Memaknai Ulang Sikap Islam terhadap Perempuan

Ilustrasi perempuan muslimah. FOTO NU ONLINE

Pada abad ke-18 masyarakat islam telah mengalami modernisasi yang secara kontekstual mengubah pola sosial dan budaya pada peradaban islam. Banyak persoalan persoalan bangsa barat yang menjadi isu penting dalam kajian islam. Di antara banyak persoalan yang bersifat kontemporer dalam globalisasi, salah satunya adalah persoalan tentang gender.

Persoalan ihwal gender tidak terlepas dari dampak imperialisme bangsa Eropa yang membawa pengaruh pola sosial dan budaya modern. Pengaruh itu menyebabkan kesadaran umat islam akan ketertinggalan adaptasi terhadap kemajuan zaman, sehingga persoalan mengenai sosial dan budaya modern masuk dalam ranah sudut pandang agama.

Wacana gender juga telah membuka kesadaran umat islam dalam memandang status dan derajat wanita dalam dunia islam. Persoalan tentang gender tidak hanya menyangkut perbedaan antara laki laki dan perempuan dalam masalah biologis ataupun aktivitas seksual, tetapi juga dalam hal sosial, budaya, psikis, dan aspek lain.

Dasar islam sebagai rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh semesta) yang mengantarkan manusia atas realitas dalam kehidupan, dipahami sebagai jalan bukan sebagai penghalang kemajuan dalam peradaban. Oleh karena itu umat islam dituntut untuk berpikir secara kontekstual agar terhindar dari munculnya ide-ide yang keluar dari jalan kebenaran.

Pemahaman dan pemaknaan ajaran agama yang bersifat emansipatoris telah menjadi keniscayaan sejarah untuk memberikan jawaban atas problem-problem kemanusiaan kontemporer sebagai dampak dari globalisasi. Dalam agama islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk melakukan kekerasan, tetapi secara praktek dapat diakui bahwa sering ditemukan tindak kekerasan atas nama agama, seperti kekerasan terhadap perempuan baik fisik maupun psikis yang dapat berdampak pada perkembangan pola pikir yang terhambat.

Dalam perspektif masyarakat islam sering menganggap bahwa kedudukan perempuan hanya sebagai pendamping subordinasi laki-laki, hal ini dikarenakan banyak masyarakat islam yang hanya memahami ajaran secara tekstual tanpa memperhatikan konteks.

Kisah Fatema Mernissi

Dalam kalangan muslimah juga terdapat pemikir kritis tentang feminitas seperti Mernissi, ia kerap melakukan kritik terhadap ajaran islam yang menyudutkan kaum perempuan. Mernissi kritis terhadap hal-hal yang bersifat misoginis sehingga ia menemukan hak-hak wanita yang dipinggirkan adalah tradisi yang dimanipulasi atau dibuat-buat.

Salah satu hadis yang dikritik oleh Mernissi adalah hadis “Tidak akan selamat kaum yang dipimpin oleh seorang perempuan”. Hadis ini sangat merasuk dalam cara berpikir para ulama dan masyarakat islam. Akibatnya, terjadi kekerasan psikis bahkan fisik terhadap kaum perempuan atas nama agama.

Hadits itu pun berkembang dalam kaitannya dengan perang Unta antara Aisyah istri Nabi dengan Ali menantu Nabi. Abu bakar sendiri tidak memiliki sikap yang tegas dalam perseteruan itu, tetapi tiba-tiba memori 25 tahun bersama nabi muncul dalam ingatannya, lalu berkembanglah hadis tersebut.

Jadi, pendapat bahwa perempuan tidak boleh menjadi pimpinan sebenarnya lebih kepada perspektif Abu Bakar itu sendiri daripada ajaran Islam. Bahkan hadis tersebut lemah karena ada cacat dalam rawinya. Jika pun hadis ini sahih, maka perlu juga ditinjau ulang dari segi kontekstual.

Asbabul wurud hadis tersebut adalah cerita tentang putri Kisra Persia yang menggantikan kedudukan ayahnya sebagai raja, karena pada waktu itu putri Kisra lemah dalam kepemimpinan sehingga dianggap oleh masyarakat dapat menimbulkan kekacauan politik.

Mernissi mengkaji istilah islam transformatif yang dikemukakan oleh Hasan Hanafi, hal ini merupakan sebuah tamparan bagi masyarakat islam untuk lebih kritis lagi dalam memahami ajaran-ajaran, bukan hanya menerapkan ajaran-ajaran secara tekstual tetapi juga harus kontekstual.

Mernissi juga menciptakan perlawanan terhadap tradisi-tradisi melenceng yang dilakukan oleh para ahli fikih pada masa itu. Pemahaman yang keliru mengenai hadis-hadis misoginis berimplikasi pada sikap ambivalensi di kalangan perempuan muslimah.

Muslimah ditantang untuk berprestasi dan mengembangkan karier agar tidak selalu menjadi beban laki-laki, tetapi di lain pihak, ketika seorang perempuan mencapai karier puncak, keberadaannya sebagai perempuan saleh dipertanyakan berdasarkan atas nama agama.

Mempersoalkan emansipasi wanita adalah bagian dari kekerasan terhadap perempuan. Dalam konteks tersebut, kekerasan terhadap perempuan terjadi karena pemahaman teks dan tradisi agama yang keliru (misalnya hadis-hadis misoginis). Oleh karena itu pemahaman dari penafsiran yang dianggap suci terkait peminggiran hak-hak perempuan perlu direkonstruksi dengan kajian kritis.

Adanya perbedaan antara laki-laki dan perempuan tidak dapat disangkal karena memiliki kodrat masing-masing. Perbedaan tersebut paling tidak dari segi biologis. Al-Quran mengingatkan,

“Janganlah kamu iri hati terhadap keistimewaan yang dianugerahkan Allah terhadap sebagian kamu atas sebagian yang lain. Laki-laki mempunyai hak atas apa yang diusahakannya dan perempuan juga mempunyai hak atas apa yang diusahakannya.” (QS. An-Nisa’: 32)

Hal ini tidak menjadi persoalan dalam wacana gender, tapi persoalannya adalah ayat yang sering dipakai oleh laki-laki muslim untuk melakukan kekerasan terhadap perempuan, seperti ayat yang menegaskan bahwa:

“Para laki-laki (suami) adalah pemimpin para perempuan (istri).” (QS. An-Nisa’: 34)

Ayat di atas kerap ditafsirkan bahwa laki-laki lebih super ketimbang perempuan sehingga sering mewariskan tradisi pengebirian perempuan. Padahal, ayat ini tidak menunjukkan sama sekali bahwa perempuan harus tunduk dan patut secara fanatik dengan laki-laki.

Ayat ini sebenarnya lebih berangkat dari kodrat alami bahwa laki-laki pada umumnya memimpin perempuan dalam hubungan keluarga. Ini sesuatu yang alamiah dan bukan harus diartikan perempuan tidak boleh memimpin laki-laki. Maka ayat ini harus ditafsirkan secara longgar bahwa hubungan suami dan istri, laki-laki dan perempuan adalah hubungan kemitraan, bukan siapa yang lebih super di antara keduanya.

Islam telah memberikan hak-hak kaum perempuan secara adil. Adanya paham gender dan feminisme sebenarnya bukan merupakan reaksi atas Islam, tetapi lebih pada reaksi atas pemahaman ulama. Dalam Islam jelas bahwa:

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut nama Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35).

Pesan utama ayat ini adalah sifat-sifat baik itu dapat dimiliki oleh laki-laki dan perempuan. Sebagai manusia, kedua pihak mempunyai hak dan kewajiban yang sama.

Pada era awal peradaban islam, muslimah memiliki peran penting dalam membangun pola pikir kritis masyarakat sehingga potensi dapat dimaksimalkan. Sebenarnya ketika menengok pada era awal peradaban islam, tidak ditemui adanya pola pikir bahwa perempuan hanyalah pendamping laki laki, tetapi seiring berkembangnya zaman masyarakat mulai berasumsi demikian.

Pandangan yang demikian sebenarnya bertentangan dengan ide moral Islam itu sendiri. Bahkan, secara normatif kesetaraan kemanusiaan laki-laki dan perempuan dinyatakan di dalam Al Qur’an Surat At-Taubah ayat 71. Sehingga tidak kemudian menjadikan yang satu (perempuan) menjadi subordinat dari yang lain (laki-laki).

Dalam melakukan perlawanan terhadap tradisi yang menyudutkan perempuan tersebut, maka muncullah gerakan feminisme Islam di berbagai belahan dunia dengan ikon kesetaraan gender, hal ini bermaksud melihat teks secara kritis dan menawarkan berbagai pemaknaan baru atas teks sebagai solusi pemaknaan oleh masyarakat yang keliru.

Gerakan feminisme berasumsi bahwa Islam harus dibumikan dalam bentuk aktivitas sosial yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan universal, termasuk kesetaraan gender dan penolakannya terhadap konsep dan tradisi ketidakberpihakan terhadap perempuan.

Kajian-kajian mengenai kesetaraan gender dengan sudut pandang agama dalam masyarakat masih sangat terbatas, tapi yang terjadi di masyarakat masih sering memahaminya secara tradisional. Di sisi lain pemaknaan agama oleh masyarakat sering kali hanya secara vertikal dan kurang dalam memaknai secara horizontal. Maka diperlukan kajian-kajian seperti islam transformasi untuk kemajuan berpikir masyarakat islam.