Bunda Renny, Survivor Kanker dan Kekuatan Media Sosial

Bunda Renny yang memiliki nama asli Renny Nurjannati terkena kanker pertama kali tahun 2015. RSUD Temanggung

Tring!

Notifikasi dari akun bertanda huruf F biru terdengar pelan. Seperti biasa, notifikasi seperti itu tidak pernah saya hiraukan. Nantilah, saat punggung sudah benar-benar meminta jatah istirahat, aplikasi itu baru saya buka.

Notifikasi terdengar lagi. Tetap saja tidak saya hiraukan. Saya sedang tidak ingin membuka akun facebook untuk saat ini. Ada banyak yang harus saya selesaikan terlebih dulu. Perangkat pembelajaran yang harus segera disusun sebagai tugas utama, mengecek pembukuan termasuk keluar masuknya barang karena ada sedikit sambilan pekerjaan dan urusan remeh temeh yang juga perlu pemikiran, membuat saya tidak sesegera mungkin membuka akun media sosial.

Saya masih meneruskan kegiatan menatap layar laptop untuk menyelesaikan pekerjaan pekerjaan tersebut. Ternyata notifikasi terdengar lebih sering lagi. Saya segera menutup laptop ketika notifikasi terdengar kembali, buka aplikasi bertanda huruf F biru, dan ternyata banyak sekali permintaan pertemanan yang masuk. Saya buka sembarang, dan belum berniat untuk konfirmasi siapapun. Status dan tulisan yang saya buat, saya lihat kembali.

Ada beberapa tulisan yang harus saya tambahkan dan tulis ulang tentang tanaman Passiflora. Akhir-akhir ini, saya memang sedang menulis tentang manfaat tanaman Passiflora di media sosial setelah saya mendapatkan manfaat tanaman tersebut untuk penyembuhan kanker kulit yang saya alami. Sebenarnya ada niatan untuk menjadikan sebuah buku, akan tetapi waktu yang belum memungkinkan.

Sambil membaca, sekilas mata ini melihat ada 10 notifikasip dari messenger. Tidak biasanya ada 10 angka di aplikasi ini. Ketika saya buka, ada banyak pemberitahuan dari mesenger yang tersembunyi atau terfilter. Itu berarti messenger dari seseorang yang tidak masuk dalam daftar teman di aplikasi biru. Ada akun Renny Budiyono yang mengirim di mesenger sampai tujuh chat. Sempat terlintas dalam pikiran, antara dibuka atau tidak. Saya putuskan untuk membuka.

[Assalamualaikum, Mbak Retno. Plerkenalkan saya Bu Renny dari Temanggung]

”Itu chat pertama, chat berikutnya, tidak saya lanjutkan membaca. Mata sudah sangat lelah untuk melanjutkan. Baru sore hari, pesan itu saya baca kembali.

[Saya divonis dokter terkena penyakit kanker, sudah operasi pengangkatan, Mbak. Semula ginjal saya yang terkena, ginjal sebelah kanan dan sudah diangkat. Ternyata tidak hanya ginjal yang harus dioperasi, organ anak ginjal pun juga harus dioperasi]

Itu chat kedua.

Lanjut chat yang ketiga,

[Tidak berhenti sampai disitu, kanker ini menyerang kepala, mbak.. kanker menyerang selaput otak dan harus operasi lagi]

Pesan ketiga saya baca sambil menutup mulut karena hati dan mata serta pikiran campur aduk luar biasa. Ketika saya membayangkan operasi bagian kepala dan yang harus dioperasi adalah organ otak, maka terlintas dalam pikiran saya, batok kepala atau tulang tengkorak harus dibuka.

Kengerian tentang beratnya bagi penderita kanker kembali terbayang dalam pikiran saya. Meskipun begitu, tetap saya lanjutkan membaca pesan keempat.

[Saya sekarang hanya tiduran, setiap pagi badan berasa panas semua. Untuk bangun sangat berat, kepala pusing terus terusan]

[Bahkan saat ini dokter menemukan nodul di paru-paru saya, meskipun kecil tapi sangat mengkhawatirkan dilihat dari riwayat kanker saya. Saya sudah tidak ingin operasi lagi

Itu pesan kelima.

[Saya baca postingan mbak Retno di Facebook, tentang daun Passiflora dan saya sangat berharap mbak Retno bisa menolong saya untuk mengirimkan daun tersebut]

[Terima kasih atas kelonggaran dan bantuan dari mbak Retno, saya sangat berharap atas tanaman itu!]

Dan itu pesan yang paling bawah.

Percakapan itu terjadi di akhir tahun 2017. Tahun di mana saya banyak menulis tentang tanaman Passiflora di akun media sosial Facebook milik saya, setelah tulisan pertama saya pada tahun 2014 tidak banyak direspon. Banyak harapan yang saya inginkan dari tulisan itu. Tapi baru di tahun 2016, tulisan itu diketahui banyak orang. Tulisan tentang manfaat Passiflora bagi penderita kanker.

Segera saya buka pada permintaan pertemanan, dan saya cari akun Bunda Renny. Ketemu. Ternyata permintaan tersebut sudah dua minggu yang lalu. Segera saya klik dan konfirmasi. Saya memang tidak seperti pemilik akun media sosial yang lain, yang tidak sesegera mungkin untuk menerima permintaan pertemanan dari seseorang. Saya perlu melihat profil terlebih dahulu. Begitupun dengan akun ibu Renny ini.

Saya ingat, ketika membuka akun Bunda Renny, ada foto-foto kebersamaan dengan Syahrini, atau Krisdayanti, saya lupa, di toko oleh oleh. Jadi saya tidak berpikir bahwa akun ini urgen untuk diterima pertemanannya.

‘Maafkan saya, ya, Bu.’

Begitulah awal saya bertemu dan mengenal Bunda Renny. Januari 2018, silaturahmi terjalin dengannya, perempuan yang setelah saya mengenalnya, saya tidak bisa membayangkan bagaimana jika saya berada di posisi yang sama. Perempuan hebat yang diberikan kekuatan lebih dalam menghadapi ‘sahabat’ berupa kanker yang bisa jadi masih membersamai saat ini.

Sejak itu, kami berkomunikasi melalui aplikasi perpesanan WhatsApp untuk memudahkan dalam komunikasi. Dari komunikasi yang terjalin, saya baru tahu bahwa Bunda Renny pernah menjalani berkali-kali operasi pengangkatan organ untuk menghilangkan jaringan kanker. Mulai dari organ ginjal, anak ginjal dan jaringan kanker di selaput otak. Sampai pada batas hampir putus asa, karena setelah operasi terakhir di selaput otak, kesehatannya menurun dengan drastis. Di saat hampir putus asa itulah, kami dipertemukan oleh Allah melalui media sosial Facebook.

Bunda Renny yang memiliki nama asli Renny Nurjannati terkena kanker pertama kali tahun 2015. Organ yang terkena adalah ginjal. Mengapa saya katakan pertama kali, karena kanker yang mengenainya tidak hanya menyerang satu organ saja. Akan tetapi beberapa organ sekaligus. Sama seperti kebanyakan orang yang terkena kanker, Bunda Renny pun tidak menduga jika ada gangguan serius pada tubuhnya. Di awal kanker menyerang, ia hanya sering merasakan kelelahan.

Kelelahan adalah gejala kanker secara umum yang paling banyak dirasakan penderitanya. Akan tetapi, kelelahan karena kanker berbeda dari rasa lelah biasa atau saat tubuh kurang tidur. Kelelahan ini berlangsung terus-menerus sampai membuat penderitanya sulit menjalani aktivitas sehari-hari. Demikian pula yang terjadi pada Bunda Renny, meskipun di awal terkena kanker tidak sampai membuat Bunda Renny tidak bisa beraktivitas.

Gejala lain yang dirasakan adalah pinggang berasa sangat pegal dan kadang sedikit nyeri. Gejala ini pun sangat umum, dan tidak menunjukkan jika terjadi penyakit yang serius, sehingga tidak terlalu diperhatikan. Sakit pinggang jamak dialami orang berusia di atas 40 tahun. Demikian pikirnya. Jadi gejala-gejala demikian tidak dihiraukan.

Bunda Renny tetap beraktivitas seperti biasa. Hanya jika rasa lelah itu datang menghebat, ia harus istirahat total. Sampai suatu ketika di pagi hari di tahun 2016, ketika beraktivitas pagi, ia sangat terkejut. Urin yang keluar saat buang air kecil, berwarna coklat gelap. Dan pinggang terasa sangat nyeri. Pada saat itulah terpikirkan bahwa ada yang tidak wajar pada tubuhnya. Seketika pagi itu juga ia bersama dengan suaminya menjadwalkan untuk bertemu dokter di salah satu rumah sakit di Temanggung.

Serangkaian pemeriksaan dijalani, untuk memastikan apa yang terjadi di tubuh. Dokter melakukan pemeriksaan fisik dan beberapa pemeriksaan tambahan, seperti pemeriksaan darah dan pemeriksaan analisis urine. Hasilnya dinyatakan terjadi radang saluran kencing, belum terdeteksi adanya kanker. Pengobatan dilakukan untuk mengatasi radang saluran kencing. Akan tetapi, obat yang dikonsumsi tidak memberikan hasil yang memuaskan. Urin tetap berwarna kecoklatan dan nyeri pinggang semakin terasa.

Pada pemeriksaan berikutnya dilakukan Ultrasonography (USG) dan Computerized Tomography (CT) Scan. Pada saat itu ditemukan massa tidak normal di dalam ginjal sebelah kanan. Sebenarnya massa kanker belum terlalu besar, tetapi karena massa kanker masih belum besar inilah, operasi pengangkatan harus dilakukan. Dokter memutuskan ginjal kanan harus diangkat untuk menyelamatkan ginjal kiri. Pertengahan tahun 2016 itulah ginjal kanan Bunda Renny diambil. Tindakan operasi dilakukan di salah satu rumah sakit besar di Jogjakarta

Setelah operasi ginjal kanan, dalam pemeriksaan selanjutnya, ternyata sel-sel kanker juga ditemukan di kelenjar anak ginjal. Kelenjar ini berada di atas ginjal. Lagi-lagi kelenjar ini pun harus diambil untuk menyelamatkan ginjal kiri. Bunda Renny kembali masuk ruang operasi di tahun 2016 itu juga.

Pasca operasi, tidak serta merta tubuh menjadi lebih baik. Perlu waktu untuk pemulihan kembali seperti semula. Apalagi sekarang ginjal yang dimiliki tinggal ginjal sebelah kiri. Begitupun dengan kelenjarnya. Agak mengkhawatirkan memang. Apalagi fungsi ginjal adalah sebagai penyaring darah dan membuang limbah, seperti racun, garam berlebih, dan urea, sehingga dikhawatirkan dengan hanya memiliki satu ginjal, fungsi-fungsi tersebut tidak akan maksimal. Akan tetapi meskipun ginjal yang dimiliki tinggal sebelah, jika kebiasaan yang dijalani survivor kanker merupakan kebiasaan yang sehat, diharapkan kualitas hidup bisa kembali seperti semula.

Demikian juga dengan Bunda Renny, pola makan dan kebiasaan hidup yang sehat tetap dijalankan seperti sebelum operasi. Tetap konsumsi sayur dan buah merupakan kebiasaan yang selalu dijalankan sebelum dan sesudah operasi. Tidur teratur dan berolahraga ringan juga tetap dijalankan.

Obat-obatan yang diberikan oleh dokter pun rutin dikonsumsi. Kemoterapi sesuai dengan jadwal dokter juga dilakukan. Tidak ada yang terlewat. Semua dijalaninya agar sel-sel kanker tidak menyerang kembali.

Manusia boleh berusaha, tetapi Tuhanlah Sang Penentu. Setelah operasi pengangkatan kelenjar anak ginjal dan pengobatan paska operasi, kesehatan Bunda Renny belum juga membaik. Kelelahan masih sering terjadi. Mual dan muntah adalah hal biasa yang terjadi di pagi hari. Jika sudah demikian, pusing dan nyeri kepala adalah pasangan sejati dari mual dan muntah tersebut. Pandangan kabur adalah yang dirasakan selanjutnya.

Hal demikian tidak dibiarkan begitu saja. Setiap kali kontrol kesehatan paska operasi sebelumnya, gejala dan kondisi kesehatan selalu dikonsultasikan. Konsumsi obat-obatan sudah tidak terhitung, sampai ia tidak berpikir lagi tentang obat dan kegunaannya untuk yang mana. Semua tindakan medis selalu diikuti dan dijalankan dengan kepatuhan tingkat tinggi.

Awal tahun 2017, pada kontrol kesehatan yang ke sekian kali, Allah memberi ujian kembali. Lagi-lagi, sel-sel kanker masih setia menemani di dalam tubuh Bunda Renny. Kali ini sel kanker migrasi ke selaput otak. Allahu Rabbi! Inilah yang membuat saya tidak bisa bayangkan jika berada di posisinya saat itu. Luar biasa untuk kesabaran dan keikhlasannya.

Dokter kembali memutuskan untuk melakukan pengambilan jaringan kanker yang ada di selaput otak Bunda Renny. Setelah serangkaian pemeriksaan kembali dilakukan, operasi pengangkatan sel kanker yang ada di selaput otak dilakukan pada bulan Pebruari 2018. Operasi ini termasuk jenis operasi besar, karena operasi dilakukan dengan membuka atau mengangkat tulang tengkorak untuk mengambil jaringan kanker pada selaput otak. Meskipun berat, Tuhan memudahkan operasi ini.

Operasi berhasil dan terbilang sukses mengangkat jaringan kanker. Akan tetapi tulang tengkorak belum dipasang sampai saat ini. Hal ini semata dilakukan untuk memudahkan dokter melakukan observasi terhadap pertumbuhan sel-sel kanker yang dimungkinkan dapat kembali.

Hari-hari kembali dijalani untuk memastikan sel-sel kanker tidak kembali menyerang organ tubuh yang sama atau menyerang organ tubuh yang lain. Tidak perlu ditanyakan bagaimana beratnya yang terjadi padanya dan keluarganya. Saya yang hanya menemani bapak, berjuang untuk satu kanker yang menyerang organ paru paru saja, rasanya sangat tidak tega melihat bagaimana bapak menahan sakitnya. Atau saya yang hanya terkena satu jenis kanker yang relatif ringan pun, sudah hampir putus asa. Apalagi ini, berkali-kali kanker menghampiri tubuh.

Itulah mengapa banyak yayasan kemanusiaan yang bergerak untuk melakukan pendampingan bagi survivor kanker dan juga keluarga yang mendampingi survivor agar tetap kuat, tegar dan sabar demi kesembuhan survivor kanker.

Keluarga Bunda Renny yang terdiri dari suami, dan anak anaknya konsisten untuk selalu menguatkan, demi kesembuhannya. Setelah komunikasi melalui media sosial, kami dapat bertemu secara langsung meskipun melalui putra beliau yang kuliah di Jogjakarta, Bunda Renny mulai mengonsumsi jus Passiflora. Seminggu setelah konsumsi, ia memberikan kabar yang membuat saya sedikit lega.

[Assalamualaikum, Mbak Retno, saya sudah konsumsi daunnya sesuai dengan aturan yang diberikan. Seminggu ini saya sudah mulai bisa beraktifitas pagi kembali, setelah sebelumnya setiap pagi hanya bisa tiduran saja. Meskipun masih sedikit terasa pusing dan mual sudah tidak seperti kemarin. Mohon selalu dukungannya terkait dengan penyediaan daun Passilora ya, Mbak]

Kabar darinya saya baca dengan terharu. Kami berharap melalui perantara daun ini, Allah berikan kesembuhan dengan benar-benar sembuh. Sampai saat ini, ia masih konsumsi jus Passiflora dan kami masih menjalin silaturahmi melalui media sosial, baik Facebook, WhatsApp maupun Instagram untuk berusaha menyebarkan manfaat dan kebaikan. Semoga.

 

Add Comment