Kronik Revolusioner Para Syuhada Parakan Temanggung

Laskar Bambu Runcing. ANRI

Beberapa waktu lalu, saya mendapat pesan dari grup WhatsApp, bapak dari seorang kawan telah wafat. Tidak menunggu lama, saya lantas mengetik ucapan belasungkawa, sekaligus komat-kamit membaca surat Al Fatihah, yang khusus dihadiahkan untuk almarhum.

Mendengar kabar kematian itu, pikiran saya melesat, mengingat pertemuan saya dengan almarhum yang sudah cukup lama, sekira sepuluh tahun lalu. Saat itu, saya singgah ke rumah beliau, di sebuah kampung yang sejuk, berair jernih, di bawah kaki Gunung Sindoro dan Sumbing, di wilayah bernama Parakan.

Meski pertama kali jumpa, bapak kawan saya ini sudah sangat akrab, sumeh, wajahnya cerita, halus tutur katanya, baik, lagi santai, semirip kawan saya, anaknya itu, yang santainya bukan main.

Dari perjumpaan beberapa kawan dan saudara yang berasal dari tempat yang sama, Parakan atau Temanggung, saya meyakini bahwa semua warga di sana, orang baik. Kalaupun ditemui ada yang kurang baik, saya yakin itu pengaruh dari luar, bukan asli karakter khas orang-orang yang bertempat tinggal di pegunungan.

Bagi saya, gunung adalah tempat suci yang tersisa. Gunung, di banyak catatan sejarah, menjadi tujuan para bijak bestari untuk menyucikan dirinya, mendekat kepada Tuhannya.

Tulen Berdaulat

Parakan atau Temanggung, nama daerah yang berulang kali disebut oleh Mohammad Sobary dalam disertasinya, mengingatkan kita pada sosok Kiai Subkhi Parakan, kiai pahlawan yang terkenal dengan suwuk manjurnya untuk para pejuang kemerdekaan pada zaman revolusi fisik. Temanggung oleh Sobary, disebut sebagai wilayah yang masyarakatnya memiliki kedaulatan penuh atas hidupnya. Ia menyebutnya dengan kalimat ‘Rakyat yang berdaulat tulen, atau tulen berdaulat’.

Temanggung sejak lama dikenal sebagai daerah pejuang, sebagian dari tempat para pejuang kemerdekaan berkumpul. Dari sanalah Laskar Bambu Runcing yang terkenal itu berasal. Laskar santri Hizbullah, laskar Kiai Sabilillah, bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang dipimpin oleh Jenderal Soedirman.

Semua kesatuan pejuang itu disebut kerap berkumpul di Parakan Temanggung, guna membekali dirinya dengan restu, dengan doa dari sesepuh dan kiai di sana, sebelum turun ke medan pertempuran. Laskar Bambu Runcing berjasa dalam usaha mempertahankan kedaulatan Indonesia pasca-Perjanjian Renville digelar, lebih khusus di wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Melawan NICA

Pada November 1945, pasukan Sekutu Inggris Gurkha dan Netherlands Indies Civil Administration (NICA) dikabarkan menduduki wilayah Magelang. Mendapat kabar itu, Pemerintah Kabupaten Temanggung, para kiai ulama, dan tokoh masyarakat segera menanggapi, lalu mengadakan rapat untuk segera membentuk pasukan pertahanan.

Rapat pembentukan pasukan tersebut diadakan di Masjid Kauman Parakan, dihadiri oleh Kiai Subchi, Kiai Nawawi, Kiai Siraj Payaman, Kiai Abdurrahman, Kiai Abu Ammar dari organisasi Nahdlatul Ulama dan Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI), H. Sukirman dari Masyumi, Patih Sutikwo dari Pemerintah Kabupaten.

Pada rapat tersebut diputuskan untuk menggalang kekuatan pasukan. Pasukan yang berasal dari berbagai daerah itu tadinya dikumpulkan di satu tempat, di masjid. Namun setelah melihat jumlahnya yang cukup banyak maka para sesepuh mengajukan permintaan kepada KR. Sumomihardho sesepuh bagian suwuk, untuk segera memindahkan kegiatan penyepuhan atau suwuk Bambu Runcing ke gedung yang berada di sebelah masjid, supaya dapat menampung lebih banyak lagi pejuang yang hendak menyepuh bambu runcingnya.

Para pejuang meyakini, setelah bambu runcing itu disuwuk didoakan oleh Kanjeng Sumomihardho maka bambu runcing itu akan bekerja lebih efektif. Di tempat baru itu lah, KR. Sumomihardho dengan dibantu oleh kiai-kiai, melanjutkan acara penyepuhan massal para pejuang.

Ada pembagian tugas dalam pembinaan pasukan tersebut, seperti Kiai Abdurrahman yang bertugas memberi asma’ nasi manis (nasi yang terasa manis), yakni nasi yang diberi gula pasir, dan ditujukan untuk kekebalan. Ada pula Kiai Ali yang bertugas memberi asma’ banyu wani (air keberanian) yang tujuannya untuk keberanian dan menghilangkan kecapaian.

Kiai Subchi memberi ijazah amalan wiridan untuk dibaca para pejuang, berupa bacaan bismillah 3 kali, Allah ya Hafidhu 3 kali, Allahu Akbar 3 kali, sementara KR. Sumomihardho bertugas menyepuh bambu runcing, memberikan petuah, dan doa untuk para pejuang.

Add Comment