Peran Perempuan Era Digital, Sebuah Peluang Kolaborasi

Pedagang perempuan di pasar tradisional. PEMKAB KLATEN

Isu kesetaraan gender digaungkan dalam berbagai event sebagai isu pembangunan. Berdasarkan pernyataan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), semua orang mendapatkan hak dan menerima perlakuan setara dan tidak ada diskriminasi atas dasar gender. Namun pada kenyataannya, diskriminasi masih banyak terjadi pada perempuan dalam beberapa sektor kehidupan, hampir terjadi di seluruh belahan dunia, terlebih di era digital saat ini.

Menurut Lubis (2004), majunya teknologi dan informasi merupakan salah satu sinyal adanya perkembangan di era digital. Komunikasi digunakan dalam pemenuhan kebutuhan manusia, sebagai cara dalam berinteraksi dengan sesama. Manusia, yang pada dasarnya adalah makhluk sosial.

Teknologi komunikasi dengan tingkat penggunaan yang sangat tinggi adalah internet. Media sosial sebagai aplikasi pesan berbasis internet menjadi penunjang komunikasi dengan sesama. Internet menjadi faktor penting yang dapat mengembangkan pengetahuan manusia, manajemen sebuah organisasi, aktivitas perbisnisan, dan lainnya. Di sisi lain, internet telah mengubah banyak karakter penggunanya dalam kehidupan sehari-hari.

Era industri 4.0 yang berlangsung saat ini memang telah mengubah tatanan hidup dan memengaruhi lini kehidupan manusia. Banyak perempuan yang aktif menggunakan media sosial untuk urusan kehidupan sehari-hari. Dengan adanya internet, perempuan harus bisa beradaptasi, dituntut cakap menguasai teknologi, tentu dengan sikap yang bijak dan benar.

Perempuan dinilai menjadi pengguna media sosial yang paling dominan, tetapi di satu sisi, ada pembatasan keterampilan digital pada perempuan. Berdasarkan realitas tersebut, diharapkan ada kesetaraan dalam memperlakukan perempuan sesuai dengan aturan main yang ada.

Di era modern ini, banyak pula berkembang kecerdasan buatan, komputer super canggih, rekayasa genetika, inovasi pada berbagai macam hal, serta perubahan yang berpengaruh terhadap sektor ekonomi, pemerintahan, industri, serta politik di seluruh dunia.

Selain itu, terbuka luas kesempatan bagi perempuan untuk mengembangkan diri di berbagai bidang sehingga mereka harus mampu memanfaatkan dan mengelolanya dengan baik. Dalam prosesnya, perempuan perlu didorong agar dapat membaca peluang yang menjanjikan, serta menyelesaikan tantangan yang harus dihadapi di era industri 4.0.

Hingga saat ini, lulusan perempuan di bidang industri pun masih terbilang kurang, bahkan sedikit sekali yang berkarya di bidang industri. Karena itu, peningkatan keterampilan dan kemampuan perempuan di bidang industri digital perlu diupayakan. Dengan demikian, peranan perempuan diharapkan dapat memberikan sumbangsih bagi pertumbuhan PDB negara.

Perempuan harus mempunyai keahlian, pandangan luas, wawasan dua arah, serta ilmu pengetahuan yang memadai. Itu semua dibutuhkan untuk menunjang keberlangsungan hidup di masyarakat.

Perempuan pun dapat memberikan peran yang signifikan di era saat ini, tentunya dengan dukungan banyak pihak. Oleh sebab itu, tidak ada salahnya pemerintah sebagai penyelenggara negara bisa memberikan pelatihan-pelatihan keterampilan digital guna mengintegrasikan perempuan dalam arus pembangunan. Menempatkan perempuan sebagai salah satu subyek pembangunan.

Tantangannya adalah perempuan harus mampu mengubah daya pikir atau mindset masyarakat agar bersikap permisif, dan praktik budaya sosial yang membatasi perempuan. Namun, semua dilakukan dalam koridor fitrah dan secara bijaksana. Diharapkan perempuan dapat cerdas dalam pemikiran dan tidak gagap teknologi.

Perempuan diharapkan tidak menjadi kaum yang konsumtif. Perempuan justru harus bisa berperan sebagai pembuka lapangan kerja dan meningkatkan perekonomian digital yang akan terus berkembang di masa depan. Tidak terlepas dari hal itu, perempuan juga perlu mempersiapkan diri menghadapi pembatasan di era digital dengan pendidikan yang memadai.

Rhenald Kasali (2017) berpendapat bahwa disrupsi tidak bermakna perubahan saat ini saja, namun mencerminkan perubahan di masa datang. Era disrupsi akan mengganggu bahkan merusak pasar yang telah lahir sebelumnya, namun mendorong pengembangan produk bahkan layanan yang tiada terduga sebelumnya. Menciptakan berbagai macam bentuk produk berdampak pada harga yang semakin murah.

Rhenald melanjutkan, era ini melahirkan berbagai perubahan signifikan guna merespons tuntutan serta kebutuhan konsumen di masa mendatang. Hakikatnya tidak hanya perubahan strategis, namun juga sisi fundamental bisnis. Pengelolaan bisnis tidak hanya berpusat pada kepemilikan individu, namun merupakan pembagian peran kolaborasi serta gotong royong.

Peningkatan Peran Perempuan

Dalam perencanaan UN Women, teknologi dan inovasi adalah penggerak perubahan yang diprioritaskan. Diharapkan pada tahun 2021 saat ini, ada perubahan signifikan, dari meningkatnya para perempuan yang terlibat dalam digitalisasi industri.

Semua usaha perlu dilakukan guna meningkatkan akses perempuan dalam dunia digitalisasi. Lembaga PBB menyatakan bahwa perempuan memiliki persentase rendah dalam bidang komputasi sejak 1991. Pada 2015, perempuan yang bergerak dalam bidang ini turun dari angka 36 persen menjadi 25 persen.

Memecahkan stereotipe pada perempuan pun dirasa perlu dengan upaya melalui pendidikan dan pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) bagi para perempuan. Pendidikan di bidang TIK akan mempercepat laju pencapaian kesetaraan gender yang menjadi salah satu tujuan dari pembangunan berkelanjutan PBB. Dengan ini, peningkatan pemberdayaan perempuan dapat tercapai di sektor TIK, sekaligus dapat mengentaskan kemiskinan juga.

Di samping itu, menjadi kewajiban pemerintah untuk memberikan kesempatan bagi perempuan-perempuan dalam meniti karier di tingkat menengah dan tinggi. Membuka jalan seluas-luasnya kepada perempuan yang berbakat untuk mencapai puncak karir.

Karenanya, berbagai usaha dalam peningkatan akses perempuan terhadap TIK merupakan cara untuk meningkatkan partisipasi aktif perempuan dalam mempercepat tumbuhnya perekonomian, yang berarti dapat mempercepat kesejahteraan pula.

Diperkirakan, peranan aktif perempuan dalam dunia digital akan meningkatkan PDB dunia di tahun 2025. Pilihan profesi akan ditentukan oleh pilihan pendidikan dan minat perempuan pada komputasi. Wawasan perempuan akan pilihan terhadap profesi-profesi di bidang digital pun menjadi salah satu langkah yang harus ditempuh.

Sejak awal, perempuan menganggap bisnis digital sebagai sesuatu yang sangat rumit, sulit untuk dimulai, dengan begitu menyebabkan mereka takut dalam mewujudkannya. Memang, ada perbedaan manajemen waktu antara laki-laki dan perempuan dalam memprioritaskan berbagai hal.

Ada beberapa faktor fitrah perempuan sehingga dirinya kesulitan menjalankan karier yang tinggi seperti beban mengurus rumah tangga, mengurus rumah, serta mengurus anak. Namun pada akhirnya, yang perlu dibangun adalah adanya kesiapan dan kecakapan perempuan dalam bidang bisnis digital.

Add Comment