Anakku, Ladang Pahala dan Harapan Bagiku

Ibu dan anak tengah tersenyum bersama. RS DR OEN SOLO BARU

Saya Eri, biasanya orang-orang memanggil saya begitu. Sederhana, tapi ternyata tidak sesederhana perjalanan hidup saya. Saya perempuan, yang sekitar hampir dasawarsa telah berani mengklaim diri sebagai wanita tangguh.

Izinkan saya berkisah. Sembilan tahun yang lalu, kebahagiaan kami membuncah saat menyambut gelar baru sebagai ayah dan ibu. Ada rasa tak percaya, gugup, juga perasaan takut, tetapi semua rasa itu masih berselimut kebahagiaan. Bagaimana tidak, ada kehidupan nyata di perutku yang kian membesar ini. Dia seolah mengetuk-ngetuk dinding rahim dan memberi pesan untuk kami persiapkan segalanya.

Rumah Sakit (RS) Islam, ya, RS di kotaku yang menolong kelahiran buah hatiku. Harap-harap cemas, namun akhirnya aku bisa melahirkan normal. Seperti ibu-ibu kebanyakan, aku menunggu suara tangis bayiku. Ia tak kunjung menangis hingga dokter melakukan segala upaya. Akulah yang saat itu menangis, menangisi anakku yang tak menangis. Tangisan adalah anugerah dan kebahagiaan pertama bagi semua ibu yang telah berhasil berjihad melahirkan bayinya.

“Apakah bisa normal, Dok?”

Entah berapa kali aku menanyakan pertanyaan yang sama ke dokter ini. Ia pun paham ada sesuatu yang selalu bergemuruh di hatiku. Anak pertamaku, cinta dunia akhiratku, di-diagnosis Cerebral Palsy. Diagnosis ini tegak setelah enam bulan usianya ia tak menunjukkan perkembangan motorik yang berarti.

Cerebral Palsy adalah kelainan kongenital (kelainan yang dibawa sejak lahir) berupa kelumpuhan otak yang membuat perkembangan otak tidak normal. Gejala fisik yang terlihat, ketidaknormalan fungsi otot, gerak, dan postur.

Ismail, nama anakku. Poliklinik yang bertumbuh kembang di suatu rumah sakit di kotaku seolah menjadi rumah kedua. Enam bulan pertama hati kami selalu berdegup-degup membersamai perkembangannya yang sangat berbeda dengan anak lain seusianya. Tidak sama dan memilukan hati. Sepekan sekali, suami saya yang bekerja sebagai sales cat harus merelakan waktunya untuk tidak bekerja demi mengantarku dan Ismail terapi.

Ini karena kondisinya yang masih sangat kecil dan saya belum punya nyali untuk berkendara motor sambil menggendongnya sendiri ke rumah sakit. Kala itu belum ada BPJS. Sayangnya, aku juga tidak mengikuti program jaminan sosial apapun. Suami berupaya menyisihkan uang gaji sebagai sales untuk terapi anakku.

Karena repot harus mengantar yang memaksanya tidak bekerja, akhirnya saya berinisiatif untuk pindah rumah sakit saja yang tentu lebih dekat dari rumah sakit. Pagi-pagi berangkat terapi diantar suami, sembari menunggu jemputan, aku istirahat di rumah saudara yang dekat dari rumah sakit. Ini saya jalani sepekan tiga kali hingga kini.

Ujian kesabaran selalu menyertai. Dari ketiadaan dana hingga masalah mental kami. Bagaimana tidak, orang-orang disekitarku tak henti-hentinya mencibir tentang keadaan Ismail, anakku yang lumpuh otak.

Namun, Tuhan memberi saya kesibukan tiada tara sehingga aku tidak ada waktu untuk memikirkan cibiran orang-orang. Memikirkan kesehatan dan memperjuangkan kenormalan fisik Ismail adalah kesibukan utamaku.

Waktu berlalu, kian banyak masukan pengobatan datang dari orang-orang yang peduli. Dari yang sifatnya pengobatan kejawen hingga pengobatan medis. Di tengah lelahnya upaya kami, kadang-kadang terbersit untuk datang ke pengobatan kejawen. Aku tahu itu tidak sesuai jalur medis, terlebih logika, tetapi bukankah sugesti juga mempengaruhi?

“Ah, setidaknya menjadi booster semangatku dalam mengupayakan kebaikan untuk Ismail,” begitu pikirku.

Ada teman yang tiba-tiba memberitahu, ada layanan fisioterapi gratis khusus untuk anak penyandang disabilitas mental dan fisik di kecamatan sebelah. Tidak terlalu jauh dari rumah. Allahuakbar! Ini bagaikan oase bagiku, bagi kami, di tengah lelahnya upaya. Tak menunggu waktu, akhirnya aku pun mendatangi lokasi, disambut ramah oleh para relawan. Ah, rupanya layanan ini juga masih baru. Inklusi Center Kecamatan Karanganom (ICKK) itu nama komunitasnya.

Seminggu kemudian jadwal terapi. Semangat baruku terpancar hingga aku datang paling awal. Jelas, badan saya yang kecil ini menggendong Ismail yang kakinya menjulang. Berdatangan satu per satu klien terapi. Ah, ternyata banyak sekali yang seperti Ismail-ku. Bahkan ada yang lebih parah.

“Ya Allah, tak bersyukurnya kami selama ini,” batinku.

Di sela terapi aku mengobrol dengan para orang tua, membagi kisah yang ternyata heroik sekali. Kisah dan ceritaku bahkan tak ada apa-apanya, berdarah-darahnya perjuangan mereka juga membuat aku malu. Kami saling menguatkan, memotivasi, membuat grup WhatsApp aktif yang sarat motivasi dari relawan dan para orang tua penyandang disabilitas.

Hari-hariku berubah, setidaknya semangatku untuk memperjuangkan kesembuhan Ismail berubah. Perubahan Ismail belum banyak, tetapi energi positif yang mengalir tentu mengubah pola pikirku. Perempuan meskipun dalam kubangan hujatan, dia tetaplah seorang hero untuk anaknya. Satu kalimat yang menjadi booster buatku, buat kami, anak-anak disabilitas mental adalah anak-anak surga, ladang pahala yang besar bagi orang tuanya jika mereka bersabar.

Kini, cibiran-cibiran mereka tak berarti apa-apa buatku. Aku semakin bersemangat dan yakin akan semua upaya. Kami akhirnya banyak tersenyum, karena banyak harapan yang kemudian muncul. Ya, kami harus bangkit demi Ismail meskipun banyak ujian mendera.

Perempuan penenun asa, Ismail’s Mom.

Add Comment