Menyelami Mbako Srintil di Lereng Sumbing

Lanskap perkebunan tembakau di Kecamatan Tlogomulyo. FOTO PEMKAB TEMANGGUNG

Temanggung atau daerah yang dulu masuk di dalam wilayah Kedu, diapit oleh tiga gunung sekaligus: Sindoro, Sumbing dan Perahu. Sebab itu Temanggung memiliki hawa sejuk, dingin dan menyegarkan, daerah yang tepat untuk perkembangan tanaman tembakau.

Letusan Gunung Merapi 28-30 Desember 1822 menghamburkan asap tebal, hujan abu, dan pasir dengan membawa kerusakan parah di wilayah Kedu. Asap tebal, abu, dan pasir juga mencapai Gunung Sumbing, yang berjarak sekitar 40 kilometer dari pusat letusan.

Abu vulkanik itu meliputi seluruh lereng Sumbing bagian timur. Kang Sobary menulis gambaran berkah Merapi ini dalam bukunya, Perlawan Politik dan Puitik Petani Tembakau Temanggung,

Merapi ‘membayar’ kontan kerugian dengan kemurahan melimpah berupa pupuk abu yang menyuburkan lahan pertanian. Di lereng bagian timur Gunung Sumbing inilah Mbako Srintil dihasilkan.

Apa itu Mbako Srintil? Sebentar.

Tahun lalu kita mendengar kegaduhan tentang isu kenaikan cukai rokok. Tak tanggung-tanggung, kenaikan cukai rokok yang diisukan ini mencapai angka 50.000 rupiah untuk satu bungkus rokok. Entah atas pertimbangan apa angka itu dipilih, sehingga mengundang heboh banyak perokok. Sebagian histeris, sampai mengumpat penguasa.

Isu ini, jika tujuannya untuk menelikung citra presiden, tentu bisa dikata berhasil. Lain jika isu ini ditujukan untuk mengurangi konsumsi rokok di masyarakat, atau tujuan senada yang kerap disampaikan oleh aktivis anti rokok. Soal ini Puthut EA sudah menjelaskan banyak dalam satu tulisannya.

Rokok, kretek, tembakau, memang memiliki sejarah panjang di Indonesia. Jika Anda bertanya kepada sejarawan kapan pertama kali tembakau hadir di Jawa, mereka akan menjawab bahwa tembakau pertama kali diperkenalkan oleh orang Spanyol, yang membawanya dari Meksiko ke Asia pada 1575.

Mula-mula ke Filipina, dan kemudian diteruskan ke Tanah Jawa tahun 1601. Atau mereka bakal menjawab, tembakau pertama kali dikenal oleh orang Jawa pada masa cultuurstelsel, yaitu sistem tanam paksa di zaman pemerintahan Gubernur Jenderal Van Den Bosch, di mana petani harus menanam tanaman industri lainnya, seperti teh, tebu, nira, dan tembakau.

Cultuurstelsel memang dimaksudkan untuk menutup kerugian akibat Perang Jawa yang terjadi pada tahun 1825-1830. Sehingga mereka tidak terlalu memusingkan, apakah ragam tanduran itu berguna bagi inlander yang menanamnya atau tidak, yang jelas itu komoditi yang sedang dibutuhkan di pasar dunia kala itu.

Tentu bakal lain jawabannya, jika Anda bertanya kepada warga Temanggung, atau masyarakat Kedu kuno dan sekitarnya, mengenai soal yang sama:

Kapan pertama kali tembakau mulai dikenal di Jawa? Mereka bakal menjawab dengan mantab: Sejak lama!.

Sejarawan Belanda, De Graaf, juga mencatat Sultan Agung adalah perokok berat. Sultan Agung Hanyakrakusuma itu seorang perokok berat, jauh sebelum Cultuurstelsel diberlakukan. Atau mereka akan menjawab dengan khusus, bahwa Tembakau berasal dari kata ‘tambaku’ lalu berubah menjadi ‘tembako’, lalu kehilangan kata ‘tem’ menjadi ‘mbako’ saja.

“Mbah, tumbas mbakone…!!”

Nama tambaku, tembako, lalu berakhir dengan nama mbako, berasal dari mitologi kuno, folklore (cerita rakyat) yang dipercaya oleh masyarakat Kedu dan sekitarnya. Mereka percaya penemu pertama dari tanaman itu adalah Sunan Kedu, Ki Ageng Kedu, Prabu Makukuhan, Ki Ageng Makukuhan, dan Wali Agung Makukuhan, nama satu orang yang disebut pernah berguru kepada Sunan Kudus.

Satu waktu, Ki Ageng Kedu mendaki Gunung Sumbing hingga mencapai ke dekat puncaknya yang terjal itu. Tiba-tiba pandangan matanya tertuju pada suatu jenis tumbuhan yang menarik hatinya. Dia berhenti sejenak, kemudian sambil mencabut sebatang tumbuhan yang mengejutkannya, ia berteriak penuh takjub, “Iki tambaku!”

Nah, jadi apa itu Mbako Srintil? Sebentar.

Seperti disebutkan di muka, Temanggung merupakan wilayah penghasil tembakau terbaik di Indonesia, atau bahkan di dunia. Yang menempatkan tembakau-tembakau lain hanya sebagai pelengkap saja, lain tidak.

Salah satu unsur alam yang membentuk kualitas tembakau ialah cuaca dingin. Dalam cuaca dingin, yaitu antara 14-15 derajat celcius, di mana tak ada tanaman bisa hidup selain tembakau. Keadaan menyebabkan adanya anjuran pemerintah agar petani tembakau beralih ke tanaman lain yang tampak menggelikan itu, adalah tempat di mana tembakau srintil lahir.

Wilayah itu tepatnya berada di Dusun Lamuk, Kelurahan Legoksari, Kecamatan Tlogomulyo, yang menempati posisi di lereng timur Gunung Sumbing. Daerah yang mendapatkan sinar matahari paling segar di pagi hari, yang memang paling dibutuhkan oleh tanaman tembakau.

Kualitas Mbako Srintil

Tembakau srintil memiliki komposisi kimiawi alam yang serba seimbang, yang dapat dibuktikan bahwa ketika disentuh terasa lembut, halus, dan jalinan antara benang-benangnya tertata sangat baik, yang disebut nglemek.

Tembakau srintil benar-benar nglemek, tembakau ini tidak rontok jika disentuh tangan, tidak kering, dengan kandungan air yang pas. Tidak seperti tembakau kualitas rendah yang kering, sering kali terpisah-pisah atau rontok, karena komposisi kimiawi alamnya lebih tidak seimbang, kandungan airnya sangat sedikit.

Aroma srintil juga lembut dan harum, atau arum kata orang Jawa. Bahkan bagi yang tak suka tembakau dan tak pernah bersentuhan dengan tembakau pun, sekali mengenalnya kemungkinan besar akan menyukai kelembutan aromanya. Tembakau srintil memiliki kombinasi harmonis bau salak, bau jenang atau dodol, ditambah kombinasi komposisi lain yang membikin lebih halus lagi.

Mengingat kualitasnya yang tinggi itu, di pabrik, mbako srintil hanya digunakan sebagai ‘lauk’ atau ‘lawuh’ kata orang Jawa, untuk sekadar memperhalus hasil olahannya, menjadi kretek istimewa, yang jika dihisap kelembutannya tak membuat pengisapnya terbatuk-batuk secara spontan.

Nama srintil diambil dari kata ‘srintil’ dalam bahasa Jawa, untuk menyebut tahi kambing. Wujud dari mbako srintil memang mirip srintil kambing, yang nglemek, mengempal dan tampak lengket-legit itu. Hehehe.

Lalu berapa harga yang harus ditebus untuk lawuh mbako srintil ini?

Ah, murah saja! Dengan cara mencabut pasal-pasal ‘pesanan’ yang terkandung di dalam PP No. 109 Tahun 2012 itu, selesai persoalan.

Bahan Bacaan

Sobary, Mohamad. 2016. Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.