Menyoal Kualitas Hidup Multidimensional Masyarakat Perkotaan

FOTO: PemProv. DKI Jakarta

Psikologi masyarakat kota merekam keseharian yang begitu intens, padat, dan bergegas. Pada umumnya itulah yang terjadi di kota-kota besar. Setiap individu yang bergerak seolah-olah tak ingin kehilangan waktu. Semuanya begitu krusial sehingga tiap menit tiap jam yang tersita dapat terbuang sia-sia.

Pemaknaan terhadap waktu bagi masyarakat kota berbeda dengan masyarakat di sistem populasi lain seperti desa. Ada yang mengidentikkannya semata-mata dengan materi, jamak pula yang mengasosiasikannya pada kebahagiaan. Cara-cara seperti ini berkaitan dengan strategi copying tiap individu. Tapi level-level psikologi mereka juga dipengaruhi dari sistem yang ada di sekitar mereka.

Sistem produktivitas pada tiap individu juga memuat nilai yang heterogen. Sebagian masyarakat memilih kebermaknaan hidup sebagai cara meningkatkan produktivitas. Namun, ada pula yang beranggapan bahwa produktivitas itu ditempuh dengan jalan mekanistis. Semua dilakukan tanpa perlu kebermaknaan. Asalkan dapat menghasilkan banyak pundi-pundi materi, itu bisa mengkompensasi waktu yang telah dicurahkan.

Berangkat dari produktivitas dan daya hidup mereka, masyarakat kota tentu membangun suatu kecenderungan psikologis. Kehidupan perkotaan yang menyuguhkan banyak tuntutan dan ritme yang nyaris tak berkesudahan itu, menguras stamina tersendiri. Jika tak dikelola dengan baik, hal itu dapat berakibat buruk pada psikologis tiap individu.

Selama ini kehidupan urban menawarkan janji-janji kemudahan yang menunjang berbagai gaya hidup pilihan seseorang. Tidak heran bila kawasan perkotaan kemudian menjadi magnet yang menarik gelombang urbanisasi dari sekitarnya. Namun, di balik kemewahan yang disediakan kawasan perkotaan, terdapat sisi lain yang ternyata membahayakan kesehatan, terutama kondisi kestabilan mental.

Menurut studi, penghuni kota besar memiliki risiko sekitar 40 persen lebih besar untuk mengalami depresi, 20 persen untuk potensi anxiety attack (gangguan kecemasan), dan dua kali lipat potensi schizofrenia dibanding penduduk kawasan pedesaan. Beberapa faktor pendorong kondisi ini merupakan permasalahan sosial, seperti kesepian dan tekanan hidup yang tinggi di tengah kepadatan penduduk.

Namun, terdapat pula faktor fisik kawasan perkotaan yang tampaknya memicu gangguan emosi para penghuninya. Andreas Meyer-Lindenberg, direktur Central Institute of Mental Health di Mannheim, Jerman, bersama koleganya, Matilda van den Bosch, peneliti kesehatan lingkungan dari University of British Columbia, Vancouver, Kanada, baru-baru ini tengah meninjau bukti saintifik mengenai stressor (pemicu stres) fisik serta dampaknya terhadap depresi.

Zat-zat ini bisa berasal dari asap kendaraan bermotor, industri, emisi rumah tangga, maupun reaksi sekunder di udara. Keberadaan polutan ini dapat menimbulkan berbagai gangguan saraf pada orang dewasa, seperti gangguan fungsi hormon dan neurotransmitter, induksi stress oksidatif di otak, dan inflamasi di hippocampus, sehingga menurunkan performa kognitif, memori, dan kerja saraf terkait perilaku. Hal ini juga berpengaruh terhadap penyakit psikosomatis, seperti depresi, paranoia, bahkan kecenderungan untuk bunuh diri.

Contoh lain, kebisingan yang ditimbulkan dari hiruk-pikuk lalu lintas atau pekerjaan konstruksi juga dapat mengganggu kestabilan mental. Kebisingan dapat menyebabkan gangguan emosional dan mengurangi kualitas tidur, sehingga mendorong respons stres psikofisiologis dan dapat berujung pada depresi. Meski demikian, jalur biologis yang menjelaskan mekanisme pengaruh kebisingan terhadap gangguan psikologi masih belum diketahui secara jelas.

Aspek Kehidupan

Kehidupan perkotaan merupakan kasus yang unik. Jamaknya, penghuni perkotaan punya akses terhadap layanan kesehatan dan edukasi yang lebih baik dari kebanyakan orang. Itu artinya, dalam banyak aspek kehidupan kota tampak lebih baik secara kasat mata. Akan tetapi dalam hal kesehatan mental, mereka justru berperilaku sebaliknya.

Meski begitu, bukan semata-mata orang yang menghuni kawasan pemukiman di tengah kota secara langsung mengalami depresi atau gangguan psikologis lainnya. Gangguan kesehatan mental atau hal-hal yang berkaitan dengan psikologi biasanya berkaitan dengan faktor-faktor yang lebih rumit dari tampak awalnya. Biasanya mereka melibatkan faktor genetika dan berbagai memori yang terekam dari pengalaman hidup yang selama ini mereka jalani.

Di lain pihak, lingkungan meteriil atau lingkungan fisik yang heterogen dan lebih beragam, dapat menekan stressor dari kesehatan mental seseorang. Banyak studi yang menunjukkan bahwa resiko depresi dan gangguan psikologis dapat diturunkan lewat kontak dengan alam. Individu yang lebih aktif secara fisik, memiliki kontak dengan alamnya, dan dapat menikmati panorama atau lanskap alam itu dapat memiliki jiwa yang lebih stabil, tenang, dan emosi yang lebih stabil.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa ritme dan frekuensi hidup di perkotaan sangatlah bergegas dan rumit. Kompleksitas kehidupan di kawasan perkotaan memberi banyak tuntutan yang cukup besar. Mengelola tekanan yang hadir dari kompleksitas dan kerumitan kawasan perkotaan menjadi suatu yang niscaya demi kesehatan mental.

Situasi dan kondisi ini menuntut individu harus lebih selektif dalam melakukan kegiatan yang dilandasi oleh minat pribadi dengan pelestarian, dan fungsi utama keluarga pun sebagai saran untuk menyiapkan anggota keluarganya dalam kehidupan di masyarakat.

Fokus perhatian yang lebih mengarah pada tugas-tugas di luar rumah agar tak kalah bersaing kemudian menjadi pilihan orang tua dan sekaligus menempatkan anak dalam kekosongan yang cukup bermakna, terutama dalam upaya pembentukan hati nurani yang akan menjadi pemandunya kelak, sebagai orang yang tangguh, mandiri, tapi juga peduli lingkungan dengan warna spiritual yang kental dan luwes.

Maka sudah jadi tanggung jawab bagi masyarakat dan keluarga sebagai institusi sosial untuk menghela banyak tugas di level kehidupan yang lebih tinggi. Fungsinya adalah untuk menyiapkan anggota keluarga dalam menangani massalah kehidupan yang lebih kompleks. Atau kalau pun bukan, setidaknya memberi bekal bagi peningkatan kualitas hidup yang bersifat multidimensi.

Pendidikan adalah upaya membekali anak dengan ilmu dan iman agar ia mampu menghadapi dan menjalani kehidupannya dengan baik, serta mampu mengatasi permasalahannya secara mandiri. Bekal itu diperlukan karena orang tua tidak mungkin mendampingi anak terus menerus, melindungi dan membantunya dari berbagai keadaan dan kesulitan yang dihadapinya. Anak tidak akan selamanya menjadi anak. Dia akan berkembang menjadi manusia dewasa.

Kalau perkembangan fisiknya secara umum berjalan sesuai dengan pertambahan umurnya, maka kemampuan kecerdasan dan perkembangan emosi serta proses adaptasi atau penyesuaian diri dan ketakwaannya sangat memerlukan asuhan dan pendidikan untuk bisa berkembang optimal. Melalui bekal pendidikan dan proses perkembangan yang dialaminya selama mendapatkan asuhan dari lingkungannya, diharapkan anak akan mampu menyongsong dan menjalani masa depannya dengan baik.

Memberi bekal adalah sikap yang mencerminkan pemikiran dan pandangan ke depan. Artinya, kondisi atau keadaan dan situasi yang akan dihadapi anak nantinya, ketika ia sudah menjadi orang dewasa, sangat perlu diperhitungkan. Kehidupan berjalan ke depan. Jadi, sangatlah penting mempertimbangkan kondisi dan situasi di masa depan itu dalam upaya memberikan bekal kepada anak. Sosok manusia dewasa hasil asuhan dan pendidikan orang tua dalam kurun waktu sekarang akan terlihat secara jelas dalam perkembangan anak menjadi orang dewasa.

Berhasilkah pendidikan dan asuhan yang telah diberikan? Tercapaikah harapan dan cita-cita atau impian orang tua? Bahagiakah anak dengan yang diperoleh dan dimilikinya? Mampukah ia menjadi sosok pribadi yang diangankannya sendiri, yang mungkin sama dengan harapan orang tua dan lingkungan pendidiknya yang lain? Semua jawaban itu baru akan tampak nanti, ketika anak sudah menjadi dewasa.

Latar belakang pengertian tersebut hendaknya menjadi dasar pengembangan pola asuhan dan pendidikan untuk anak. Biasanya pendidikan diberikan berdasarkan pengalaman masa lalu, yakni ketika yang menjadi orang tua masih berstatus kanak-kanak, yang menerima pendidikan dari orang tuanya. Pengalaman masa lalu ini kerap kali cukup mewarnai pola asuhan dan pendidikan anak. Pemanfaatan pengalaman memang selalu ada gunanya. Akan tetapi sikap yang mampu mengantisipasi ke depan juga sangat penting, karena anak tidak akan hidup di masa lalu, tetapi menapak ke masa depan.

Dengan demikian posisi pengalaman ketika menerima didikan dan asuhan orang tua di masa lalu hanyalah pantas sebagai acuan atau referensi, terutama dalam rangka mengembangkan empati (penghayatan, kemampuan merabarasakan dari sudut pandang atau posisi orang lain) agar komunikasinya bisa berjalan seperti yang diharapkan. Terapan pengalaman masa lalu ayah ibu, ketika dididik dan diasuh orang tuanya, perlu disesuaikan dengan kondisi dan situasi perkembangan jaman. Tanpa penyesuaian, pola asuh dan pendidikan yang dilakukan akan cenderung menyulitkan anak dalam perkembangannya, sehingga iapun akan tumbuh menjadi sosok pribadi yang sukar menemukan konsep diri, sulit menyesuaikan diri dan tentunya sulit mengaktualisasikan diri.

Proses pendidikan berlangsung dinamis, sesuai dengan kondisi perkembangan pribadi anak dan situasi lingkungan. Era globalisasi yang menandai abad 21 seyogianya tidak hanya dilihat sebagai hal yang mengancam, dengan dampak kecemasan atau kekhawatiran dalam mendidik anak, yang mungkin hanya akan menghasilkan kondisi perkembangan yang kurang menguntungkan. Kecemasan dan kekhawatiran biasanya akan menyebabkan orang tua menjadi tegang dan tertekan sehingga kurang mampu melihat alternatif, lalu justru menekan anak padahal tindakan itu lebih ditujukan untuk dapat menenteramkan dirinya sendiri.

Kondisi jaman dalam era globalisasi justru bisa dimanfaatkan untuk membangun sosok-sosok pribadi yang tangguh dan mandiri, antara lain karena terbiasa menghadapi persaingan yang ketat dan mampu memanfaatkan fasilitas dan peluang yang dibukakan oleh “pintu globalisasi.” Untuk itu orang tua sangat perlu menyadari, bahwa kehidupan terus berkembang sesuai perputaran dunia, zaman pun berubah. Sangat diperlukan kemampuan dan kemauan untuk mengikuti perubahan dan senantiasa menyesuaikan diri.

Individualisme dalam Gegar Zaman Inovasi dan Informasi

Antara kesadaran dan ketidaksadaran, menandai aktivitas dan perilaku saban hari tiap-tiap individu. Berlaku asumsi umum yang mencuat di arus utama pemahaman masyarakat bahwa aktivitas dan perilaku yang dilakukan oleh seseorang diawali oleh apa yang mereka serap dari pengalaman hidup mereka.

Kepekaan atas sistem-sistem yang menghimpit kesadaran dan ketidaksadaran seseorang inilah yang hari-hari ini memberi garis batas apa yang terjadi di dalam masyarakat kita. Perilaku kolektif masyarakat hari ini, ibarat memberi informasi, ada sesuatu yang menyelusup ke dalam keseharian masyarakat. Psikologi sosial masyarakat kita inilah yang menentukan individualisme seseorang ke arah pembentukan peradaban generasi.

Pengetahuan selalu merupakan suatu hal yang termediasi. Buku, televisi, koran, internet, guru, orang di jalan, menjadi media-media kita untuk mendapatkan pengetahuan yang kita perlukan. Orang bilang pengalaman adalah guru terbaik. Tapi sebagai mahluk awam kita tidak pernah bisa tahu sebelum ada yang memberitahu kita.

Mata kita mungkin melihat tapi sering kali kita tidak mendengar. Kita butuh sesuatu untuk didengarkan, atau seseorang yang dapat memberitahu kita kemana arah tujuan. Dan media menjadi pranata tepat sebagai penghubung Massa.

Media massa ialah istilah untuk mengungkapkan korelasi produk dari media dan massa. Dalam media ada massa sebagai pembaca. Dalam massa, dibutuhkan suatu media guna penyampaian aspirasi, udar rasa, dan pelbagai kepentingan pribadi serta kelompok. Secara sosiologis interaksi antara media dan massa berlaku seperti itu. Keterkaitan di antara keduanya kemudian dihubungkan dalam simpul psikologis.

Media adalah Massa itu sendiri. Hubungannya terkait erat. Batasan-batasan samar bisa menjadi cair di media massa. Sesuatu yang dulu ditabukan, kini bisa diketahui dengan sangat gamblang. Homoseksualitas, perilaku seks monogami atau heteroseksual bisa dengan gampang mengisi berbagai media massa. Tidak ada kata subversif bagi informasi, bahkan yang bersifat sangat pribadi sekalipun. Kita tidak bisa menghilangkan Aku yang berkelindan erat dengan Massa di dalam media massa.

Maka dari itu, media massa mencairkan batas-batas hubungan antara individu dan masyarakat. Ia membuat keberjarakan menjadi dekat, meski kedekatan itu tetap saja berjarak. Di media massa kita tahu bahwa ada banyak kasus trafficking obat-obatan terlarang dan manusia di sana sini, pelacuran dan kemiskinan, kekerasan hingga gosip-gosip selebriti terkini. Semua hal yang begitu berjarak dari kita tapi kemudian didekatkan.

Media massa hari ini melebur ke dalam pergseran kecenderungan yang begitu lekas. Nyaris tak terkejar oleh ritme kerja yang normal dari kebiasaan-kebiasaan konservatif. Ada pemaknaan yang ikut berubah mengenai media massa. Bentuk dan wadahnya mengikuti sesuai fungsi yang ada.

Alternasi Psikologis

Jika Simmel mengatakan kalau orang asing itu adalah orang yang jauh tapi dekat sekaligus dekat dan berjauhan, maka dalam konteks yang anonim, media massa menjadi perlambang kehadiran orang asing itu. Dalam media massa kita dapat mengamati hubungan-hubungan antarpribadi, antara pribadi dan massa, serta antara massa dengan massa.

Bahwa informasi merupakan suatu kebutuhan sekaligus kewajiban bagi pemerintah daerah itu jamak diketahui publik. Arti lainnya, masyarakat membutuhkan suplai informasi sekaligus perlu produksi informasi. Dua kerja ini hendaknya menjadi siklus sehari-hari pemerintah yang akan berdampak positif bagi kedekatan pemerintah dengan masyarakatnya.

Selain itu literasi juga sangat diperlukan untuk kelancaran sistem informasi. Jika penggunaannya tepat sasaran dan optimal, media pun bisa menjadi ujung tombak bagi pemanfaatan teknologi informasi di tataran kolektivitas warga. Kualitas hidup masyarakat, terutama di bidang kesehatan akan lebih hidup dengan basis teknologi informasi yang dapat menghasilkan produktivitas yang baik, sehingga kemajuan daerah dapat terhubung dengan masyarakat secara langsung.

Dalam situasi apapun, penggunaan teknologi informasi sangat dibutuhkan. Hanya saja, diperlukan monitoring yang tepat agar penggunaan teknologi informasi benar-benar sesuai kebutuhan dan kewajiban yang ada. Hari-hari ini informasi adalah barang panas. Penanganan yang kurang tepat, dapat berakhir sebagai pisau bermata dua. Pemerinta tidak memerlukan itu. Yang diperlukan adalah informasi mengalir seperti arus air yang berujung pada hilirnya.

Terkait dengan informasi, kesehatan masyarakat terang sekali memerlukan informasi yang bersih dan mengalir. Arus informasi yang lancar dan jernih tanpa konten merisak, mendorong masyarakat lebih percaya diri dalam menghadapi tantangan hidup sehari-hari. Mengingat pula kini pandemi menekan penggunaan gawai ke tingkat yang cenderung berlebih, informasi yang sehat di arus utama akan sangat dibutuhkan untuk meningkatkan sugesti diri yang positif bagi masyarakat.

Mendukung program vaksinasi misalnya, sebaik mungkin diimbangi dengan dukungan terhadap fasilitas kesehatan yang berkaitan dengan kebutuhan daerah. Namun kebutuhan daerah terkadang kurang ditampilkan dengan baik karena informasi itu tertutupi oleh gencarnya pemberitaan yang bombastis dan tidak terlalu menyimpan urgensi dalam penyampaian dan penerimaan di tengah masyarakat.

Maka, alangkah lebih baiknya, jika informasi hari-hari ini, disuntikkan ke tengah masyarakat melalui bingkai penulisan dan literasi yang kontekstual. Alhasil saya percaya kesehatan masyarakat dapat terbangun setahap, setapak, pelan tapi pasti melalui kejernihan informasi.