Menyudahi Warisan Luka

Kesetaraan gender merupakan suatu masalah yang melibatkan banyak elemen. JATENGPROV.GO.ID

Naif rasanya jika beranggapan bahwa budaya patriarki sudah lenyap dari negeri ini. Meskipun pemikiran serta peradaban perempuan telah jauh mengalami perkembangan, meskipun pengarusutamaan gender sudah lama digaungkan, ternyata tak serta merta membuat patriarki hilang.

Mayoritas masyarakat Indonesia yang masih memegang erat budaya ketimuran, di mana memosisikan perempuan sebagai subordinat laki-laki. Hal tersebut menjadi salah satu alasan kenapa praktik patriarki langgeng terjadi.


Dari dulu hingga saat ini perempuan selalu dilekatkan dengan pekerjaan domestik. Dalam falsafah Jawa perempuan dikaitkan pada tiga unsur yakni sumur, kasur, dan dapur. Sebenarnya falsafah ini dimaksudkan agar perempuan selalu ingat pada khidmahnya.

Sederhananya, perempuan boleh mempunyai kegiatan di luar konteks sebagai istri, namun perempuan jangan sampai lupa pada khidmah utamanya sebagai seorang istri. Tetapi dalam kenyataan tidaklah demikian.

Tiga unsur tersebuat semakin menguatkan konotasi perempuan sebagai pekerja domestik (home worker), sehingga perempuan dinilai tidak dapat berkontribusi di luar ranah tersebut. Ditambah dengan stigma usang yang mengatakan bahwa perempuan adalah makhluk yang terlalu menggunakan perasaan akan membuatnya kesulitan dalam mengambil keputusan dan kebijakan.

Perkembangan zaman khususnya kemajuan teknologi yang melaju sangat pesat telah mempengaruhi berbagai aspek kehidupan, baik pendidikan, ekonomi, sosial, serta politik. Akan tetapi peran serta perempuan masih sangat minim. Bahkan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat hanya ada 30 persen pekerja perempuan yang bergelut di bidang industri sains, teknologi, teknik, dan matematik.

Tak terkecuali di bidang politik pun, peran dan kiprah perempuan juga dibatasi dengan kuota 30 persen. Seharusnya di era industri 4.0 perempuan memiliki kesempatan yang sama besarnya dengan laki-laki untuk mengaktualisasi diri. Akan tetapi praktik budaya sekali lagi menjadi penghalang serta membatasi laju perempuan dalam pengembangan diri.

Dari segi pendidikan saja misalnya, perempuan dengan gelar sarjana dianggap sebagai hal yang sia-sia karena nantinya hanya akan menjadi ibu rumah tangga. Kata orang Jawa “nggo opo sekolah dhuwur-dhuwur, akhire mung ngurusi dapur”.

Pemikiran pragmatis semacam ini harus segera ditanggalkan. Pasalnya banyak perempuan yang terdistraksi hingga berujung mengesampingkan pendidikannya dan hanya fokus menjalani kodratnya sebagai seorang istri. Sekilas memang ada benarnya, tetapi jika di telisik lebih jauh lagi ini merupakan satu kesalahan yang akan berdampak besar bagi keturunanannya kelak.

Ibu merupakan madrasah pertama bagi anaknya, oleh sebab itu seorang ibu harus dibekali dengan ilmu pengetahuan yang luas, baik akademis maupun non akademis agar anak (khususnya perempuan) memiliki pemahaman intelektual secara fundamental sehingga tidak hanya bisa hidup mandiri namun juga berakal budi.

Perempuan dan Dunia Digital

Digital dengan kecanggihan serta kemudahan yang ditawarkan harus benar-benar dimaksimalkan oleh perempuan. Banyak sekali manfaat yang bisa dipetik dari masifnya perkembangan digital. Dalam aspek pekerjaan atau karir, digital bisa menjadi sumber untuk mendulang pundi-pundi.

Sekarang kita bisa lihat banyak sekali profesi-profesi baru bermunculan. Dalam 10 atau 15 tahun lalu, siapa yang mengira akan ada profesi youtuber, bloger, vlogger, konten kreator, selebgram, dan lain sebaginya. Itu hanya yang familier dan sedang hype saja, sementara masih banyak peluang usaha serta pekerjaan baru yang bisa lahir di era digital dan sangat memungkinan untuk perempuan kerjakan.

Tentu karena rata-rata pekerjaan digital tidak begitu mengruas fisik serta lebih fleksibel dalam segi waktu maupun tempat. Tetapi hal ini bukan tanpa tantangan, peran ganda yang dimiliki perempuan bisa menjadi pisau bermata dua, di satu sisi perempuan tidak bisa jika hanya mengandalkan penghasilan dari suami. Seiring bertumbuh serta bertambahnya anak, akan semakin besar pula biaya yang harus dikeluarkan.

Di sisi lain perempuan memiliki tanggung jawab terhadap tugas-tugas domestik yang tidak bisa dikesampingkan apalagi ditinggalkan. Maka dari itu perlu kehadiran perempuan untuk menjaga kestabilan rumah tangga. Belum lagi “tuntutan” yang membelenggu perempuan : harus bisa ini, harus bisa itu, tidak boleh begini, dan tidak boleh begiKita semua tahu bahwa lidah masyarakat kita cukup tajam nan kejam.

Jika ada perempuan yang tidak bisa melakukan pekerjaan domestik seperti memasak, mencuci, mengurus anak, dan lain sebagainya, sudah bisa dipastikan akan dicibir habis-habisan. Padahal yang terpenting adalah bagaimana perempuan (yang bekerja) bertanggung jawab pada kewajibannya sebagai istri. Implementasinya bisa beragam. Jika tidak bisa mencuci bisa menggunakan jasa laundry, jika tidak bisa memasak bisa memesan makanan melalui aplikasi online, bahkan urusan bersih-bersih rumah-pun juga sudah banyak yang menawarkan jasa panggilan.

Namun, sekali lagi, masyarakat belum bisa bersikap permisif, serta cukup kolot pada pakem-pakem konvensional. Sehingga perempuan yang demikian dianggap sebagai perempuan yang pemalas dan tidak bertanggung jawab pada kewajibannya. Padahal, kebanyakan perempuan yang bekerja tujuan utamanya adalah untuk ikut serta menyejahterakan keluarga, khususnya anak.

Bagaimana Menyudahi Budaya Patriarki?

Hal pertama untuk mencapai kata “setara” adalah dengan mengembangkan sumber daya perempuan. Karena sistem serta budaya di masyarakat kurang mendukung hal tersebut, maka perempuan harus berupaya secara mandiri untuk meningkatkan kualitasnya.

Sadar digital bisa menjadi jawaban. Cara paling sederhana adalah memaksimalkan media sosial dengan bijaksana, karena tidak bisa dipungkiri bahwa masih banyak perempuan yang menggunakan sosial media hanya sebatas memenuhi kebutuhan eksistensi. Mengejar afirmasi hingga lupa menggali esensi.

Jangan sampai hal ini malah menjadi bumerang, yang seharusnya bisa mengikis malah jadi mempertebal pandangan ganjil terhadap perempuan. Digital atau dalam hal ini sosial media, memfasilitasi perbendaharaan ilmu yang sangat luas. Salah satu upaya yang bisa dilakukan perempuan adalah dengan memaksimalkan fungsi sosial media untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya sebagai bekal yang utama menjadi seorang ibu.

Sempat disinggung di awal, bahwasanya ibu adalah madrasah pertama yang akan membentuk karakter serta moral anaknya. Penting bagi perempuan untuk terus meningkatkan pemahaman intelektualnya guna diturunkan kepada anak-anaknya. Kelak, jika semua generasi penerus bangsa mendapat didikan yang baik serta pemahan tentang bagaimana cara memanusiakan manuisa, mungkin bisa menghilangkan atau setidaknya mempersempit kesenjangan atara laki-laki dan perempuan.

Namun perlu dingat bahwa kesetaraan gender merupakan suatu masalah yang melibatkan banyak elemen. Oleh karena itu, hal ini harus menjadi concern bersama. Karena akan sangat terengah-engah jika masalah sekompleks ini dihadapi oleh perempuan saja. Maka perlu peran serta masyarakat umum, laki-laki, dan pemerintah, untuk meyudahi atau mengahapuskan budaya patriarki yang selama ini menjadi benalu bagi perempuan.

 

Add Comment