Kawasan Purba dan Peluang Pariwisata Sragen

Mahasiswa KKN dari Univet Bantara beserta warga Desa Brangkal tengah outbond bersama. FOTO JOURNALPOLICE.ID

Potensi wisata alam bernuansa desa kembali muncul dan menarik perhatian di Sragen. Wisata alam itu ialah Kampung Wisata Purba, yang terletak di Desa Brangkal, Kecamatan Gemolong, Sragen yang resmi dibuka pada Minggu beberapa hari lalu.

Kampung purba ini tak jauh dan bahkan berbatasan langsung dengan kawasan Situs Cagar Budaya Sangiran yang secara administratif melingkupi dua kabupaten: Kabupaten Sragen (Kecamatan Gemolong, Kecamatan Kalijambe, dan Plupuh) dan Kabupaten Karanganyar (Kecamatan Gondangrejo).

Kabupaten Sragen sebagai salah satu daerah penyangga simpul ekonomi, punya peran penting dalam sirkulasi dan distribusi faktor ekonomi. Lebih lagi, Sragen berada pada jalur transportasi regional sekaligus sebagai batas koridor antara Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dampaknya, pertumbuhan ekonomi, aktivitas, serta pertumbuhan fisik di Sragen bisa berkembang dengan cukup cepat.

Perkembangan ekonomi tersebut dibuktikan dengan meningkatnya nilai investasi Sragen secara signifikan. Dalam data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) pada lima tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi Sragen meningkat 6,12 persen pada tahun 2019. Sragen menempati posisi tiga besar se-Subosukawonosraten, hanya berada di bawah Karanganyar dan Sukoharjo.

Namun, komposisi Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Sragen 2017 masih didominasi pada sektor industri pengolahan, perdagangan besar eceran, reparasi mobil & konstruksi, pertanian, kehutanan, dan perikanan, sementara sektor jasa pariwisata belum mampu menyumbang perekonomian yang cukup besar.

Kemampuan pemerintah mengidentifikasi karakteristik wilayahnya akan mempermudah dalam mengenal unsur wilayah, sumberdaya, dan potensi yang terkandung didalamnya. Kawasan situs Sangiran yang ditetapkan sebagai cagar budaya, dapat menarik pelancong untuk tujuan edukasi, wisata, maupun riset.

Sektor pariwisata bisa menjadi sektor strategis yang mampu menyumbang pendapatan desa sekaligus menyejahterakan warganya. Pemerintah desa perlu mendata potensi pendukung pariwisata desa mulai dari kekayaan kuliner lokal, seni budaya, hingga aneka suvenir, dan yang paling penting ialah membangun salah satu sistem bagian pariwisata (akses transportasi).

Namun, pengembangan pariwisata tak boleh membentur cakupan wilayah situs yang mestinya dilindungi dan dipelihara. Istilah desa wisata perlu diganti dengan wisata desa, yakni tetap memelihara nilai-nilai kebudayaan desa, alih-alih menjadikannya berkembang pesat bak sebuah kota.

Pengembangan wisata pada suatu daerah akan mengakibatkan dampak positif maupun negatif. Jika pengembangan wisata yang diterapkan mengacu pada tujuan yang jelas, yaitu untuk kesejahteraan masyarakat dan perkembangan wilayah, tentu saja dampak yang dihasilkan akan positif.

Akan tetapi, jika pengembangan wilayah yang diterapkan tidak bertujuan jelas dan hanya menguntungkan salah satu pihak saja, maka dampak negatif lah yang akan muncul. Keberadaan objek wisata akan berpengaruh terhadap wilayah tersebut.

Masyarakat adalah tujuan utama dalam sebuah pengembangan pariwisata. Integrasi antara pengembangan pariwisata dengan kehidupan masyarakat lokal akan menghadirkan berbagai manfaat antara lain dapat meningkatkan kesejahteraan, membuka lapangan kerja baru, pembangunan ekonomi lokal, serta pada akhirnya akan sampai pada perkembangan wilayah.

Peluang wisata di kampung purba Desa Brangkal tersebut harus dikelola dengan sumber daya warga lokal. Desa Brangkal harus benar-benar tetap merepresentasikan kawasan situs purba. Akan sulit mempertahankan nilai tersebut apabila dalam pengembangannya, Desa Brangkal mendatangkan pengembang dari luar yang destruktif.

Dapat juga kelompok-kelompok sadar wisata di Desa Brangkal membuat sebuah gerakan penanaman pohon, membuat rumah-rumahan ala purba, dan mengupayakan atraksi-atraksi yang dapat menarik perhatian pelancong.

Pemerintah harus menaruh perhatian khusus pada sektor-sektor pariwisata tersebut. Pemerintah juga perlu menggandeng masyarakat setempat untuk musyawarah dalam melihat peluang wisata tersebut, sehingga masyarakat tak sekadar menjadi ‘penonton’ dalam pengembangan wisata di wilayahnya. Pemasukan yang didapat oleh objek wisata jangan sampai berbanding terbalik dengan kesejahteraan masyarakat di sekitar Desa Brangkal.

Potensi alam yang dimiliki Desa Brangkal seperti keindahan alam dengan topografi sungai di pedesaan berbalut view natural ini bisa memantik kepedulian sejumlah kelompok yang hadir. Saya kira, pengunjung pun akan tertarik berperan melestarikan desa wisata purba ini.

Dalam mengembangkan desa wisata purba agar membawa keuntungan warga, tentu membutuhkan komitmen oleh semua pihak, terutama pemerintah Kabupaten Sragen dan segala jajarannya. Setiap bentuk usaha, juga memiliki tanggung jawab untuk membawa lingkungan sekitarnya dalam kesejahteraan.

Bentuk tanggung jawab itu dapat dilakukan dengan menyerap tenaga kerja dari warga sekitar. Warga sekitar juga perlu mendapat pelatihan, bantuan, dan dukungan dari pemerintah dalam mengembangakan wisatanya. Harapannya, wisata desa mampu mempertahankan nilai-nilai lokal tanpa mengubah lanskap budaya.

Bahan Bacaan

Arif, Sidiq, Wawan, Wahyudi, Agus, Eni. 2019. ‘Distribusi Spasial Masyarakat Terkategori Miskin dalam Basis Data Terpadu Kabupaten Sragen’. Jurnal Litbang Sukowati Volume 43(2).

Wardoyo. 2021. ‘Keindahan Wisata Kampung Purba di Brangkal Gemolong Sragen Resmi Dibuka, GP Ansor Langsung Ajak Tanam Pohon Beringin’, https://joglosemarnews.com/2021/09/keindahan-wisata-kampung-purba-di-brangkal-gemolong-sragen-resmi-dibuka-gp-ansor-langsung-ajak-tanam-pohon-beringin/, diakses pada 08 September 2021 pukul 11.19 WIB

Add Comment