Memperkuat Dukungan Sosial dalam Menciptakan Diskursus Kampus

Ilustrasi dukungan sosial. KASKUS/SANTOSO EKO BUDI

Selain sektor ekonomi, pembatasan jarak karena pandemi pada masa ini turut merembet masyarakat dalam menjalani kehidupan sosial mereka, terutama mahasiswa yang semestinya dapat memanfaatkan waktu untuk mengasah kemampuan skill bersama rekan-rekan sekomunitas, kini harus berhadapan dengan layar gadget untuk berkomunikasi.

Hambatan itu ujungnya membuat proses belajar dan pencapaian akademik mereka tidak maksimal, terutama ketika unit kegiatan mahasiswa terpaksa terhalang kegiatannya atau bahkan hingga dibekukan. Tidak hanya kegiatan mahasiswa, organisasi mahasiswa baik intra maupun ekstra kampus, ikut pula alpa dalam kontestasi politik maupun isu di kampus.

Saya hampir tidak menemukan diskusi menyangkut persoalan atau isu yang dekat kemanusiaan. Padahal, diskusi dan pengawalan isu seperti itu merupakan hal yang paling substansial bagi eksistensi ormawa itu sendiri.

Banyak survei dampak Covid-19 pada mahasiswa yang mestinya jadi perhatian civitas akademika perguruan tinggi. Survei imbas pandemi tersebut adalah bentuk bagaimana suara-suara warga kampus yang paling terdampak pandemi dapat didengungkan dan disalurkan.

Kebanyakan orang tua atau wali dan mahasiswa mengalami permasalahan ekonomi, mereka membutuhkan bantuan finansial, bantuan psikologis, dan bantuan dalam bentuk lain.

Suara aspirasi mahasiswa tentu akan lebih menggaung apabila unit, lembaga, serta ormawa kampus serentak menjadi corong suara mahasiswa. Seharusnya, upaya survei ini bisa dilakukan dan diikuti seluruh ormawa tiap fakultas. Tapi, yang saya lihat justru keberadaan badan eksekutif maupun dewan perwakilan mahasiswa hanya memuat dan mengunggah segala sesuatu dari kampus.

Kampus pun kini menjadi sepi dari riuh mahasiswa dalam menyuarakan pendapat mengenai suatu isu. Bahkan, saya kesulitan untuk mencari suatu isu atau desas-desus yang terdengar di kampus. Padahal, pandemi kini membawa sejuta persoalan yang menyambar segala lini kehidupan manusia.

Tentu hal ini berkaitan dengan naluri kritisisme mahasiswa dalam melihat peristiwa. Kritisisme itu dapat diasah dengan memperluas wacana atau diskursus dalam setiap diskusi isu. Ironisnya, saya hampir jarang sekali melihat pamflet diskusi permasalahan kemanusiaan tersebar di grup-grup media sosial. Yang ada tidak lain adalah melulu persoalan akademik, nilai, dan kompetisi.

Jika saya berasumsi bahwa lesunya diskusi diakibatkan adanya pandemi yang menyebabkan perkuliahan daring maka hal itu bukanlah alasan yang tepat untuk kita menghindari suatu permasalahan. Justru keberadaan masalah itulah yang mesti kita cari benang kusutnya. Jangan sampai perguruan tinggi sepi dan hening dari sebuah suara perdebatan.

Perdebatan dalam mempertahankan argumen dalam setiap diskusi, isu, konflik yang ada di kampus itulah yang akan memberikan kita pada perspektif baru. Dengan demikian wawasan kita bertambah dan keilmuan akan terus berkembang sebagaimana tujuan kampus sebagai institusi pendidikan itu sendiri, di mana kampus sebagai lingkungan intelektual.

Tidak terciptanya diskursus dalam kampus tersebut dapat menurunkan kualitas akademik dan sekaligus merosotnya komitmen terhadap bidang ilmu yang digeluti para civitas akademika. Akademisi terlihat cenderung lebih mementingkan nilai pragmatis daripada nilai-nilai pengetahuan, banyak melakukan penelitian tetapi hasilnya kurang terasa dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta tidak memiliki semangat kerja dan asketisme akademik yang tinggi.

Dukungan Sosial

Laksono dalam studi Hubungan antara Locus Of Control dan Perilaku Menolong (Altruis) menjelaskan bahwa sebagai seorang pembelajar, mahasiswa dituntut mampu berinteraksi dengan orang lain, baik dalam lingkungan akademisi maupun lingkungan masyarakat luas. Interaksi yang dilakukan bisa dalam bentuk kelompok maupun secara personal.

Mahasiswa akan termotivasi belajar jika ada dukungan sosial, dan salah satu sumber dukungan sosialnya adalah teman. Menurut Allen, Gartner, Kohler, dan Reissman (dalam Rozali, 2013) teman sebaya yang memberikan sumbangan besar dalam memotivasi mahasiswa belajar akan sangat berperan memengaruhi naik atau turunnya prestasi dan harga diri mahasiswa.

Hal ini didukung oleh Laursen (dalam Rozali, 2013), menjelaskan bahwa kelompok teman sebaya yang positif akan sangat membantu remaja untuk memahami bahwa mereka tidak sendiri dalam menghadapi tantangan memenuhi tugas-tugasnya. Selain itu, teman sebaya juga merupakan salah satu sumber dukungan sosial. Dukungan sosial juga dapat bersumber dari pasangan atau orang yang dicintai, keluarga, teman, rekan kerja, dosen, psikolog, atau anggota organisasi (Sarafino, 2002).

Semestinya kampus memberi dukungan penuh agar ormawa dan UKM dapat kembali aktif menjalankan program-program kerjanya. Dukungan itu dapat diwujudkan dalam pemberian dana kegiatan yang cukup, sekaligus diberi kebebasan untuk melakukan kegiatan akademik tanpa intervensi politik dan administrasi. Kebijakan yang sangat administratif dan birokratis seperti pencairan keuangan yang rumit selama ini yang dapat mengganjal kegiatan-kegiatan kampus tersebut.

Mahasiswa sendiri mestinya lebih bergerak dalam menginisiasi dan mencari ide untuk dapat berkumpul, serta berdiskusi menciptakan wacana. Kadang, ide-ide kreatif secara tiba-tiba bisa terselip ketika suatu kelompok berkumpul untuk satu dua hal remeh-temeh. Keuntungan bagi perkumpulan itu secara psikis, mampu menjadi tempat mencurahkan keluh kesah dan saling mengerti satu sama lain. Kemampuan memahami sesama kawan, membuat seseorang tergerak mencari solusi secara kolektif.

Konseling Kemahasiswaan

Keberadaan layanan konseling gratis yang diinisiasi bidang kemahasiswaan kampus tentu sangat membantu mahasiswa. Layanan konseling tersebut dapat membantu mahasiswa dalam mengiringi proses perkembangannya melewati masa-masa perguruan tinggi, sehingga terhindar dari kesulitan, dapat mengatasi kesulitan, membuat penyesuaian yang baik, dan membuat arah diri sampai mencapai perkembangan optimal.

Secara khusus, menurut G. W. Young (1970) tujuan konseling di perguruan tinggi adalah membantu mahasiswa untuk mengambil keputusan mengenai pilihan karier, pilihan program pendidikan, dan masalah lain yang bersangkutan dengan keputusan pendidikan.

Konseling juga memungkinkan mahasiswa lebih aktif dalam berinteraksi dengan orang lain, seperti teman sebaya, dosen, dan orang tua, sehingga mahasiswa bisa mendapatkan pemahaman diri dan penerimaan diri yang membantu mahasiswa untuk meningkatkan keterampilan dari segi akademik maupun sosial. Memiliki keterampilan tersebut dapat memberikan dukungan kepada mahasiswa untuk mengatasi krisis emosional.

Badan atau lembaga konseling kampus dapat lebih intens dalam menyosialisasikan layanan konseling ini. Untuk menyerap klien, ormawa juga perlu turut membantu dengan pendataan maupun survei di seluruh sudut lingkungan kampus. Tidak hanya bantuan psikologis, mahasiswa juga perlu diberikan kemudahan akses perkuliahan dengan bantuan kuota seperti yang dikeluhkan selama ini.

Pada masa-masa orientasi penerimaan mahasiswa baru saat ini, harus menjadi momentum civitas akademika untuk merefleksikan bagaimana proses perkuliahan saat ini. Bagaimana kualitas akademik kampus masih mampu menggaet calon mahasiswa dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang diimplementasikan. Namun, jika kegiatan-kegiatan akademik banyak ditiadakan tanpa ada alternatif, saya rasa, tantangan untuk memperkuat iklim pengetahuan akan terus berkembang akan bertambah sulit.

Tanggung Jawab Perguruan Tinggi

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa kampus sebagai legal entity memiliki tanggung jawab sosial, baik ke dalam maupun ke luar. Bahkan dipertegas lagi bahwa pada hakikatnya setiap orang, kelompok orang, dan organisasi mempunyai tanggung jawab sosial dan lingkungan dan oleh karenanya menjadi sah melakukan tindakan-tindakan tertentu yang memaslahatkan lingkungan sosial masyarakat bahkan lingkungan alam.

Perguruan Tinggi dapat melaksanakan tanggung jawab sosialnya secara khusus melalui Tri Dharmanya dengan membina pengusaha kecil atau UKM melalui pelatihan-pelatihan (penyusunan laporan keuangan, konsultasi perpajakan, manajemen keuangan), dan membantu desa binaan melalui bantuan manajemen untuk pengelolaan koperasi.

Kampus dapat berpartisipasi dalam menjaga kelestarian lingkungan antara lain melalui penghijauan kampus, kebersihan kali atau sungai sekitar kampus, larangan merokok di sekitar kampus, pengolahan sampah, pengurangan penggunaan kantong plastik, secara berkala mengadakan pengobatan dan pengecekan kesehatan gratis, dan lain-lain.

Merujuk pendapat Sutisna (2001) dalam konteks perusahaan maka citra kampus sesungguhnya juga dapat dibangun melalui berbagai macam kegiatan yang bermanfaat. Berbagai kegiatan itulah yang pada gilirannya akan dipersepsikan oleh khalayak, bersamaan dengan berjalannya waktu yang oleh Sutisna sebut sebagai ‘dibentuk dengan memproses informasi dari berbagai sumber setiap waktu’.

Kegiatan-kegiatan ini, merujuk Gronross yang dikutip Sutisna (2001) haruslah berorientasi terhadap manfaat yang telah diberikan atau diterima, dan sebagaimana diinginkan oleh kelompok khalayak sasarannya, manfaat yang ditampilkan melalui kualitas pelayanan cukup realistis dan mengesankan. Citra yang baik tersebut telah dipresentasikan berdasarkan kemampuan perusahaan, kebanggaan, nilai-nilai kepercayaan, kejujuran, dan mudah dimengerti oleh publik sebagai khalayak sasaran.

Citra yang baik muncul dari akibat penilaian atau tanggapan publik terhadap berbagai aktivitas, empati, prestasi dan reputasi perusahaan selama melakukan berbagai kegiatan.

Citra yang terbentuk akhirnya akan memunculkan keuntungan tersendiri bagi kampus. Kampus akan mengalami kenaikan jumlah mahasiswa. Kenaikan itu bahkan berjalan seiring loyalitas pelanggan. Kerja sama atau afiliasi dengan lembaga eksternal akan lebih luas linier dengan permintaan magang di dunia usaha atau pemerintah. Daya serap alumni ke dunia kerja meningkat, tingkat drop out rendah, serta bertumbuhnya sektor usaha informal di sekitar kampus.

Harapannya, seperti itulah tanggung jawab perguruan bagi dunia pendidikan. Kultur akademik yang kuat dalam membentuk budaya dan gagasan akan menjadi nilai yang diikuti dan dipegang lingkungan masyarakat. Melalui pendidikan inklusif, kampus menjadi nilai tanding yang membawa kualitas hidup manusia yang layak, standar, dan baik.

Bahan Bacaan

Subagyo. 2014. ‘Implementasi Tanggung Jawab Sosial Perguruan Tinggi dan Dampaknya Terhadap Citra Kampus di Universitas PGRI Kediri’. Nusantara of Research Volume 1(2).

July Ivone. 2011. ‘Bimbingan dan Konseling Mahasiswa. Makalah.

Novianti. 2015. ‘Peranan Psikologi Pendidikan dalam Proses Belajar Mengajar’. Jurnal Pendidikan Dasar Volume 2(2).

Darabila Suciani, Yuli Asmi Rozali, Safitri. 2014. ‘Hubungan Dukungan Sosial dengan Motivasi Belajar pada Mahasiswa Universitas Esa Unggul’. Jurnal Psikologi Volume 12(2).

Add Comment