Surakarta Kota Santri

Ilustrasi Santri Surakartan. SIGIT BOOK

Surakarta, salah satu kota penting di Pulau Jawa yang memiliki sejarah panjang manusia melakoni kehidupan. Silih berganti kerajaan menguasai daerah ini, dari Kesultanan Pajang sampai Kartasura, dan terakhir, Surakarta. Sebagian akrab menyebut kota ini dengan Solo ketimbang Surakarta. Surakarta atau Solo hari ini sebenarnya sama saja, yaitu menunjukkan nama tempat yang sama. Mungkin yang sedikit membedakan hanya soal administrasi pemerintahan. Surakarta-lah nama resminya, bukan Solo.

Dua bentuk penyebutan untuk daerah yang sama di atas mirip dengan sejarah Kota Madinah, kota di mana jasad mulia Kanjeng Nabi Muhammad SAW dimakamkan. Jadi, sebelum akrab sampai hari ini disebut Madinah, atau sebelum Kanjeng Nabi Muhammad SAW hijrah dan menjadikan kota tua itu indah dan semarak, dulunya bernama Yatsrib, dikaitkan dengan nama sesepuh yang pertama kali babat alas, membuka lahan permukiman bernama Yatsrib bin Qaniyah bin Mahlail.

Solo atau Sala juga dikaitkan dengan tokoh bernama Kyai Ageng Sala, sesepuh yang pertama kali membuka lahan dan kemudian merelakan tanah miliknya untuk dibangun keraton oleh Sinuhun Paku Buwana II. Desa Sala milik Kyai Ageng Sala selanjutnya menjadi tempat di mana Keraton Surakarta berdiri.

Di kota inilah beberapa tahun lalu saya berkesempatan hadir di dalam sebuah acara akbar. Acara yang digelar di Benteng Vastenburg. Benteng tersebut tidak jauh dari Keraton Surakarta, berada di sebelah Utara Keraton. Tidak jauh dari Balai Kota Surakarta, berada di sebelah selatan Balai kota. Benteng Vastenburg berdiri tepat di antara dua bangunan simbol kekuasaan. Acara itu diberi judul ‘Hari Santri Nasional’ disingkat HSN, acara yang diinisiasi oleh masyarakat pesantren atau santri, yang kemudian disambut oleh Presiden Joko Widodo, presiden yang juga kebetulan berasal dari Surakarta.

Pada hari itu, sejak siang sampai malam, kota Surakarta dibanjiri oleh rombongan santri yang datang dari berbagai penjuru. Mereka para santri itu berjalan kaki dari tempat parkir bus-bus di beberapa titik kota. Bus yang membawa mereka dari pesantren-pesantren yang ada di seluruh wilayah Jawa Tengah. Saking penuhnya santri, bus yang mengantar mereka harus parkir di tempat yang jauh dari acara, sehingga para santri harus berjalan berkilo-kilo meter untuk sampai di tempat acara. Mirip pemandangan yang kerap saya temui di Lirboyo Kediri pada tahun 2000-an, atau mirip gambaran di dalam catatan-catatan para pelajar tempo dulu tentang Surakarta.

Acara pada hari itu itu sudah bisa mengubah wajah Kota Surakarta hanya dengan mendatangkan dua bus rombongan santri dari tiap-tiap pesantren di Jawa Tengah, tidak lebih. Saya tidak bisa membayangkan jika tiap pesantren mengutus semua santrinya untuk datang, betapa riuhnya Kota Surakarta. Hari itu, jumlah dua bus dari tiap-tiap pesantren sudah cukup membuat Surakarta ‘kembali’ menjadi ‘kota santri’. Tiap-tiap sudut kota dipenuhi para santri, para pemuda, para pelajar Islam yang memutuskan untuk meninggalkan rumahnya untuk belajar ilmu agama, belajar cara menjalani kehidupan kepada guru Kyai.

Ya benar, kembali menjadi kota santri. Sebab, dulu, Kota Surakarta pernah menjadi kota santri, yang dipenuhi oleh madrasah-madrasah ternama dengan kiai-kiai pengajarnya yang terkenal sebab kealimannya. Saya membayangkan zaman dulu, di mana para santri Madrasah Mambaul Ulum, Madrasah Sunniyah Salafiyah, santri Langgar Jenengan, santri Pesantren Jamsaren, Santri Mangkuyudan, santri Madrasah Arabiyah Pasar Kliwon, dan santriwati Nahdlatul Muslimat berjalan beriringan keluar dari gothakan, dari kamar indekos, dan asrama pondokan mereka, berangkat menuju madrasah tempat mereka belajar.

Saat itu, Kota Surakarta menjadi tujuan penting para pelajar Islam belajar ilmu agama. Gambaran masa lalu Kota Surakarta sebagai kota santri ditulis dengan sangat baik dan gamblang oleh Kiai Saifuddin Zuhri, salah ‘Santri Surakartan’, satu tokoh nasional, pimpinan Nahdlatul Ulama, seorang Kyai atau ulama yang pernah menjadi menteri agama pada masa pemerintahan Orde Lama di bawah kekuasaan Presiden Soekarno.

Dalam bukunya berjudul Berangkat dari Pesantren, Kiai Saifuddin Zuhri menulis pengalamannya pada saat menjadi santri di Surakarta. Pengalamannya itu ditulis dengan sangat terperinci, mulai dari menjelaskan madrasah dan pesantren apa saja yang ada pada saat itu, di mana lokasi madrasah itu berada, lalu siapa kiai yang memimpin atau mengasuh madrasah itu, lalu kelebihan masing masing madrasah, kelebihan kiai pengasuh madrasah dalam ilmu ilmu yang dikuasainya, kurikulum madrasah, biaya yang mesti dikeluarkan seorang santri untuk mengikuti kelas di madrasah, biaya hidup santri selama tinggal di Surakarta, sampai dengan cara santri bermukim selama menempuh pendidikan. Dalam bukunya, Kiai Saifuddin menulis dengan rasa takjub mengenai Kota Surakarta.

Bagaikan dunia terbentang ketika aku pertama kali melihat Kota Solo dari jendela bus ‘Ada’. Sebuah kota besar dengan jalan raya yang lebar, sebelah menyebelah pada tepi-tepinya berderet rumah-rumah gedung yang bagus. Pemandangan itu menimbulkan kekaguman menyaksikan kota yang ramai dari ujung ke ujung. Aku baru saja menyaksikan sebuah kota besar lain pada hari kemarinnya, yaitu Yogyakarta juga buat pertama kalinya, belum 24 jam berikutnya aku memasuki Kota Solo yang lebih besar dan lebih ramai dari Yogyakarta.

Surakarta memang menjadi kota besar pada zaman itu. Kota besar kedua yang pertama kali dialiri listrik setelah Batavia, pada zaman dipimpin oleh ‘Ratu Sugih’, raja kaya Sinuhun Paku Buwana X. Dalam tulisan selanjutnya, Kiai Saifuddin menyebutkan tempat tempat untuk menginap para santri dari luar kota. Ada beberapa tempat di Kota Solo, sebagai asrama maupun tempat tinggal para santri. Tempat terbesarnya adalah Jamsaren, yang diasuh oleh Kiai Abu ‘Ammar dan yang lainnya Jenengan yang diasuh oleh Kiai Ma’ruf. Keduanya terkenal sebagai ulama besar. Keahlian Kiai Abu ‘Ammar, terutama dalam bidang Tauhid. Adapun keahlian Kiai Ma’ruf, terutama dalam bidang hadits.

Selain Pondok Pesantren Jamsaren yang dipimpin oleh Kiai Abu ‘Ammar dan Pesantren Jenengan yang diasuh oleh Kiai Ma’ruf Mangunwijata, Kiai Saifuddin juga menjelaskan kedudukan dan kelebihan madrasah lain yang ada pada saat itu, seperti Madrasah Mambaul Ulum yang terletak dekat Masjid Agung Surakarta, sebuah madrasah yang diasuh oleh para ulama di bawah restu dan perlindungan keraton, dan sebagian besar pegawai kepenghuluan keraton Surakarta Hadiningrat. Madrasah ini merupakan gabungan pendidikan Islam dari tingkat dasar atau ibtidaiyah 5 tahun, tingkat menengah pertama atau tsanawiyah 3 tahun, dan menengah atas atau ‘aliyah 3 tahun.

Seluruh pengajaran di madrasah keraton yang didirikan Sunan PB X tersebut berbasis ‘kitab kuning’. Kitab-kitab yang masih dipelajari di pesantren salaf atau tradisional sampai hari ini. Madrasah Mambaul Ulum disebut Kiai Saifuddin menempati gedungnya yang bagus, tak beda dengan gedung-gedung sekolah Belanda (HIS). Guru-guru Mambaul Ulum adalah para kiai yang berpakaian resmi Jawa, yaitu berkain batik panjang, baju jas dengan leher tinggi, yakni jas tutup, berwarna putih, serta mengenakan blangkon ala Solo. Pada hari-hari tertentu di antara kiai senior mengenakan kuluk, kopiah kebesaran ala keraton. Ciri pakaian ini menjadi salah satu pembeda Mambaul Ulum dengan madrasah lain.

Selain madrasah Mambaul Ulum yang berada dalam naungan Keraton Kasunanan Surakarta, Kiai Saifuddin juga bercerita tentang Madrasah lain yang terletak di depan istana atau Pura Mangkunegaran. Madrasah itu sebelumnya bernama Sunniyah, setelah itu berganti nama Salafiah. Madrasah Salafiah diasuh oleh Kiai Dimyathi al Karim. Gelar ‘al Karim’ disematkan untuk membedakannya dengan Kiai Dimyathi Tjandrawijata, juga dikenal sebagai kiai alim pada zaman itu, yang menjabat sebagai kepala Madrasah Mambaul Ulum.

Kiai Dimyathi al Karim dikenal sebagai kiai sangat alim yang pernah menjadi Lurah, semacam kepala staf pengurus, Pondok Pesantren Tremas, Pacitan. Tremas adalah salah satu pesantren penting pada masa itu. Hampir rata-rata kiai pengasuh pondok pesantren di Jawa bersambung sanad keilmuannya pada Kiai Mahfudz dan Kiai Dimyathi dari pesantren Tremas, Pacitan. Kurikulum di Madrasah Sunniyah berbeda dengan Mambaul Ulum yang melandaskan hampir semua pelajarannya pada pedoman kitab kuning, kitab-kitab klasik, sedangkan Madrasah Sunniyah Salafiyah menempuh sistem modern, mengikuti pola pendidikan seperti halnya dengan sekolah menengah di Kairo Mesir.

Selain madrasah yang telah disebut tadi, Kiai Saifuddin menjelaskan tentang Madrasah Al Islam. Di Madrasah inilah Kiai Saifuddin Zuhri tuntas menyelesaikan pendidikan. Madrasah Al Islam terletak di Kampung Sorosejan, tak jauh dari Pondok Pesantren Jamsaren. Madrasah ini berdiri atas prakarsa masyarakat dan diasuh oleh seorang ulama terkenal bernama Kiai Imam Ghozali. Beliau dikenal sebagai ulama beraliran pembaharu atau modern tetapi berdiri di luar persyarikatan Muhammadiyah. Meski dalam penjelasan profil Kiai Ghozali disebut sebagai ulama pembaharu, namun diceritakan oleh Kiai Saifuddin bahwa Kiai Ghozali mengajar Tafsir Al-Quran dan fiqih menggunakan kitab kuning Tafsir Jalalain dan Fathul Muin, sama dengan yang dipelajari oleh santri atau yang diajarkan oleh kiai di pesantren-pesantren tradisional. Kiai Saifuddin sendiri dalam ujian akhirnya di Al Islam, diuji oleh Kiai Imam Ghozali dengan tes menjelaskan kandungan kitab Fathul Muin.

Tidak jauh dari Keraton, di daerah yang bernama Pasar Kliwon, tempat di mana komunitas keturunan Arab berkumpul, juga terdapat ‘Madrasah Arabiyah’ yang pada dasarnya diperuntukkan keluarga keturunan Arab, sebab oleh guru-guru yang sebagian besar keturunan Arab. Di daerah Pasar Kliwon inilah tempat utama di mana para habaib di Kota Surakarta, para sadah keturunan Kanjeng Nabi Muhammad SAW berkumpul. Mereka memenuhi majelis-majelis yang digelar di Masjid Assegaf, masjid yang pada mulanya dipimpin oleh ulama terpandang, Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf Gresik, yang kemudian diteruskan oleh Habib Abdul Qodir Assegaf, ayah dari Habib Syekh bin Abdul Qodir Assegaf yang dikenal sebagai pelantun salawat itu. Sebagian dari mereka juga berkumpul, melingkar di majelis yang berada di masjid Riyadh, diampu oleh keluarga Habib Ali Muhammad al Habsy, pengarang kitab maulid Simthut Dhuror yang terkenal itu, seperti Habib Alwi bin Ali al Habsyi, lalu dilanjut oleh cucunya, Habib Anis bin Alwi bin Ali al Habsy.

Pada zaman itu, di daerah lain belum lazim ada madrasah yang diperuntukkan khusus untuk pelajar perempuan, sedangkan di Surakarta pada masa itu sudah ada Madrasah yang diperuntukkan untuk perempuan yang terletak di daerah Kauman, bernama Madrasah Nahdlatul Muslimat. Madrasah Nahdlatul Muslimat pada saat itu diasuh oleh tokoh perempuan Nahdlatul Ulama, bernama Ibu Nyai Mahmudah Mawardi dan Ustadzah Aisyah.

Selain alim ulama para kiai pemangku madrasah dan pesantren yang disebutkan di atas, Surakarta dikenal sebagai kota di mana banyak kiai besar yang hanya memiliki langgar, mushola kecil, atau masjid sebagai tempat berkumpul para muridnya. Seperti Kiai Ma’ruf Mangunwijata dengan Langgar Jenengan, Kiai Dimyathi Tjandrawijata, Kiai Abdu Ghani Ahmad Sajadi, Kiai Masyhud Keprabon, dan banyak lagi. Pada generasi selanjutnya, juga lahir pesantren di daerah lain, seperti Mangkuyudan, Tegalsari, dan sebagainya. Seperti di Mangkuyudan lahir Pesantren Al Muayyad yang didirikan oleh empat tokoh ulama terpandang pada zaman itu, yaitu Kiai Abdul Mannan, Kiai Ahmad Shofawi, Kiai Umar Abdul Mannan, dan Kiai Prof Moh. Adnan. Nama terakhir ini merupakan putra dari Kiai Tafsir Anom, ulama yang menjabat sebagai pengulu atau Penghulu Keraton Surakarta.

Tempat-tempat penting seperti Jamsaren, Keprabon, Sorosejan, Tegalsari, Mangkuyudan, Kauman, Pasar Kliwon, Gurawan, Jayengan, Panularan, Laweyan, dan Keprabon adalah sedikit daftar tempat yang menjadi tujuan para santri dari berbagai daerah untuk mencari pengetahuan. Saya membayangkan daerah atau kampung-kampung itu seperti halnya kampung-kampung ternama di daerah lain, yang dikenal sebagai pusat ilmu pengetahuan, seperti Buntet di Cirebon, Lirboyo, Ploso di Kediri, Tebu Ireng, Tambak Beras, Denanyar, Pacul Gowang di Jombang, Bangkalan di Madura, Sarang, Lasem, Kajen, dan lain sebagianya. Para santri datang berkumpul mendekati pusat-pusat cahaya ilmu pengetahuan, berkumpul di sekitaran rumah kediaman para kiai. Seperti halnya Kiai Saifuddin sendiri yang selama berada di Surakarta tinggal menginap di Langgar Keprabon Wetan, sebuah mushola yang berada tidak jauh dari kediaman Kiai Masyhud, ulama yang dikenal sebagai ahli ilmu nahwu shorof pada zaman itu.

Rujukan Sejak Lama

Sebenarnya, sudah sejak lama wilayah Surakarta hari ini atau wilayah di sekitarnya menjadi tempat berkumpulnya para santri. Zaman Pajang atau sebelumnya pada zaman Pengging, dicatat bahwa penguasa Kesultanan Pajang bergelar Sultan Hadiwijaya lahir dan besar di lingkungan keluarga santri. Sultan yang sebelumnya dikenal dengan nama Jaka Tingkir atau Mas Karebet ini merupakan putra dari Kiai Ageng Pengging Kedua, seorang tokoh yang menguasai wilayah Pengging.

Kiai Ageng Pengging Kedua yang bernama asli Kiai Kebo Kenanga adalah Putra dari Sri Mangkurung Andayaningrat, menantu Raja Brawijaya terakhir, atau ipar Raden Patah penguasa Demak. Meski dalam sejarah pada umumnya dua anak bapak dan anak keturunannya ini sering disalahpahami sebagai tokoh yang kurang baik, namun jika kita membaca penjelasan di dalam Babad Jaka Tingkir yang ditulis Sinuhun Paku Buwana VI, Raja Surakarta yang diasingkan ke Ambon oleh pemerintah kolonial, sebab membantu perjuangan Pangeran Dipenegoro pada Perang Jawa, keluarga Pengging merupakan keluarga yang sangat religius memegang prinsip syariat Islam.

Selain penjelasan di dalam Babad Jaka Tingkir, penjelasan lain juga disinggung oleh Nancy K. Florida di dalam satu tulisan yang membahas tentang pujangga pujangga ternama Keraton Surakarta, seperti R.Ng. Yasadipura I, R.Ng. Yasadipura II, R.Ng. Ronggowarsito Sepuh, R.Ng. Ronggo Sasmito, R.Ng. Ronggowarsito Muda. Dalam penjelasannya, keluarga pujangga asal Pengging keturunan Kiai Kebo Kenanga merupakan keluarga santri terpelajar yang semuanya merampungkan pendidikan di pesantren sebelum kemudian siap mengabdikan dirinya pada rajanya di Keraton Surakarta.

Dalam penjelasannya, Nancy K. Florida menyebut bahwa bukan pujangga keraton saya yang mencecap pendidikan pesantren sebagai bagian dari persiapan mereka untuk menunaikan tugas mereka di lingkungan keraton pada akhir abad ke-18 maupun awal abad ke-19. Nancy mengutip J.F. G. Brumond, yang mencatat bahwa pendidikan pesantren dipandang merupakan pengajaran jamak untuk pejabat Istana Surakarta.

R.Ng. Yasadipura I disebut lahir dari keluarga Muslim saleh. Ibunya, Maryam, adalah anak seorang ulama yang bernama Kalipah Caripu. Sedangkan ayahnya, bernama Kiai Tumenggung Padmanegara, seorang keturunan generasi ketujuh Sultan Pajang, juga merupakan cicit Amangkurat I (Raja Mataram 1645-1677), dikatakan sebagai seorang ‘santri’ yaitu seorang ‘pelajar Islam’ yang disebut mengambil risiko meninggalkan Jawa untuk belajar ke Palembang Sumatera Selatan, di bawah bimbingan seorang guru sufi bernama Syekh Jenal Ngabidin. Sepulang dari Palembang, Padmanegara masuk sebagai abdi di Istana Kartasura pada masa Susuhunan Paku Buwana I (1704-1719), memangku jabatan Bupati Jaksa.

Sedangkan Yasadipura I sendiri pada tahun 1737, saat masih berumur 8 tahun, dikirim nyantri oleh ayahnya ke desa pedalaman Bagelen Kedhu untuk mempelajari bahasa Arab dan Jawa kepada Kyai Honggamaya, sahabat kakeknya dari pihak ibu. Tradisi mengantar anak turun untuk nyantri, belajar ke pesantren ini terus berlanjut sampai dengan anak dan cucu keturunan Padmanegara. Yasadipura II dan lalu anaknya Ranggawarsita Sepuh, kemudian cucunya yang dikenal sebagai pujangga panutup, pujangga paling besar bergelar R.Ng. Ranggawarsita Kedua, semuanya dikenal sebagai alumni pesantren Tegalsari Wengker Panaraga, santri di bawah bimbingan Kiai Ageng Imam Besari dan keturunannya. Sedangkan putra Yasadipura II lainnya yang bernama Ranggasasmita adalah pengikut tarekat Syathariyyah, salah satu tarekat yang pada masa itu diikuti oleh hampir semua pejabat di lingkungan keraton Mataram Islam.

Dari keturunan keluarga santri R.Ng. Padmanegara inilah kemudian lahir para pujangga, para cendekiawan Keraton Surakarta yang menulis banyak sekali karya sastra yang sampai hari ini masih menjadi rujukan utama untuk mengenal orang Jawa. Karya karya seperti Serat Centhini, Serat Tekawardi, Serat Kala Tidha, Babad Pakepung, Serat Ambiya, Serat Musa, Suluk Acih, Serat Wicara Keras, Serat Martabat Sanga, Serat Tajussalatin, Suluk Makmuradi Salikin, Suluk Dewaruci, Serat Cebolek, Tapel Adam, dan lain sebagainya, menjadi rujukan penting dalam memahami sejarah atau mendalami alam pikir dan kahanan spiritualitas masyarakat Jawa yang khas ilmu kebatinan ala santri, yakni ilmu tasawuf di dalam tembang tembang sufi yang disebut suluk.

Demak, Pajang, Kartasura, dan kemudian Surakarta tempo dulu adalah kota besar serupa Baghdad, Damaskus, atau Iskandaria, tempat yang memancarkan daya tarik di mana para cerdik cendekia dan pelajar Islam berkumpul.

Ahmad Baso dalam Islamisasi Nusantara menyebut bahwa ikatan antara agama Islam dan Kebudayaan Indonesia diperkuat oleh kaum sufi waliyullah, para ulama, dan kiai. Para waliyullah mengajarkan agama dengan ekspresi kebudayaan Indonesia itu, mulai dari seni, musik, kisah kisah populer, hingga kesastraan. Semuanya memberi kehidupan yang abadi bagi dimensi dimensi falsafi teologis keislaman. Dimensi populis Islam inilah yang kemudian memberi daya dukung dan energi penopang berdirinya negara Indonesia yang merdeka.

Catatan tentang ikatan antara agama dan kebudayaan inilah yang semestinya kita jaga. Keilmuan dari para pujangga keraton sampai dengan para pengulu dan berlanjut pada kiai-kiai pengasuh madrasah dan pesantren di dalam atau di luar naungan Keraton Surakarta inilah yang semestinya terus kita jaga, kita ambil manfaatnya, kita lampahi sebisa mungkin.

Add Comment