Filosofi Ikigai dan Mekanisme Hidup Sehari-hari

Ilustrasi aktivitas masyarakat Jepang. JAPANTRIPS

Selalu ada alasan mengapa secara klinis tubuh kita bergerak memenuhi sesuatu. Entah itu tuntutan yang bergerak dengan ritme-ritme khusus, ataupun tuntutan yang muncul dalam suatu momen belaka. Porsi dan alasan untuk terus bergerak itulah mekanisme individual dalam menjalankan sesuatu yang muncul dari diri sendiri.

Bisa disebut ini semacam rasionalisasi, tapi bagi masyarakat Jepang mekanisme ini kerap disebut sebagai Ikigai. Ikigai ini dipraktikan oleh kebanyakan masyarakat Jepang, dan membantu banyak orang Jepang untuk terus bertahan hidup di tengah rumitnya abnormalitas kehidupan dalam ingar-bingar zaman yang kian banal.

Prinsip hidup Ikigai ini berasal dari Prefektur (provinsi) Okinawa, sebuah daerah di Jepang yang terkenal memiliki penduduk berumur panjang. Pulau paling selatan di Jepang ini merupakan tempat yang banyak mendapat perhatian dari para peneliti, karena masyarakatnya memiliki kebahagiaan dan usia hidup yang lebih panjang dari rata-rata.

Menurut Washington Post, rata-rata harapan penduduk Okinawa memiliki angka tertinggi di dunia, yakni 81,2 tahun. Angka itu bahkan lebih tinggi daripada prefektur lain di Jepang yang rata-rata hanya sekitar 79,9 tahun. Namun tidak hanya itu saja, sebanyak 400 warga yang tercatat tinggal di Okinawa, ternyata berumur 100 tahun lebih.

Pada implementasinya Ikigai menjadi suatu landasan abstrak masyarakat Jepang untuk terus mengamini apa yang mereka lakukan. Ikigai berasal dari bahasa Jepang, iki dan gai. Iki artinya kehidupan dan gai bermakna nilai. Kalau diwedarkan, ikigai artinya merupakan rasionalisasi seseorang untuk terus mempertahankan eksistensinya, baik dengan ambisi ataupun sekadar pragmatisme rutin sehari-hari.

Ikigai sekilas terdengar sederhana, tapi rawan pada jebakan simplifikasi istilah. Padahal Ikigai juga berkenaan dengan awal dan akhir. Ia semacam prosedur hidup. Bisa disebut mulai dari alasan kita untuk memulai hari, bagaimana kita memaknai, memberi tujuan, dan mengaplikasikan nilai hidup untuk menjalani hari.

Sebagai contoh, etos The Beatles dalam mengarungi belantika musik internasional, yang sebelumnya tak lebih dari band medioker yang lebih banyak berkutat di panggung-panggung lokal kota mereka sendiri, Liverpool. Dalam perjalanan merintis karir mereka, nama mereka cenderung dikenal sebagai band penghibur di bar-bar kecil.

Tapi semuanya berubah arah ketika mereka mendapat tawaran untuk tampil di Hamburg. Tawaran itu mereka ambil tanpa pikir panjang. Kesempatan itu mereka upayakan sebaik dan semaksimal mungkin. Setelah performa mereka dinilai memuaskan oleh pihak penyelenggara, The Beatles pun diundang lagi dalam beberapa waktu ke depan. Mereka jadi rutin manggung di Hamburg.

Rutinitas performa The Beatles ini mengharuskan mereka berlatih sesering mungkin dengan intensitas tinggi dan etos yang lebih keras dari kebanyakan sebuah grup band pada umumnya. Tubuh para personel The Beatles kemudian membentuk semacam mekanisme diri yang lain daripada orang lain. Keseharian mereka pun dipenuhi dengan alat musik, nada-nada ritmis, dan kreativitas untuk improvisasi panggung.

Cara The Beatles menangani diri mereka sendiri ini bisa disamakan dengan Ikigai ala orang Jepang. Para personel The Beatles dengan tempaan karier dan perhatian yang luar biasa pada awal karier mereka, secara sadar memutuskan bahwa musik adalah hidup mereka. Kesungguhan untuk hidup dari, dengan, dan untuk musik ini kemudian oleh jurnalis The New Yorker Malcolm Gladwell sebut dengan resep 10.000 jam.

Alasan Kuat

Kurang lebih sama dengan The Beatles, di Jepang masyarakat Okinawa yang punya rataan harapan hidup yang panjang memiliki cara untuk menangani diri mereka sendiri. Rata-rata, penduduk Okinawa memiliki diet unik yang dipercaya berpengaruh terhadap usia panjang mereka. Namun, Ikigai juga memainkan perannya dalam hal tersebut.

Dari hal ini dapat kita lihat bahwa hal terpenting dari Ikigai adalah tujuan dan makna yang mereka miliki setiap akan memulai hari. Misalnya, seperti ada murid yang harus mereka ajar, kuda yang harus mereka beri makan, kebun yang harus mereka rawat, dan hal-hal sederhana lainnya. Hal kecil jadi sangat berarti di sini.

Filosofi Ikigai bukan berarti kita harus bekerja lebih keras dan lebih lama dalam suatu profesi, bukan pula memaksakan diri kita sendiri. Akan tetapi, Ikigai adalah merasakan hal yang kita lakukan dapat berdampak bagi kehidupan orang lain.

Ikigai tidak hanya dalam hal pekerjaan, tetapi juga berlaku pada keseharian yang kita jalani. Ketika kita telah memiliki arti bagi kehidupan orang lain, maka bisa jadi itu adalah Ikigai yang kita miliki.

Selain itu, kita tidak butuh hal besar untuk mencapai kebahagiaan. Sebab, sekadar teman berbincang dan hal-hal kecil yang bermanfaat bagi diri dan orang lain yang kita lakukan dengan tulus akan membawa dampak yang besar bagi kita. Poin utama kenapa Ikigai ini penting adalah kita selalu memiliki sesuatu yang ingin diperjuangkan.

Bertanya pada Diri Sendiri

Ketika hari-hari dalam hidupmu berjalan begitu kosong dan hampa, ada baiknya kamu mulai bertanya kepada diri sendiri.

Misalnya, apakah kamu sudah memiliki alasan yang kuat untuk bangun pagi dan mengawali hari?

Apakah alasan itu hanya karena sudah cukup waktu tidurmu?

Ataukah ada orang yang ingin segera kau temui? Bisa jadi, ada pekerjaan bertumpuk yang harus kamu selesaikan? Mungkin, ada secangkir teh panas yang menunggu untuk diseduh, buku yang ingin kau baca, atau ada tempat yang ingin kau kunjungi?

Barangkali, ada hati yang ingin kau bahagiakan dan senyum yang sedang kau tunggu?

Kalau belum ada jawaban juga, coba jawab pertanyaan-pertanyaan ini:

Apa sih hobi kamu?

Apakah dengan hobi itu, kamu mendapat bayaran yang tinggi?

Apakah kamu menjadi ahli di bidang tersebut?

Apakah masyarakat dapat mengambil manfaat dari apa yang kamu lakukan?

Kalau semuanya saling bertautan, yang kamu lakukan kamu cintai, kamu kuasai, sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh orang lain, dan kamu mendapat bayaran karenanya, itulah Ikigai. Kita akan menemukan makna ketika tengah mengerjakan sesuatu, merasa bahagia, dan orang lain pun mendapat manfaatnya.

 

Ikigai dalam Pandangan Islam

Dalam Islam, hal-hal yang membuat kita bangun pagi rasanya begitu normatif. Kita bangun untuk menunaikan salat malam, atau banyak dari kita yang bangun ketika azan subuh berkumandang. Akan tetapi, hal inilah yang sebenarnya membuat hidup kita lebih bermakna.

Hidup kita akan lebih penuh arti jika kita mengetahui kepada siapa hal-hal yang sudah dilakukan itu ditujukan. Segala upaya yang kita kerjakan, seluruh muaranya seharusnya hanya untuk menuju kepada-Nya, untuk meraih keridaan-Nya. Sebab, hal besar apalagi yang kita butuhkan selain daripada rahmat dan belas kasih dari-Nya?