Batik dan Perjuangan Kaum Perempuan

Perempuan dan Batik. PRIMUS SUPRIONO

Batik bukan hanya sebagai seni dan keterampilan semata. Namun, batik merupakan kebudayaan yang bersifat adiluhung milik Indonesia yang diwariskan secara turun-temurun sejak zaman dahulu kala. Seni batik telah melintasi waktu yang sangat panjang. Ia juga telah menempuh pergulatan kebudayaan yang sangat penting dalam mengiringi perjalanan bangsa Indonesia. Wajar, jika batik terlahir sebagai salah satu identitas bangsa Indonesia yang sangat membanggakan.

Di antara beragam jenis kebudayaan Indonesia, batik merupakan karya seni yang sangat unik dan bernilai tinggi. Batik bukan hanya mengekspresikan keindahan secara visual, tetapi juga memancarkan nilai-nilai filosofis dan pengalaman spiritual yang dalam.

Sejak awal kemunculannya, batik tidak hanya sebagai karya seni dan aktivitas ekonomi belaka, melainkan juga sebagai ekspresi idealisme dan alat perjuangan melawan suatu ketidakadilan. Dengan demikian, batik yang kita kenal saat ini sebenarnya merupakan perwujudan dari karya seni atau kebudayaan yang bersifat inderawi, filosofis, dan spiritual sekaligus. Di balik perjuangan kaum perempuanlah karya agung kebanggaan bangsa itu terwujud.

Batik Memang Asli Indonesia

Membatik adalah keseluruhan proses dari penentuan tujuan, pembuatan pola, pemilihan ornamen, pemalaman dengan canting tulis, penggunaan zat pewarna alam, sampai pelorodan. Dengan pengertian itu, jelas bahwa batik mempunyai akar sejarah, sosial, dan budaya khas Indonesia. Sebab, batik memang lahir, tumbuh, dan berkembang hanya di Indonesia, terutama di Jawa.

Namun, batik juga dapat dipahami sebagai teknik wax-resist dyeing, yaitu menutup bagian permukaan kain menggunakan lilin atau malam, sehingga bagian permukaan kain tersebut tidak menyerap bahan pewarna yang digunakan. Jika menggunakan pengertian itu, maka batik tidak hanya milik Indonesia.

Seni menggambar atau menulis dan mewarnai kain dengan teknik perintang warna menggunakan lilin atau malam dari sarang lebah (wax-resist dyeing), sebenarnya sudah dikenal dalam peradaban manusia sejak zaman dahulu kala. Teknik pewarnaan kain yang mirip dengan cara membatik di Indonesia itu, ternyata sudah diterapkan oleh bangsa Mesir sejak kurang lebih 2.500 tahun yang lalu. Bukti sejarah ini membuktikan bahwa seni pewarnaan kain dengan teknik wax-resist dyeing telah meretas jarak dan waktu yang sangat panjang.

Selain di Mesir, seni pewarnaan kain dengan teknik wax-resist dyeing juga dapat dijumpai di Turki, India, Tiongkok, Jepang, Nigeria, dan Senegal. Namun, tidak ada satu tempat pun di dunia ini yang mengembangkan seni pewarnaan kain dan ragam hias dengan teknik wax-resist dyeing sedemikian mendalam, kaya, dan kompleks seperti Indonesia, terutama di Jawa.

Bahkan, kini seni mewarnai kain dengan teknik wax-resist dyeing menggunakan canting yang disebut membatik pun, banyak dijumpai di berbagai negara. Akan tetapi, batik Indonesialah yang telah menapaki sejarah panjang akulturasi budaya dan filosofi yang mendalam.

Batik Indonesia pulalah yang paling unik, maju, berkembang, dan dikenal dunia dibanding batik dari negara-negara lain. Itulah sebabnya, batik Indonesia diakui dunia sebagai warisan pusaka dunia.

Fakta-fakta yang mencengangkan dan sangat membanggakan ini, hendaklah semakin menambah makna seni batik Indonesia sebagai salah satu warisan peradaban manusia yang tak ternilai harganya. Setelah mengetahui sejarah, teknik, dan corak atau motif batik negara-negara lain, diharapkan kita dapat semakin mengenali, menghargai, sekaligus mengembangkan batik kita sendiri.

Dibandingkan dengan batik negara-negara lain, batik Indonesia merupakan yang paling berkembang, unik, dan kompleks. Batik Indonesia tidak hanya khas karena corak atau motifnya, tetapi juga khas karena teknik dan alat yang dipakai. Teknik membatik dengan canting dan perintang warna menggunakan lilin, adalah betul-betul keunikan dan kekhasan Indonesia. Di samping itu, batik Indonesia betul-betul unik karena landasan filosofi, akar budaya, serta sejarah yang panjang dan berliku.

Bukti-bukti sejarah menunjukkan, batik Indonesia tidak berasal baik dari India, Sri Lanka, Tiongkok, Melayu Kuno, maupun Persia. Memang dalam perkembangannya batik Indonesia berinteraksi dengan kebudayaan bangsa-bangsa lain, namun batik Indonesia mempunyai identitas, keunikan teknik, dan dasar filosofis tersendiri.

Persebaran Batik di Indonesia

Batik memang tradisi asli Indonesia. Hal itu bisa kita lacak bukti sejarah keberadaannya mulai dari zaman prasejarah pada abad ke-5, Kerajaan Mataram Kuno, Kerajaan Tarumanegara, Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Kediri, Kerajaan Majapahit, Kerajaan Mataram Islam, Penjajahan Belanda dan Jepang, hingga penyebaran agama Islam.

Batik Indonesia tumbuh dan berkembang mengikuti dinamika masyarakat. Batik selalu berdialektika dengan perkembangan budaya. Mulai dari zaman kerajaan Hindu-Buddha, penyebaran agama Islam, hingga penjajahan Belanda dan pendudukan Jepang di Indonesia, batik senantiasa berkembang seiring dengan perjalanan panjang tersebut. Daerah persebaran batik dan perubahan aneka motif batik sangat dipengaruhi oleh dinamika dan perkembangan budaya masyarakat tersebut.

Perang Diponegoro dan perpecahan Kerajaan Mataram menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta sebagai akibat dari Perjanjian Giyanti, ternyata berdampak pada perkembangan batik. Dari sinilah seni dan keterampilan membatik kemudian menyebar ke berbagai daerah, khususnya di wilayah Pulau Jawa.

Di Pulau Jawa, kita mengenal berbagai kota penghasil batik antara lain Solo, Yogyakarta, Pekalongan, Cirebon, Lasem, Tasikmalaya, Ciamis, Tulungagung, Mojokerto, Ponorogo, Banyumas, Tegal, Purbalingga, Jakarta, Indramayu, Garut, Kebumen, Purworejo, Klaten, Boyolali, Sidoarjo, Gresik, Kudus, dan Wonogiri.

Sementara di luar Jawa, kita mengenal daerah penghasil batik seperti di Bali, Nangroe Aceh Darussalam, Riau, Jambi, Sumatera Barat, Bengkulu, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat, dan Papua.

Di daerah-daerah itu, seni dan keterampilan membatik tumbuh dan berkembang dengan karakteristiknya masing-masing. Walaupun perkembangan batik antardaerah saling memengaruhi, namun semua daerah itu sebenarnya mempunyai keunikan dan sejarah batik tersendiri.

Batik dan Kaum Perempuan

Pada masa lalu, membatik merupakan aktivitas yang gemar dilakukan para perempuan Jawa. Sebagaimana tertulis dalam Kawruh Ambathik, “Mênggah padamêlanipun tiyang èstri, saya tumrap ing nagari Surakarta tuwin Ngayogyakarta, agêng alit sami nyêrat sinjang bathik, kangge panggaotan, utawi namung pangangguran, dipun angge piyambak, prasasat botên wontên tiyang èstri ingkang botên sagêd nyêrat sinjang.

Artinya kurang lebih begini, “Termasuk pekerjaan perempuan. Utamanya di wilayah Solo dan Jogja, tua muda semua ikut membatik, untuk mendapatkan penghasilan atau karena menganggur, untuk dikenakan sendiri. Hampir-hampir tidak ada perempuan yang tidak bisa mengerjakannya.”

Tidak terbantahkan, proses kreatif membatik didominasi oleh kaum perempuan. Konon, dahulu kaum laki-laki mendapatkan pembagian tugas mengerjakan bagian di luar rumah seperti berburu. Sedangkan kaum perempuan lebih banyak mengambil peran di area sekitar rumah seperti bercocok tanam, menenun, dan membatik. Tidak berlebihan jika dikatakan, ‘batik adalah perempuan’.

Salah satu perempuan Jawa yang memiliki pengaruh besar dalam penyebaran produk budaya batik adalah Nyi Banoewati, seorang penjaga museum pusaka dan pembuat seragam dari Kerajaan Majapahit pada abad ke-14.

Dikisahkan, Nyi Banoewati sedang dalam pelarian dari Kerajaan Majapahit. Dalam pelariannya, Nyi Banoewati bersembunyi di wilayah pesisir pantai utara Jawa, di daerah Juwana, di Desa Bakaran. Saat terasing, Nyi Banoewati mengajari masyarakat Bakaran membuat batik. Dari tangan dingin Nyi Banoewati, karya seni dan budaya membatik menyebar ke berbagai daerah di Jawa.

Batik Bayat

Secara geografis, Kecamatan Bayat terletak sekitar 21 kilometer arah timur Kota Klaten, atau kurang lebih 35 kilometer arah barat Kota Solo. Kabupaten Klaten masuk wilayah eks Karesidenan Surakarta, sehingga sejarah Batik Bayat erat hubungannya dengan sejarah Kasunanan Surakarta. Bahkan, para pengusaha Batik Bayat kebanyakan berasal dari Solo.

Seni dan keterampilan membatik di Bayat sudah tumbuh dan berkembang sejak dahulu. Sejarah keberadaan batik di Bayat diperkirakan pada masa pra Hindu, kemudian mulai tumbuh dan berkembang sejak kedatangan Ki Ageng Pandanaran di daerah itu sejak abad ke-17.

Ki Ageng Pandanaran menetap di daerah Bayat karena menjalankan perintah dari Sunan Kalijaga untuk bertapa dan menyebarkan agama Islam. Karena ketokohan dan keteladanannya, Ki Ageng Pandanaran pun lebih dikenal sebagai Sunan Bayat. Konon, sembari menyebarkan agama Islam, istri Ki Ageng Pandanaran mengajari masyarakat Bayat dengan seni dan keterampilan membatik.

Sejak diberlakukannya Perjanjian Giyanti yang memisahkan antara Kasunanan Surakarta dengan Kasultanan Yogyakarta, Batik Bayat banyak dikirim dan dikenakan sebagai busana keluarga Keraton Surakarta. Busana batik untuk memenuhi kebutuhan keluarga Keraton Surakarta sebagian juga dikerjakan di Bayat. Oleh karena itu, sebenarnya hubungan antara Batik Bayat dengan Batik Solo sudah terjalin sejak lama.

Di Kecamatan Bayat, setidaknya terdapat sepuluh sentra industri batik. Beberapa sentra industri batik itu adalah batik tulis di Desa Jarum dan Desa Kebon, batik tenun lurik di Desa Tegalrejo, dan batik cap di Desa Beluk. Karena tradisi membatik telah berlangsung secara turun-temurun sejak lama, maka semua proses pembuatan batik mulai dari penggambaran motif, pembatikan, pencelupan, pengeringan, hingga pengemasan dikerjakan sendiri oleh masyarakat Bayat.

Selain bertani dan beternak, masyarakat Bayat cukup banyak yang bermata pencaharian sebagai pembatik. Masyarakat Bayat yang cukup dinamis dan terbuka terhadap unsur-unsur budaya dari luar, sedikit banyak memengaruhi filosofi Batik Bayat. Baik halus maupun batik sederhana yang diproduksi di Bayat banyak menyerap pengaruh corak Batik Solo dan Yogyakarta. Semua jenis batik itu dikerjakan melalui proses pewarnaan yang dikenal dengan proses kelengan, yaitu proses pewarnaan yang hanya sekali celup.

Batik Bayat mempunyai ciri khas pada warna coklat atau soga, serta motif Ukel dan Gringsing yang menyatu. Warna dominan coklat atau soga memang identik dengan warna khas Batik Solo. Secara umum, motif Batik Bayat mengambil motif Batik Solo seperti motif Sido, Semen, dan sebagainya. Hal itu terjadi karena secara historis dan kultural, antara Surakarta dan Klaten memang sangat erat.

Meskipun telah menyerap berbagai unsur dari luar dan mengikuti selera konsumen, namun Batik Bayat tetap mempertahankan beberapa motif khasnya, antara lain Parang Liris, Gajah Birowo, Babon Angrem, Mukti Wirasat, dan Pintu Retno. Selain itu, Batik Bayat telah mengembangkan motif batik cagar budaya yang diadopsi dari motif yang terdapat pada ragam hias relief candi seperti motif Pohon Kalpataru dan Kinara-kinari.

Wilayah pemasaran Batik Bayat tidak hanya di Kabupaten Klaten saja, tetapi juga menjangkau sampai ke berbagai daerah seperti Surakarta, Yogyakarta, Semarang, dan Jakarta. Tidak hanya itu, pemasaran Batik Bayat telah sampai ke luar negeri seperti Malaysia, Thailand, dan India.

Produksi dan pemasaran Batik Bayat mengalami masa keemasan tahun 1960-an. Batik Bayat mengalami kemerosotan tahun 1970-an ketika teknik sablon atau printing yang dapat memproduksi secara cepat mulai digunakan.

Pada masa itu, di sentra batik seperti di Desa Paseban dan Beluk para perajinnya pindah ke luar daerah atau alih profesi menjadi petani, pedagang, atau buruh bangunan. Namun, pada tahun 1980-an, Batik Bayat mulai menggeliat dan berkembang lagi terutama di Desa Jarum dengan motif-motif batik yang modern dan pilihan warna-warna yang cerah.

Terima Kasih, Perempuan

Dunia mengakui batik Indonesia sarat dengan teknik, simbol, budaya, dan makna yang begitu mendalam. Sebab, nilai dan keindahan batik Indonesia bukan hanya terletak pada kenampakan fisik seperti motif dan warna batik.

Suatu hasil karya batik menceritakan perjalanan sejarah, peristiwa, teknik dan keterampilan, identitas, kedudukan sosial, budaya, spiritualitas, dan filosofi suatu masyarakat. Keseluruhan nilai dan makna itulah yang mendasari visualisasi akhir suatu hasil karya batik. Hasil akhir suatu karya batik mencerminkan kedalaman permenungan, ketekunan, dan kesabaran dalam proses pembuatannya.

Membatik membutuhkan konsentrasi, kesabaran dan ketekunan, serta kebersihan jiwa pembuatnya. Motif dan goresan ragam hias yang dihasilkan mengandung makna harapan atau permohonan kepada Sang Pencipta. Itulah sebabnya, motif-motif batik yang tercipta senantiasa merefleksikan keindahan abadi yang sarat dengan makna filosofis.

Dengan demikian, batik Indonesia mempunyai dua makna keindahan, yakni keindahan secara visual dan keindahan karena kedalaman makna filosofisnya. Di tangan kaum perempuanlah kebanggaan kita akan batik telah digoreskan dan mendapatkan pengakuan dunia. Terima kasih, perempuan.

Bahan Bacaan

Didik, W. Kurniawan. 2019. ‘Batik dan Pengaruhnya pada Perempuan Jawa’.
https://etnis.id/batik-dan-pengaruhnya-pada-perempuan-jawa/ (Diakses tanggal 10 Agustus 2021).