Kiprah Sutodinomo dalam Sejarah Sumberejo

Rumah Sutodinomo, lurah pertama Sumberejo, sejak masa kepemimpinannya 1920-1936, masih berdiri kukuh hingga kini. SURAKARTADAILY

Penggalian sumber-sumber sejarah memang menarik untuk menjadi perhatian. Setiap jejak langkah selama penggalian itu, kita seolah diantarkan pada petunjuk yang bisa membawa ke wawasan lebih jauh.

Lebih lagi, jika petunjuk-petunjuk itu datang dari banyak sumber, saksi, dan pengalaman seseorang, akan memberikan kita kisah dan sudut pandang yang berbeda. Dalam mencari asal muasal penamaan sebuah tempat misalnya, akan hadir perspektif menarik yang menyelimuti kisah-kisah itu. Sebut saja sejarah Desa Sumberejo, Klaten.

Kisah Desa Sumberejo bermula ketika konflik antara Ki Ageng Pandanaran dengan sosok jin di daerah Sumberejo. Setelah selesai berselisih dengan jin di pohon bendo besar yang menjadi asal muasal nama Bendogantungan, Ki Ageng Pandanaran menemukan sebuah tempat yang mengucurkan banyak sumber mata air. Sumber mata air itu lantas digunakan Ki Ageng Pandanaran untuk menyucikan diri.

Ki Ageng Pandanaran juga menyatakan bahwa ternyata di tempat sekitar itu terdapat banyak sumber air. Selanjutnya, Ki Ageng Pandanaran menyebutkan jika kelak daerah di situ ada zaman atau peradaban, maka akan disebutlah Desa Sumberejo.

Diyakini, peristiwa itu terjadi sekitar tahun 1521 masehi. Masyarakat kami memercayai Ki Ageng Pandanaran lah figur sejarah yang pertama menyebutkan awal mula Desa Sumberejo.

Selanjutnya, jika kita membicarakan masa pemerintahan Desa Sumberjo, adalah Sutodinomo, kepala desa pertama yang diberikan amanah untuk memimpin Desa Sumberejo. Sutodinomo tidak lain adalah eyang kami sendiri. Pada masa pemerintahan Belanda, kebetulan kantor lurah berdiri di sebelah belakang rumah kami sekarang.

Sutodinomo yang menjadi lurah pertama di Sumberejo pada periode 1920-1936, waktu itu ialah seorang petani beken. Ia juga memiliki kelebihan untuk menjaga stabilitas desa.

Sutodinomo mampu menggagalkan baik itu adanya begal di daerah sekitar sini, kemudian juga untuk para pencuri, pencuri yang membabati padi, oleh Sutodinomo bisa ia gagalkan praktik itu.

Mengingat sulitnya kondisi ekonomi pada masa penjajahan, penjarahan bahan pangan pun bisa terjadi di mana-mana. Sutodinomo juga sering kali menangkap pencuri untuk kemudian dilaporkannya pada pemerintah setingkat kecamatan pada masa itu.

Kemampuan Menjaga Stabilitas

Apa yang dilakukan Sutodinomo lantas mampu membuat pemerintah Hindia-Belanda menaruh perhatian terhadapnya. Sehingga, Sutodinomo dipandang mampu mengamankan ketertiban dan keamanan di daerah Sumberejo. Ia kemudian ditetapkan sebagai lurah pertama pada 1920.

Masa kepemimpinan Sutodinomo menemui akhir pada 1936, karena saat itu ia telah memasuki masa tua. Namun, kiprahnya bagi Sumberejo tetap bisa menjadi suri teladan. Seperti saat terjadi perang gerilya, seperti ketika tentara Belanda tengah beroperasi.

Saat itu Tentara Pelajar bersama warga masyarakat memerangi penjajah Belanda dalam rangka mempertahankan Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945. Pertempuran yang terjadi di Bendogantungan berlangsung heroik penuh semangat untuk mengusir penjajah Belanda.

Hingga bergeser pada masa pendudukan Jepang pun, sosok Sutodinomo mampu menjaga daerahnya dari ancaman tentara Jepang yang mencari lumbung padi maupun pusaka.

Eksistensi Sutodinomo juga mampu memberikan ketenangan bagi orang-orang di sekitarnya. Ia, bagi penduduk Sumberejo, menjadi tempat tujuan bagi para pengungsi di mana segala pertanyaan dan keluh kesah penduduk dilayangkan.

Misalnya, ketika Sutodinomo menerbangkan burung dara (istilah dari Jombor), burung dara itu bisa mengeluarkan suara denging memekakkan telinga, ini ditujukan untuk warganya sebagai peringatan bahwa akan ada tentara Belanda yang beroperasi di daerah sini.

Sutodinomo tetap menjaga keamanan, di rumahnya, di bagian depan rumah lah ia berdiri, di usianya yang telah tua. Saat itu, Sutodinomo justru dengan tenang mengurai rambutnya yang panjang, dan Belanda pun tidak sampai masuk di rumah ini. Padahal, terdapat banyak gudang beras serta makanan pokok di sekitar daerah sini.

Saya berpikir bahwa kemungkinan waktu itu, orang dahulu memiliki semacam kesaktian sehingga Sutodinomo menjadi paran poro (sesepuh) di lingkungan sini.

Sutodinomo lantas dipercaya untuk menjadi lurah, petani tulen yang lumbung padinya juga ada. Rumah bersejarah peninggalan kediaman Sutodinomo kini, adalah situs yang sarat akan peristiwa-peristiwa lampau.

Peristiwa itu jika kita gali dan kita selami, akan banyak nilai-nilai pesan yang terkandung, bahwa pada masa itu perjuangan untuk mempertahankan hak dan upaya saling melindungi begitu sulit. Dibutuhkan pengorbanan yang tak sedikit.

Perjuangan pada zaman penjajahan, baik Belanda maupun pendudukan Jepang, benar-benar gigih penuh semangat berjuang. Alhasil, daerah Sumberejo sempat terbebas dari pembangunan lapangan terbang oleh penjajahan Jepang.

Meskipun, di Sumberejo pada masa itu tetap berlangsung pembangunan dapur umum untuk para pekerja pembangunan lapangan terbang yang dialihkan ke sebelah timur Jombor.

Demikianlah kisah yang mungkin hanya sebatas pengantar dari seluruh kisah panjang Sumberejo yang tidak ada habisnya. Kisah-kisah panjang akan datang dari berbagai saksi, pengalaman yang dituturkan dan diturun-temurunkan. Mudah-mudah kita menjadi bagian pengingat dan perawat ingatan itu.

Add Comment