Aktualisasi Diri Perempuan

Ilustrasi perempuan dalam mengenal peran dan mengaktualisasi diri. DPPPAPM SURAKARTA

Berbicara mengenai perempuan, kita awali dari ungkapan masyhur yang sering dipakai oleh para filsuf, orang bijak, dan ahli hikmah (tasawuf) yang berbunyi:

Kenalilah dirimu melalui dirimu atau ‘Siapa yang mengenal dirinya, maka mengenal Tuhan-Nya’

Kendati, siapa yang tidak mampu mengenal dirinya, bahkan lupa akan siapa dirinya, maka ia akan binasa. Dapat diibaratkan, binatang yang bernama lalat, ia akan memilih makanan basi yang berada di tong sampah daripada makanan yang berada di meja mewah. Lalat tidak bisa disalahkan, sebab ia sudah mengenali dirinya. Maka perempuan yang mengenal siapa dirinya, ia tidak akan binasa dan dapat mengambil peran.

Tuhan menciptakan alam semesta beserta isinya tidak ada yang kebetulan, semua atas perencanaan maha dahsyat. Bahkan semuanya diciptakan-Nya secara berpasang-pasangan. Keberpasangan mengandung makna berupa persamaan dan perbedaan. Persamaan dan perbedaan harus disadari dan dipahami supaya tercapai cita-cita mulia berupa kemanusiaan. Tanpa memahami hal tersebut, maka laki-laki maupun perempuan akan terjerumus dalam sikap saling menyalahkan bahkan menzalimi satu sama lain.

Tak dapat dimungkiri, laki-laki selama ini sering memperoleh kesempatan dan ruang gerak yang lebih luas jika dibandingkan perempuan. Hal tersebut menjadi bukti masih terjadinya kesenjangan bahkan kepincangan di tengah-tengah masyarakat. Terdapat lini-lini sosial yang sampai saat ini masih dianggap tabu jika diduduki oleh perempuan, entah karena aturan adat atau semacam dogma, yang pasti perempuan masih dianggap lemah dan laki-laki berada diatas angin.

Perempuan bisa bicara apa atas fakta ini? Apa harus bungkam suara dan diam saja?

Atau hanya sekedar menjadi pelengkap keindahan dalam mendampingi laki-laki?

Tentu tidak, perempuan harus mengenal siapa dirinya secara utuh, supaya tercapai aktualisasi perempuan tanpa keluar dari kodrat yang sudah ditentukan, maksudnya tidak perlu mengubah diri menjadi laki-laki atau transgender jika ingin beraktualisasi dalam masyarakat. Aktualisasi berarti menjadi kebutuhan setiap manusia, begitu ungkap Abraham Maslow yang ahli di bidang psikologi humanistik. Perempuan dapat mendobrak batas-batas sosial dalam mengambil peran di tengah masyarakat sesuai batas kemampuan dan keistimewaan yang dimiliki.

Syamsul Bakri dalam syair yang berjudul ‘Perempuan, Kartini dan Gerak Zaman’ mengatakan:

Perempuan adalah citra Tuhan, sempurnanya sebuah penyaksian, keanggunan yang menggerakkan, feminim yang menaklukan kaum jantan.

Beberapa kelompok pengamal tasawuf menyatakan terdapat sifat-sifat feminim yang melekat pada Tuhan. Sifat itu di antaranya adalah ‘cinta kasih’. Kaum sufi mengakui bahwa cinta kasih adalah sifat yang lebih menonjol pada diri perempuan dibanding laki-laki.

Pakar psikologi Mesir, Zakaria Ibrahim, pernah menuliskan bahwa perempuan memiliki kecenderungan masokhisme (mencintai diri sendiri) yang kaitannya dengan menyakiti diri (berkorban) demi berlanjutnya keturunan.

Filsuf Mesir, Anis Manshur juga mengungkapkan, laki-laki dan perempuan memiliki jenis kelamin yang berbeda, namun di saat yang sama kedua jenis kelamin itu diberi kesempatan yang sama. Selanjutnya, apakah perempuan masih menganggap dirinya lemah, dan laki-laki menganggapnya remeh.

Di balik perempuan yang sukses, terdapat cinta yang gagal. Dan di belakang laki-laki yang sukses, terdapat perempuan yang mencintainya.

Add Comment