Panji-panji Tentara Pelajar Klaten di Bendogantungan

Tugu Peluru di Jalan Pemuda, tepatnya di depan Kantor Pertanahan Klaten, Kelurahan Barenglor, Kecamatan Klaten Utara untuk memperingati gugurnya Sersan Sadikit dan Kopral Sayem. LUGTYASTYONO

Bendogantungan hanyalah sebuah dukuh atau kampung yang menjadi bagian dari Desa Sumberejo, Kecamatan Klaten Selatan, Kabupaten Klaten. Letaknya di pinggir jalan raya Klaten-Yogyakarta, sekira 4 kilometer dari ‘titik nol’ yang berada di tengah kota.

Tidak ada yang istimewa di kampung ini. Kondisi lingkungannya sama seperti kampung-kampung lain pada umumnya. Namun siapa sangka, ternyata di Bendogantungan tersimpan banyak cerita. Salah satu cerita bahkan menjadi ilustrasi perjuangan bangsa dalam mempertahankan kemerdekaan.

Bendogantungan pernah menjadi ajang pertempuran sengit antara Tentara Pelajar (TP) Klaten dengan Tentara Pendudukan Hindia Belanda (NICA) di bulan Juli 1949. Kisah heroik itu dituturkan oleh beberapa warga Bendogantungan, Loegmanto Soebroto, Sareh Sumaryo, dan Gunadi PS. Mereka adalah pelaku sejarah, eks-anggota TP Klaten yang ikut dalam pertempuran tersebut.

Para Pejuang Kemerdekaan tersebut menceritakan bahwa TP Klaten berada di bawah komando Detasemen II TP yang dikomandani Achmadi dan berkedudukan di Solo. Sementara Komandan TP Klaten bernama Sunitiyoso. Markas TP Klaten ada di Desa Sukorejo, Wedi, sekira 10 kilometer di sebelah selatan Kota Klaten. Untuk mengabadikan keberadaan Markas TP tersebut, di lokasi yang sama terdapat monumen berbentuk patung Ganesha.

Kelompok-kelompok (Seksi) anggota TP tidak selalu berada di markas. Mereka sering mengadakan pertemuan di lokasi yang selalu berpindah-pindah supaya tidak mudah diketahui oleh tentara Belanda. Untuk menghambat pergerakan pasukan Belanda, di ruas jalan menuju pedesaan banyak dipasang rintangan, dengan cara menumbangkan pohon atau membuat lubang-lubang.

Pertempuran sengit yang terjadi kala itu diawali dengan peledakan bom yang dipasang oleh pasukan TP. Lokasinya berada di sebelah timur area yang sekarang dipergunakan sebagai Sub Terminal Bus Bendogantungan. Peledakan bom tersebut sebenarnya bertujuan untuk melumpuhkan sebagian kekuatan pasukan Belanda yang bergerak dari dalam kota. Selain itu, sebagai tanda bagi pasukan TP untuk mulai menyerang. Namun nahas, bom tersebut terlalu cepat diledakkan, sebelum iring-iringan pasukan Belanda melintas.

Pasukan Belanda yang mengetahui adanya pencegatan segera bersiaga melancarkan serangan. Pertempuran sengit yang kemudian terjadi cukup menyulitkan pasukan TP, karena berlangsung tidak sesuai rencana. Pasukan TP terjebak dalam formasi tempur yang kurang menguntungkan.

Setelah satu jam lebih pertempuran berlangsung, kekuatan kedua belah pihak terlihat tidak seimbang. Pasukan TP mulai terdesak karena kalah persenjataan. Bersusah payah pasukan TP bergerak mundur ke arah selatan, karena harus membawa beberapa anggota yang terluka. Mereka kemudian mengambil posisi di sepanjang rel kereta api.

Monumen Ganesha di Desa Sukorejo, Wedi, Klaten, untuk mengabadikan keberadaan Markas Tentara Pelajar Klaten. SENTOT SUPARNA

Pertempuran sengit kembali berlangsung di area terbuka berjarak lebih kurang 200 meter. Pasukan Belanda berada di pinggir persawahan di sebelah selatan kampung Bendogantungan. Pada saat pasukan TP bergerak mundur, salah satu anggota bernama Saudara Sunadi tertembak dan gugur.

Beberapa saat kemudian, pasukan TP kembali bergerak mundur ke arah selatan menuju Kota Wedi. Demikian pula dengan pasukan Belanda. Mereka bergegas kembali ke kota. Banyak di antara personel tentara Belanda yang juga terkena tembakan dan terluka.

Kesaksian Mbah Doel Sumberejo

Kesaksian tentang peristiwa heroik di masa Agresi Militer Belanda II itu disampaikan oleh Abdul Salam atau Mbah Doel, seorang warga Sumberejo. Menurut Mbah Doel, pertempuran di Bendogantungan kala itu merupakan peristiwa yang ‘nggegirisi’ (dahsyat dan menakutkan). Dia begitu kaget dan takut mendengar suara menggelegar dan desingan peluru di mana-mana.

Mantan perangkat Desa Sumberejo itu juga bercerita tentang kelicikan dan kekejaman NICA. Mereka sering menangkap dan menganiaya warga sipil, terutama petani. Bahkan ada yang sampai meninggal dunia. Para petani yang telapak tangannya tebal dan kasar karena sering mencangkul, dicurigai sebagai anggota Tentara Indonesia.

Kurun waktu selama berlangsungnya Perang Kemerdekaan (1947-1949) hampir seluruh wilayah Klaten menjadi ajang pertempuran. Tidak sedikit warga Klaten mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Aksi-aksi heroik yang menunjukkan keberanian pasukan TP dan rakyat Klaten juga berlangsung di Manisrenggo, Wonosari, Delanggu, Cawas dan kecamatan lainnya.

Untuk mengenang jasa serta pengorbanan para Pejuang Kemerdekaan tersebut, Pemerintah mengabadikan eksistensi mereka sebagai nama jalan dan membangun beberapa monumen. Jalan Tentara Pelajar membujur dari Kodim 0723 Klaten, melingkar ke arah utara, dan menjadi satu dengan Jalan Merapi. Jalan Sersan Sadikin, Jalan Kopral Sayom, dan Jalan Kopral Sudibyo berada di wilayah Kecamatan Klaten Utara.

Sersan Sadikin dan Kopral Sayom (Sayem) adalah anggota Tentara Indonesia yang gugur dalam pertempuran di Kampung Gunungan sampai Kampung Mudal pada bulan Juli 1947. Mereka gugur dalam menghadapi serangan pesawat ‘Cocor Merah’ milik pasukan Belanda.