Perempuan Modern dalam Pendidikan dan Pembangunan

Bupati Klaten 2021-2026, Sri Mulyani. PEMKAB KLATEN

Perempuan adalah guardian angel, karenanya perempuan memiliki peran penting dalam keluarga. Hal ini terlihat pada tugas perempuan dalam mengasuh dan mendidik anak agar menjadi orang yang berguna. Syukur-syukur perempuan harus lebih pintar dari laki-laki.

Mengapa demikian? Karena, selain mengurus rumah tangga dengan seabrek tanggung jawab, kaum perempuan harus mendampingi laki-laki. Oleh karenanya, kaum perempuan perlu mengenyam pendidikan dan mempunyai pengetahuan umum luas, agar dapat melakukan fungsinya sebaik mungkin dalam keluarga.

Pendidikan tidak hanya di bangku sekolah. Proses pendidikan dapat dimulai dari lingkup yang terdekat yaitu keluarga, dan di sinilah peran perempuan sangat penting dalam peningkatan generasi muda. Sudah kodratnya perempuan untuk melahirkan anak, membesarkan generasi penerus bangsa yang secara alamiah hubungan emosional si perempuan dengan anaknya sangat erat. Dengan demikian sesuai harkat, martabatnya seorang perempuan memiliki peran membentuk dan menentukan kualitas generasi bangsa.

Pendidikan harus seimbang antara kasih sayang dan ketegasan, antara maaf dan kedisiplinan. Selain harus berpendidikan, perempuan ditakdirkan sebagai makhluk yang lemah lembut serta penuh dengan kasih sayang. Begitulah perempuan digambarkan. Gambaran secara anatomis dan fisiologis memengaruhi tingkah lakunya yang mengakibatkan perbedaan kemampuan, menjadi selektif pada kegiatan-kegiatan yang bisa dilakukan sesuai dengan intensi perempuan.

Agar lebih mendalam, definisi perempuan itu sendiri perlu diketahui. Secara etimologis, perempuan berasal dari kata ‘empu’ yang berarti tuan, orang yang mahir atau berkuasa, kepala, hulu, yang paling besar. Dalam buku yang ditulis oleh Zaitunah Subhan (2004) disebutkan bahwa perempuan berasal dari kata ‘empu’ yang artinya dihargai.

Lebih lanjut, Zaitunah menjelaskan pergeseran istilah dari wanita ke perempuan. Kata wanita dianggap berasal dari Bahasa Sanskerta, dengan dasar kata ‘wan’ yang berarti nafsu, sehingga kata wanita mempunyai arti yang dinafsui atau merupakan objek seks. Jadi, secara simbolik mengubah penggunaan kata wanita ke perempuan adalah mengubah objek menjadi subjek.

Akan tetapi, dalam Bahasa Inggris ‘wan’ ditulis dengan kata want. Kata tersebut mempunyai arti like, wish, desire, aim. Sedangkan bentuk lampau dari kata want yaitu wanted. Kesimpulannya wanita adalah who is being wanted (seseorang yang dibutuhkan) yaitu seseorang yang diinginkan (Murtadha, 1995).

Sementara itu, feminisme perempuan mengatakan bahwa perempuan merupakan istilah untuk konstruksi sosial yang identitasnya ditetapkan dan dikonstruksi melalui penggambaran (Murtadha, 1995). Dari sini dapat dipahami bahwa kata perempuan pada dasarnya merupakan istilah untuk menyatakan kelompok atau jenis dan membedakan dengan jenis lainnya.

Konstruksi sosial yang membentuk pembedaan antara laki laki dan perempuan itu pada kenyataannya mengakibatkan ketidakadilan terhadap perempuan. Pembedaan peran, status, wilayah, dan sifat mengakibatkan perempuan tidak otonom. Perempuan tidak memiliki kebebasan untuk memilih dan membuat keputusan, baik untuk pribadinya maupun lingkungan karena adanya perbedaan-perbedaan tersebut.

Berbagai bentuk ketidakadilan terhadap perempuan adalah subordinasi, marginalisasi, stereotip, beban ganda, dan kekerasan terhadap perempuan.

Perempuan di era saat ini (modern) merupakan stakeholder pembangunan, karena itu pelaksanaan pembangunan harus menekankan pentingnya upaya pemberdayaan perempuan. Keterlibatan masyarakat perempuan untuk ikut memberikan masukan dalam perumusan serta pengawasan, sehingga mereka dapat berpartisipasi aktif dalam proses pembangunan untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur, tanpa suatu penindasan dalam bentuk apapun.

Undang-Undang Dasar 1945 mengamanahkan secara tegas bahwa setiap warga negara Indonesia, laki-laki dan perempuan, mempunyai hak dan kewajiban serta kesempatan yang sama untuk memperoleh penghidupan yang layak. Dalam konteks pembahasan ini, bisa diartikan bahwa tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan untuk ikut serta dalam mensukseskan program-program pembangunan dan menikmati pembagian peran pembangunan secara proporsional.

Menciptakan ruang bagi perempuan dalam pembangunan, perempuan sebagai agent of change menitikberatkan pada pola hubungan yang setara antara perempuan dan laki-laki. Dengan demikian, pengalaman dan pemahaman dari perempuan menjadi entry point dari proses pembangunan.

Saat ini, perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki. Di Kabupaten Klaten salah satunya, seorang perempuan dengan pendidikan dan pengetahuannya dapat menjadi seorang pemimpin. Hal ini menunjukan bahwa perempuan juga mampu berperan serta dalam pembangunan.

Bahan Bacaan

Murtadha, Muthahari. Hak-hak Wanita dalam Islam. Jakarta: Lentera. 1995, hlm 107-110.

Zaitunah, Subhan. Qodrat Perempuan Taqdir atau Mitos. Yogyakarta: Pustaka Pesantren. 2004, hlm 1.