Menguji Kepedulian terhadap Isu Kemanusiaan

Uluran tangan sebagai wujud kepedulian. FOTO PSB-PS UMS

Belakangan ini, kita kerap dihadapkan pada pemberitaan-pemberitaan yang membuat pikiran kita semakin kalut. Kita sulit menghindar dari kabar-kabar memprihatinkan yang sangat mudah tersebar di media sosial, koran, maupun televisi.

Media tersebut selalu mengabarkan berita konflik, selisih, hingga tragedi kemanusiaan, seolah tidak ada hal menggembirakan yang bisa diceritakan.

Kita ambil saja salah satu isu yang tengah ramai jadi perbincangan publik kini, yakni pinjaman online yang menjerat banyak korban. Pinjaman online semakin menjamur seiring dengan didukungnya kecanggihan teknologi, hanya dengan bermodal KTP dan pengisian data, rekening kita segera mendapat setoran tunai dengan cepat yang ditransferkan oleh aplikasi pinjaman online.

Debitur lantas merasa dirugikan sebab bunga yang terlalu tinggi. Pada titik tertentu, mereka kesulitan membayar bunga hingga merasakan teror tagihan dari debt collector. Teror tersebut tidak hanya dirasakan debitur, tapi bisa saja merembet ke orang dekat atau kerabat debitur.

Rangkaian laporan kasus pinjaman online semacam itu sering terjadi lantaran penyedia layanan pinjaman online tidak memberikan ketentuan jelas terkait perjanjian pinjaman. Kalau pun ketentuan perjanjian itu disampaikan, biasanya debitur akan kesulitan memahami.

Hal ini sesuai dengan hukum bahwa ketentuan-ketentuan yang dibuat manusia modern, cenderung absurd, tidak jelas, dan kompleks.

Selain itu, tentu ada faktor dari internal debitur yang menginginkan proses dan prosedur yang cepat, demi kemudahan mendapat dana yang akan segera dibutuhkan debitur.

Publik kemudian merasa geram terhadap aksi-aksi debt collector yang diturunkan layanan pinjaman online. Aksi-aksinya beragam, bisa dalam bentuk teror, intimidasi, paksaan, atau main rampas barang berharga debitur.

Rasa geram makin meledak ketika data-data peminjam, tidak dijaga baik-baik. Data tersebut bisa tersebar dan dimanfaatkan untuk kepentingan komersial lainnya.

Kita mudah menemui seseorang yang tidak pernah terikat dengan pinjaman online, tapi ikut menjadi korban teror yang dilayangkan pinjaman online akibat tersebarnya data.

Dari lembaga hukum dan lembaga keuangan pun tampaknya kesulitan untuk mengawasi keberadaan pinjaman online yang merebak itu. Seolah penegakan aturan tentang peminjaman uang tidak memiliki kekuatan hukum.

Aturan itu masih mudah dilanggar dan dikelabui penyedia pinjaman online. Hingga kita sulit memetakan mana pinjaman online yang benar-benar legal dan tercatat di lembaga pengawasan.

Kemampuan memetakan dan memverifikasi penyedia pinjaman yang benar-benar legal itu semakin sulit jika pengetahuan masyarakat kita masih rendah. Dibutuhkan analisis dan kecerdasan yang tajam. Sementara kasus yang banyak bermunculan itu, mencerminkan sejauh mana taraf pemahaman masyarakat kita.

Kepedulian Sosial

Urutan peristiwa yang menggambarkan realitas masyarakat kita itu, bisa jadi alat uji sejauh mana kepedulian kita terhadap masalah kemanusiaan. Kita coba melihat masalah pinjaman online itu dengan lebih luas, agar kita bisa melihat variabel apa saja yang memengaruhinya.

Pertama, tentu faktor ekonomi, kelesuan ekonomi akibat pandemi, bisa mendorong seseorang untuk bergerak mencoba pinjaman online, yang dipahami praktis dalam mencairkan uang.

Kedua, kekuatan dan kepemilikan modal. Perusahaan penyedia pinjaman online bisa meraup keuntungan dari putaran uang masyarakat yang meminjam. Lebih lagi, ongkos untuk aplikasi online tentu tidak sebesar biaya operasional usaha konvensional biasanya. Teknologi turut membantu memangkas biaya.

Ketiga, penegak hukum dan pemerintah sebagai pemangku kebijakan belum bisa mengatur dan mengawasi keberadaan pinjaman online itu. Kesejahteraan finansial menjadi tanggung jawab pemerintah, seperti melalui ketersediaan lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi, dan upah layak.

Keempat, solidaritas dan rasa kepedulian terhadap orang dekat atau sesama. Seseorang yang meminjam sejumlah uang pada layanan aplikasi online, artinya hanya itu satu-satunya pilihan yang bisa mereka lakukan. Seseorang terpaksa karena, apakah tak ada kerabat yang membantu?

Apakah seseorang tidak mampu memberanikan diri meminjam uang pada kerabat?

Apakah kita merasa tidak mampu dan keberatan jika memberikan uluran tangan?

Apakah urusan kita sendiri terlampau begitu sulit?

Fenomena kasus pinjaman online yang demikian menggugah keprihatinan kemanusiaan, diharapkan tidak akan terulang kembali. Saya berharap ada pesan yang dikirimkan kepada seluruh umat manusia tentang perilaku berlebihan yang dapat menghancurkan kemanusiaan.

Empati publik menjadi hal penting, karena sifat sayang sebagai sifat dasar manusia harus terus dimenangkan. Semoga kita dapat memperkuat kesadaran tentang pentingnya menjaga keharmonisan keluarga dan mengedepankan perhatian kepada sesama.

Realita pinjaman online itu semoga jadi momentum agar dapat menyatukan semua masyarakat untuk membangun benteng sosial, budaya, dan hukum, agar di masa depan tak terulang kembali.

Mari bahu-membahu turut berkontribusi agar kejadian serupa tidak ada lagi. Dukungan solidaritas terhadap kemanusiaan dapat disebarluaskan melalui media massa, media sosial, atau sosialisasi terhadap masyarakat.

Setelahnya, penting dibangun konsensus bersama agar tercipta sekuritas berbasis masyarakat, untuk menghindarkan kita dari perilaku yang mencederai kemanusiaan.