Luka Santri Penyusur Pulau Jawa

Ilustrasi kehidupan santri. UNAIR

Aku ingin menulis sesuatu yang telah berlalu, hingga menjadi awal menerima kenyataan. Hal paling sedih antara menolak atau menerima. Dengan berat hati, pasrah dengan keadaan, mungkin ini adalah jalan terbaik demi masa depanku.

Di kampung ini, udara sangat sejuk dikelilingi pohon-pohon. Tanaman sayur tumbuh subur, melahirkan banyak cerita tawa dan air mata. Aku menatap ke luar, begitu berat meninggalkan kampung halaman. Daun-daun hijau menyambut, setiap melihatnya, mata menjadi segar.

Sore yang kemerahan membuat hati tidak berdaya dalam mengambil sebuah keputusan. Aku menutupi rasa sedih ini dengan senyum lebar. Dengan inilah cara agar keluargaku tidak melihat kesedihanku.

Menatap langit mulai gelap. Kicauan hewan mengiringi sore menjelang petang. Bapakku menyalakan sepeda motor dengan bersemangat. Dalam hati ku,

“Ya Allah, jika ini takdirku, apa yang bapak lakukan demi masa depan, hamba ikhlas, Ya Allah.” Aamiin.

Suara sepeda motor membawa barang-barang keperluan sehari-hari, berboncengan sambil menggendong tas ransel berisi pakaian. Sepanjang jalan, berkilo-kilo meter bapak membawaku ke tempat di mana aku belum pernah berkunjung ke daerah itu.

Desa Bendungan, di mana bapak membawaku ketemu dengan seorang guru. Guru tersebut yang memberi informasi bahwa ada ponpes dan sekolah formal. Ia mengantarku dan bapak ke tempat aku bakal bisa menuntut ilmu.

Pertama kali menginjakan kaki di tanah pesantren, keadaan membuatku begitu malu. Aku tak memakai jilbab. Maklum, dulu pas SD aku tomboi.

Aku dan bapak disambut ramah oleh seorang Kiai. Ia sedang menyimak sorokan bersama santri-santri yang sedang menunggu giliran. Ia beserta Nyai sangat terbuka dengan kedatanganku, mereka berbincang-bincang, sedangkan aku terdiam karena malu. Beberapa jam kemudian aku dipanggil.

“Nduk…. rene Abah Kiai arep ngomong mbi awakmu.”

“Inggih, Bapak.“

Dengan muka yang berwarna kemerahan, badan gemetar, tangan tidak mampu mengangkat saat diajak bersalaman dengan Bu Nyai. Hati terasa tenang dan dingin ketika Nyai mengajak berkenalan denganku. Abah Kiai memanggilku untuk mengikuti apa yang ia perintah.

“Nak, cobo sikil tengen diluruske, sikil kiwo dilungguhi, astane netep neng jogan.”

“Inggih, Abah.”.

Rasa takut, malu, panas dingin, hadapan para santri putra-putri, disaksikan Abah Kiai, Bu Nyai, Bapakku. Di tengah-tengah mereka, aku mengucap dua kalimat syahadat sembari duduk seperti yang telah diperintahkan Abah tadi. Dengan penuh keyakinan, kepalaku dipegang Abah, lalu kucium tangan bapakku.

Hari semakin larut malam, bapak berpamitan padaku dan Abah Kiai. Saat itu, aku menangis karena tidak terbiasa jauh dengan orang tua. Rasa sedih yang tidak kunjung berhenti. Aku dikenalkan dengan santri senior, namanya Mbak Ina. Mbak Ina ini santri yang paling takdim kepada Abah dan Bu Nyai, tapi sayang, Mbak Ina orangnya tomboi sepertiku.

Saat menuju ke kamar, aku dibantu Mbak Ina. Orangnya baik, Mbak Ina membantuku membereskan barang-barang. Aku mulai memberanikan diri untuk berkenalan dengan Mbak Ina. Ia dengan lapang dada menggairahkanku dan memberitahuku aturan-aturan dalam pesantren. Ada beberapa mas-mas lain juga baik dan ramah. Mereka bilang jika aku mengalami kesusahan di pesantren, bisa langsung bilang saja tanpa sungkan.

Alhamdulillah, hari pertama masuk pesantren, aku disambut dengan sangat baik, tapi tidak segampang itu, hati harus menerima keadaan dengan benar-benar kuat jauh dari orang tua.

Kehidupan lebih mandiri, tanggung jawab mengurus diri sendiri, lebih tertantang beradaptasi dengan orang-orang baru di pondok pesantren. Jam pun terus berputar sampai menunjuk angka 00.00 WIB, aku belum bisa menutup mata.

Dari sini aku sadar tujuan bapakku memasukan pesantren adalah agar aku bisa mengubah akhlak dan sikapku lebih baik lagi. Malam semakin larut, aku masih belum bisa tidur, teringat dengan ibu. Waktu di rumah, aku tidur dengan ibu. Jadi merasa canggung, takut tidur di tempat baru. Mbak Ina bangun, ia kaget melihatku belum bisa tidur.

“Loh, Dek. Kok belum tidur?”

“Belum bisa tidur, Mbak. Masih belum percaya aku tinggal di pesantren.”

“Tidak apa-apa. Maklum dulu Mbak juga gitu, tapi bersyukur kamu disambut baik dengan Abah dan orang-orang yang ada di pesantren ini.”

“Iya, Mbak. Alhamdulillah.”

“Ya udah tidur, besok pagi mbak kasih tau tugasnya apa saja.”

“Baik, Mbak. Terima Kasih.”

Azan subuh berkumandang, Mbak Ina membangunkanku untuk mengikuti sholat subuh berjamaah di langgar. Setelah salat, para santri mengaji subuh. Mengaji ini dipimpin langsung oleh Abah Kiai.

Para santri dengan khidmat membawa kitab yang berwarna kuning, aku belum pernah melihat. Aku tidak tahu bacaan yang ada di dalam kitab itu, akhirnya Mbak Ina meminjamkan.

Beberapa saat aku menahan rasa sedih, untuk hidup lebih mandiri dan giat lagi. Sebuah suara memecahkan lamunanku, Mbak Ina menghampiriku dan memberikan sapu, aku mendapat bagian menyapu halaman depan pondok pesantren.

“Dek… Ini sapu, sampeyan (kamu) menyapu halaman depan.”

“Baik, Mbak.”

Saat di pesantren aku sering melamun karena masih malu-malu sama orang pesantren. Kutinggalkan lamunanku di tepian pagar pesantren. Entah kenapa aku bingung akan berbuat apa ketika pertama kali di pesantren.

Aku tidak habis pikir mengapa aku masuk pesantren. Aku cuma punya gambaran ketika sekolah di MTs, jalan kaki tiap hari melewati berkilo-kilo meter jarak ke MTs dekat rumahku. Takdir berkehendak lain, aku masuk ke pesantren dan sekolah formal.

Nah, yang sering aku lihat santri-santri itu banyak hafalan, dituntut untuk bisa, jauh dari orang tua, makan seadanya, sering dihukum, dan masih banyak peraturan-peraturan yang menghantui pikiranku.

Rasa itu seketika hilang saat aku sudah menjadi seorang santri. Menjadi santri tidak tidak seperti yang kubayangkan sebelumnya.

Alhamdulillah. Allah telah membuka pintu hatiku. Aku sekarang menjadi santri di Ponpes Muhimmah, dan sekolah formal di MTs Ma’arif NU 03 Kedawung, Sragen. Allah telah memberi petunjuk, aku berpikir panjang untuk ke depannya.

Aku ini mau bagaimana? Aku ini mau jadi apa? Bagaimana nanti kalau aku sudah dewasa berkeluarga? Apakah ilmuku cukup hanya dengan belajar di sekolah? Tentunya aku harus banyak belajar, terutama ilmu agama yang aku harus dalami. Tidak ada cara lain selain mengaji yang benar-benar fokus, yaitu di pesantren.

Terkadang aku juga merasa malu kepada santri yang lebih mengerti dan lebih pintar dariku karena sudah merasakan nikmatnya menjadi santri lama di pesantren. Semoga ilmu yang aku pelajari, menjadi ilmu yang manfaat dan berkah, serta mendapat keridaan dari semua guru-guru.

Semoga ia selalu diberikan kesehatan, ditambah kemuliaannya, dan selalu diberikan kesabaran dalam membimbing santri-santrinya. Aamiin.

Add Comment