Nakes Perempuan di Masa Pandemi, Antara Altruisme Kerja dan Apatisme Masyarakat

Tenaga Kesehatan Perempuan. FB/RUMAH SAKIT ISLAM KLATEN

Manifestasinya pada penambahan jam kerja untuk jumlah pasien yang tak terduga jumlahnya, sementara di rumah mereka meninggalkan anak-anak yang perlu diurus. Belum lagi, risiko tertular Covid-19 dan kematian yang menghantui.

Bulan Maret lalu, World Health Organization (WHO) memberi apresiasi kepada tenaga kesehatan (nakes) perempuan atas dedikasi, keberanian, dan perhatian mereka dalam penanganan Covid-19 yang sedang melanda dunia. Apresiasi ini bukanlah langkah yang berlebihan, mengingat angka kematian karena Covid-19 yang tinggi.

Artinya, risiko penularan kepada para nakes ini juga tinggi. Hal tersebut ditandai dengan melonjaknya angka kematian nakes karena Covid-19 yang sebagiannya adalah perempuan.

Seperti diungkapkan oleh Matshidiso Moeti, Direktur WHO Afrika bahwa sekitar 70 persen dari total tenaga kesehatan global adalah perempuan. Mereka di garis depan, terutama sebagai perawat dan tenaga kesehatan komunitas. Bahkan WHO menemukan 41 persen kasus Covid-19 menyerang perempuan.

Dalam beberapa riset, perempuan menanggung beban, bahkan beban ganda, yang lebih berat di masa pandemi ini. Selain nakes, di luar sana, secara umum beban pendidikan, ekonomi, profesionalitas kerja karena pergeseran kebiasaan, juga beban interaksi sosial dirasa lebih berat ditanggung oleh perempuan.

Mengenai beban pendidikan, ini terjadi karena mekanisme pembelajaran siswa dari tatap muka menjadi daring yang melibatkan penuh peran orang tua dalam pengerjaan tugas-tugas akademik.

Sebanyak dua pertiga atau sekitar 66,7 persen tugas pendampingan belajar ini dibebankan kepada seorang perempuan (ibu). Angka tersebut merupakan hasil penelitian dari sebuah studi yang dilakukan oleh Research and Development Agency of Indonesian Education and Culture Ministry sepanjang April hingga Mei 2020, kepada orang tua di 34 provinsi.

Artinya, perempuan (ibu) dengan berbagai latar belakang sosial pendidikannya, mau tak mau harus bisa menjadi guru selama pembelajaran daring di rumah. Ini dikarenakan model pembelajaran daring di Indonesia, terlebih di pedesaan dan pedesaan transisi, masih berbasis tutorial minimalis dan penugasan.

Penguasaan teknologi untuk mempermudah proses pembelajaran masih belum optimal. Ini terjadi karena beberapa faktor; (1) daya beli masyarakat terhadap gadget yang ter-support jaringan secara baik, (2) daya beli masyarakat akan kuota data untuk menunjang ketersediaan jaringan, (3) ketersediaan jaringan itu sendiri, dan (4) sumber daya manusia (penguasaan teknologi masyarakat). Tak jarang, seorang perempuan (ibu) kemudian tertekan dengan tugas-tugas akademik anak-anaknya.

Pun demikian yang dialami oleh perempuan akademisi. Di berbagai belahan dunia, studi-studi awal mengkonfirmasi bahwa pandemi Covid-19 telah membuat akademisi perempuan menanggung beban mengajar lebih berat. Akibatnya, mereka hanya memiliki waktu sedikit untuk melakukan riset dan menerbitkan publikasi dibanding akademisi laki-laki.

Pandemi telah memaksa para akademisi untuk mengubah cara mengajar mereka dari tatap muka menjadi daring. Menyikapi perubahan yang cepat ini, berarti para akademisi harus meluangkan waktu berjam-jam untuk merancang ulang pembelajaran, memeriksa tugas-tugas siswa, serta memastikan alat-alat penunjang pekerjaan (seperti jaringan internet dan perlengkapan mengajar daring lainnya) tersedia dengan baik.

Seperti halnya para pekerja perempuan dan penyedia jasa perawatan dan pengasuhan yang tidak memiliki pekerjaan yang stabil, akademisi perempuan Indonesia harus menanggung beban ganda pekerjaan berbayar dan tidak berbayar. Pergeseran ke kegiatan belajar daring untuk siswa mereka dan anak-anak mereka sendiri ini menambah beban kerja domestik dan pengasuhan yang seringkali tidak dibagi secara adil kepada pasangan.

Mengenai beban ekonomi, perempuan yang sebelumnya sudah berkiprah di dunia kerja, di masa pandemi semakin menumpuk bebannya. Ini ditandai dengan bertambahnya perempuan yang melakukan pekerjaan sampingan untuk memenuhi kebutuhan, dikarenakan beban PHK suami.

Perihal beban profesionalitas kerja, perempuan lebih bekerja keras dalam mengejar target-target. Di industri-industri atau pabrik yang kebanyakan menyerap tenaga kerja perempuan, produksi terus ditargetkan meningkat. Peningkatan tersebut, misalnya produksi pakaian hazmat atau Alat Pelindung Diri (APD), masker, hand sanitizer, dan produk lain yang relevan dengan kebutuhan di saat pandemi.

Di lain sisi, gelombang PHK justru terjadi. Pekerja yang sebagian besar adalah perempuan ikut terkena dampaknya. Selain itu, kebijakan Work From Home (WFH) juga menjadi tambahan beban bagi perempuan, karena telah mempunyai pekerjaan dalam mengurus rumah dan membantu anak-anak belajar melalui daring.

Beban profesionalitas kerja ini juga menyergap para nakes perempuan. Manifestasinya pada penambahan jam kerja untuk jumlah pasien Covid-19 yang tak terduga jumlahnya, sementara di rumah mereka meninggalkan anak-anak yang perlu diurus. Belum lagi, risiko tertular Covid-19 dan kematian yang menghantui.

Jumlah kematian nakes perempuan di Indonesia sangat tinggi. Tim Mitigasi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengumumkan pembaruan data tenaga medis yang wafat akibat Covid-19 sepanjang pandemi di Indonesia berlangsung mulai Maret 2020 hingga pertengahan Januari 2021, telah mencapai total 647 orang.

Adapun dari total 647 petugas medis dan kesehatan yang wafat akibat terinfeksi Covid-19 ini terdiri dari 289 dokter (16 guru besar), 27 dokter gigi (3 guru besar), 221 perawat, 84 bidan, 11 apoteker, 15 tenaga laboratorium medis.

Data ini didapatkan berdasarkan rangkuman oleh Tim Mitigasi IDI dari Perusahaan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Persatuan Ahli Teknologi Laboratorium Medik Indonesidia (Patelki), dan Ikatan Apoteker Indonesia (IAI).

Selain nakes yang bertugas di rumah sakit-rumah sakit besar, beban ini juga dialami oleh nakes-nakes perempuan di tingkat pedesaan. Bidan-bidan desa mempunyai tugas berat untuk memberikan edukasi mengenai Covid-19, mulai dari sejarah kemunculan, pencegahan, hingga risiko terburuknya yaitu kematian. Edukasi ini masif dilakukan dari masyarakat desa hingga kota di segala lini.

Mengapa berat? Karena tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Covid-19 telah bergeser dari waktu ke waktu. Hal tersebut terjadi karena beberapa hal. Pertama, informasi yang simpang siur menyebabkan persepsi yang berbeda di kalangan masyarakat.

Kedua, tingkat ketakutan masyarakat mulai menurun. Sebagai buktinya, sebagian masyarakat melanggar protokol kesehatan meskipun sudah ada pengetatan dari pemerintah. Ketiga, karena tabungan dan penghasilan mulai menurun, otomatis masyarakat akan berpikir lebih berani mengambil risiko tetap keluar rumah dan berkerumun mencari nafkah, demi terisinya amunisi kembali.

Ditemukan banyak kasus perlakuan tidak menyenangkan yang dialami nakes perempuan pada saat melakukan sosialisasi penanganan Covid-19 di lapangan, mulai dari sikap acuh tak acuh, perkataan kasar, hingga penolakan pendataan. Ini terjadi karena tingginya apatisme masyarakat terhadap eksistensi Covid-19 itu sendiri. Meskipun demikian, sebenarnya kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintah dalam mengatasi Covid-19 masih relatif tinggi.

Menurut survei Indikator Politik Indonesia yang dirilis September 2020 lalu, kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dalam menangani masalah pandemi Covid-19 berada di angka 60 persen. Hal ini menunjukkan masyarakat masih menaruh harapan terhadap pemerintah dalam menangani pandemi ini.

Beban ganda atau double burden adalah beban pekerjaan yang diterima salah satu jenis kelamin lebih banyak dibandingkan jenis kelamin lainnya. Beban ganda tersebut meliputi pekerjaan domestik dan pekerjaan publik.

Beban ganda ini merupakan bentuk ketidakadilan gender, sebagai korbannya adalah perempuan. Nakes perempuan menyandang beban ganda. Ia menjadi seorang ibu, istri, juga seorang pekerja kesehatan yang di masa pandemi ini mendapat tugas dan jam kerja lebih, dengan risiko tertular penyakit dan kematian yang tinggi.

Belum lagi beban edukasi kepada masyarakat awam tentang bahaya Covid-19 di tengah apatisme masyarakat yang kian meningkat. Untuk itulah perlu sekali adanya pola relasi berbasis kemitraan antara suami istri.

 

Bahan bacaan:

https://www.pikiran-rakyat.com/internasional/pr-011551234/nakes-didominasi-kaum-hawa-who-apresiasi-peran-perempuan-dalam-penanganan-covid-19

https://www.kompas.com/sains/read/2021/01/28/141625123/terbanyak-di-asia-647-nakes-indonesia-meninggal-akibat-covid-19

https://tirto.id/antara-nyawa-dan-keluarga-beban-berat-nakes-perempuan-saat-pandemi-f7jM

https://www.semanticscholar.org/paper/BEBAN-GANDA-PEREMPUAN-BEKERJA-%28Antara-Domestik-dan-Hidayati/3f1c13842f980a1a4c56efe261428455242b59ce

https://www.medcom.id/foto/grafis/nbwlx2jk-apresiasi-tinggi-bagi-nakes-dan-relawan

Add Comment