Menguatkan Mikrosistem Anak Lewat Taman Bacaan Masyarakat

FOTO: ANGGUNPAUD.KEMDIKBUD

Ruang bermain untuk anak-anak di masa pandemi seperti sekarang, bagaikan pisau bermata dua. Pada situasi yang serba terbatas, termasuk soal jarak fisik dan lain sebagainya, bermain di luar rumah membuat para orang tua khawatir dengan penyebaran virus yang begitu cepat. Tetapi, anak-anak tidak bisa hanya berdiam diri di rumah. Apalagi sistem pengajaran di kala pandemi sedang mampat.

Kebutuhan akan ruang bermain jadi seperti buah simalakama. Serba salah, tapi di lain pihak diperlukan demi perkembangan afeksi anak. Kebosanan di rumah, disertai macetnya fungsi ruang pembelajaran formal, tentu mendorong orang tua berpikir untuk membawa anak lebih sering didampingi tapi juga perlu rekreasi.

Tumbuh kembang anak, terlebih para anak-anak partisipan pendidikan, sekarang nyaris sepenuhnya berpindah ke tangan orang tua. Mendidik mereka di masa sekarang tentu sukar, karena kesibukan para orang tua juga tidak sedikit. Seabrek pekerjaan domestik dan mungkin tugas-tugas di luar rumah juga dipenuhi tuntutan.

Strategi pendidikan dari dalam pun jadi mendesak. Para orang tua perlu menyusun cara-cara yang ampuh dalam jangka waktu dekat ini, supaya anak-anak tak kehilangan momen perkembangan fase kepekaan sosial, tapi juga memiliki kesempatan banyak belajar dari luar rumah. Karena itu, taman bermain dapat diandalkan.

Belakangan, taman bermain tumbuh subur di banyak sudut-sudut daerah. Pendirian taman baca ini banyak berangkat dari kegelisahan akan dunia anak-anak yang bertambah sempit akibat digerus perkembangan teknologi informasi yang menyibukkan diri mereka sendiri.

Medium permainan tradisional yang banyak melibatkan orang, kemudian bergeser. Perangkat komunikasi terkini, lalu menyerap dunia anak-anak ke dunia simulasi yang tidak nyata dan serba semu. Padahal pada permainan tradisional, anak-anak dapat berinteraksi dengan maksimal karena adanya kesepakatan sebelum bermain, manajemen konflik yang secara tidak sadar berlaku, dan nilai-nilai lokal yang terserap dari inti pembuatan permainan tersebut. Permainan tradisional seperti merepresentasikan ihwal kekeluargaan dalam praktiknya.

Taman bermain juga menawarkan banyak fasilitas belajar kepada orang tua. Taman bermain yang bersanding dengan infrastruktur literasi yang mumpuni dan fasilitator dari ruang-ruang kreativitas tersebut, sangat dibutuhkan bagi alternatif pendidikan di masa pandemi. Secara berkala dan insisdentil, kerumunan pun bisa dibatasi, dan di sisi lain, pengajaran lewat modifikasi pembelajaran menjamin pengetahuan tetap diserap oleh anak-anak.

Psikologi Komunitas

Pemanfaatan ruang bermain di lingkungan masyarakat ini yang sebenarnya menjadi pekerjaan rumah warga agar lebih peka dan memahami dunia anak-anak. Bagaimanapun, di kemudian hari, anak-anak akan berkembang dan menemui dunianya sendiri. Mendorong anak-anak untuk sering keluar rumah akan mendekatkan anak-anak pada lingkungan sekitarnya.

Dalam psikologi komunitas, psikolog asal Cornell University Ulrich Brofenbrenner, memberi penjelasan bahwa tumbuh kembang anak dipengaruhi oleh beberapa tingkatan lingkungan. Hubungan interaksi antara individu dan lingkungannya, lewat sistem-sistem lingkungannya akan mewarnai karakternya di kemudian hari.

Berdasarkan teori ekologi dari Brofenbrenner, ada tiga tingkatan sistem terpenting dalam tumbuh kembang anak, yakni mikrosistem, ekosistem, dan makrosistem. Tiga tingkatan sistem ini, menurut Brofenbrenner, berpengaruh besar dalam menentukan cara anak-anak berperilaku dan bertindak.

Bagi perkembangan anak-anak, terlebih di masa pandemi, mikrosistem adalah tahapan paling penting dari level interaksi sosial. Pada mikrosistem, tempat tinggal mereka berperan penting menentukan pembelajaran apa yang mesti dilalui dan perlu didapatkan oleh anak-anak. Fungsi selektif di tahap ini terbilang penting.

Dengan kata lain, lingkungan awal mereka akan menjadi referensi awal anak-anak ketika nanti mengalami interaksi yang lebih luas. Meski begitu, keluarga sebagai salah satu mikrosistem tentu punya keterbatasan pula. Karena itu, keberadaan taman bacaan masyarakat, sangat penting untuk diandalkan.

Selain bermain, literasi juga dibutuhkan. Literasi anak-anak juga harus sesuai dengan periode perkembangan psikologisnya. Buku bacaan mesti diperhatikan sesuai porsinya. Karena musykil memberi bacaan yang berat-berat untuk mereka. Kadang saja, mereka mengeluhkan pekerjaan rumah mereka. Maka buku yang dapat dibaca mereka itu, buku yang menceritakan banyak hal. Dan itu bisa menambah imajinasi, dan rasa ingin tahu anak-anak.

Literasi untuk anak-anak sendiri, memang seharusnya satu paket bersama ruang bermain. Karena, cepat atau lambat akan ada pemantik aktivitas yang bermanfaat bagi lingkungan mereka. Keterlibatan juga tidak bisa dilakukan oleh anak-anak sendiri. Dari warga dan juga elemen masyarat yang lain, seperti mahasiswa misalnya, mesti memanfaatkan waktu yang ada untuk mendidik anak-anak lewat medium yang lebih dekat dengan realitas sosial.

Dengan begitu, memperkuat jaring mikrosistem di tengah pandemi, salah satunya lewat pendidikan dalam kombinasi konsep antara ruang bermain dan literasi. Taman Bacaan Masyarakat agaknya salah satu bentuk yang paling mendekati kebutuhan dari hal itu. Setidaknya ada alternatif yang sesuai dengan keadaan, tapi juga berdampak jangka panjang bagi fase perkembangan anak-anak.