Menepis Stigma Perempuan di Industri Teknologi

Perempuan tengah tampil di sebuah forum. BILLFAZZ

Dunia serta peradaban manusia di dalamnya bergerak semakin cepat. Beberapa orang bahkan menyebut era saat ini adalah era percepatan, yakni banyak hal terjadi serba seketika. Hal tersebut disebabkan oleh pesatnya perkembangan dunia teknologi.

Banyak lapangan pekerjaan yang hilang, tapi juga muncul lebih banyak bentuk pekerjaan baru yang membutuhkan keahlian baru pula. Setidaknya, ada 23 juta jenis pekerjaan akan terdampak oleh industri baru ini dengan otomatisasi.

Di sisi lain, 27 juta hingga 46 juta jenis pekerjaan baru akan berpeluang lahir hingga 2030. Teknologi informasi adalah salah satu penyumbang lahirnya banyak jenis pekerjaan baru, berbagai universitas negeri dan swasta mulai membuka fakultas-fakultas yang mengajarkan tentang dunia baru ini.

Software engineering, data science, machine learning, artificial intelligence, hingga user interface/user experience (UI/UX), istilah itu terdengar asing bagi sebagian masyarakat, tapi bagi banyak Generasi Y dan Generasi Z, istilah-istilah itu sudah mewarnai kehidupan mereka melalui media sosial atau ceramah-ceramah yang mereka tonton secara daring.

Industri baru ini tentu akan menjadi peluang bagi 191 juta masyarakat usia produktif yang menurut data BPS melalui sensus penduduk 2020, Indonesia berada di puncak bonus demografi dengan 70,7 persen penduduknya berada di usia produktif, 15-64 tahun.

Engineer dulu kerap kali dilabelkan pada pekerjaan laki-laki dan terkesan jauh jika perempuan yang melakukannya, dengan salah satu alasannya, ‘laki-laki lebih tahan banting dan kuat, engineer harus di lapangan, otak atik mesin, dan lebih tak apa jika terjadi kecelakaan kerja.’

Padahal, tidak menutup kemungkinan perempuan juga turun tangan di dunia tersebut, mengingat engineering adalah dunia yang memungkinkan manusia untuk memanipulasi peristiwa yang ada di alam dan membuatnya menjadi satu keuntungan bagi umat manusia. Engineering bukan hanya sekadar lapangan dan otot.

Ada nalar yang digunakan untuk bisa berpikir kritis dan sistematik untuk menemukan solusi dari permasalahan yang akan diselesaikan melalui proses engineering.

Di era sekarang, engineering tidak hanya berkonotasi pada dunia lapangan yang di bawah terik atau menyentuh mesin-mesin berat. Seorang software engineer hanya perlu duduk berjam-jam di depan komputer dan menggunakan daya berpikirnya untuk menyelesaikan permasalahan riil melalui kode program.

Dalam hal ini perempuan dan laki-laki memiliki posisi dan kesempatan yang sama untuk bersaing di industri baru ini. Selama keduanya memiliki akal yang mampu berpikir secara logis dan sistematis, siapa pun bisa menjadi seorang ahli dalam bidang ini.

Selanjutnya siapa yang lebih hebat dalam menggunakan pemikirannya dalam hal ini? Tak ada yang lebih hebat antara laki-laki atau perempuan. Kemampuan computational thinking atau cara berpikir layaknya seorang ilmuwan komputer dengan memahami permasalahan dan merumuskan solusi bukanlah sesuatu yang terberi pada jenis kelamin tertentu.

Kemampuan ini membutuhkan usaha untuk menguasainya, salah satu caranya adalah berlatih menyelesaikan persoalan-persoalan coding yang bisa ditemui di berbagai macam platform online. Sebab, dalam menyelesaikan persoalan coding kita harus menyelesaikan persoalan pokok sebelum menyelesaikan hal yang rumit. Dengan berpikir secara sistematis, kode program yang ditulis baru bisa dieksekusi tanpa permasalahan, dan problem yang ada akan terselesaikan.

Beberapa teman perempuan calon sarjana komputer yang menjelang kelulusannya kerap kali khawatir, ‘Aku kalau ngoding ngga bisa, itu yang cowok-cowok lebih jago, kan, kalo cowok udah biasa pake logika.’

Untuk argumen ini, tentu langsung patah hanya dengan memperhatikan sosok penulis, lelaki yang menggunakan perasaannya secara berlebihan bahkan sering kali menenggelamkan logika. Bukan tentang siapa yang lebih menggunakan logika dan perasaan, dua hal tersebut adalah alat epistemik yang dimiliki laki-laki maupun perempuan.

Keduanya tak perlu ada yang dinafikan, dapat digunakan secara proporsional. Kemampuan berpikir logis itu bisa ada pada diri setiap orang yang mau melatihnya. Siapa saja yang bersungguh-sungguh menekuni dunia engineering atau dalam hal ini software engineering dengan coding-nya, pasti bisa menguasainya, cepat atau lambat.

Namun, memang banyak dari pernyataan tersebut tidak bisa disalahkan, stigma yang melekat pada diri oleh lingkungan mereka membangun paradigma demikian, ‘Perempuan di dapur saja, melayani suami saja agar mendapat surga, mengurus anak biar menjadi anak yang tidak nakal’, dan banyak lagi stigma yang melekat pada diri perempuan yang mendikte dirinya hanya sebatas makhluk yang tidak bisa berdikari dan mandiri.

Label domestik pada diri perempuanlah yang membuat sikap inferior itu tumbuh subur dalam diri setiap perempuan yang saya yakin banyak dari mereka hebat dengan cita-cita besar semasa kecil hingga memasuki usia dewasa. Muncul bisikan dari lingkungan dekat maupun jauh yang secara perlahan membangun paradigma bahwa ia ditakdirkan membeo dan tunduk pada laki-laki, yang lebih tidak mengenakkan lagi adalah ketika banyak laki-laki mengamini hal tersebut dan mematikan progresivitas perempuan-perempuan di dekatnya.

Pada akhirnya, bukanlah jadi soal untuk seorang perempuan memiliki karir di dunia profesional Information Technology (IT), entah menjadi software engineer, machine learning engineer, UI/UX designer, quality assurance tester, data scientist, atau bahkan project manager.

Tak ada lagi alasan keperempuanan menghalangi akselerasi dalam memberikan dampak pada dunia melalui engineering, yang perlu dilakukan adalah terus berproses dan bergerak hingga peluang ada di depan mata dan puan dengan mudah menjadi yang puan inginkan. Tak perlu ragu para perempuan untuk mulai berkarir, bukan hanya laki-laki saja yang bisa menaiki tangga karir.

Bahkan menurut data BPS dari tahun 2018-2019, terjadi peningkatan jumlah pekerja perempuan, 47,95 juta perempuan pada 2018 dan 48,75 juta perempuan pada 2019. Tak ada lagi yang bisa membelenggu perempuan untuk terjun di dunia professional selain dirinya sendiri. Batas yang harus ditembus adalah batas pada diri masing-masing dengan terus berproses menjadi manusia yang lebih baik setiap waktunya.

Berharap kepada perempuan-perempuan, terutama yang merasa inferior di dunia industri IT karena merasa perempuan, bahwa tak ada yang bisa mendikte masa depan selain diri sendiri. Hanya karena perempuan, bukan berarti tidak bisa melakukan hal-hal hebat.

Perempuan bukanlah halangan untuk terus berkarya, justru hal itu menjadi kekuatan layaknya laki-laki. Kekuatan yang perempuan ciptakan akan ditemukan melalui proses yang akan terjadi maupun telah dilalui hingga mampu sampai pada titik yang diharapkan. Selamat Hari Kartini, perempuan hebat.

Add Comment