jual serta memberikan peluang bisnis. Merajut juga dapat dilakukan secara fleksibel, dengan alat dan bahan utama yang mudah dibawa ke mana-mana, yaitu benang rajut, jarum rajut atau hakpen, jarum tumpul, dan gunting.

Merajut dapat dijadikan solusi untuk pengetahuan kreativitas yang memiliki daya jual, peluang bisnis dan dapat mengurangi kebosanan remaja di masa pandemi karena setiap mobilitas maupun kegiatan di tempat umum dibatasi.

Kegiatan merajut di Desa Ngargoyoso ini sudah berjalan sejak 2 Agustus 2021 dan terdapat pelatihan secara tatap muka sebanyak lima kali, di mana untuk setiap pertemuan peserta pelatihan diajarkan setiap teknik dan pola dasar dalam merajut.

Selain itu tim PKM-PM juga melakukan pelatihan online dengan memberikan materi secara teori mengenai apa itu merajut, tujuan dan manfaat merajut, alat dan bahan yang harus disiapkan, dan nilai keberlanjutan atau prospek adanya pelatihan tersebut.

Alat dan bahan peserta pelatihan telah disiapkan satu paket yang berisi dua benang rajut, tiga hakpen dengan ukuran berbeda, jarum tumpul, gunting, manik-manik, dan lem tembak. Jika dari peserta sudah memiliki progres yang baik maka dari tim PKM akan melakukan monitoring setiap pekannya untuk penyediaan bahan habis pakai yang diminta oleh peserta melalui grup WhatsApp.

Beberapa hasil jadi produk merajut motif batik Solo. DOKUMENTASI PRIBADI

Sejauh ini pelatihan merajut motif batik Solo sudah memiliki progres yang sangat baik, dari sekitar 23 peserta yang semuanya merupakan anggota karang taruna putri sudah mampu membuat suatu hasil jadi rajutan seperti strap (kalung) masker, tas selempang, dompet, dan tas pouch HP.

Dari beberapa peserta pelatihan yang juga memiliki inisiatif untuk mencoba mempromosikan pada story WhatsApp dan sudah ada beberapa produk yang terjual. Menurut keterangan mitra atau kader dari pelatihan terdapat 11 produk rajutan yang terjual yaitu strap-strap masker motif bunga (panjang) sebanyak dua, strap masker motif bunga (pendek) sebanyak lima, tas pouch hp sebanyak dua, dan tas slempang motif batik dua buah.

Add Comment