Strategi Resiliensi Keluarga dalam Menghadapi Pandemi

Foto: Womantalk.com

Optimisme kita tak boleh lekas usang menghadapi Pandemi Covid-19 ini. Pasalnya kita tak tahu ujung wabah ini terlihat. Seumpama tanaman, optimisme di masa pandemi adalah suatu hal yang perlu dipupuk dengan pelbagai upaya agar saat nanti pandemi ini berakhir, kita mendapat energi positif yang dituai ketika situasi kehidupan normal kembali.

Optimisme kita terutama diperlukan dalam mikrosistem terdekat kita, yakni keluarga. Sebagai in-group yang berperan penting dalam melanjutkan peradaban manusia, keluarga tentu membutuhkan stimulus khusus yang dapat mempertahankan keutuhan unit keluarga dengan daya tahan yang berjangka panjang.

Daya tahan ini dalam psikologi dapat disebut dengan resiliesnsi. Resiliensi menjadi penting dalam keluarga, karena di dalamnya ada aspek-aspek eksternal-internal yang penting untuk menjalankan roda kehidupan.

Pandemi Covid-19 ini memang tidak hanya berimbas pada keseimbangan ragawi, tapi juga ruhani. Di sini posisi keluarga tentu sangat penting, karena dari keluarga proses penyambungan nilai-nilai sosial dan individual yang bersifat abstrak menggerakkan kekayaan batin tiap orang.

Dalam situasi itu, masyarakat dihadapkan pada perubahan dari berbagai tatanan kehidupan yang kurang diantisipasi oleh banyak pihak. Inilah yang menyebabkan kekayaan batin kita dapat tergerus karena ancaman-ancaman dari luar itu berpengaruh besar pada kesehatan mental yang sebenarnya berfungsi untuk mengelola abstraksi kehidupan kita.

Tak heran jika belakangan isu kesehatan mental tengah mendapat banyak perhatian. Pasalnya sekarang ini, masyarakat dihadapkan oleh perubahan tatanan kehidupan sosial yang signifikan seperti pembatasan sosial, pemotongan jumlah karyawan, kewajiban bekerja dari rumah, hingga mengajar anak sekolah online.

Berbagai hal ini menjadi penyebab banyak orang mengalami permasalahan kesehatan mental seperti peningkatan kecemasan dan stres yang berefek pada perilaku tidak produktif. Tidak hanya itu, banyak orang terpaksa untuk beradaptasi dengan realitas baru yang didominasi oleh ketakutan akan penyebaran dan penularan virus.

Karena itu, kemampuan untuk resiliensi sebagai benteng ketahanan diri dan bertahan di tengah kondisi pandemi global saat ini sangat perlu diperhatikan. Dalam definisi psikologi, resiliensi bukan hanya sekedar daya tahan, melainkan juga kemampuan individu untuk beradaptasi secara positif dan efektif sebagai strategi dalam menghadapi kesulitan.

Hawley dan DeHaan (1996) sendiri mendeskripsikan resiliensi keluarga sebagai kondisi keluarga yang sanggup beradaptasi dan berhasil melalui faktor pendorong stress, baik di situasi-situasi sekarang maupun masa mendatang.

Keluarga yang resilien atau berdaya tahan lebih akan merespon secara positif segala kesulitan melalui cara-cara tertentu, sesuai konteks, tingkat permasalahan, kombinasi interaktif antara faktor-faktor risiko dan protektif yang dimiliki, serta dengan mempertimbangkan sudut pandang seluruh anggota keluarga.

Resiliensi di masa pandemi ini juga dapat diartikan atau diterjemahkan sebagai kemampuan umum yang melibatkan kemampuan penyesuaian diri yang tinggi dan luwes saat dihadapkan pada tekanan baik dari internal maupun eksternal. Pada awalnya, konsep tersebut diterapkan pada anak-anak yang dikenal sebagai “invulnerability” atau “stress-resistance”. Terminologi resiliensi dalam perjalannya mengalami perluasan dalam hal pemaknaan. Diawali dengan penelitian Garmezy (1991) mengenai anak-anak yang mampu bertahap dalam situasi yang penuh dengan tekanan, hal ini disebut sebagai descriptive labels yaitu menggambarkan anak-anak yang mampu berfungsi dengan baik walaupun mereka hidup dalam lingkungan yang buruk dan penuh dengan tekanan.

Resiliensi sendiri ada beragam aspek, seperti : Trust (kepercayaan) aspek ini mencerminkan bagaimana seseorang yakin akan kondisi yang dapat mengerti kebutuhan, perasaannya, dan beragam hal dari kehidupan yang dialaminya.

Autonomy (otonomi) individu yang dapat mengerti dirinya merupakan individu yang berlainan serta terserai dari pribadi lain. Initiative ( Inisiatif ) bagaimana upaya serta kesiapan pribadi dalam mengambil tindakan. Industry ( industry ) peningkatan keahlian seseorang yang berkaitan pada beragam kegiatan dirumah, sekolah maupun dilingkungan sosial. Identity ( Identitas) aspek pembangkit resiliensi yang berhubungan akan peningkatan pengertian seseorang pada dirinya ( baik pengertian pada situasi psikologis atau fisik ). (Hendriani, 2018)

Berdasarkan pendapat beberapa ahli seperti (Reivich dan Shatte, 2013) resiliensi juga mempunyai beberapa faktor yang mempengaruhi, yaitu : Regulasi Emosi, ketahanan diri untuk tetap memiliki emosional yang positif saat berada di situasi yang membuat tertekan. Pengendalian Impuls, keadaan seseorang untuk mengelola kemauan, dukungan, kecintaan dan masalah yang timbul dari diri sendiri. Optimisme, keyakinan untuk dapat menuntaskan kesulitan yang ada serta dapat mengelola kehidupannya.

Analisis Kausal, kekuatan seseorang dalam merekognisi dengan akurat akibat dari kesulitan yang ditemui. Empati, kekuatan seseorang dalam melihat ciri-ciri situasi sentimental serta psikis individu lain. Efikasi Diri, implementasi dari kepercayaan jika seseorang dapat menyelesaikan permasalahan yang sedang dirasakan serta dapat meraih keberhasilan. Reaching Out, kekuatan seseorang dalam mencapai perspektif yang positif dalam kehidupannya. Resiliensi juga mencakup individu-individu dari berbagai macam sektor, salah satunya seperti unit keluarga.

Makwana (2019) menemukan dalam penelitiannya bahwa resiliensi adalah salah satu faktor yang dapat membantu individu mengatasi persoalan psikologis akibat terekspos dalam situasi bencana, seperti pandemi Covid-19 ini. Reivich dan Shatte (2002) mengatakan bahwa resiliensi adalah kemampuan individu untuk beradaptasi dan teguh dalam situasi sulit. Situasi sulit yang dimaksud juga termasuk situasi bencana. Mishra dan Mazumdar (2015) dalam penelitiannya menyampaikan bahwa resiliensi menjelaskan bagaimana komunitas dan individu dapat merespon bencana dan seberapa cepat mereka bisa mengatasi kritis dan hidup secara normal kembali.

Hal ini juga berhubungan dengan kesiapan psikologis menghadapi bencana karena berkaitan dengan bagaimana individu dapat merespon bencana (Mishra & Mazumdar, 2015). Kesiapan psikologis menghadapi bencana menjelaskan mengenai proses dan kapasitas seseorang yang mencakup kepedulian, antisipasi, gairah, perasaan, niat, pengambilan keputusan dan pengelolaan pemikiran, perasaan serta tindakan sebelum bencana terjadi, saat bencana terjadi dan setelah bencana terjadi (Reser & Morrissey, 2009).

Strategi Resilien Menghadapi Pandemi

Kondisi yang terjadi saat ini di tengah wabah Covid-19, pada umumnya individu berjuang untuk melindungi diri dan anggota keluarganya agar tidak terinfeksi. Dengan bertambahnya angka individu yang terkena Covid-19 dari hari ke hari, kondisi itu membuat keluarga di seluruh dunia tak terkecuali di Indonesia juga merasakan kekhawatiran dalam menghadapi hal tersebut. Perubahan demi perubahan juga dihadapi oleh keluarga-keluarga akibat dampak dari wabah ini terutama perubahan kebiasaan baik yang terjadi pada sektor pendidikan, ekonomi, sosial, kesehatan, dan sebagainya. Perubahan yang terjadi akibat wabah tersebut tentu saja memengaruhi kehidupan seluruh anggota keluarga di dalamnya.

Teori sistem Bronfenbrenner (1994) mengemukakan tentang ecological models yang menjelaskan mengenai adanya sistem-sistem yang memengaruhi interaksi individu dengan orang lain dan lingkungannya. Keluarga yang merupakan sistem terkecil yang disebut microsystem memiliki sebuah pola aktivitas, tanggung jawab sosial dan relasi interpersonal yang dialami individu didalam keluarga.

Pola ini berbentuk interaksi baik fisik maupun sosial dengan anggota keluarga lain secara konsisten dan akan membentuk perilaku serta kebiasaan pada diri individu. Perilaku dan kebiasaan ini akan memengaruhi perkembangan individu dan interaksinya dengan orang lain maupun lingkungan yang lebih luas. Individu akan mengalami ketidaknyamanan bila suatu keadaan tertentu memaksanya dalam waktu singkat untuk melakukan perubahan pada pola interaksi yang memengaruhi perilaku dan kebiasaan mereka.

Wabah Covid-19 ini dalam tingkatan tertentu memengaruhi sistem terbesar yaitu chronosystem yang membentuk perilaku dan karakter lingkungan sosial yang lebih luas. Perubahan perilaku dan karakter lingkungan dalam skala besar akan berimbas pada microsystem, tempat keluarga dan lingkungan terdekat lain berada.

Contohnya dalam situasi seperti ketika menghadapi wabah ini, seluruh keluarga yang biasanya beraktivitas di luar rumah namun saat ini harus tinggal diam di dalam rumah, sebagian besar keluarga juga melakukan tugas-tugasnya dari rumah. Hal tersebut harus dilakukan karena adanya perubahan perilaku lingkungan sosial dalam upaya meredam penyebaran wabah Covid-19. Hal ini berimbas pada perubahan di dalam kebiasaan yang ada pada keluarga.

Setiap keluarga tidak ada yang bebas dari masalah. Setiap keluarga memiliki tantangan masing-masing untuk dapat menyelesaikan masalahnya tersebut. Masalah keluarga yang timbul seringkali berakhir tidak menyenangkan dengan terjadinya perpecahan dan keterpurukan pada masing-masing anggota keluarga.

Suatu proses yang mendukung dibutuhkan dalam keluarga untuk dapat mengatasi tantangan dan bangkit dari keterpurukan sehingga menjadi keluarga yang resilien. Walsh (2003, 2016) menyatakan bahwa resiliensi keluarga merupakan kemampuan keluarga sebagai sebuah sistem untuk dapat mempertahankan keluarga tersebut untuk bangkit dari keterpurukan dan merupakan proses yang dijalani sepanjang kehidupan keluarga.

Resiliensi keluarga saat ini menjadi hal yang sangat relevan, khususnya dalam kondisi ketika menghadapi wabah Covid-19 seperti saat ini, resiliensi keluarga merupakan hal yang perlu diupayakan maksimal oleh seluruh anggota keluarga. Walsh (2016) juga mengemukakan proses atau komponen kunci yang menjadi dasar untuk mengembangkan resiliensi keluarga. Komponen resiliensi keluarga tersebut yaitu:

Kemampuan keluarga untuk saling mendukung dan saling bekerjasama dalam situasi seperti ini sangat dibutuhkan. Tantangan terbesar adalah membuat keluarga tetap dapat memikirkan dan mengerjakan sesuatu yang memberdayakan di situasi yang tidak kondusif. Idealnya semua yang dibutuhkan oleh satu anggota keluarga perlu diupayakan oleh anggota keluarga yang lain, seperti ketika menghadapi penurunan dalam tingkat ekonomi atau ada anggota keluarga yang sakit, maka hal-hal tersebut perlu dipikirkan atau menjadi bahan refleksi, apa makna positif yang dapat saya ambil terhadap peristiwa ini?

Misalnya pada saat perekonomian sedang menurun maka seluruh anggota keluarga mengupayakan penghematan terhadap barang-barang kebutuhan makanan, dan sebagainya, yang biasanya ingin makanan tertentu dengan menggunakan pesan antar online dapat dijadikan sarana untuk menciptakan ide kreatif dalam memasak makanan yang diinginkan.

Selain itu, yang biasanya di dalam keluarga tidak pernah memikirkan cara melakukan penghematan namun di saat kondisi perekonomian menurun, keluarga bersama-sama berupaya untuk menghitung adanya pemasukan dan pengeluaran serta melakukan penghematan di berbagai hal di dalam rumah tangga seperti lebih memperhatikan penggunaan listrik, air, dan sebagainya.

Selain itu, jika menjumpai anggota keluarga yang sakit. Hal itu memang tidak diharapkan, namun dibalik hal yang tidak menyenangkan ada anggota keluarga yang belajar untuk dapat bekerjasama, berempati, bertoleransi, dan lebih memperhatikan kesehatan dirinya dan anggota keluarganya. Beberapa keluarga saat ini juga mampu mensyukuri kesehatan, kebersamaan, dan semua hal-hal yang dalam situasi normal tidak menjadi prioritas untuk dilakukan.

Memang semua kondisi yang dialami oleh keluarga khususnya dalam menghadapi Covid-19 ini merupakan sebuah proses yang mungkin akan cukup panjang berlangsung dan perlu dihadapi. Sebagian keluarga atau individu dapat merasakan lelah, kecewa, putus asa, dan sebagainya dalam menghadapi situasi ini.

Namun resiliensi keluarga dapat tercapai ketika terdapat anggota keluarga di dalamnya yang meskipun berada di situasi yang buruk atau situasi penuh tekanan seperti adanya wabah Covid-19 ini tetap dapat bangkit dan menciptakan pikiran, aktivitas yang dapat memberdayakan diri dan keluarganya. Dengan demikian, kita tidak hanya sekedar menjalani keadaan tapi lebih dari itu yaitu dapat menciptakan keadaan yang lebih baik bagi keluarga kita.

Di masa pandemi ini, penguatan resiliensi keluarga haruslah juga menjadi perhatian pemerintah. Mengingat keluarga sebagai entitas sosial terkecil, merupakan modal dasar bagi keberlanjutan pembangunan nasional. Menguatnya resiliensi keluarga mempengaruhi kekuatan sebuah negera terlebih untuk melewati masa-masa sulit karena pandemi ini.

Intervensi negara dalam rangka penguatan resiliensi keluarga, perlu dilakukan melalui pencanangan Gerakan Nasional Ketahanan Keluarga. Gerakan nasional ini merupakan komitmen kolektif bangsa untuk menumbuhkan kesadaran pentingnya menjaga keutuhan keluarga terlebih dimasa pandemi Covid-19 ini.

Pemerintah bersama LSM, perguruan tinggi, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta elemen akar rumput lainnya perlu merumuskan program-program sekaligus mengkampanyekan kiat-kiat untuk menjaga resiliensi keluarga.

Pemerintah perlu mengedukasi publik dalam menjaga budaya komunikasi yang baik antar anggota keluarga, revitalisasi pendidikan ketahanan keluarga sejak usia dini, internalisasi nilai-nilai transendensi, hingga kampanye mengubah gaya hidup keluarga konsumtif menjadi produktif.

Bagi keluarga yang terdampak tekanan ekonomi, pemerintah perlu memperluas program jaring pengaman sosial berbasis keluarga. Besaran bantuan sosial ini diberikan dengan memperhitungan jumlah anggota keluarga dan juga memperhatikan kekhususan kondisi anggota keluarga seperti lansia dan disabilitas.

Untuk membantu anggota keluarga yang mengalami gangguan psikis, pemerintah bekerjasama dengan perguruan tinggi dan pekerja sosial untuk memperbanyak unit layanan bimbingan dan konseling secara gratis baik secara online maupun tatap muka. Selain itu, pemerintah juga perlu membentuk posko-posko pengaduan KDRT hingga ke tingkat daerah untuk merespon secara cepat anggota keluarga yang mengalami KDRT.

Banyaknya pilihan demi membangkitkan atau menguatkan resiliensi keluarga, membuka kemungkinan terciptanya keutuhan keluarga sebagai ujung tombak keberlanjutan masyarakat. Masyarakat yang sehat secara mental, diawali oleh keberadaan keluarga yang suportif dan sensitif akan kebutuhan psikologis anggotanya.

Namun kalau hal itu dapat diimbangi oleh lembaga-lembaga yang memiliki kewenangan khusus, akan terbentuk suatu iklim kehidupan publik yang memadai. Di tengah pandemi seperti sekarang, keluarga pun berperan penting dalam hal itu. Dan di situasi ini, negara mesti hadir, agar masyarakat mafhum bahwa keluarga adalah hal penting untuk membangun kembali atau melanjutkan daya tahan mereka.