Individualisme dalam Gegar Zaman Inovasi dan Informasi

Ilustrasi gegar zaman inovasi dan informasi. PIXABAY

Antara kesadaran dan ketidaksadaran, menandai aktivitas dan perilaku saban hari tiap-tiap individu, berlaku asumsi umum yang mencuat di arus utama pemahaman masyarakat bahwa aktivitas dan perilaku yang dilakukan oleh seseorang diawali oleh apa yang mereka serap dari pengalaman hidup mereka.

Kepekaan atas sistem-sistem yang menghimpit kesadaran dan ketidaksadaran seseorang inilah yang hari-hari ini memberi garis batas apa yang terjadi di dalam masyarakat kita.

Perilaku kolektif masyarakat hari ini, ibarat memberi informasi, ada sesuatu yang menyelusup ke dalam keseharian masyarakat. Psikologi sosial masyarakat kita inilah yang menentukan individualisme seseorang ke arah pembentukan peradaban generasi.

Pengetahuan selalu merupakan suatu hal yang termediasi. Buku, televisi, koran, internet, guru, orang di jalan, menjadi media-media kita untuk mendapatkan pengetahuan yang kita perlukan. Orang bilang pengalaman adalah guru terbaik, tapi sebagai makhluk awam kita tidak pernah bisa tahu sebelum ada yang memberitahu kita.

Mata kita mungkin melihat, tapi sering kali kita tidak mendengar. Kita butuh sesuatu untuk didengarkan, atau seseorang yang dapat memberitahu kita ke mana arah tujuan. Dan media menjadi pranata tepat sebagai penghubung massa.

Media massa adalah istilah untuk mengungkapkan korelasi produk dari media dan massa. Dalam media ada massa sebagai pembaca. Dalam massa, dibutuhkan suatu media guna penyampaian aspirasi, udar rasa, dan pelbagai kepentingan pribadi serta kelompok. Secara sosiologis, interaksi antara media dan massa berlaku seperti itu. Keterkaitan di antara keduanya kemudian dihubungkan dalam simpul psikologis.

Media adalah massa itu sendiri. Hubungannya terkait erat. Batasan-batasan samar bisa menjadi cair di media massa. Sesuatu yang dulu ditabukan, kini bisa diketahui dengan sangat gamblang. Homoseksualitas, perilaku seks monogami atau heteroseksual bisa dengan gampang mengisi berbagai media massa. Tidak ada kata subversif bagi informasi, bahkan yang bersifat sangat pribadi sekalipun. Kita tidak bisa menghilangkan ‘aku’ yang berkelindan erat dengan massa di dalam media massa.

Maka dari itu, media massa mencairkan batas-batas hubungan antara individu dan masyarakat. Ia membuat keberjarakan menjadi dekat, meski kedekatan itu tetap saja berjarak. Di media massa, kita tahu bahwa ada banyak kasus trafficking obat-obatan terlarang dan manusia di sana sini, pelacuran dan kemiskinan, kekerasan hingga gosip-gosip selebriti terkini. Semua hal yang begitu berjarak dari kita tapi kemudian didekatkan.

Media massa hari ini melebur ke dalam pergeseran kecenderungan yang begitu lekas. Nyaris tak terkejar oleh ritme kerja yang normal dari kebiasaan-kebiasaan konservatif. Ada pemaknaan yang ikut berubah mengenai media massa. Bentuk dan wadahnya mengikuti sesuai fungsi yang ada.

Alternasi Psikologis

Jika Simmel mengatakan kalau orang asing itu adalah orang yang jauh tapi dekat sekaligus dekat dan berjauhan, maka dalam konteks yang anonim, media massa menjadi perlambang kehadiran orang asing itu. Dalam media massa kita dapat mengamati hubungan-hubungan antarpribadi, antara pribadi dan massa, serta antara massa dengan massa.

Bahwa informasi merupakan suatu kebutuhan sekaligus kewajiban bagi pemerintah daerah itu jamak diketahui publik. Arti lainnya, masyarakat membutuhkan suplai informasi sekaligus perlu produksi informasi. Dua kerja ini hendaknya menjadi siklus sehari-hari pemerintah yang akan berdampak positif bagi kedekatan pemerintah dengan masyarakatnya.

Selain itu, literasi juga sangat diperlukan untuk kelancaran sistem informasi. Jika penggunaannya tepat sasaran dan optimal, media pun bisa menjadi ujung tombak bagi pemanfaatan teknologi informasi di tataran kolektivitas warga. Kualitas hidup masyarakat, terutama di bidang kesehatan akan lebih hidup dengan basis teknologi informasi yang dapat menghasilkan produktivitas yang baik, sehingga kemajuan daerah dapat terhubung dengan masyarakat secara langsung.

Dalam situasi apa pun, penggunaan teknologi informasi sangat dibutuhkan. Hanya saja, diperlukan monitoring yang tepat agar penggunaan teknologi informasi benar-benar sesuai kebutuhan dan kewajiban yang ada. Hari-hari ini informasi adalah barang panas. Penanganan yang kurang tepat, dapat berakhir sebagai pisau bermata dua. Pemerintah tidak memerlukan itu, yang diperlukan adalah informasi mengalir seperti arus air yang berujung pada hilirnya.

Terkait dengan informasi, kesehatan masyarakat terang sekali memerlukan informasi yang bersih dan mengalir. Arus informasi yang lancar dan jernih tanpa konten merusak, mendorong masyarakat lebih percaya diri dalam menghadapi tantangan hidup sehari-hari. Mengingat pula kini pandemi menekan penggunaan gawai ke tingkat yang cenderung berlebih, informasi yang sehat di arus utama akan sangat dibutuhkan untuk meningkatkan sugesti diri yang positif bagi masyarakat.

Mendukung program vaksinasi, misalnya, sebaik mungkin diimbangi dengan dukungan terhadap fasilitas kesehatan yang berkaitan dengan kebutuhan daerah. Namun, kebutuhan daerah terkadang kurang ditampilkan dengan baik karena informasi itu tertutupi oleh gencarnya pemberitaan yang bombastis dan tidak terlalu menyimpan urgensi dalam penyampaian dan penerimaan di tengah masyarakat.

Maka alangkah lebih baiknya, jika informasi hari-hari ini, disuntikkan ke tengah masyarakat melalui bingkai penulisan dan literasi yang kontekstual. Alhasil, saya percaya kesehatan masyarakat dapat terbangun setahap, setapak, pelan tapi pasti melalui kejernihan informasi.

Add Comment