Harapan Ibu terhadap Masa Depan Anak

Ibu dan anak saling berpelukan. FOTO MY BABY

Setelah Tuhan dan Nabi, tidak ada kata yang lebih indah untuk disebut oleh mulut-mulut anak manusia melebihi sebutan Ibu. Ibu menempati posisi mulia dalam tatanan kosmologi.

Seluruh dimensi sakralitas samawi yang ada dalam diri manusia akan menjadi rapuh tanpa kesadaran atas Sang Ibu. Pemujaan terhadap Tuhan dan mengikuti jalan Nabi menjadi sia-sia tanpa dibarengi dengan penghormatan yang tulus kepada Sang Ibu.

Manusia yang kehilangan ibu dari kesadaran psikologisnya, maka sesungguhnya mentalitas yang demikian artinya dia telah kehilangan jiwa sejatinya. Bagi anak manusia, ibu adalah segalanya. Ibu adalah sumber cinta, sumber inspirasi, dan sumber kesejukan serta pendingin alami pada musim kehidupan dalam atmosfer sosial-politik yang panas.

Ibu adalah penjaga sejati dalam kegelapan malam, penghibur sejati dalam kesedihan, teman sejati dalam kesendirian, dan harta sejati bagi kemiskinan yang merundung anak manusia. Betapa dungu dan bebal bagi anak-anak manusia yang tidak mengenal ibu-ibu mereka.

Hari Ibu yang diperingati setiap 22 Desember merupakan momentum yang dapat membuka kesadaran seluruh anak manusia untuk mau kontemplasi sejenak dan memusatkan pikiran pada titik sentrum tentang peran, jasa, dan perjuangan kaum ibu. Terinspirasi dari para ibulah, anak-anak manusia dapat mengetahui apa artinya hidup dan apa artinya menjadi manusia.

Renungan tentang ibu adalah perenungan sakral dalam tradisi agama dan keyakinan mana pun. Tuhan pun, dalam berbagai tradisi agama-agama, memerintahkan manusia untuk tunduk kepada ibu.

Kemuliaan kaum ibu terletak pada peran dan tanggung jawabnya dalam menciptakan generasi berkualitas. Ibu menghantarkan anak-anak manusia menuju planet kehidupan yang sarat dengan peradaban luhur.

Pada perspektif ini, kaum ibu bertanggung jawab atas moralitas anak manusia di masa depan. Sebagai penentu utama dan arsitek kehidupan bagi anak-anak manusia, kaum ibu pantas untuk ditempatkan pada posisi yang sakral. Tidak mengherankan jika Nabi Muhammad mengatakan bahwa surga berada di bawah telapak kaki ibu.

Penghormatan kepada ibu juga menjadi ajaran dasar 10 perintah Allah yang dibawa Musa. Bibel pun juga menekankan penghormatan kepada ibu sebagai pilar moral anak manusia. Begitu juga etika Hindu, Budha, dan Konghucu juga berada di atas fondasi kepatuhan kepada orang tua, terutama ibu.

Di dalam tradisi filsafat antropologi metafisika Islam, kemuliaan kaum ibu tercermin dalam tekanan yang diberikan pada pemenuhan hak-hak pertalian rahim. Secara linguistik, kata rahim (yang dimiliki ibu), memiliki akar yang sama dengan kata rahmah (kasih sayang). Baik rahim dan rahmat sudah menjadi sifat alamiah seorang ibu. Artinya, seorang ibu akan selalu menampakkan sifat-sifat kodratnya berupa kasih sayang, kelembutan, dan kesejukan terhadap buah hati yang keluar dari rahimnya.

Begitu mulianya seorang ibu sehingga Nabi Muhammad pun mengatakan bahwa jika bersujud kepada manusia diperbolehkan, maka Nabi akan memerintahkan anak-anak manusia untuk bersujud kepada para ibu mereka.

Di dunia ini, tidak ada suatu ajaran agama mana pun yang tidak memberikan penekanan pada penghormatan kepada seorang ibu. Bahkan saudara-saudara Hindu India selalu membungkuk dan memegang kaki para ibu mereka sebagai salam pertalian darah yang mulia. Tradisi sungkeman di Jawa di mana anak manusia harus duduk di atas tanah untuk mencium tangan dan tubuh ibu yang duduk di kursi kemuliaan, juga menjadi pertanda alam atas kemuliaan kaum ibu.

Adalah wajar jika seluruh agama dan moralitas yang ada dalam seluruh tradisi masyarakat manusia memberikan tekanan keharusan untuk menghormati para ibu. Hal ini sebagai balasan atas kebaikan dan kemuliaan ibu.

Hanya ibulah yang mau mengandung janin manusia di mana tidak ada orang lain yang sanggup melakukan hal ini. Kasih sayang seorang ibu begitu luar biasa karena ibulah yang mau memberikan seluruh kesenangannya untuk buah hatinya, sesuatu yang tidak akan diberikan kepada orang lain.

Adakah penduduk bumi yang rela lapar demi anaknya bisa makan, minum, dan bersenang-senang?

Adakah makhluk alam yang mau dibakar oleh panas terik matahari demi anaknya agar bisa berteduh di pelukannya?

Siapa yang mau terjaga dalam kegelapan malam yang mencekam demi rasa tidur nyenyak dan nyaman bagi anak-anaknya?

Dialah sang ibu yang rela merasakan sakitnya melahirkan demi membuka jalan bagi kelahiran bayinya.

Anak-anak Ibu Pertiwi

Kita pantas curiga terhadap fenomena kesejarahan, di mana anak-anak manusia mulai kehilangan kontrol atas api emosinya. Peperangan, teror, dan tindak kriminal yang nampak di wajah permukaan bumi adalah indikasi betapa moralitas anak manusia mengalami degradasi dari kodrat semestinya.

Kesalahan pendidikan kaum ibu atau pengkhianatan anak-anak manusia yang bebal dan dungu?

Pasti tidak ada seorang ibu yang menginginkan anaknya berperilaku tidak bermoral dan menjadi malapetaka bagi sesamanya. Akan tetapi, tidak berarti bahwa kaum ibu itu suci dan tidak dapat dipersalahkan.

Kekhilafan dan kelalaian seorang ibu dalam proses transformasi pendidikan bagi anaknya juga harus menjadi renungan bagi kaum ibu. Dengan pendidikan yang lurus, kontrol sosial yang baik disertai rasa kasih sayang, maka kaum ibu akan dapat mengekang anak-anaknya untuk tidak menjadi malapetaka sosial di lingkungannya. Kaum ibu memiliki potensi besar dalam menyiram air kesejukan atas api emosi anak-anak manusia.

Di sinilah kaum ibu dituntut untuk memberikan pendidikan moral yang luhur dan lurus kepada anak-anaknya agar tercipta generasi yang memiliki kesalehan individual dan sosial yang tinggi untuk lebih peka terhadap tuntutan kebaikan dan kebenaran.

Inilah cita-cita seorang ibu atas anak-anaknya dan ini juga yang menjadi harapan ibu pertiwi atas anak-anak bangsanya. Anak-anak ibu pertiwi yang cerdas, kreatif, dan berbudi luhur hanya akan terlahir dari rahim para ibu yang mau mendidik anaknya dengan ajaran-ajaran etika.

Masa depan bangsa akan sangat dipengaruhi oleh moralitas pemuda masa kini. Sejauh mana pemuda memiliki kesadaran untuk menciptakan iklim sejuk di atas tanah air ibu pertiwi, akan sangat ditentukan oleh pola-pola kaum ibu dalam mendidik putra-putrinya. Nasib ibu pertiwi di masa depan akan sangat ditentukan oleh tugas-tugas alami yang diemban kaum ibu.

Meskipun tidak pernah terbesit dalam nurani seorang ibu untuk membiarkan anak-anaknya menjadi sampah masyarakat yang hidup dalam nafsu-nafsu murahan, namun pola pendidikan anak yang salah akan dapat menciptakan atmosfir kejahatan yang pekat di atas bumi.

Ibu mana yang rela anak-anaknya mengotori moral dan sosial di bumi?

Barangkali hal yang demikian tidak pernah diharapkan, sebagaimana ibu pertiwi tidak pernah menghendaki anak-anak bangsanya melakukan perusakan etika dan alam. Oleh karena itu, maka tugas kaum ibu dalam mengawal kehidupan anak-anaknya harus menjadi perhatian utama dan pertama. Ibu adalah pilar penyangga bagi munculnya generasi masa depan anak-anak manusia yang berperadaban tinggi.

Sebagaimana matahari (ibu dari planet bumi) yang senantiasa memberikan kehangatan dengan cahayanya, atau seperti bumi (ibu dari pepohonan) yang senantiasa menumbuhkan dan mengontrolnya, bahkan tempat berpijak dalam hidup, maka kaum ibu adalah pengawal, penyangga sekaligus pengontrol perjalanan anak-anak manusia dalam perjalanan sejarah dan peradabannya.

Di balik kelemahan fisik, yang merupakan kodrat alami seorang ibu sebagai perempuan, kaum ibu memiliki potensi kekuatan yang luar biasa dalam mengarahkan anak-anak bangsa untuk menjaga ibu pertiwi beserta kandungan-kandungan moralitas yang ada di dalamnya.

Dengan kelembutan, kasih sayang, dan kesejukan, ibu akan lebih dapat mengambil peran pendidikan bagi anak-anaknya dibanding yang lainnya. Dengan pendidikan dari kaum ibu ini, maka diharapkan dapat mencetak anak-anak bangsa yang memiliki integritas moral yang tinggi demi membangun dan memberikan kontribusi positif bagi kelangsungan kehidupan berbudaya di atas tanah ibu pertiwi.

Menuju Moralitas Tinggi

Seorang ibu lebih berhak untuk dihormati dari manusia lainnya. Ini adalah realita ontologis yang menjadi kewajiban moral bagi setiap anak manusia. Ibulah yang melahirkan anak manusia, yang membelai, memeluk, menyanyikan, hingga menyusui dengan keikhlasan hati.

Penghormatan kepada ibu merupakan tuntutan kosmos yang tidak mungkin ditawar-tawar lagi oleh logika dan kultur mana pun. Anak manusia akan selalu memerlukan seorang ibu, bahkan ketika janin masih berada di kandungan.

Selama sembilan bulan, ibu merelakan si janin menyatu dengannya dalam satu tubuh demi melanjutkan keberlangsungan proses menuju kelahirannya di alam. Ibu adalah mahkota kosmos yang melengkapi eksistensi seorang anak manusia sekaligus menyempurnakan kemanusiaannya.

Di samping keistimewaan yang dimiliki seorang ibu, terdapat tugas moral yang begitu berat dan mulia. Kaum ibu harus dapat menghantarkan anak-anaknya untuk dapat menemukan jati dirinya sebagaimana makhluk yang sempurna. Kegagalan seorang ibu dalam membangun moralitas anak adalah kegagalan alam dan tragedi kemanusiaan paling mengerikan di muka bumi.

Dari beberapa sudut peristiwa sosial, terlihat ada seorang ibu yang membuang bayinya, ada yang menelantarkan dan menyiksa buah hati dengan penuh kekejaman, bahkan ada yang menjualnya kepada laki-laki hidung belang. Fenomena ini adalah pengkhianatan yang dilakukan kaum ibu atas hati nuraninya. Anak, sebagai penerus identitasnya telah dicampakkan dalam kegelapan dunia.

Tidak ada makhluk yang menerima tugas berat dan mulia melebihi kaum ibu, namun sebagian dari mereka telah mengkhianati kesucian ini. Secara fitrah (kodrati), ibu harus memberikan perhatian bagi perjalanan hidup anak manusia, baik secara fisik biologis, intelektual, maupun moral-spiritual.

Fisik yang sehat, intelektual yang cerdas, dan moralitas luhur akan dapat menghantarkan anak manusia untuk lebih dapat menjauhi kehinaan dan mengikuti ajaran hikmah. Integritas moral anak manusia yang tinggi secara fitrah menjadi harapan para ibu sehingga anak akan memiliki kesalehan teologis dan kesalehan sosial. Ini adalah harapan seorang ibu yang juga menjadi harapan ibu pertiwi.

Sebagai kewajiban moral, maka anak manusia harus menghormati ibunya. Bentuk penghormatan kepada seorang ibu adalah anak mampu meyakinkan kepada siapa pun bahwa dirinya bukan babi hina yang tidak dapat dididik dengan moralitas luhur.

Seorang anak dikatakan berbakti jika mampu membuktikan bahwa dirinya memiliki kekuatan untuk memeluk cahaya kebaikan dan menjauhkan diri dari tabiat-tabiat rendah sebagai kontribusi positif bagi pembangunan moral bangsa. Para ibu bahagia, ibu pertiwi pun tersenyum.

Add Comment