Mengelola Masa Lalu sebagai Identitas Menuju Kota Kreatif

Bekas benteng Keraton Kartasura, cagar budaya yang banyak menyimpan nilai sejarah sekaligus identitas Kec. Kartasura. JATENGPROV

Sebuah catatan memperingati Hari Jadi Kartasura ke-341

Kartasura merupakan kota kecamatan yang berada di wilayah Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Kota ini berbatasan langsung dengan Kota Surakarta pada sisi timur, sementara sisi utara berbatasan dengan Kabupaten Karanganyar, dan sisi barat berbatasan dengan Kabupaten Boyolali.

Kendati secara administrasi berada di Kab. Sukoharjo, namun warganya lebih asyik untuk beraktivitas ke Kota Solo apabila dibanding ke kota kabupaten Sukoharjo. Hanya masalah-masalah administrasi kependudukan ke kota Kab. Sukoharjo, selebihnya memilih Solo.

Letaknya sangat strategis, berada di pertigaan jalan yang menghubungkan wilayah timur dari Surabaya, ke wilayah barat arah Jakarta, ke selatan arah Yogyakarta, dan ke utara mengarah Semarang. Selain itu, juga dekat dengan Bandara Internasional Adi Sumarno, Stasiun Purwosari, dan Balapan, sehingga secara akses mudah dijangkau.

Kota Kartasura juga ditempati dua kampus besar Universitas Islam Negeri Mas Said (dulu IAIN Surakarta) dan Universitas Muhammadiyah Surakarta, serta beberapa kampus menengah kecil lainnya. Sarana pendidikan lain juga terdapat pondok pesantren yang berkelas nasional.

Tidak itu saja, beberapa rumah sakit besar juga hadir di Kartasura, seperti RS Otoperdi, RS Karima cukup populer dalam kaitanya dengan berbagai penyakit tulang baik karena kecelakaan maupun lainnya. Tentu saja masih ada rumah sakit serta klinik-klinik lain.

Semua hal di atas adalah sumber daya yang ada pada saat ini, yang diperlukan untuk membentuk karakter dan jati diri kota maupun warganya, sementara pembentukan identitas diri warga masyarakat dan kota lebih terkait dengan sejarah masa lalunya.

Dalam pandangan Yudi Latif (1997), masa lalu dengan segala pahit getir, kelam maupun jawa merupakan sumber pencarian identitas, suatu jangkar bagi proses historical self-invention. Dengan demikian untuk membentuk indentitas diri warga kota maupun kota haruslah memahami terlebih dahulu masa lalunya, sebagai potensi terbenam, warisan yang hidup (the living heritage), tempat berpijak bagi tumbuh dan berkembangnya suatu kota, sebagai spirit yang membumi dalam membentuk, dan merangcang masa depan Kota Kartasura.

Dengan mempelajari itu semua diharapkan akan memahami apa yang akan dilakukan sekarang dan masa depan. Dan itu semua bisa terjadi kalau unsur-unsur yang membentuknya mampu ditangkap, diidentifikasi, dinilai dan diperhitungkan untuk kemudian dikomunikasikan.

Pengungkapan unsur-unsur dapat dilihat dari catatan para sejarawan, pujangga. Selain itu bisa pua memlihat bangunan-bangunan fisik, situs-situs, guna membantu mengrekonstruksi suatu peristiwa.

Kelahiran

Sejarah kota ini berakar dari proses perpindahan keraton kerajaan Mataram Islam dari Plered ke Kartasura. Perpindahan ini tak lepas sifat raja, yakni Amangkurat I, raja terakhir kesultanan Mataram yang memerintah dengan sewenang-wenang, sehingga muncul ketidaksukaan para tokoh, baik ulama, pejabat daerah yang kemudian mendukung Trunajaya dari daerah Madura untuk melakukan pemberontakan.

Singkat cerita, Trunajaya mampu menguasai Mataram, hingga raja melarikan diri meminta bantuan pada Kompeni Belanda di Batavia. Namun, belum sampai, ajal menjemputnya pada dasa Wanayasa (10 Juli 1677), dan dimakamkan di Tegal Arum, Kabupaten Tegal. Anaknya Panageran Adipati Anom menyatakan diri sebagai Raja Muda Anom bergelar Amangkurat II.

Berkat bantuan VOC, Amangkurat II mampu menumpas Trunajaya. Namun, Sunan Amangkurat II tidak berkenan kembali ke Keraton Plered. Hal ini disebabkan karena keraton tidak semata bangunan fisik, akan tetapi juga sebagai entitas sosial budaya, sehingga ketika keraton Plered dikuasai pemberontak Trunajoyo, maka hilang pula kehilangan wibawa dan daya magisnya.

Selain itu setelah pemberontakan Trunajaya dapat diatasi, Keraton Plered dikuasai oleh anak Amangkurat I yang lain, yakni Pangeran Puger yang tak lain ialah adik dari Amangkurat II sendiri.

Setelah menumpas Trunajaya, Amangkurat II kembali ke Semarang untuk mengadakan musyawarah para petinggi kerajaan, membahas pembuatan keraton baru. Dalam pertemuan agung tersebut ada tiga daerah yang dijadikan alternatif yang akan didirikan pusat kerajaan/keraton, yakni daerah Tingkir/Salatiga, Logender dan Wonokerto.

Akhirnya, Wonokerto dipilih setelah pembuatan keraton selesai, tepat pada hari Rabu Pon tanggal 16 Ruwah Tahun Aip 1603 atau 11 September 1680, Amangkurat II menempati Keraton baru, dan selanjutnya nama Wonokerto diganti menjadi Kartasuro Hadiningrat (Saroso Suyowiyoto, 1984 : 4).

Peristiwa itulah yang kemudian dijadikan hari lahirnya Kota Kartasura, sehingga pada tahun ini (2021) Kota Kartasura berusia 341 tahun, tiga abad lebih yakni 11 September 1689-11 September 2021.

Oleh karena itu, merumuskan masa depan Kota Kartasura tak akan pernah lepas dari akar kesejarahan yang telah ada yang hidup dalam alam bahwa sadar masyarakatnya. Keberadaan keraton yang berlangsung dalam relatif singkat dengan segala dinamika sosial-politik yang menyertainya. Hingga kini masih terekam dalam ingatan publik dan menjadi sandaran dalam membentuk identitas kota.

Konflik, Pemberontakan, dan Perang Saudara

Keberadaan keraton Kartasura sebagai pusat pemerintahan kerajaan Mataram tidak berlangsung begitu lama. Konflik-konflik internal keluarga antar saudara dalam merebutkan tahta seputar kekuasaan dengan melibatkan pihak-pihak eksternal berujung pada perperangan antar saudara.

Meskipun keberadaan relatif singkat, yakni hanya berusia 65 tahun (1680-1745), namun telah meninggalkan jejak-jejak kesejarahan yang tak ternilai. Jejak tersebut menyimpan berbagai potensi kesejarahan, baik yang bentuk benda-benda seperti bangunan benteng Srimanganti dan bukit segaran Gunung Kunci.

Nama-nama kampung seperti Wirogunan, Singopuran, Ngabeyan, dan lainnya, merupakan jejak kesejarahan yang berbentuk tetenger dari hasil tempat tinggal para pejabat keraton

Peninggalan tempat-tempat bersejarah, baik yang berupa nama-nama kampung, –walaupun beberapa nama kampung kini telah berubah–, petilasan-petilasan berbentuk bangun fisik, kendati tidak nampak begitu terawat namun sisa-sisa dan narasi yang membentuknya masih dapat dilacak.

Selain itu, potensi kesejarahan terwujud dalam narasi-narasi konflik antar berbagai kekuatan, aktor-aktor ekonomi politik, maupun agama-budaya, yang melibatkan berbagai kelompok baik dalam keraton atau keluarga kerajaan maupun pihak eksternal dalam hal ini, VOC Belanda maupun Tiongkok (China).

Konflik laten antara raja dengan putranya, misalnya, antara Raja Amangkurat I dengan anaknya yang bernama Mas Rahmat yang bergelar Pangeran Adipati Anom. Di mana Adipati Anom menggunakan Trunajaya dari Madura sebagai alat untuk memberontak dan melakukan kudeta terhadap ayahnya.

Kedip-kedipan mata antara Adipati Anom dan Trunajaya, mengakibatkan Plered terdesak dan mampu dikuasi oleh Trunajaya. Kondisi ini berujung pada pelarian Amangkurat I untuk meminta bantuan VOC di Batavia yang ditemani oleh putranya yakni Adipati Anom, sementara anak lainnya yakni Mas Drajat (adik Adipati Anom) yang bergelar Pangeran Puger, oleh ayah tetap disuruh menjaga keraton Plered dari serbuan Trunajya.

Di tengah perjalanan, belum sampai menemui VOC, Amangkurat I meninggal lantaran sakit yang disebabkan racun yang ditaburkan oleh Adipati Anom dalam minuman ayahnya.

Misi meminta bantuan VOC tetap diteruskan oleh Mas Rahmat, tapi tidak semata untuk mengusir Trunajaya, namun juga untuk mendukungnya menjadi Raja. Oleh karena itu, dalam pelariannya, Adipati Anom dengan dukungan VOC menobatkan diri menjadi Raja Mataram yang bergelar Amangkurat II.

Dukungan VOC juga digunakan oleh Amangkurat II untuk berperang melawan adiknya Mas Drajat di Plered. Perang antara Kartasuro melawan Plered, atau antara kakak vs adik, yakni antara Amangkurat II/Pangeran Adipati Anom Vs Pengeran Puger/Prabu Ing Alaga, merupakan perang untuk memperebutkan pewaris Kasultanan Mataram.

Perang suksesi ini banyak memakan korban, kedua belah pihak saling bernafsu untuk menghancurkannya. Dalam jumlah prajurit, pasukan Plered kalah banyak, oleh W.L. Olthof dilukiskan perbandinganya sebagai Jitus, artinya prajurit Plered siji (satu) harus melawan prajurit Kartasuro satus (seratus). Kendati jumlahnya sedikit, namun banyak menewaskan prajurit Mataram, berkat keberanian prajurit Plered yang dipimpin langsung oleh Sang Prabu Ing Alaga.

Perang berakhir berkat diplomasi Adipati Urawan dalam membujuk Prabu Ing Alaga untuk mengalah.

Konflik antara Amangkurat II vs VOC, usai menumpas Trunajaya dan menundukkan Pengeran Puger, Amangkurat II harus melaksanakan perjanjian Jepara, yang kemudian hari dirasa sangat merugikan. Meskipun pesisir utara telah diserahkan, VOC terus menekan untuk segera mengganti biaya perang sebesar 2,5 juta golden.

Berbagai siasat dilakukan untuk lepas dari tagihan utang VOC, dari mulai merekayasa pemberontakan Wanakusuma di Gunung Kidul, mengirim surat kepada pengusa lokal Cirebon, Johor, Palembang dan bangsa Inggris untuk memerangi Belanda, hingga menampung buron VOC Untung Suropati.

Namun, ketika Kapten Francois Tack tiba di Kartasuro untuk menangkap Untung Suropati, Amangkurat II pura-pura membantu VOC. Pertempuran pun terjadi, Pasukan Untung Suropati menumpas habis pasukan Kapten Tack, dan Sang Kapten pun mati terbunuh dalam pertempuran.

Peristiwa terbunuhnya Kapten Tack membuat VOC curiga atas sikap Amangkurat II, dan terus menagih pelunasan biaya perang Trunajaya, karena terdesak, Amangkurat II pun mengirim utusan ke Pasuruhan dan memperintahkan kepada Surapati agar mengembangkan jajahannya untuk menaklukan orang mancanegeri. Di sini kemudian Amangkurat II akan pura-pura menyerang Untung Suropati di Pasurahan yang anti VOC, sebagai siasat menghadapi tagihan Belanda.

Konflik dan perang juga terjadi pada pemerintahan Sri Susuhunan Amangkurat Mas, atau Amangkurat III, atau Sunan Mas yang memiliki nama asli Raden Mas Sutikna. Ia juga memiliki julukan Pangeran Kencet karena menderita catat pada bagian tumitnya.

Konflik yang terjadi antara Amangkurat III dan Pangeran Pegur telah tubuh sebelum Amangkurat III menjadi raja. Watak yang buruk dari Mas Sutikna, suka marah-marah dan cemburuan tak disenangi oleh Pangeran Puger. Sebaliknya, Pangeran Puger yang sempat membangkang pada ayahnya menjadi ketidaksukaan Mas Sutikna pada Pangeran Pegur.

Walau telah menikahi putri Pangeran Puger yang bernama Raden Ayu Lembah, namun tak semakin menyatu, justru semakin menggila, hingga puncaknya Amangkurat III mengirim utusan untuk membunuh Pangeran Puger sekeluarga, namun gagal karena telah melarikan diri ke Semarang.

Di Semarang dukungan semakin nambah, tidak saja dari para pembesar keraton namun juga dari VOC –tentu tidak gratis–. Perang antara Amangkurat III vs Pangeran Puger yang bergelar Pakubowo I tak dapat dihindari. Berkat bantuan Belanda, Pangeran Puger berhasi mengusir Amangkurat III dan merebut tahta Kartasuro pada tahun 1705, namun perang terus berangsung hingga tahun 1708.

Kekalahan Amangkurat III sangatlah tragis, melakukan pelarian dari satu kota ke kota lainnya. Pasukan Pakubuwona I terus mengajar dan memburunya, dari Ponorogo ke Madiun, pindah ke Kediri, lau ke Malang, pindah ke Blitar, kembali lagi ke Kediri dan terakhir menyerah di Surabaya, yang kemudian dipindah ke tahanan Batavia lalu diasingkan ke Sri Lanka, hingga meninggal di sana pada tahun 1734 .

Kekuasaan Mataram Kartasura pun beralih ke Pangeran Puger yang bergelar Pakubowo I. Saat berkuasa, Pakubowo I menghadapi pemberontakan Jayapuspita di Surabaya yang lebih mengerikan dari perang di Pasuruhan saat menghadapi Amangkurat III.

Pembrontakan ini terjadi lantaran Pakubuwono I sebelumnya telah menghukum mati Bupati Surabaya Adipati Jangrana karena provokasi VOC. Padahal sebelumnya, Adipati Jangrana berjasa dalam menaikkan tahta Pangeran Puger.

Konflik dan peperangan lagi perebutan terjadi pula pada saat Amangkurat IV berkuasa, dibantu VOC untuk melawan Pangeran Blitar, Pangeran Purbaya, dan Pangeran Dipanegara Madiun (Perang Suksesi III). Perang saudara ini berakhir tahun 1723 yang dimenangkan oleh Amangkurat IV.

Demikian pula pengganti Amangkurat IV yakni Pakubuwono II, terjadi banyak konflik dan peperangan. Sikap tak jelas Pakubuwono II yang berganti-ganti haluan antara mendukung pemberontakan orang-orang Tionghoa (Geger Pacino) berbalik arah mendukung VOC Belanda, membuat kekuatan pemberontak semakin meningkat karena banyak pejabat yang anti VOC, para pemberontak menyerbu Kartasura besar-besaran.

Pakubuwana II pun melarikan diri ke Ponorogo. Kartasura dapat direbut lagi oleh VOC, Pakubuwana II kembali ke Kartasura namun kondisi kota tersebut sudah hancur. Ia pun memutuskan membangun istana baru di desa Sala bernama Surakarta.

Selain konflik-konflik di atas, juga terdapat konflik yang melibatkan para istri-isri raja terutama istri Amangkurat II (ibu dari Amangkurat III) yang berambisi untuk mendudukkan putra sebagai pewaris kerajaan. Oleh karena itu semua istri Amangkurat II telah diguna-guna hingga mandul. Konflik yang melibatkan perempuan pun juga terjadi antara raja dan putranya, atau antara raja dengan pejabat keraton.

Kota Kreatif

Sejarah Kartosuro yang penuh konflik, peperangan antar saudara, pemberontakan/pembangkangan di atas, tidak akan memiliki makna dan mendapatkan apresiasi dari generasi muda –kaum mileinia– kalau tidak mampu mendapatkan pelajaran dari realita masa lalu, yang terjadi justru akan menyandera dan membunuh masa depan.

Apabila menelisik akar historis, maka yang paling menarik dari sekian peninggalan keberadaan kerajaraan Mataram era Kartasuro, bukan pada peninggalan cagar budaya, peninggalan situs keraton, benteng maupun bangun fisik lainya, akan tetapi lebih pada peristiwa-peristiwa masa lalu yang penuh konflik, pemberontakan, pembangkangan dan perang saudara dengan segala dinamika dan intrik-intrik yang menyelimutinya.

Bagaimana peristiwa-peristiwa konflik, pemberontakan maupun perang saudara dalam perebutan tahta kekuasaan dihadirkan kembali dalam bentuk industri kreatif, film, seni pertunjukan –teater, ketoprak, wayang orang– atau pun yang lebih modern, seni animasi, gema maupun yang lainnya, dan bisa menjadi agenda tahunan, baik dalam bentuk kompetisi, seni pertunjukkan, dan lainnya.

Kekayaan historisnya begitu lengkap, karakter-karakter personal pelaku sejarah, cerita persaingan antara istri-istri raja, intrik-intrik yang dimainkan para pembantu raja, kekuasaan kompeni yang dominan, yang dibenci sekaligus dirindu para pemburu kuasa, dan berbagai fakta-fakta sejarah yang perlu dihadirkan kembali, agar bangsa Indonesia belajar dari masa lalunya yang kelam, belajar untuk tidak menghadirkan orang ketiga –AS maupun China/9 Naga era sekarang– dalam meraih kuasa, dan fakta sejarah orang ketiga selalu hadir namun tak mampu memandirikan para pemegang kuasa, justru yang terjadi menjadi kaki tangan para kaum oligarki.

Pengejawantahan narasi-narasi konflik, pemberontakan dan perang suadara pada masa lalu dalam bentuk teknologi kekinian, akan menciptakan masyarakat yang menghasilkan dan memiliki produktivitas dan kreativitas di bidang seni budaya dalam arti yang luas, serta akan menjadi ladang baru dalam bidang ekonomi, khususnya lewat industri kreatif yang berbasis pada narasi-narasi lokal yang penuh warna.

Pengembangan Kartasura sebagai Kota Kreatif diharapkan tidak saja sebagai branding sesaat, tetapi dapat menjadi titik picu dalam mengembangkan masa depan kota yang berkelanjutan. Sebuah Kota Kreatif yang berbasis pada potensi lokal sebagai keunggulan identitas, untuk dikelola yang memiliki nilai tambah dan daya saing.

Selain itu, perlu diciptakan pula suatu ekosistem yang kondusif bagi pengembangan inovasi-kreatif. Hal ini sekaligus sebagai bentuk edukasi pada generasi milenial yang akrab dengan dunia digital-virtual, yang tidak hanya sebagai tenaga kerja yang terampil tetapi juga harus memiliki kesadaran terhadap sejarah kotanya, yang diwujudkan dalam suatu produk budaya dalam bentuk citraan dan artefak yang disebut sebagai “budaya visual”.

Di sinilah perlunya keterlibatan seluruh stokeholder yang ada dalam suatu pengembangan kota kreatif, baik pemerintah, akademisi, pelaku usaha, budayawan atau seniman, dan yang lainnya untuk saling berbagi tugas dan peran, sehingga menghasilkan upaya kreatif, kaloboratif, dan inovatif

Memang tidak semudah membalik telapak tangan, namun perlu memulai, tinggal politik will dari pemerintah baik pada tingkat kabupaten, provinsi maupun pusat, dan secara legal-formal perlu menetapkan Kartasura sebagai wilayah yang berada dalam badan khusus yang memiliki otoritas penuh untuk memulai merancang Kartasura untuk menjadi kota Kreatif.

Hal ini sekaligus sebagai penghargaan terhadap para perintis yang telah membuka Wanakarta menjadi Kota Kartasura, pusat ibu kota kerajaan Islam Mataram, dan hari jadi Kec. Kartasura pun dihitung dari situ.

Tentu memakan waktu, namun langkah awal para pemangku kepentingan khususnya pelaksana pemerintahan Kec. Kartasura dan Kab. Sukoharjo membuka ruang-ruang dialog untuk mendorong warga kota agar lebih mudah dalam berinteraksi dan berpartisipasi untuk menghasilkan dan mengembangkan sebuah konsep Kota Kreatif.

Mengakomodasi kebutuhan dan mempertimbangkan kehidupan serta perubahan hidup perlu kiranya menyediakan ruang-ruang publik, menghadirkan interaksi antar warga maupun warga dengan pemangku kepentingan (pemerintah), eks Terminal Kartasura bisa dijadikan ruang publik yang dirancang mampu menghangatkan dan mengakrabkan warganya dari berbagai macam strata sosial maupun dengan pemerintah.

Dengan menghadirkan Kartasura sebagai kota kreatif yang berbasis pada narasi historisnya, maka Kartasura akan menjadi kota yang hidup, dan sebagai mantan ibu kota kerajaan Kasunanan Mataram Islam, menjadi hidup tak semata membangun beteng maupun fisik lainnya yang tak terawat, namun bisa menghadirkan atau menghidupkan kembali masa lalu dalam masa kini.

Secara sumber daya manusia dengan adanya dua kampus besar Universitas Muhamamdiyah Surakarta dan Universitas Islam Negeri Raden Mas Said serta tak jauh ada Universitas Sebelas Maret, maka tak akan kekurangan stok, baik sejarawan, seniman, budayawan, agamawa,n dan tentu saja mahasiswa-mahasiswa dari berbagai falkutas terkait bisa digerakkan.

Tentu sangat menarik bisa melihat kembali masa lalu dalam karya seni-budaya, melihat film dan seni pertunjukkan tahunan baik dalam bentuk digital maupun pertunjukan langsung.

Bahan Bacaan

Soedjipto Abimanyu, Babad Tanah Jawi, Laksana, Jogjakarta, Th. 2014, Cet. Pertama hal. 409

Ibid, ha. 141

Dukungan VOC ini diikat dalam perjanjian Jepara pada tahun 1476 yang berisi apabila pemberontakan tersebut dapat dihentikan, maka Sultan Amangkurat II harus menyerahkan wilayah di Pantai Utara Jawa kepada VOC, yang meliputi Karawang sampai Ujung timur Pulau Jawa dijadikan sebagai jaminan pembayaran. Lihat https://sejarahlengkap.com/indonesia/kerajaan/perjanjian-jepara-yang-mengalahkan-trunojoyo, diakses pada tanggal 28 Agustus 2021, pukul. 12.48

W.L. Olthof, Babab Tanah Jawi, Mulai Nabi Adam Sampai Tahun 1647, Nasari, Yogjakarta, Th. 2014, Cet. 1, Hal. 249

Soedjipto Abimanyu, Op.Cit Hal. 410

Ibid. Hal. 411, lihat pula Op.Cit W.L.Olthof, Hal. 314

Ibid, Hal. 414

Mengenai Geger Pacino, baca Daradjadi, Geger Pacinan 1740-173 ; Persekutuan Tionghoa-Jawa Melawan VOC, Jakarta. Kompas-Gramedia, Cet-1, Th. 2013

Soedjipto Abimanyu, Op,cit Hal 413

Add Comment