Ibu Generasi Z, Kartini Berteknologi

Gen Z merupakan lanjutan dari generasi milenial atau biasa disebut Generasi Y atau Gen Y. UNIVERSITAS SEBELAS MARET

Generasi yang lahir pada tahun 1996 hingga 2010, menyandang nama Generasi Z atau biasa disingkat Gen Z, menjadi tantangan tersendiri bagi para ibu. Tantangan itu adalah bagaimana para ibu, perempuan Kartini masa kini, menanamkan nilai sosial dan moral kepada mereka. Gen Z merupakan lanjutan dari generasi milenial atau biasa disebut Generasi Y atau Gen Y, generasi yang memiliki rentang tahun kelahiran antara 1981-1994.

WHO sebagai organisasi kesehatan dunia menyebutkan definisi remaja merupakan tahap transisi antara masa kanak-kanak dan dewasa dengan batasan usia 12 sampai 24 tahun. Dalam peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 25 tahun 2014, menyebutkan bahwa remaja adalah masyarakat yang berusia 10 sampai 18 tahun. Sedangkan menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) rentang usia remaja adalah 10 sampai 24 tahun, serta belum menikah.

Pada masa remaja manusia tidak dapat dikatakan dewasa tetapi juga tidak dapat disebut dengan kanak-kanak. Namun, kesimpulan yang diambil bahwa remaja merupakan masa peralihan dari kanak-kanak menuju kedewasaan. Ketangguhan dalam membentuk, membimbing, membina, dan mengarahkan ‘generasi suntuk’ agar memiliki karakter baik menjadi tantangan yang luar biasa, apalagi jika seorang ‘Kartini’ ini juga menjadi tulang punggung keluarga.

Sebagai seorang yang dilahirkan dan berkembang seiring dengan pertumbuhan teknologi, internet, dan media sosial, Gen Z biasanya menjadi pecandu teknologi dan cenderung kurang bersosialisasi. Namun, segi positifnya seorang Gen Z cenderung lebih mandiri daripada generasi sebelumnya.

Mereka tidak menunggu orang tua mengajari sesuatu yang belum diketahui, atau memberi tahu cara bagaimana mengambil keputusan, karena mereka dapat mencari solusi melalui internet atau media sosial. Gen Z juga mampu menggunakan kemampuannya untuk melakukan banyak aktivitas secara bersamaan, misalnya membaca, berbicara, menonton dan mendengarkan musik pada waktu yang bersamaan.

Mereka ingin segalanya lebih cepat, baik dengan gaya nonverbal dan cenderung tidak dapat dijelaskan. Mereka sering kekurangan komunikasi verbal, mereka cenderung egois dan individualistis, mereka cenderung instan, tidak sabar, dan tidak menyukai proses.

Bersosialisasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam pendidikan keterampilan hidup bermasyarakat. Hal ini tidak saja menyangkut kegiatan bersosialisasi dengan masyarakat ataupun rasa kepercayaan diri anak untuk bertatap muka dengan orang lain.

Namun juga tentang sikap yang menunjukkan bagaimana kepedulian anak terhadap lingkungan disekitarnya, yaitu sikap saling menghormati, bertoleransi, dan sebagainya. Dalam kehidupannya, remaja cenderung mempunyai jaringan di dalam kelompok mereka, di mana mereka berteman dan berkumpul dalam komunitas pembentuknya.

Seperti yang disampaikan oleh Tika Bisono, psikolog nasional yang mengemukakan bahwa terlalu sering bermain gadget akan berpengaruh pada sikap anak yang cenderung lebih menyukai kesendirian daripada harus bersosialisasi dengan teman-teman di lingkungannya.

Jika keterampilan hidup ini tidak diperhatikan dengan baik oleh para orang tua, maka lama kelamaan akan terjadi penurunan kesadaran anak tentang lingkungan sosialnya. Sering seorang anak terpapar gadget akan menjadi pemicu rendahnya daya konsentrasi, bahkan menimbulkan gangguan kesehatan seperti kegemukan atau obesitas yang disebabkan anak malas utuk bergerak, hingga hal negatif seperti mengakses situs pornografi.

Sebagian besar ibu saat ini lebih sering menghabiskan waktu untuk bekerja demi memenuhi kebutuhan keluarga. Alasan itulah yang menjadikan Gen Z ini lebih rawan terkena dampak dari berkembangnya teknologi.

Tugas orang tua pada masa ini menjadi lebih berat dibandingkan dengan orangtua generasi sebelumnya. Maka dari itu, para orang tua terutama Ibu perlu menguasai teknologi dan mengikuti perkembangannya. Jika tidak diantisipasi, maka akan banyak efek negatif teknologi yang ditimbulkan terhadap anak.

Dalam hal ini orang tua mempunyai peran krusial dalam pembekalan keterampilan hidup, mulai mempersiapkan dari saat anak mengenal diri sendiri sampai pada tahap anak akan menyelesaikan permasalahan dengan membentuk sikap baik dan menanamkan nilai nilai sosial.

Orang tua yang sibuk cenderung tidak sempat untuk mengurus anak-anaknya. Dengan tidak mengabaikan peran Ayah yang sama pentingnya, maka sebagai perempuan dan seorang ibu dengan anak Gen Z seharusnya tidak menghindari tanggung jawab untuk membekali keterampilan hidup anak dalam menghadapi pola kehidupan yang berbeda, kehidupan dengan hiasan teknologi.

Keluarga merupakan tempat terbaik untuk mengekspresikan diri dan melukiskan nilai dan moral positif untuk anak maupun ibu. Anak yang mempunyai keunikan perlu dirancang dan dijaga nilai positifnya selama masa tumbuh kembang, yaitu dimulai dari usia dini sampai anak menuju dewasa.

Teknologi yang dikuasai bagi seorang ibu dapat mengimbangi perkembangan sosial anak dan membekali dirinya dalam menemukan cara jitu untuk memberikan arahan kehidupan kepada anak. Cara seperti memberikan rangkulan kecil dan komunikasi yang intensif, serta berdiskusi dengan anak akan mampu memberikan pondasi untuk menanamkan sikap dan nilai moral yang positif.

Pondasi dasar inilah yang harus kuat ditanamkan untuk jiwa anak dalam mempengaruhi semua warna kehidupannya, apapun zamannya.

Seperti yang pernah ditulis oleh R.A Kartini, ”Pergilah, laksanakan cita-citamu. bekerjalah untuk hari depan. Bekerjalah untuk kebahagiaan beribu-ribu orang yang tertindas”.

Sepenggal kata itu dapat menjadi motivasi bagi para perempuan Ibu masa kini dalam pembentukan karakter anak untuk masa depan negara. Tetaplah berjuang para Kartini era digital dan jangan menyerah.

 

Add Comment