Sinergi Pariwisata Karanganyar

Sektor pariwisata Karanganyar tengah mengalami perkembangan yang pesat. Terlihat di beberapa kawasan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karanganyar berjibaku memoles tempat-tempat tersebut sebagai destinasi wisata. Meski memiliki potensi daerah yang melimpah di sektor lain, tak membuat Pemkab abai. Segudang potensi itu justru disinergikan demi progresivitas ekonomi daerah.

Sepeti yang umum diketahui masyarakat, Pemkab Karanganyar sampai sekarang terus mendongkrak sektor pariwisata karena memiliki keunggulan karakteristik geografis. Karanganyar memiliki daerah pegunungan dengan panorama indah yang memikat mata dan udara sejuk yang memanjakan para pendatang. Berkah itu adalah bekal bagi Pemkab untuk memaksimalkan potensi dari sektor pariwisata.

Setiap potensi yang ada di Karanganyar dari berbagai sektor, memang melimpah, baik di bidang pertanian maupun di bidang perkebunan. Kondisi ini tak terlepas dari risalah sejarah yang meriwayatkan bahwa di masa lampau, ketika Karanganyar masih berada di bawah Kadipaten Mangkunegaran, Karanganyar sejatinya diprioritaskan untuk perkebunan dan pertanian.

Turun-temurun, setelah Indonesia merdeka, Karanganyar masih terus melekat dengan citra tersebut. Ditambah, terdapat warisan sejarah seperti Candi Sukuh dan Candi Cetho yang dipugar lalu dijadikan destinasi wisata. Tak ayal, inovasi kedaerahan ditempuh agar pendapatan daerah dapat didongkrak dengan ataupun tanpa sektor andalan.

Budaya di Karanganyar pun masih menyimpan keterikatan dengan kawasan Surakartan. Risalah sejarah sudah barang tentu tidak bisa dilepaskan. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa Karanganyar dahulu adalah kabupaten yang ada di bawah kekuasaan Kadipaten Mangkunegaran bersama Wonogiri. Pada waktu itu, kedua kabupaten ini dibangun dengan karakterisitknya masing-masing.

Kedua kabupaten punya banyak diferensiasi mulai dari tipologi masyarakat, karakteristik geografis, serta tipikal modal yang ditanam di daerah tersebut. Akan tetapi, kesejarahan Karanganyar sebenarnya tak mesti jauh-jauh ditarik sampai ke zaman Hindu-Buddha. Paling dekat, tentu menempatkan kondisi Karanganyar sekarang dengan sejarah Karanganyar di masa-masa kejayaan Kadipaten Mangkunegaran.

Semasa revolusi industri mulai turut membawa Hindia Belanda ke pergaulan internasional, Kadipaten Mangkunegaran melakukan pembaharuan budaya. Mangkunegaran juga melakukan ekspansi bisnis dengan membuka beberapa lini usaha. Yang terbesar adalah sejumlah pabrik gula seperti P.G Tasikmadu dan Colomadu.

Tasikmadu dan masyarakat di dalamnya yang masuk dalam wilayah Karanganyar, mengalami perubahan sosial seiring mekarnya industrialisasi gula di kawasan itu. Selain industrialisasi gula, Karanganyar juga dijadikan Mangkunegaran sebagai tempat-tempat raja dan para kerabatnya beristirahat dan melepas penat. Dibuktikan dengan pendirian hotel-hotel sejak zaman kolonial yang ada di kawasan Tawangmangu.

Karanganyar sewaktu di bawah pemerintahan Kadipaten Mangkunegaran juga dijadikan tempat rekreasi keluarga raja. Beberapa Mangkunegara seringkali berburu di Karanganyar, seperti di Ngargoyoso atau di Sarangan. Mereka kerap melakukan aktivitas menembak dan berburu di kawasan tersebut karena banyaknya objek berburu dan hawa sejuk yang menyelimuti daerah setempat.

Faktor sejarah ini mendukung pemerintah pasca kemerdekaan mulai menyadari potensi dan mengembangkan kawasan wisata di Karanganyar. Pergeseran model perekonomian dari waktu ke waktu juga menuntut Karanganyar ikut berbenah. Sektor pertanian dan perkebunan yang harus bergantung pada cuaca dan musim tidak bisa tidak, mesti disinergikan ke arah pariwisata yang integratif.

Kini pariwisata Karanganyar terus berbenah tanpa meninggalkan corak masyarakatnya. Mata pencaharian masyarakat Karanganyar yang banyak berkecimpung di bidang bercocok tanam tidak ditinggalkan. Pemerintah menyadari, bahwa pertanian dan perkebunan dahulu yang menggerakkan daerah ini, jika ditinggalkan dengan mengalihkan ke pekerjaan lain, bakal timbul sebuah gegar sosial-budaya yang dialami oleh masyarakat di bumi Intanpari

Wisata Pertanian

Upaya menggencarkan pariwisata yang dilakukan oleh Pemkab Karanganyar dewasa ini terlihat masif. Setelah fokus menggarap daerah Tawangmangu dan Ngargoyo, di mana sejak dahulu sudah lama menjadi kawasan wisata, Pemkab mulai melakukan pemerataan kawasan wisata, agar aktivitas turisme tidak terpusat di satu dua titik. Upaya itu sekarang mulai menampakkan hasil. Pariwisata integratif yang tidak mencabut mata pencaharian asli penduduk pun mulai berjalan dengan baik.

Beberapa waktu lalu, Karanganyar berupaya menjadikan sektor pertaniannya mengakomodir konsep pariwisata. Melimpahnya hasil pertanian di sana, mendorong praktisi pariwisata dan stakeholder terkait mencetuskan konsep wisata pertanian. Menurut Bupati Karanganyar, Juliyatmono belum lama ini, produk pertanian Karanganyar seperti empon-empon tengah naik daun. Pandemi Covid-19 menyebabkan hal itu terjadi. Terlebih sempat beredar informasi empon-empon dapat mencegah memburuknya gejala, alhasil produk empon-empon pun dicari banyak orang.

Upaya ini sejalan dengan keistimewaan beberapa daerah di Karanganyar yang merupakan sumber air. Pemkab Karanganyar sempat pula menyampaikan bahwa akan menyediakan pompa-pompa air bagi prioritas pengerjaan proyek pariwisata. Terkait hal itu, Bupati ikut menghimbau agar fasilitas yang disediakan juga seiring dengan produktivitas. Masyarakat di daerah tempat di mana proyek pariwisata dikerjakan, dapat memanfaatkan tegalan atau pekarangan untuk membuat apotek hidup.

Salah satu destinasi wisata Karanganyar terdapat di daerah Mojogedang. Di sana produk hasil pertanian warga ditampilkan di pekarangan rumah. Di tengah-tengah desa, terdapat suatu aula, wisma penginapan, dan lapangan besar yang dapat menjadi tempat berkumpul masyarakat dari luar Karanganyar ketika hendak menggelar acara besar yang melibatkan banyak orang. Roda perekonomian mengalir dari situ. Mojogedang pun menjadi salah satu rujukan untuk menggelar pelatihan-pelatihan dan laboraturium sosial masyarakat pertanian Karanganyar.

Wisata Kesehatan

Setelah wisata pertanian, Karanganyar memperbaiki fasilitas RSUD untuk mengembangkan konsep wisata kesehatan. Dengan perbaikan fasilitas kesehatan di Karanganyar yang terus dikejar. Terkini RSUD (Rumah Sakit Umum Daerah) Karanganyar akan dinamai RSUD Raden Mas Said. Pemberian nama baru ini menyusul dicanangkannya konsep rumah sakit wisata yang akan diterapkan di Kabupaten Karanganyar.

Bupati juga sempat melakukan pengecekaan sejumlah tempat. Termasuk taman yang berada di belakang Ruang Rawat Inap Wijaya Kusuma. Taman di tempat tersebut telah dibangun dengan dekorasi bunga yang telah dirangkai sedemikian rupa hingga membentuk lambing cinta di beberapa titik.

Dengan adanya dekorasi taman ini, diharapkan para pembesuk ataupun para pengunjung akan merasakan hawa sejuk yang bertujuan dapat membantu mengurangi tekanan masa-masa perawatan. Nantinya suasana ini diharapkan dapat dikembangkan lebih lanjut, sehingga fasilitas kesehatan yang ada dapat menyatu dengan konsep wisata.

Rencana wisata kesehatan dan inovasi fasilitas keseatan publik ini sudah direncakan beberapa waktu yang lalu. RSUD Karanganyar memang akan dikembangkan menjadi rumah sakit wisata kesehatan. Diharapkan Konsep RS Wisata tersebut sudah bisa terwujud sebelum Bupati menyelesaikan kepemimpinan di Karanganyar.

Konsep wisata kesehatan adalah semua fasilitas tambahan yang ada di rumah sakit bisa digunakan oleh semua pasien maupun membesuk tanpa membedakan kelas. “Jadi rumah sakit dikonsep dari semula tempat merawat orang sakit, menjadi tempat rekreasi kesehatan. Fasilitas seperti tempat santai bagi pembesuk, ruang edukatif hingga ruang bermain anak, bisa digunakan tanpa pembedaan kelas. Saya berharap bisa selesai sebelum akhir jabatan saya,” pungkasnya.

Wisata kesehatan sendiri sebelumnya telah diutarakan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Beberapa waktu lampau, Kemenkes bersama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) telah menyusun agenda yang isinya adalah pencanangan wisata kesehatan. Kerjasama dua lembaga ini bertujuan agar pembaharuan fasilitas kesehatan yang ada di Indonesia dapat beriringan dengan peningkatan inovasi turisme.

Letjen TNI (Purn) Dr. dr. Terawan Agus Putranto, Sp. Rad(K) RI selaku Menteri Kesehatan terdahulu menjelaskan Skenario Perjalanan Wisata Kebugaran adalah wisata untuk bisa menikmati suasana nyaman dan bugar. Karena itu, ia mencontohkan, wisata ini bisa seperti spa, wellness center, dan sebagainya.

Sementara Wisata Kesehatan, kata dia, ada dua jenis, pertama, Medical Travelling yaitu penyediaan fasilitas kesehatan di dekat tempat periwisata. Tujuannya agar wisatawan merasa terjaga dari segi kesehatannya apabila terjadi hal yang tidak diinginkan di tempat wisata. Kedua, Medical Tourism, yaitu orang luar negeri datang ke Indonesia untuk berobat. Di tengah waktu berobatnya pasien dan keluarganya bisa sambil berwisata. Tujuan utamanya berobat.

Kerjasama dengan Kemenparekraf adalah wujud dari komitmen pemerintah untuk mendongkrak inovasi peningkatan ekonomi, terkhusus dalam konteks ekonomi kreatif. Kerjasama ini juga membuktikan bahwa ekonomi kreatif dapat berjalan di segala sektor. Tujuan utamanya tak jauh dari peningkatan kesejahteraan dan penyerapan tenaga kerja yang lebih inovatif dan kreatif.

Wisata Sejarah

Memperingati 266 tahun Perjanjian Giyanti yang memisahkan Kerajaan Mataram Islam menjadi dua keraton, Bupati Karanganyar H. Juliyatmono bersama Sekretaris Daerah Karanganyar, Sutarno menghadiri acara napak tilas peristiwa bersejarah ini di Desa Jantiharjo, Karanganyar.

Suasana acara peringatan ke-266 Perjanjian Giyanti siang itu sederhana. Sangat berbeda dengan acara napak tilas pada tahun sebelumnya layaknya suasana pasar malam. Sebab, sebelum pandemi melanda, stand kuliner dan mainan selalu berjajar rapi di jalan kampung. Selain itu perayaan pada tahun sebelumnya juga digelar pada malam hari dan disertai gunungan arum manis dan brondong yang identik dengan usaha sektor informal warga Kerten.

Meski acara ini digelar secara sederhana, ada yang istimewa dalam peringatan perjanjian Giyanti kali ini, yakni kehadiran Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Mangkubumi atau putri dari Sri Sultan Hamengkubuwono X. Kehadiran GKR Mangkubumi pada waktu itu disebut-sebut untuk

Bupati Karanganyar, Juliyatmono mengatakan, tempat ini merupakan tempat bersejarah kaitannya dengan pembentukan wilayah antara Surakarta dengan Yogyakarta pada zaman dulu. Rencana awalnya, acara itu akan berlanjut dengan kerjasama antara Pemerintah Kabupaten Karanganyar dengan Pemerintah Provinsi Yogyakarta.

Kemudian renana selanjutnya akan dilakukan penataan lokasi ini supaya menjadi tempat edukasi bagi siapapun. Oleh karena itu perlu adanya penambahan berupa bukti-bukti dari Perjanjian Giyanti. Upaya ini akan ditindaklanjuti lantaran lokasi Perjanjian Giyanti merupakan titik awal dari munculnya daerah-daerah yang ada di kawasan Surakartan dan Yogyakarta.

Di kesempatan itu pula, KGR Mangkubumi mengungkapkan, menyambut baik adanya peringatan Perjanjian Giyanti ini. Apabila memang diperlukan adanya penataan, dia berharap dapat ditata sesuai aturan. Menurutnya penataan tidak perlu mewah-mewah, tapi setidaknya dapat memberi banyak informasi dan pembelajaran ihwal leluhur dan asal-usul kedaerahan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta.

Momen ini mengangkat kedua instansi pemerintah yang sama-sama berkomitmen pada sektor pariwisata. Kerja sama ini juga semestinya memberi gambaran tentang bagaimana instansi pemerintahan tidak terpaku pada ego sektoral dalam mengikat kerja sama yang saling menguntungkan. Terutama jika hal itu berkaitan dengan kesejahteraan masyarakat.

Lebih jauh, hal ini juga mengindikasikan bagaimana Pemkab Karanganyar berkomitmen penuh dengan sektor pariwisata. Niat awal dari pembangunan sektor ini tidak melulu berkaitan dengan pemasukan daerah, tapi juga mengenai literasi dan edukasi. Manakala literasi dan pariwisata berdampingan, peningkatan kesejahteraan yang dibarengi dengan kualitas manusia di kawasan sekitarnya dapat berdampak luas.

Persoalan Pariwisata

Kinerja sektor pariwisata Indonesia mengalami naik-turun sepanjang waktu. Menurut Forum Ekonomi Dunia pada tahun 2017, Indonesia berada di peringkat 42 dalam TTCI (Travel dan Tourism Competitiveness Index) naik 8 level dibanding tahun sebelumya. Indonesia memiliki keunngulan dalam hal sumberdaya alami dan budaya untuk pariwisata,masih terdapat kekurangan dalam layanan infrastruktur pariwisata dan sumberdaya manusia yang memadai dalam mengelola potensi ini.

Kelemahan inilah yang mempengaruhi indeks daya saing negara kita yang mana dalam Forum Ekonomi Dunia mengindikasikan Indonesiia sebagai negara yang masih lemah dalam kebijakan dan regulasi, pariwisata berkelanjutan, keselamatan dan keamanan, kesehatan serta teknologi informasi dan komunikasi.

Kesiapan destinasi pariwisata berpengarui terhadap keberhasilan pembangunan kepariwisataan. Sebenarnya sudah banyak daerah yang terkenal dikalangan wisatawan dan dijadikan destinasi wisata namun masyarakat sekitar kurang mampu dalam mengembangkan potensi yang ada bahkan cenderung stagnan.

Terbatasnya pemahaman inilah yang menyebabkan iklim yang kurang kondusif bagi berkembangnya kepariwisataan. Selain itu, belum terwujudnya unsur SAPTA PESONA Pariwisaa (aman, tertib, bersih, nyaman, indah, ramah dan kenangan) menciptakan perasaan kurang aman dan nyaman bagi wisatawan dalam melakukan kunjungan wisata di Indonesia.

Pariwisata sebagai sektor andalan harus didukung oleh semua sektor lain terutama yang terkait langsung dengan infrastruktur dan transportasi. Menurut data yang dilansir oleh Kementrian Pariwisata, sektor pariwisata pada tahun 2017 mampu memberikan kontribusi yang cukup signifikan bagi perekonomian Indonesia.

Sektor pariwisata pada tahun 2017 memberikan kontribusi sebesar 8% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Kontribusi yang diberikan sektor pariwisata terhadap penciptaan PDB berasal dari pengeluaran wisatawan nusantara, pengeluaran wisatawan mancanegara, anggaran pariwisata pemerintah serta investasi yang dilakukan pada sektor pariwisata.

Sebagai salah satu sektor yang menjadi pencipta devisa yang tinggi, sektor pariwisata pada tahun 2017 mampu menyumbang devisa sebesar kurNG LEBIH US$ 19,1 miliar dibanding tahun sebelumnya. Peningkatan penerimaan kuantitas devisa dari sektor pariwisata ini diimbangi dengan peningkatan kualitas pengeluaran wisatawan.

Sektor pariwisata mempunyai peran yang strategis dalam menciptakan nilai tambah bagi perekonomian nasional. Selain itu, sektor pariwisata menyerap banyak tenaga kerja yakni sebesar 13 juta orang. Sehingga sektor pariwisata merupakan salah satu sektor yang dapat menjadi alternatif dalam menanggulangi masalah kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja baru yang dapat menyerap pengangguran.

Pariwisata bukan hanya sebagai penghasil devisa namun juga harus dikembangkan secara berkelanjutan. Pengembangan dan pengelolaan pariwisata diharapkan jangan sampai merusak kearifan lokal masyakat. Hal ini dikarenakan keaifan lokal adalah sebuah potensi besar dalam pengembangan pariwisata.

Pengembangngan pariwisata terkadang hanya melibatkan pakar infrastrukur yang mana hanya melihat dari aspek fisiknya saja tanpa melibatkan pakar ilmu sosial yang melihat dari aspek sosial budayanya. Potensi kearifan lokal dan pengembangan pariwisata berbasis ethno-ecotourism dapat digunakan sebagai pedoman dalam mengambil suatu kebijakan yang memetakan dan membangun serta mengembangkan destinasi wisata yang berbasis kearifan lokal.

Kearifan lokal yang dikemas dengan pariwisata memang menjanjikan pemasukan bagi daerah setempat. Namun ketika aktivitas pariwisata telah berlangsung, bukan kemudian masyarakat nanti mesti gigit jari. Pariwisata sejatinya adalah upaya mengangkat kesejahteraan masyarakat sekitar dengan menawarkan pengalaman dan perjumpaan sosial. Setidaknya, minimal roda perekonomian masyarakat terus berlangsung tanpa mencabut mata pencaharian asli masyarakat sekitar, dan inflasi di kawasan wisata setempat tidak mengalami inflasi berlebihan yang merugikan mereka.

Dari sederet daerah yang ada di kawasan Surakartan, Karanganyar termasuk salah satu daerah yang memiliki beragam destinasi wisata. Hanya saja, sejumlah kawasan wisata itu perlu penataan yang berkelanjutan, agar eksistensi branding pariwisata di bumi Intanpari tidak sekedar berjalan di suatu era. Melihat bagaimana sejarah Karanganyar dulu di masa modernisasi menjadi kawasan rekreasi, bisa jadi komitmen pembangunan Karanganyar memang berada di sektor pariwisata.