Qoriek Asmarawati, Perempuan Difabel Pejuang Difabel

Pengurus dan Staf Program Perkumpulan Penyandang Disabilitas Klaten (PPDK) 2012 hingga sekarang, Qoriek Asmarawati. PPRBM SOLO

Namanya Qoriek Asmarawati, perempuan penyandang tuna daksa yang aktif dan ceria dalam berbagai kegiatan yang dilakukannya. Kurang lebih sejak tahun 2014 saya mengenalnya. Namun, dari sekian tahun pertemanan saya, kami hanya banyak terlibat dalam kegiatan pendampingan atau diskusi-diskusi inklusi.

Sangat jarang (untuk tidak mengatakan tidak pernah), kami berdiskusi seputar kehidupan pribadi masing-masing. Saya hanya tahu bahwa dia adalah istri dari Sapto Suharno, teman semasa masih aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan, sejak kami kuliah di Solo sampai saat ini.

Ketika saya ingin mengetahui dan menulis tentang seluk beluk perjuangan teman-teman difabel di Klaten, saya baru mulai mengulik lebih dalam tentang sisi lain dari seorang Qoriek, perempuan difabel pejuang difabel.

Qoriek dan Perjuangan Inklusi

Tidak secara tiba-tiba, Qoriek banyak terlibat dalam aktivitas dan perjuangan inklusi. Qoriek, perempuan kelahiran Klaten, 10 April 1976, lahir sebagai perempuan ‘normal’. Akan tetapi, pada usia sekitar 4 tahun, dia mengalami sebuah peristiwa yang tidak akan terlupakan sepanjang hidupnya. Kaki kanannya masuk ke jeruji sepeda ketika dia membonceng kakaknya.

Meski sempat dibawa ke dokter, tetapi anak bontot dari lima bersaudara dari pasangan Yusuf Iswandi (alm) dan Aminah (almh) ini, tidak banyak tertolong. Seiring waktu, kakinya justru semakin mengecil, bahkan melemah. Sejak saat itu, dia menjadi penyandang tuna daksa sampai sekarang.

Beruntung, Qoriek memiliki lingkungan keluarga yang cukup terdidik. Kedua orang tuanya yang juga sebagai pendidik sangat memengaruhi kehidupan dan perkembangan kejiwaan seorang Qoriek.

Dia tidak merasa dibeda-bedakan dengan saudara-saudaranya, baik dalam kehidupan maupun pendidikan. Bahkan, keluarga sangat mendukung kegemarannya, terutama di bidang pendidikan, organisasi, dan olahraga. Dukungan dari keluarga ini dirasakan sangat besar pengaruh sekaligus manfaatnya bagi kehidupan sosial maupun pola berpikir seorang Qoriek.

Selain berkesempatan mengenyam pendidikan sampai S-1, Qoriek juga berpengalaman di berbagai organisasi, terutama organisasi yang bergerak dalam perjuangan difabel, dan kesetaraan hak anak dan perempuan. Qoriek juga pernah meraih banyak prestasi di bidang olahraga semasa sekolah dan kuliah.

Sebagai perempuan penyandang disabilitas, Qoriek merasakan betul bagaimana teman-teman atau orang lain yang dalam posisi tersebut mengalami berbagai kendala dalam kehidupan mereka.

Qoriek sering mendengar, melihat, bahkan dalam pengalaman selanjutnya, sering terlibat dalam pendampingan terhadap praktik-praktik diskriminasi, terutama yang dialami oleh anak-anak dan perempuan difabel.

Menurut Qoriek, praktik diskriminasi bagi anak dan perempuan disabilitas masih sering terjadi sampai hari ini. Difabel sering terstigma sebagai sebuah aib, bahkan oleh keluarga sendiri. Mereka yang di-judge, menjadi sasaran empuk tindak kekerasan baik mental maupun fisik, pelecehan, hingga praktik persekusi.

Sebagian besar masyarakat masih melihat perempuan penyandang disabilitas sebagai objek yang sangat lemah. Belum lagi, budaya patriarki yang masih berlaku di tengah sosial masyarakat, terutama di wilayah pelosok. Perempuan difabel acapkali mengalami diskriminasi tiga kali lipat, yaitu sebagai perempuan, miskin, dan penyandang disabilitas.

Fakta yang masih sering ditemui di lapangan, lepas dari berbagai faktor yang memengaruhi, anak-anak dan perempuan difabel seringkali lebih kesulitan dalam mengakses kesehatan, pendidikan, dan pekerjaan daripada laki-laki difabel, apalagi nondifabel.

“Anak-anak dan perempuan difabel juga lebih rentan terkena pelecehan seksual dan kekerasan domestik, yaitu dari lingkungan terdekat, masyarakat, bahkan keluarga,” jelas ibu dari Ahmad Narpati Roishonfikri itu.

Dalam berbagai aktivitasnya, dukungan keluarga serta berbagai pengalaman yang Qoriek rasakan menjadi modal yang semakin menguatkan dirinya untuk ikut ambil bagian dari upaya-upaya meretas stigma buruk tersebut di masyarakat.

Qoriek menebar keyakinan, anak-anak dan perempuan difabel harus bisa menanamkan sikap optimisme serta percaya diri. Masing-masing dari mereka mampu untuk berbuat sesuatu yang positif dan berguna bagi lingkungan keluarga maupun orang-orang di sekitarnya.

Perempuan difabel tidak boleh terpaku pada cara pandang orang bahwa kita (anak-anak dan perempuan difabel) tidak bisa melakukan apa-apa untuk mewujudkan sesuatu yang baik.

Selain faktor keluarga, pendidikan, pengalaman, dan lingkungan juga sangat memberi pengaruh kuat dalam kehidupan seorang Qoriek saat ini.

Qoriek terlibat aktif di berbagai aktivitas dan pendampingan, seperti sebagai salah satu staf di Pusat Pengembangan dan Rehabilitasi Bersumberdaya Masyarakat (PPRBM) Solo pada tahun 2011-2018, serta sebagai pengurus dan staf program di Perkumpulan Penyandang Disabilitas Klaten (PPDK) sejak tahun 2012 hingga sekarang.

Keberadaan PPDK didukung penuh oleh Disability Rights Advocacy Fund, sebuah lembaga donor yang mendukung penuh pergerakan PPDK dalam proses-proses advokasi kebijakan disabilitas di Kabupaten Klaten.

Manis pahit getir selama proses perjuangan dan pendampingan yang dilakukan bersama teman-teman relawan, pernah Qoriek alami. Perjalanan panjang inilah yang kemudian menjadikan dirinya mendapat banyak pengalaman, gemblengan, dan inspirasi dalam kehidupan.

Qoriek menyebut beberapa nama perempuan difabel yang menjadi inspirasi dalam perjuangannya, di antaranya yaitu Dwi Ariyani (Solo), Sri Lestari (Klaten), dan Nurul Sa’adah (Jogja).

“Ada lagi beberapa nama pejuang difabel, baik dari Indonesia maupun mancanegara. Inspirator juga banyak berasal dari rekan kerja dan para relawan Klaten, terutama dari PPDK, yang tidak bisa saya sebut satu per satu,” imbuhnya.

Qoriek dan Perjuangan Panjang Mewujudkan Klaten Kota Inklusi

Pengalaman selama di PPDK dan organisasi lainnya seolah menjadi silabus pribadi Qoriek dalam hal melakukan perjuangan pemenuhan hak-hak difabel, terutama di Klaten, kota asalnya.

Sejak bergabung dengan PPDK itu, dia bersama pengurus dan anggota lainnya terus menyuarakan hak-hak difabel melalui kegiatan koordinasi, advokasi, diskusi, audiensi dengan Pemerintah Kabupaten Klaten maupun stakeholder terkait, serta kegiatan pendampingan.

Selain itu, bersama PPDK, juga terus menggandeng banyak pihak seperti perseorangan, kelompok dan organisasi masyarakat, ataupun pihak terkait lainnya yang memiliki kesamaan visi dan misi terkait isu-isu disabilitas.

Tujuannya, bersama-sama mendorong dan mengupayakan agar pemerintah lebih membukakan peluang dan jaminan kesetaraan bagi para penyandang disabilitas.

Dari aktivitas-aktivitas tersebut, Qoriek banyak mempelajari bidang keilmuan seputar isu difabel dan berjejaring. Dia pun semakin kuat dalam melakukan gerakan dan perjuangan yang selama ini dia pilih dan lakukan, karena dia merasa tidak sendiri.

Bersama kawan-kawan di PPDK, Qoriek juga terus melakukan pengorganisasian kelompok difabel di desa-desa, hingga para penyandang difabel dan keluarga difabel di desa tersebut mampu mengorganisasi diri dan berani terlibat dalam berbagai kegiatan desa.

Hal lain, dalam konteks advokasi kebijakan, Qoriek bersama PPDK dan jaringannya berhasil mengawal terbitnya beberapa peraturan terkait perlindungan hak difabel di Kabupaten Klaten, di antaranya adalah Peraturan Daerah (Perda) Nomor 29 Tahun 2018 tentang Perlindungan dan Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas.

Diceritakannya bahwa pada perjalanan awal sampai dengan lahirnya Perda tersebut, menempuh proses yang cukup panjang.

Sejak awal, mulai dari diskusi isu, Focus Group Discussion (FGD), sampai dengan pembahasan draft Perda, PPDK sudah dilibatkan oleh Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (Dinsos P3AKB) Klaten.

Akan tetapi, ketika dilakukan public hearing oleh DPRD Klaten, PPDK justru tidak diundang. Beruntung, PPDK mendapat informasi dari Kepala Bagian Hukum bahwa akan ada pelaksanaan acara tersebut, sehari sebelumnya.

Kesempatan yang hanya sehari itu digunakan oleh PPDK guna meminta (memaksa) DPRD Klaten agar pihaknya dilibatkan dalam public hearing.

“Kepentingan kami adalah ingin mendesakkan beberapa rekomendasi dari hasil diskusi yang dilakukan PPDK bersama pihak terkait, perihal pelayanan publik bagi penyandang disabilitas di Klaten,” terang Qoriek.

Akhirnya, DPRD Klaten memberi kesempatan kepada PPDK untuk mengirimkan perwakilan pada agenda tersebut. Qoriek dan Sekretaris PPDK, Setyo Widodo, ditunjuk sebagai perwakilan. Kesempatan ini tentu tidak disia-siakan oleh mereka.

Pada proses selanjutnya, usulan dan rekomendasi yang disampaikan oleh PPDK diterima dan diakomodasi oleh Panitia Khusus (Pansus) untuk ditindaklanjuti. Sayangnya, dalam perkembangan hingga draft akan diundangkan, ternyata ayat dan rekomendasi tersebut hilang dari draft.

Meski sempat mempertanyakan keseriusan para wakil rakyat dalam menyuarakan dan mengawal hak-hak difabel, Qoriek dan PPDK tetap melakukan ikhtiar dengan melakukan pendekatan kepada Ketua Pansus dan Bagian Hukum.

“Alhasil, ayat yang sempat hilang tersebut muncul kembali dan tercantum di dalam Perda,” kenangnya.

Perjuangan tidak berhenti di sini. Setelah Perda terbit, Qoriek dan PPDK kembali melakukan kegiatan advokasi untuk terbitnya Peraturan Bupati tentang Pelayanan Publik bagi Penyandang Disabilitas.

Qoriek, seorang perempuan difabel yang tangguh, berpesan kepada masyarakat, Pemerintah, dan terutama keluarga difabel, bahwa penyandang disabilitas, khususnya kaum anak dan perempuan, harus didampingi.

Mereka juga harus diberikan akses dan dukungan agar berani mengeksplorasi potensi dan kemampuan yang dimiliki, baik di dalam lingkungan keluarga, di komunitasnya, maupun di dalam kehidupan masyarakat.

“Dukungan terutama harus datang dari keluarga, lingkungan, dan orang-orang terdekat,” pungkas Qoriek.

Add Comment