Sosio-Kultural Kaum Boro Wonogiri

Foto: Kuasakata

Memasuki bulan Ramadhan dan Lebaran, kaum perantauan dari Wonogiri mulai disibukkan persiapan mudik atau pulang kampung. Namun, kondisi yang berbeda harus disikapi dengan bijak oleh Kaum Boro, mengingat pandemi yang sudah melanda lebih dari satu tahun belum menemui titik terang. Keinginan untuk pulang kampung tentunya dirasakan oleh setiap individu perantau atau kaum Boro yang harus mencari nafkah jauh dari keluarga dan sanak saudara lainnya. Momen libur lebaran menjadi kesempatan untuk dapat pulang kampung dan berkumpul dengan sanak saudara.

Tulisan ini dibuat dalam rangka menyambut fenomena tiap tahun di Kabupaten Wonogiri yang melibatkan kaum Boro sebagai subjek sosial. Kaum Boro memang punya ciri khas di daerah Surakartan. Agaknya bisa dikatakan kaum Boro dari Wonogiri punya dampak besar dalam perputaran ekonomi di daerah Surakartan. Kerja keras dari aktivitas perantauan mereka tidak hanya menghasilkan materi, tapi juga modal sosial. Itulah potensi inner dari kaum Boro. Mereka bergerak dan menggerakkan.

Secara bahasa istilah Boro diambil dari kepanjangan kata Kemboro yang artinya adalah merantau. Istilah ini diambil dari bahasa Jawa. Kultur merantau sebagian masyarakat Wonogiri yang punya kesamaan dengan budaya Minang ini yang nampaknya menjadi suatu pemicu mengapa mereka disebut demikian. Dari kultur tersebut, kemudian kaum Boro menjadi suatu kategori masyarakat yang sebenarnya perlu diperhatikan lebih jauh di Wonogiri.

Karakteristik daerah Wonogiri yang berada dekat pesisir pantai selatan Pulau Jawa tampaknya memberi sedikit pengaruh kepada eksistensi kaum Boro. Pasalnya kita ketahui budaya pesisir pantai memiliki kesan egalitarian yang kuat. Budaya egalitarian yang menyimpan kesan determinasi tinggi itu kemudian memberi suatu dorongan bagi masyarakat di daerah Wonogiri berani merantau ke luar daerahnya, bahkan ke luar daerah sekitar Surakartan.

Namun korelasi budaya rantau Wonogiri juga berkait dengan budaya Jawa. Terlebih Wonogiri juga memiliki keterkaitan dengan praja Mangkunegaran di masa lampau. Itu mengapa di masa sekarang kaum Boro di Wonogiri juga perlu diterpoping pada khazanah keilmuan dan nilai-nilai Jawa. Karena sejak lama, filosofi luhur Jawa turut membentuk sosiologi masyarakat Wonogiri.

Di masa kini, meski banyak warga Wonogiri yang jadi perantau, bukan berarti malah membawa pengaruh buruk pada Wonogiri. Justru karena nilai-nilai adiluhung Jawa, warga perantau Wonogiri dapat mewarnai Indonesia, bahkan dunia. Sebagai bagian dari Wonogiri saya sendiri beranggapan bahwa warga perantau Wonogiri memiliki kekhasan karakter, seperti pekerja keras, tidak membeda-bedakan orang berdasarkan suku, pelayanan menyeluruh dalam berdagang, dan dapat beradaptasi dengan masyarakat di mana mereka merantau.

Sepanjang pengamatan saya mengenai kaum Boro Wonogiri, mereka tidak malu bekerja sebagai apa saja di perantauan. Bahkan akhirnya menyadarkan banyak daerah di Indonesia tentang pentingnya kerja keras tanpa sungkan-sungkan. Setelah sukses pun tidak kemudian menyombongkan diri di tempat mereka merantau. Itu filosofi Jawa yang sebaiknya terus dijaga.

Berdasarakan data Disnakertrans Kabupaten Wonogiri pada tahun 2019 terdapat 260 ribu jiwa merantau ke luar Wonogiri. Angka tersebut menandakan bahwa seperempat penduduk Wonogiri merantau keluar daerah untuk mengadu nasib dan mencari nafkah di luar daerah.

Aktivitas merantau yang dilakukan oleh masyarakat Wonogiri telah berlangsung lama sehingga di kota-kota besar kita bisa mendapati banyak warung yang memakai nama Wonogiri terutama untuk warung bakso dan mi ayam. Seiring dengan perkembangannya, kini kegiatan migrasi yang dilakukan oleh Kaum Boro semakin intensif. Belakangan arus perantauan tersebut menjadi lebih pesat lantaran banyak aspek infrasturktur maupun perubahan sosial yang terjadi.

Pertama, tersambungnya tol Trans Jawa yang menghubungkan ujung barat pulau jawa hingga ujung timur pulau jawa membuat waktu tempu semakin cepat. Sebagai contoh perjalanan antara Wonogiri-Jakarta yang sebelum ada tol ditempuh dengan waktu selama 18 jam kini dapat ditempuh hanya dalam waktu 10-12 jam saja.

Kedua, semakin meningkatkan kualitas sarana transportasi. Sekarang para operator bus menyediakan armada yang semakin baik dengan harga yang terjangkau bagi para perantau. Harga tiket bus untuk kelas eksekutif dibandrol dengan harga 180 ribu-200 ribu. Sedangkan untuk kelas VIP dibandrol dengan harga 160 ribu-175 ribu.

Ketiga, lapangan pekerjaan di Wonogiri yang belum sesuai dengan harapan warga Wonogiri. Namun nyatanya kini, beberapa pabrik besar sudah berdiri di Wonogiri. Hanya saja para pekerja di sektor industri masih memilih luar daerah untuk bekerja karena UMK Wonogiri yang masih deretan bawah di Provinsi Jawa Tengah.

Perpindahan penduduk ini seperti pisau buah simalakama tatkala tidak dapat dikendalikan dengan baik maka akan merugikan Wonogiri dimasa yang akan datang. Tetapi jika dapat dikelola dengan baik maka akan memberikan dampak yang positif untuk masa depan Wonogiri.

Namun kita juga perlu mengantisipasi kemungkinan negatif, terjadinya migrasi penduduk adalah kurang optimalnya pengelolaan potensi desa. Para generasi muda memilih untuk pergi keluar daerah karena ketersediaan peluang kerja yang besar. Hal itu bukan tanpa alasan dikarenakan daerah perantauan lebih menjanjikan dibanding dengan bekerja di daerah asalnya.

Mengenai kurangnya pengelolaan potensi desa ini membuat desa-desa menjadi kurang maju dan potensi kurang optimal dalam pengelolaannya. Sebagai contoh di sektor pertanian, kini sudah sangat sulit mencari tenaga yang mau bekerja di sektor pertanian. Kenyataan yang ada sektor pertanian dikelola oleh orang-orang yang sudah berusia tua. Jika ini berlanjut maka sektor pertanian di desa akan terbengkelai karena tidak ada penerusnya.

Fenomena Kaum Boro ini merupakan fenomena yang telah terjadi secara turun temurun sehingga diperlukan upaya untuk merangsang para Kaum Boro ini untuk turut serta mengembangkan dan memajukan Wonogiri. Bagi para perantau yang telah sukses dirangkul dan diajak untuk turut memajukan Wonogiri melalui alih modal dan investasi dari perantauan ke Wonogiri sehingga akan membuka lapangan kerja di Wonogiri.

Bagi para perantau yang masih muda harus dibekali keterampilan sehingga ketika mereka terjun ke perantauan dapat bekerja dan berwiraswasta dengan baik. Jika bekal yang mereka miliki sudah memadai mereka akan dapat bekerja pada sektor-sektor yang dapat meningkatkan pendapatannya. Sebaliknya Jika merantau tanpa berbekal keterampilan dan pengalaman hanya akan menimbulkan masalah baru di daerah tujuan. Peran aktif dan bermakna dari pemerintah sangat dibutuhkan dalam manajemen migrasi ini sehingga para perantau akan memberikan dampak positif bagi pembangunan Kabupaten Wonogiri di masa yang akan datang.

Fenomena ini sebenarnya dapat dikatikan dengan sejarah Wonogiri yang punya kedekatan Praja Mangkunegaran. Praja Mangkunegaran sendiri adalah salah satu praja di Pulau Jawa yang memiliki ciri khas kesetaraan dalam pengelolaan aset meskipun masih mempertahankan cara-cara patrimonial dan feodal. Praja Mangkunegaran memiliki sistem pengelolaan aset industri perkebunannya dengan sarana modernisasi seturut terjadinya revolusi industri pertama di Eropa.

Wonogiri selaku kawasan yang berada di daerah Praja Mangkunegaran tentu mendapat banyak tuah dari kultur Praja Mangkunegaran yang tergolong modern dan maju di masanya. Terutama pada masa-masa itu Wonogiri dijadikan salah satu daerah pusat pengembangan perkebunan modern di Pulau Jawa. Hal ini kurang lebihnya berdampak pada kebudayaan masyarakat Wonogiri.

Sejarah Wonogiri

Sejarah terbentuknya Kabupaten Wonogiri tidak bisa terlepas dari perjalanan hidup dan perjuangan Raden Mas Said atau dikenal dengan julukan Pangeran Sambernyawa. Asal kata Wonogiri sendiri berasal dari bahasa Jawa wana (alas/hutan/sawah) dan giri (gunung/ pegunungan). Nama ini sangat tepat menggambarkan kondisi wilayah Kabupaten Wonogiri yang memang sebagian besar berupa sawah, hutan dan gunung.

Pemerintahan di Kabupaten Wonogiri awal mulanya merupakan suatu daerah basis perjuangan Raden Mas Said dalam menentang penjajahan Belanda. Raden Mas Said lahir di Kartasura pada hari Minggu Legi, tanggal 4 Ruwah 1650 tahun Jimakir, Windu Adi Wuku Wariagung, atau bertepatan dengan tanggal Masehi 8 April 1725. Raden Mas Said merupakan putra dari Kanjeng Pangeran Aryo Mangkunegoro dan Raden Ayu Wulan yang wafat saat melahirkannya.

Memasuki usia dua tahun, Raden Mas Said harus kehilangan ayahandanya karena dibuang oleh Belanda ke Tanah Kaap (Ceylon) atau Srilanka. Hal itu karena ulah keji berupa fitnah dari Kanjeng Ratu dan Patih Danurejo. Akibatnya, Raden Mas Said mengalami masa kecil yang jauh dari selayaknya seorang bangsawan Keraton. Raden Mas Said menghabiskan masa kecil bersama anak-anak para abdi dalem lainnya, sehingga mengerti betul bagaimana kehidupan kawula alit. Hikmah dibalik itulah yang menempa Raden Mas Said menjadi seorang yang mempunyai sifat peduli terhadap sesama dan kebersamaan yang tinggi karena kedekatan beliau dengan abdi dalem yang merupakan rakyat kecil biasa.

Pada suatu saat terjadi peristiwa yang membuat Raden Mas Said resah, karena di Keraton terjadi ketidakadilan yang dilakukan oleh Raja (Paku Buwono II) yang menempatkan Raden Mas Said hanya sebagai Gandhek Anom (Manteri Anom) atau sejajar dengan Abdi Dalem Manteri. Padahal sesuai dengan derajat dan kedudukan, Raden Mas Said seharusnya menjadi Pangeran Sentana.

Melihat hal ini, Raden Mas Said ingin mengadukan ketidakadilan kepada sang Raja, akan tetapi pada saat di Keraton oleh sang Patih Kartasura ditanggapi dingin. Dan dengan tidak berkata apa-apa sang Patih memberikan sekantong emas kepada Raden Mas Said. Perilaku sang Patih ini membuat Raden Mas Said malu dan sangat marah, karena beliau ingin menuntut keadilan bukan untuk mengemis.

Raden Mas Said bersama pamannya Ki Wiradiwangsa dan Raden Sutawijaya yang mengalami nasib yang sama, mengadakan perundingan untuk membicarakan ketidakadilan yang menimpa mereka. Akhirnya Raden Mas Said memutuskan untuk keluar dari keraton dan mengadakan perlawanan terhadap Raja.

Raden Mas Said bersama pengikutnya mulai mengembara mencari suatu daerah yang aman untuk kembali menyusun kekuatan. Raden Mas Said bersama para pengikutnya tiba disuatu daerah dan mulai menggelar pertemuan-pertemuan untuk menghimpun kembali kekuatan dan mendirikan sebuah pemerintahan biarpun masih sangat sederhana. Peristiwa itu terjadi pada hari Rabu Kliwon tanggal 3 Rabiulawal (Mulud) tahun Jumakir windu Sengoro, dengan candra sengkala Angrasa Retu Ngoyag Jagad atau tahun 1666 dalam kalender Jawa. Dan dalam perhitungan kalender Masehi bertepatan dengan hari Rabu Kliwon tanggal 19 Mei 1741 M.

Daerah yang dituju Raden Mas Said waktu itu adalah Dusun Nglaroh (wilayah Kecamatan Selogiri), dan disana Raden Mas Said menggunakan sebuah batu untuk menyusun strategi melawan ketidakadilan. Batu ini dikemudian hari dikenal sebagai Watu Gilang yang merupakan tempat awal mula perjuangan Raden Mas Said dalam melawan ketidakadilan dan segala bentuk penjajahan. Bersama dengan pengikut setianya, dibentuklah pasukan inti kemudian berkembang menjadi perwira-perwira perang yang mumpuni dengan sebutan Punggowo Baku Kawandoso Joyo. Dukungan dari rakyat Nglaroh kepada perjuangan Raden Mas Said juga sangat tinggi yang disesepuhi oleh Kyai Wiradiwangsa yang diangkat sebagai Patih. Dari situlah awal mula suatu bentuk pemerintahan yang nantinya menjadi cikal bakal Kabupaten Wonogiri.

Dalam mengendalikan perjuangannya, Raden Mas Said mengeluarkan semboyan yang sudah menjadi ikrar sehidup semati yang terkenal dengan sumpah “Kawulo Gusti” atau “Pamoring Kawulo Gusti” sebagai pengikat tali batin antara pemimpin dengan rakyatnya, luluh dalam kata dan perbuatan, maju dalam derap yang serasi bagaikan keluarga besar yang sulit dicerai-beraikan musuh. Ikrar tersebut berbunyi “Tiji tibeh, Mati Siji Mati Kabeh, Mukti Siji Mukti Kabeh”. Ini adalah konsep kebersamaan antara pimpinan dan rakyat yang dipimpin maupun sesama rakyat.

Risalah sejarah yang mewarnai kehidupan masyarakat Wonogiri itu barangkali memberi sebuah penyerbukan karakter dalam kebudayaan dan kecenderungan masyarakat Wonogiri itu sendiri. Barangkali itulah fondasi dari perilaku merantau para kaum Boro. Kesejarahan mereka yang punya keterkaitan erat dengan etos Pangeran Sambernyawa itu tampak memberi sentuhan abstrak keberanian merantau kaum Boro.

Sejarah Awal Budaya Boro

Mentalitas ala Pangeran Sambernyawa memang sedikit banyak memberi warna bagi eksistensi masyarakat Wonogiri. Kaum Boro sebagai pihak yang mau mengambil resiko demografis tentu menghimpun semangat seperti itu. Namun keberadaan mereka tidak terbentuk semata-mata karena budaya. Terdapat asumsi-asumsi ekonomi-politik dan faktor kebijakan mengapa mereka akhirnya ada di tengah-tengah masyarakat.

Pada awalnya kebijakan transmigrasi demi proyek pembangunan adalah salah satu asumsi awal pemicu budaya rantau Kaum Boro. Warga yang ditransmigrasikan ialah warga Wonogiri yang berada di wilayah proyek pembangunan waduk gajah mungkur yang berfungsi sebagai flood control (pengendali banjir) sungai Bengawan Solo. Karena, sebelum pembangunan, wilayah tersebut kerap terjadi banjir yang diakibatkan meluapnya volume air aliran sungai bengawan solo dan kerap menimbulkan kerugian yang tidak sedikit. Luas genangan WGM lebih dari 8.800 hektar. Untuk membentuk genanagan seluas itu daerah yang harus “ditenggelamkan“ sekitar 90 kilometer persegi. Terdiri atas 51 desa di 7 buah kecamatan waktu itu. proyek ini berlangsung sekitar 5 tahun dimulai tahun 1976-1981.

Menilik hal tersebut, ada asumsi dengan banyaknya transmigran tersebut dalam jangka panjang tentu daerah transmigran menjadi destinasi merantau yang banyak dibawa oleh para sanak saudara transmigran. Ini dapat dibuktikan dengan banyaknya etnis Jawa yang berada di wilayah luar Pulau Jawan. Upaya para transmigran merantau itu memang mengambil resiko cukup besar. Mereka rela meinggalkan tanah kelahiran yaitu Wonogiri untuk kesejahteraan keluarga. Mentalitas egaliter ala pesisir dan determinasi seperti etos Pangeran Sambernyawa seperti memberi faktor pendukung psikologis di alam bawah sadar mereka untuk merantau ke tanah orang.

Seturut pembangunan ekonomi, Ibukota pun menjadi salah satu destinasi kaum Boro. Tak hanya itu, mereka kini juga menyebar ke daerah-daerah yang memiliki basis perekonomian besar. Modal tentu menarik keterpikatan mereka. Namun keterpikatan itu tak jadi dalam satu malam jika tidak ada semacam faktor psikologis yang mempengaruhi daya tahan mereka.

Dan faktor-faktor psikologis itu, terbentuk karena beragam stimulus. Salah satunya adalah letak geografis, kesejarahan, dan ekonomi politik. Beragam-macam faktor itu melandasi semangat mengembara mereka. Semua demi kesejahteraan keturunan mereka. Dan berbagai hal itu turut merekam fenomena masa kini Kaum Boro yang secara tidak langsung turut membangun Wonogiri dari luar. Meski tidak selalu dihitung sebagai kategori sosial yang persisten, Kaum Boro berandil besar dalam perubahan sosial di Wonogiri.

Add Comment