Kunthi Talibrata, Potret Perempuan di Rentang Zaman

Kunthi Talibrata. MEDIA INDONESIA

Kunthi Talibrata …….

Sosoknya terselip di antara sederet tokoh wayang. Dia lebih dikenal sebagai Dewi Kunthi, nama yang sering diidentikkan dengan keteladanan kaum perempuan. Kisah hidup Dewi Kunthi berkembang menjadi legenda sejak berabad lamanya. Potret kesetiaan dan pengorbanan seorang ibu demi kejayaan putra-putranya. Mengenal sosok Dewi Kunthi bukan saja menarik, tetapi juga penting sebagai cermin refleksi diri dan sumber inspirasi.

Perjalanan hidup Dewi Kunthi dikisahkan dalam wiracerita Mahabharata. Berawal dari masa kecilnya sebagai putri Prabu Kunthiboja, raja negara Mandura. Sejak kecil, Dewi Kunthi sangat antusias menekuni beragam ilmu pengetahuan dari pujangga kerajaan. Dia ikuti kata hatinya, memandang jauh ke depan. Berbekal ilmu pengetahuan, dia ingin membuktikan bahwa kaum perempuan mampu memberikan sumbangsih lebih dalam mewarnai kehidupan.

Saat Dewi Kunthi dewasa, dia diberi kebebasan oleh Prabu Kunthiboja untuk menentukan sendiri pasangan hidupnya. Itulah wujud penghargaan sang raja terhadap pandangan hidup putrinya. Kisah perjodohan Dewi Kunthi berakhir sebagai permaisuri Prabu Pandhu Dewanata, Raja Astina.

Sebagai permaisuri Astina, Dewi Kunthi melahirkan tiga orang putra, Puntadewa, Bratasena, dan Arjuna. Sedangkan Dewi Madrim (Madri), istri kedua Prabu Pandhu berputra kembar, Nakula dan Sadewa. Ketika Prabu Pandhu dan Dewi Madrim meninggal, para putra Astina itu masih kanak-kanak. Mereka kemudian diasuh oleh Dewi Kunthi dan dikenal sebagai Pandhawa Lima.

Dalam musyawarah istana, disepakati untuk sementara waktu bahwa tahta Astina dipegang oleh Prabu Destarastra, kakak Prabu Pandhu. Tahta itu akan diserahkan kepada Pandhawa Lima saat mereka sudah dewasa.

Meninggalnya Prabu Pandhu menjadi tonggak perjuangan Dewi Kunthi. Dia sangat memahami bahwa sebuah peran dan tanggung jawab besar tersandang di pundaknya. Mengasuh dan mengawal masa depan Pandhawa Lima sebagai pewaris Tahta Astina.

Dengan penuh tekad dan rasa percaya diri, Dewi Kunthi juga selalu memohon ridho Ilahi. Perjuangan panjang pun dimulai, ‘laku prihatin’ seorang ibu demi masa depan dan kejayaan putra-putranya.

Tanpa terasa, Pandhawa Lima tumbuh menjadi para ksatria yang berjiwa besar dan berbudi pekerti luhur. Para patriot muda yang siap menjaga dan membela tanah air dan rakyatnya. Mereka juga selalu ingat ‘wejangan’ sang ibunda tentang wasiat para leluhur untuk selalu menjaga keutuhan negara Astina.

Dewi Kunthi tersenyum lega dan sangat bersyukur, satu tahapan perjuangan terlampaui. Membentuk kepribadian putra-putranya sebagai penerus tahta peninggalan mendiang suaminya, Prabu Pandhu Dewanata.

Itulah Kunthi Talibrata. Melalui pengabdiannya, dia selalu ingin membuktikan bahwa kaum perempuan bukan sekadar ‘konco wingking’ atau ‘swarga nunut neraka katut’. Kaum perempuan bukan kaum yang lemah, melainkan mampu turut mewarnai sejarah.

Kaum ibu mempunyai hak dan berkewajiban turut berperan dalam dinamika keluarga maupun menentukan masa depan putra-putrinya. Sebagai konsekuensi, mereka harus membekali diri agar memiliki kepribadian, kemampuan, dan wawasan untuk menghadapi setiap tantangan.

Dalam perkembangannya, peran perempuan akan selalu dihadapkan pada tantangan perubahan. Konsistensi terhadap aspek-aspek spiritual menjadi penting sebagai penyelaras dampak kemajuan yang terjadi. Di sinilah aktualisasi sosok Dewi Kunthi akan selalu dibutuhkan. Akar budaya yang akan melandasi sikap dan kepribadian setiap perempuan.

Sosok Dewi Kunthi, Mahabharata, dan dunia pakeliran merupakan unsur budaya yang sarat dengan ajaran-ajaran kehidupan. Tentang ketaqwaan, budi pekerti luhur, patriotisme, dan norma kehidupan lainnya.

Seiring Pandhawa Lima beranjak dewasa, Prabu Destarastra berencana menyerahkan kembali tahta Astina. Namun, karena menyandang tunanetra, Prabu Destarastra selalu disiasati oleh putra-putranya, para Kurawa. Mereka juga merasa berhak atas tahta Astina dan ingin merebutnya dari tangan Pandhawa. Di belakang ayahandanya, mereka selalu berupaya untuk menyingkirkan Dewi Kunthi dan Pandhawa Lima.

Pandhawa dan Kurawa yang berjumlah seratus orang itu adalah saudara sepupu. Namun sejak kecil mereka selalu berseteru. Kurawa yang merasa berada di atas angin selalu bertindak tidak adil dan semena-mena terhadap Pandhawa.

Keadaan itu menjadi ujian kesabaran dan ketabahan yang tidak ringan bagi Dewi Kunthi. Selama bertahun-tahun, dia berupaya keras untuk mengendalikan diri dan perasaan putra-putranya. Setia berpegang pada wasiat para leluhur untuk selalu menjaga ketenteraman dan keutuhan negara Astina.

Dia pun tidak pernah berniat menyampaikan kelicikan Kurawa kepada Prabu Destarastra. Dewi Kunthi lebih memilih berserah diri pada pengayoman Yang Maha Tinggi.

Segala perbuatan Kurawa itu sebenarnya tidak lepas dari peran Dewi Gendari, sang ibunda, dan adiknya, Patih Sakuni (Sengkuni). Mereka selalu menyusun siasat jahat tanpa sepengetahuan Prabu Destarastra.

Diceritakan dalam kisah yang lain bahwa Dewi Gendari menaruh dendam terhadap Prabu Pandhu Dewanata. Melalui para Kurawa, dendam itu ingin dia tumpahkan kepada Dewi Kunthi dan Pandhawa Lima. Karena dicekam gelapnya hati, Dewi Gendari tidak menyadari bahwa dendam itu akan menimbulkan malapetaka dan kehancuran di kemudian hari. Kedengkian seorang ibu yang membawa celaka bagi putra putra dan sanak keluarganya.

Dewi Kunthi dan Dewi Gendari adalah potret peran dua sosok perempuan yang akan selalu terbawa di sepanjang peradaban. Potret perseteruan abadi antara dua sifat manusia. Sifat ilahiyah yang hakiki dan nafsu duniawi yang fana. Potret – potret itu sekaligus membawa pesan, bagaimana seharusnya peran perempuan diwujudkan.

Dewi Kunthi adalah potret ‘kemurnian hati’ seorang ibu. Sikap dan kepribadian perempuan yang tidak mudah goyah oleh terpaan nafsu duniawi. Sebuah ilustrasi bahwa euforia dan cobaan adalah warna kehidupan, sedangkan kemurnian hati merupakan wujud kecerdasan sebagai pilihan. Kemurnian hati bersumber dari nilai-nilai kebaikan yang hakiki.

Perjuangan dan Pengabdian hingga Akhir Waktu

Kelicikan dan sifat angkara murka Kurawa dikisahkan dalam beberapa lakon (episode) Mahabharata, seperti Bale Sigala-gala, Babat Alas Wanamarta, Pandhawa Dadu, dan Kresna Duta. Lakon-lakon itu juga menggambarkan kesetiaan dan konsistensi Dewi Kunthi dalam memperjuangkan kembalinya tahta Astina bagi Pandhawa Lima.

Perjalanan panjang Dewi Kunthi mewujudkan jati diri sebagai pejuang dan ibu yang mengabdikan hampir seluruh hidupnya untuk keluarga dan tanah warisan leluhur. Sosok perempuan yang selalu menjaga ‘kemurnian hati’ dalam cara pandang bahwa perjalanan hidup adalah rangkaian pengabdian.

Bale Sigala-gala dan Babat Alas Wanamarta merupakan dua lakon dalam satu rangkaian cerita. Menggambarkan kejahatan Kurawa di hutan Waranawata. Mereka berencana membunuh Dewi Kunthi dan Pandhawa Lima dengan membakar tempat peristirahatan (bale) yang sudah disiapkan.

Berkat ketulusan dan rasa berserah diri kepada Yang Maha Kuasa, Dewi Kunthi dan Pandhawa Lima mendapat perlindungan dan pertolongan dari-Nya dan terhindar dari malapetaka.

Atas kejadian itu, negara Astina dibagi menjadi dua. Pembagian itu pun tidak luput dari kelicikan Kurawa. Pandhawa Lima mendapat hak membuka hutan Wanamarta yang luasnya hanya sepertiga wilayah Astina. Hutan yang kemudian menjadi tempat berdirinya sebuah negara baru bernama negara Amarta. Raden Puntadewa bertahta sebagai raja dengan gelar Prabu Yudhistira.

Berdirinya negara Amarta ternyata hanyalah sebuah jeda bagi perjuangan panjang Dewi Kunthi yang mulai memasuki usia senja. Dalam perkembanganya, pembagian negara Astina tidak menghentikan nafsu angkara Kurawa. Mereka tetap berniat menyingkirkan Dewi Kunthi dan Pandhawa Lima.

Dalam lakon Pandhawa Dadu, Prabu Yudhistira terjebak kelicikan Kurawa dalam sebuah permainan dadu. Atas kekalahannya, Pandhawa Lima harus menjalani hukuman, mengasingkan diri di hutan dan menyamar sebagai kaum sudra selama tiga belas tahun.

Kurawa berjanji akan mengembalikan negara Amarta setelah Pandhawa Lima selesai menjalani hukuman itu. Prabu Yudhistira melarang Dewi Kunthi menyertai pengasingan Pandhawa Lima karena usianya yang sudah tua.

Masa pengasingan Pandhawa Lima menjadi masa-masa perenungan bagi Dewi Kunthi. Di sela doa untuk keselamatan putra-putranya, dia mencoba mengingat kembali suka-duka perjuangan panjang bersama Pandhawa Lima. Bukankah selama ini, dirinya dan Pandhawa Lima sudah terlalu banyak mengalah terhadap sikap angkara murka Kurawa? Dirinya dan Pandhawa Lima hanya ingin meminta kembali tahta Astina yang menjadi hak putra Prabu Pandhu Dewanata.

Selama itu pula, Dewi Kunthi sering bermusyawarah dengan Prabu Kresna, keponakannya. Membicarakan keadaan putra-putranya dan perkembangan negara Astina maupun Amarta.

Seperti saran dan pemikiran Prabu Kresna, Dewi Kunthi pun akhirnya tegas pada keputusannya, kebenaran dan keadilan harus ditegakkan dengan menumpas angkara murka di bumi Astina. Bukan semata-mata demi Pandhawa Lima, namun demi ketenteraman dan keutuhan tanah warisan leluhur. Dengan keputusan itu, Dewi Kunthi menyemangati diri sendiri. Inilah saatnya kaum perempuan turut mewarnai sejarah dan masa depan negara Astina.

Saat pengasingan dan penyamaran Pandhawa Lima berakhir, sebagai keluarga, Dewi Kunthi menemui Prabu Duryudana, raja Astina. Prabu Duryudana adalah putra sulung Prabu Destarastra. Dewi Kunthi meminta kembali negara Astina untuk putra-putranya, tetapi permintaan itu ditolak oleh Prabu Duryudana.

Dalam lakon Kresna Duta, dikisahkan bahwa Prabu Kresna diangkat sebagai duta (utusan) Pandhawa Lima untuk menemui Prabu Duryudana. Dia bertugas meminta kembali negara Amarta dan diberi wewenang mengambil segala keputusan untuk kepentingan Pandhawa Lima.

Permintaan Prabu Kresna pun ditolak oleh Prabu Duryudana. Atas penolakan itu, Prabu Kresna memutuskan terjadinya perang antara Pandhawa dan Kurawa yang disebut ‘Perang Bharatayuda’. Perang saudara antara sesama keturunan keluarga (wangsa) Bharata.

Perang Bharatayuda adalah perang dahsyat yang melibatkan banyak negara, berlangsung di tanah Kurukstra (Tegal Kurusetra) selama delapan belas hari. Perang ini merupakan puncak perseteruan antara Pandhawa dan Kurawa, bukan semata-mata karena perebutan tahta Astina.

Perang Bharatayuda menjadi simbol penumpasan angkara murka di bumi warisan keluarga Bharata. Meskipun di akhir peperangan Pandhawa Lima selamat dan berjaya, namun putra-putra mereka berguguran di medan laga. Demikian pula dengan seratus orang Kurawa, hanya dua yang tersisa, Raden Kartamarma (Kritawarman) dan Aswatama.

Itulah Bharatayuda, pertumpahan darah yang banyak merenggut korban jiwa dan harta-benda. Harga yang harus ditebus demi menegakan kebenaran dan keadilan di bumi Astina.

Dikisahkan bahwa perang Bharatayuda merupakan perang kehendak Dewata yang harus terjadi dan tidak dapat dihindari. Bharatayuda memang bukan perang biasa, tetapi merupakan ajang penyelesaian silang kepentingan umat manusia. Pembalasan dendam, perwujudan sumpah, balas budi, ikatan saudara, dan kepentingan lainnya. Di antara silang kepentingan itu, banyak terselip eksistensi dan peran kaum perempuan.

Satu di antaranya, Kunthi Talibrata. Seorang ibu yang mengabdikan seluruh hidupnya pada negeri tercinta dan kejayaan putra-putranya. Kunthi Talibrata meninggal tak lama setelah berakhirnya Perang Bharatayuda, tak lama setelah menuntaskan perjuangannya.

Tancep kayon…..