Bengawan Solo, Alam Punya Jalan Sendiri

Volume air sungai Bengawan Solo. BBWS Bengawan Solo

Pencemaran Sungai Bengawan Solo nampaknya akan menjadi persoalan klasik yang terus dibahas dalam meja-meja rapat dan kunjungan-kunjungan kerja pemerintah.

Bengawan Solo, sungai terpanjang di Pulau Jawa itu, seolah punya cara tersendiri dalam merespons perlakuan ekosistem di sekitarnya -timbal balik ekosistem-.

Barry Commoner, ahli ekologi asal Amerika dalam bukunya The Closing Circle menyebut, ada empat hukum ekologi yang bisa menjadi rujukan pemerintah dalam memahami ekosistem sebelum merumuskan kebijakan penataan ruang maupun penggunaan lahan.

Pertama, segala sesuatunya berhubungan satu sama lainnya. Pernyataan ini berhubungan dengan konsep teori sistem keterkaitan. Setiap hal yang ada dalam ekosistem akan saling terkait dan saling berhubungan seperti jaringan raksasa. Meluas ke seluruh ruang ekosistem yang kita miliki, yakni jaringan kehidupan. Bila dalam jaringan ini terjadi kesalahan, maka akan menimbulkan konsekuensi pada bagian lain dalam jaringan itu.

Dengan membuang limbah ke Bengawan Solo, apakah sungai sepanjang 600 kilometer itu lantas mampu menyerap dan memulihkan hasil ekstraksi manusia?

Tentu tidak, jejak kotor tersebut justru akan kembali, berbalik, berimbas pada hidup manusia dan organisme yang berada di sekitarnya. Bahkan untuk kondisi yang lebih luas dan kompleks lagi, alam akan membawa jejak itu jauh pada organisme yang semestinya tak ikut bertanggung jawab.

Kedua, segala sesuatunya akan pergi ke suatu tempat. Pernyataan dari Commoner ini menyebutkan keterkaitan antara limbah dan manajemen. Limbah menjadi bagian dari lingkungan kita. Di sini limbah bukan dalam arti sempit bahwa ia dibuang di sekitar tempat kita, tetapi akan selalu berakhir di suatu tempat.

Wonogiri, Sukoharjo, dan Solo bisa dikatakan hulu yang menjadi daerah tangkapan air. Bengawan Solo memanjang ke tengah seperti kabupaten Sragen, Ngawi, Madiun, hingga wilayah hilir, melewati Tuban, Lamongan, dan bermuara di Gresik.

Limbah yang dibuang di Solo maupun wilayah lain, pada akhirnya akan berakhir di laut selepas Gresik sebagai muaranya. Sama halnya sedimen atau endapan yang dibawa oleh aliran Bengawan Solo dari ujung hingga hilir, endapan itu bisa menyebabkan pendangkalan di Selat Madura.

Ketiga, alam memiliki jalan terbaik. Teknologi tidak bisa menyelesaikan semua masalah masyarakat. Bahkan, mungkin bisa menjadi penyebab beberapa masalah ini. Alam memiliki cara sendiri untuk mengkompensasi ketidakadilan, menjaga keseimbangan, dan memecahkan masalah.

Secanggih apapun teknologi pengolahan limbah, nampaknya masih sulit untuk menyeimbangi volume industri yang telah banyak menyebar di beberapa titik tepi Bengawan Solo. Ongkos untuk biaya pengolahan limbah tentu juga membuat pengeluaran perusahaan membengkak. Industri tekstil, ciu, dan sampah rumah tangga yang sulit diserap akan memperburuk ekosistem Bengawan Solo.

Keempat, segala sesuatunya tidak serta gratis. Pemanfaatan lingkungan untuk segala aktivitas maupun usaha manusia tersebut, diperlukan biaya untuk bahan baku produksi. Biaya juga diperlukan dalam proses pengolahan limbah sebagai tanggung jawab industri.

Pada kondisi tertentu, biaya pengolahan limbah maupun biaya untuk meminimalisasi resiko yang mengiringi industri, malah lebih besar daripada keuntungan yang didapat selama industri tersebut berjalan. Kondisi ini bisa menjadi jadi alasan mengapa industri memangkas biaya pengolahan mereka.

Tanggung Jawab Industri

Industri punya semacam kewajiban yang mesti diimplementasikan selain turut menghasilkan produksi dan membawa keuntungan ekonomi bagi person atau lembaga yang berafiliasi. Akan tetapi, setiap bentuk usaha memang harus meyakinkan bahwa usahanya itu mendatangkan kesejahteraannya bagi siapa saja di sekelilingnya.

Capaian kesejahteraan itu tidak diukur dari berapa banyak pegawai yang bekerja, berapa banyak jumlah produksi yang dihasilkan per tahun, sudahkah perusahaan mampu membayar pekerja dengan layak, tetapi juga tanggung jawabnya terhadap sosial dan lingkungan tempat usaha itu berdiri.

Industri tekstil, ciu, dan batik harus melewati segala uji kelayakan beroperasi, terutama terkait Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Industri harus bertanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan, bukan pada keuntungan ekonomi semata. 63 perusahaan di kawasan Soloraya yang baru-baru ini mendapat sanksi, mestinya menjadi peringatan bagi pelaku industri yang lain.

Kerjasama dan Pengawasan Pemerintah

Tentu dibutuhkan komunikasi antar pelaku usaha, akademisi, penyokong dana, LSM, masyarakat setempat, pemangku kebijakan, untuk saling mengerti kepentingan satu sama lain. Sebab, permasalahan lingkungan merupakan permasalahan multidimensi yang tidak bisa selesai oleh bidang ilmu tertentu. Permasalahan lingkungan dibutuhkan kesadaran ekologi, empati, saling pengertian dari semua elemen.

Pengolahan limbah bukan jadi tanggung jawab industri saja, namun pemerintah juga turut mengawasi dan membantu dalam penyediaan pengolahan limbah skala komunal. Ketidakmampuan dalam mengelola dan mengolah limbah membuktikan bahwa pemerintah dan industri seolah tidak ingin mengeluarkan ongkos yang lebih besar.

Butuh pihak-pihak yang memang konsisten berkomitmen demi penyelenggaraan industri yang berkelanjutan. Industri yang memperhatikan kualitas air, hingga tak merugikan ribuan pelanggan air bersih maupun organisme yang hidup di sungai.

Bengawan Solo adalah sungai penting dalam sejarah manusia dan sungai itu sekarang harus menanggung beban yang berat. Bengawan Solo menampung volume air yang begitu besar hasil limpahan air hujan, ia anugerah dari Tuhan untuk kehidupan umat manusia.

Tidak bisa dimungkiri, bahwa ada harapan besar agar Bengawan Solo tetap lestari, karena sungai itu adalah cermin kondisi kehidupan alam kita saat ini.

Bahan Bacaan

Alexander, Flor, dan Hafied, Cangara, 2018. Penanganan Kasus-kasus Lingkungan Melalui Strategi Komunikasi. Yogyakarta: Penerbit Kencana.

Add Comment