Kontribusi Kaum Perempuan dalam Mengelola Keuangan

Ilustrasi anggaran belanja dalam rumah tangga. YUNITA ROKHMAH

OJK Sebut Kalangan Mayoritas Korban Pinjaman Online (Pinjol) adalah Kalangan Ibu-Ibu

Guru TK Dipecat Gara-Gara Pinjaman Online

Contoh judul berita di atas kerap muncul di media massa akhir-akhir ini. Maraknya pemberitaan tentang kasus para korban pinjaman online (pinjol) mengundang perhatian dari banyak kalangan. Tak hanya menimbulkan dampak psikologis dan kerugian secara material bagi si peminjam, tapi juga berdampak kepada tindakan kekerasan, intimidasi, yang tak jarang menjadi konflik berujung perceraian.

Ironisnya lagi, berdasarkan penuturan dari para peminjam, mereka melakukan transaksi itu berawal dari keinginan untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat konsumtif. Artinya, mereka berhutang bukan karena kebutuhan primer yang mendesak, namun lebih kepada pemenuhan keinginan yang bersifat konsumerisme saja.

Tak dapat dipungkiri memang kaum perempuan menjadi salah satu sasaran potensial bagi kalangan industri untuk menawarkan berbagai macam produknya. Tawaran berupa iklan yang dikemas secara menarik berseliweran hadir setiap saat melalui media sosial dan televisi. Bahkan, tawaran dengan cara klasik melalui promosi lewat arisan-arisan PKK, juga menjadi salah satu sarana penawaran aneka rupa.

Namun, di balik itu sesungguhnya ada kondisi yang paling penting yakni kemampuan kaum perempuan terutama para ibu untuk bijak dalam mengelola keuangannya. Kemampuan mengelola keuangan ini menjadi satu hal penting yang harus dimiliki, meskipun dengan cara yang sederhana.

Kedengarannya ini satu hal sepele dan klasik. Namun, kenyataannya bermula dari kemampuan perencanaan keuangan ini dapat memberikan dampak yang besar. Mulai dari keharmonisan dalam keluarga, ketenangan, keberlangsungan kehidupan keluarga yang sejahtera, juga sebagai salah satu cara memberikan edukasi kepada anak-anak dalam kehidupan sehari-harinya.

Kelak ketika mereka dewasa, di posisi apapun akan menjadi seorang yang lebih bijak dan disiplin, karena sejak kecil telah mendapatkan satu keterampilan dalam mengelola kebutuhan hidupnya. Anak akan mengetahui tentang prioritas hidup, hidup hemat, bijaksana, disiplin, mengelola emosi, yang tentu ini menjadi salah satu attitude berharga bagi kehidupan pribadi dan kehidupan sosialnya.

Masih ingat bagaimana kaum ibu dulu mengelola keuangan rumah tangganya? Bila direnungkan, orang tua zaman dulu terlatih menjadi seorang yang bijaksana dalam mengelola keuangannya, hingga kita menjumpai banyak kisah keberhasilan para orang tua yang mengantarkan kesuksesan anak-anaknya ke jenjang pendidikan yang tinggi, dan juga mendidik mereka menjadi seorang pribadi yang baik. Padahal kalau dilihat dari kondisi ekonomi cukup pas-pasan dan pendidikannya pun hanya sekolah dasar saja.

Tidak hanya itu, bahkan orang tua zaman dulu bisa memiliki beberapa investasi berupa tanah atau sawah yang kemudian bisa diwariskan kepada anak-anaknya. Padahal kalau dilihat sekilas hidup mereka sederhana saja. Hidup tanpa banyak terbantu teknologi modern, bekerja secukupnya, makan sederhana, namun nikmat rasanya.

Orang tua dulu banyak waktu bersama keluarga, tak pernah terlihat ngoyo dalam mengejar materi, namun terlihat ayem tentrem dan bahagia. Pada saat merenungkan itu, kita ingin mendapatkan wejangan dari orang tua kita dalam menjalani kehidupannya. Salah satu prinsip yang sering dinasihatkan dan dipegang adalah urip kuwi sing gemi, setiti, lan ngati-ati. Hidup itu harus hemat, teliti, dan hati-hati.

Falsafah Jawa ini, pernah diserukan oleh wakil menteri keuangan Mardiasmo pada tahun 2018. Dalam sebuah kesempatan ia mengatakan, pengelolaan keuangan negara harus gemi, setiti, lan ngati-ati. Tujuannya agar pengelolaan negara dapat berjalan secara efektif sekaligus mengutamakan kesejahteraan rakyat.

Pada kesempatan itu, Mardiasmo menceritakan bagaimana kecakapan istrinya yang pandai mengelola keuangan keluarga, sewaktu gajinya sebagai dosen baru Rp18.000. Namun, bisa mencukupi kebutuhan hidup, dan mengantarkan anak-anaknya ke jenjang pendidikan yang tinggi. Pengalaman hidupnya itu telah memberikan kesan mendalam, yang kemudian diterapkan saat memimpin lembaga pemerintahan.

Menarik juga ketika membaca kisah hidup dari ibu negara Ani Yudhoyono, ketika mendampingi presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di awal masa pernikahannya. Sebagai seorang istri tentara yang masih berpangkat letnan satu, gaji yang didapat saat itu Rp52.500, dengan gaji pas-pasan Ibu Ani berupaya melakukan prinsip hidup hemat, bahkan ikut membantu suami menambah penghasilan dengan berjualan es lilin. Kita pun menyaksikan bagaimana di masa kepemimpinan SBY banyak permasalahan ekonomi negara mendapatkan solusi, salah satunya terbebas dari hutang IMF.

Adakah hubungan antara prinsip hidup gemi setiti ngati-ati dari seorang istri yang kemudian memengaruhi sikap hidup suaminya? Kalau saya termasuk yang setuju dengan asumsi ini, karena ada beberapa fakta yang menyebutkan bahwa perilaku istri yang konsumerisme, dengan menuntut lebih dari kemampuan pendapatan suami menjadi awal dari munculnya tindakan penyelewengan di dunia kerja seperti lahirnya tindakan korupsi, kolusi, dan jual beli jabatan. Hal ini berawal dari tuntutan hidup yang di luar kemampuan finansialnya. Bagaimana menurut Anda?

Kembali kepada kaum perempuan, khususnya para ibu. Ternyata, kemampuan financial planning atau perencanaan keuangan ini memang menjadi salah satu kemampuan yang wajib dimiliki. Kalau kemampuan domestik seperti mengurus rumah tangga bisa diwakilkan kepada asisten rumah tangga. Namun, kemampuan mengelola keuangan, tentu harus dipegang langsung oleh ibu, yang dapat sebutan sang manager rumah tangga, bukan?

Oleh karena itu apa saja yang perlu diketahui dari perencanaan keuangan rumah tangga ini? Menurut pakar finansial Ahmad Ghozali, ada beberapa prinsip dalam pengelolaan keuangan rumah tangga.

Kanaah atau Merasa Cukup

Kalau ditanya apa keinginan dalam hidup kita, tentu ada banyak yang diinginkannya, dari kebutuhan yang mendesak, hiburan, pemenuhan spiritual, jangka pendek, jangka panjang, banyak, sedikit, dan seterusnya, tidak akan ada habisnya. Di situlah manusia diuji untuk bisa mengekang hawa nafsunya. Cukup itu adalah rasa.

Orang yang merasa cukup akan menghadirkan ketenangan, jauh dari perilaku tergesa-gesa atau kemrungsung, sabar, ikhlas menerima keadaan, jauh dari sifat serakah, foya-foya, dan perilaku berlebihan lainnya.

Dengan sifat kanaah ini pula kita akan belajar untuk bijaksana dalam mengelola segala keinginan dalam hidup, yang kemudian akan melatih untuk membuat rencana dan prioritas dalam pengelolaan keuangan rumah tangga.

Pembagian Penghasilan sesuai dengan Prioritas

Dalam pembagian prioritas ini ada empat hak yang harus ditunaikan yakni pertama, hak untuk orang lain, berupa sedekah, zakat, atau berderma. Hal ini diimani sebagai salah satu cara untuk menghadirkan keberkahan dalam hidup, yang akan membuka pintu-pintu rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka, juga menghindarkan dari segala mara bahaya. Ada juga yang mengimani, ketika kita memberi, pada hakikatnya sedang berinvestasi, menyimpan harta kita pada penguasa alam semesta, yang nanti akan dikembalikan dalam bentuk kebaikan yang berlipat banyaknya. Itulah The power of giving.

Kedua, hak pihak ketiga, misalnya memiliki tanggungan kewajiban membayar utang, membayar gaji karyawan, menggaji asisten rumah tangga, membayar SPP, membayar listrik, kebersihan, PDAM, dan tanggungan lain yang menjadi kewajiban kita.

Ketiga, hak masa depan. Ini dilakukan dalam rangka menyiapkan kondisi, baik yang sudah direncanakan maupun tak terduga, berupa tabungan, investasi, dan simpanan khusus dana darurat.

Keempat, hak masa kini, berupa kebutuhan sehari-hari. Nah, ini yang harus disesuaikan dengan budget kita. Kemampuan seorang ibu, teruji dalam hal ini. Bagaimana caranya agar dana yang ada dicukupkan untuk dapat bertahan hingga akhir bulan, dengan tetap memperhatikan kesejahteraan keluarganya. Kemampuan planning dan actuating ditambah kreativitas sangat dibutuhkan dalam mengatur strategi ini.

Kemampuan untuk Membedakan antara Kebutuhan dan Keinginan

Bisa jadi inilah awal dari petaka seorang terjerat utang rentenir, pinjol, atau penyelewengan lainnya. Diawali dari ketidakmampuan untuk mengelola emosi dan keinginannya. Belum mampu menganalisa apakah barang yang akan dibeli bersifat mendesak dan prioritas atau sekedar kesenangan, dan prestise saja.

Kalau memang karena kesenangan atau prestise, apakah barang yang dibeli akan bisa menjadi investasi ke depannya? Di sinilah pemahaman seorang perempuan khususnya ibu dalam mengetahui kebutuhan primer, sekunder, tersier, atau komplementer. Pelajaran yang pernah didapatkan ketika masa SD dulu.

Memang tidak dipungkiri kegiatan jual beli adalah aktivitas yang menyenangkan. Apalagi bila barang itu menarik hati dan suatu saat memang dibutuhkan. Tapi pada kenyataannya apa yang dibeli itu tidak terpakai dan justru memenuhi rumah atau bahkan ada yang terbuang. Apalagi bila membeli barang itu dilakukan ramai-ramai misalnya ketika ada promo lewat arisan.

Memang benar, transaksi jual beli itu bukan semata-mata karena kebutuhan, tapi lebih karena emosional, dan orang marketing cukup memahami itu, sehingga promosi yang dilakukan pun dengan bahasa atau gambar yang mengaduk-aduk perasaan calon konsumennya.

Ternyata iming-iming ini dapat memikat pada semua level keuangan, dari yang berpenghasilan standar UMR, puluhan juta, atau bahkan yang di angka ratusan juta pun bila tak bijak mengendalikan diri dalam hasrat untuk memiliki barang, akhirnya akan mendatangkan masalah juga.

Melibatkan Pasangan dan Anak-anak

Keuangan rumah tangga, meskipun seorang ibu yang bertanggung jawab penuh untuk mengelolanya, namun tetap saja akan melibatkan anggota keluarga yang lain. Akhirnya mereka juga akan menyesuaikan diri dengan kondisi keuangan yang ada. Tak jarang dengan pelibatan ini, akan menumbuhkan jiwa kemandirian pada anak-anak untuk ikut membantu orang tua, seperti belajar untuk menahan diri, prioritas kebutuhan, dan tak jarang ada yang ikut membantu untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.

Bagi seorang ayah, dengan pelibatan ini juga akan memahami kondisi yang ada, dan akhirnya akan menyesuaikan diri dengan gaya hidupnya. Dengan saling memahami hal ini maka seorang ibu akan dengan nyaman mengatur keuangan, dan mencoba untuk menjaga agar jangan sampai terjatuh pada hutang untuk kebutuhan konsumtif, juga hutang-hutang lainnya.

Pemasukan Lebih Besar daripada Pengeluaran

Besar pasak daripada tiang, begitu peribahasa yang pernah diajarkan. Sebuah filosofi yang diajarkan sejak dini di masa sekolah dasar. Harapannya kelak ketika dewasa mampu untuk mengatur gaya hidupnya. Tetapi bagaimana kalau misalnya penghasilan pokok tak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya?

Di sinilah muncul kreativitas untuk berupaya menambah penghasilan keluarga, karena salah satu tips untuk mengelola keuangan rumah tangga yang dianjurkan adalah mengusahakan untuk memiliki lebih dari satu pos penghasilan, yang tentu saja disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

Demikian ulasan dunia perempuan, tentang kemampuan mengelola keuangan rumah tangga. Ternyata meskipun sederhana, namun dibutuhkan ilmu dan skill khusus juga, ya? Yuk, Bu, kita belajar menjadi menteri keuangan keluarga.

Add Comment