Kebermaknaan Ramadhan dan Moralitas Reflektif

Lazim orang mengatakan bahwa puasa itu tentang menahan banyak hasrat yang bersifat duniawi. Saya secara tegas menyetujuinya. Namun saya ingin memberi tambahan, puasa lebih jauhnya juga mengenai mengendalikan dan menguatkan diri.

Sebab, menahan bersifat sementara. Sementara mengendalikan ritme diri itu bisa dimaknai sebagai upaya jangka panjang atas penguasaan terhadap diri sendiri. Puasa seperti memberi isyarat penting bahwa sebenarnya itu dilakukan untuk membekali psikologi diri untuk waktu-waktu sesudah puasa.

Sebelum beranjak dewasa dan akil baligh, banyak anak-anak diberi banyak dorongan agar mau mengikuti ritual berpuasa orangtua. Orangtua biasanya mengimingi-imingi sejumlah uang sebagai imbalan dari hasil jerih payah berpuasa. Dalam psikologi ini semacam modifikasi perilaku agar subjek mengiyakan tawaran.

Pengertian dini pada iming-iming berpuasa pada masa kecil saya adalah tentang menahan haus dan lapar. Namun memasuki masa-masa coming of age dan setelahnya, ternyata kesadaran baru muncul, puasa tidak sekedar menahan haus dan lapar. Ternyata, puasa memberi banyak arti penting bagi kognisi kita.

Masa-masa kematangan diri kita sebenarnya membutuhkan waktu puasa guna mengakali banyak hal yang melintas terlampau cepat di depan mata. Rutinitas yang serba akumulatif dan efisien di masa sekarang, bagaimanapun tentu membutuhkan jeda bagi tubuh dan pikiran yang menghubungkannya.

Memasuki fase-fase dewasa, tak sedikit yang mengaku semakin merasakan sensitivitas ketika menjalankan ritual berpuasa. Kepekaan atas tubuh semakin meningkat sejalan dengan tuntutan dan tanggung jawab yang bertambah besar. Itu mendorong berbagai individu melakukan banyak pencarian atas makna berpuasa bagi diri sendiri secara klinis maupun eksistensial.

Maghrib di bulan-bulan puasa pada waktu kanak-kanak dan dewasa tentu berbeda sama sekali. Serasa ada garis batas pengertian yang sangat mendasar. Dan belakangan, di masa-masa dewasa awal saya, puasa menj-adi semacam nilai guna, sebuah penguatan dan juga pembekalan kognitif untuk hari-hari ke depan.

Itu bisa dibuktikan ketika belakangan saya tengah menjalani banyak pekerjaan yang menuntut tanggung jawab yang lumayan berat. Setelah memasuki bulan puasa, saya merasa bersyukur ada jeda yang diberikan oleh sistem produktivitas dalam penanggalan, sehingga saya dapat menghela tanggung jawab diri lainnya.

Dalam menjalankan tanggung jawab produktif itu, ada emosi yang bercampur dengan keriuhan pikiran. Tentu ini dialami oleh mereka kaum pekerja yang dituntut oleh ritme duniawi yang sekarang serba cepat dan menggelegak, seolah tak ada ruang untuk berkontemplasi.

Maka, ketika bulan puasa tiba, momentum kontemplasi dan mengerahkan lebih banyak konsentrasi untuk diri sendiri serasa berarti. Itu membuat pembajakan emosi atas masalah sehari-hari dapat distimulasi oleh pemanfaatan dan pemaknaan atas momentum puasa.

Spiritualitas

Organisasi kesehatan dunia, atau yang biasa disingkat WHO (WHO) pada tahun 1984 telah menegaskan batasan sehat dengan menambahkan satu elemen spiritual, sehingga sekarang ini yang dimaksud dengan sehat adalah tidak hanya sehat dalam arti fisik, psikologis dan sosial saja tetapi juga sehat dalam arti spiritual keagamaan. Puasa dan Kecerdasan Emosional Sebagaimana telah dikutip di muka, puasa adalah bagian dari perintah agama, sebuah perintah keagamaan yang harus ditaati oleh umat. Kemampuan mengendalikan diri adalah indikator kesehatan jiwa seseorang. Orang yang sehat secara kejiwaan akan memiliki self-control yang baik, sehingga terhindar dari berbagai gangguan jiwa ringan apalagi yang berat. Lalu apa yang terjadi jika pengendalian diri terganggu?

Tentu akan timbul berbagai-reaksi-reaksi patologis secara kognisi (kemampuan berpikirnya), afeksi (perasaannya) perilakunya. Bila hal ini terjadi maka akan terjadi hubungan yang tidak harmonis antara diri individu dengan dirinya sendiri (konflik internal) dan juga dengan orang lain yang ada di sekitarnya.

Diungkap oleh Zillman (dalam teori emosi), jika seseorang tengah dalam kondisi yang tidak bisa mengendalikan diri, akan terjadi “pembajakan emosi”. Tubuh akan dikuasai oleh emosi hebat, sehingga sedikit saja distimulasi muncul emosi berikutnya dengan intensitas yang makin tinggi (baca: emosi negatif).

Berdasar pada fenomena tersebut, pikiran atau persepsi yang dapat memantik emosi berikutnya yang merupakan salah satu pemantik yang mengakibatkan terjadinya peningkatan katekolamin yang dibangkitkan oleh amigdala dalam otak, dan masing-masing berdasarkan peningkatan hormon yang muncul sebelumnya. Peningkatan kedua muncul sebelum yang pertama mereda, dan yang ketiga menumpuk di atasnya, demikian seterusnya.

Tiap-tiap gelombang menumpuk di ujung gelombang sebelumnya yang dengan cepat menambah kadar perangsangan fisiologis tubuh. Gelombang emosi negatif akan terus bersambung dan rangkaian panjang ini memicu intensitas emosi yang lebih hebat dari pada emosi pada awal rangkaian. Pada saat itu, emosi sulit dikendalikan oleh nalar, dan dengan mudah meletus menjadi tindak kekerasan. Emosi negatif akan hilang ketika rangkaian panjang gelombang mereda dan terputus.

Puasa ramadan dapat menjadi salah satu upaya untuk memutus rangkaian panjang gelombang emosi negatif. Emosi yang kuat akan mengacaukan ingatan kerja seseorang (mengingat dan berpikir). Jika emosi negatif berlangsung terus-menerus, kemungkinan akan timbul cacat pada kemampuan intelektual dan melemahkan kemampuan belajar seseorang.

Di sisi lain, orang yang terus-menerus dilanda emosi negatif berisiko dua kali lipat terserang penyakit, termasuk asma, artritis, sakit kepala, tukak lambung, dan penyakit jantung. Emosi negatif yang berlangsung secara berkala, uga berhubungan dengan sistem kekebalan melalui pengaruh hormon yang dilepaskan apabila seseorang mengalami stres.

Lebih jauhm Katekolamain (adrenalin dan noradrenalin), kortisol, prolaktin, serta betaendorfin dan enkefalin semuanya dilepaskan ketika terjadi rangsangan emosi negatif. Setiap unsur itu juga mempunyai pengaruh kuat terhadap kekebalan dan stres menekan perlawanan sistem kekebalan.

Maka, puasa sebulan penuh selama bulan suci Ramadhan disyariatkan Allah SWT sebenarnya adalah cara untuk mengajarkan umat islam tentang makna ketakwaan. Karenanya Allah menetapkan takwa sebagai predikat kemenangan bagi orang-orang yang berpuasa ramadan hingga tiba pada puncak kemanangan hari raya kemenangan idul fitri.

Takwa secara etimologis memiliki kata dasar “waqa” yang berarti menjaga, melindungi, hati-hati, waspada, memperhatikan dan menjahui. Para penerjemah Al-quran mengartikan takwa sebagai kepatuhan, kesalehan, kelurusan, perilaku baik, teguh melawan kejahatan dan takut kepada Allah.

 

Pada penghujung Ramadan, sudah ada hari raya yang menanti. Banyak yang mengaitkan hari raya Idul Fitri sebagai hari untuk mudik, melakukan halal bi halal, menghidangkan berbagai macam makanan hingga berkumpul bersama keluarga. Idul Fitri merupakan puncak dari ibadah puasa yang sudah dilakukan selama bulan ramadan.

Idul fitri di tengah pandemi justru menjadi momentum bagi umat islam untuk menunjukkan karakter takwa yang sesungguhnya. Wabah korona membuka tabir betapa ketahanan penting sekali bagi sebuah bangsa dalam keterbatasan gerak sosial akibat kebijakan pysical/social distancing kita justru semakin dekat dengan perasaan senasib dan sepenanggungan.

Tumbuh kesadaran dalam diri untuk patuh dan taat aturan karena kita butuh untuk saling menjaga agar tidak tertular atau menularkan virus.

Setiap muslim yang lulus dari madrasah ramadan harus benar-benar menjadi pribadi yang bersih (suci) dan saleh. Kuat iman dan kepribadiannya, bersih hati dan pikirannya, halus budi pekertinya, serta tumbuh kepeduliannya kepada sesama terutama pada kaum duafa. Itu semua buah dari ketakwaan yang diraih selama ramadhan dan dipraktikkan pasca ramadhan dengan istiqamah.

Pandemi Covid-19 tidak mengubah makna lebaran idul fitri hanya beberapa tradisi yang berubah seiring dengan kebutuhan untuk mencegah penyebaran virus korona baru penyebab Covid-19 ini. Di masa pandemi Covid-19, tradisi lebaran masih masih bisa dijalankan merki harus menggunakan tata cara yang tidak melanggar protokol kesehatan. Di sisi lain, banyak hal positif baru yang bisa dilakukan tanpa harus mudik ke kampung halaman.

Pada masa pandemi ini, subjek ditempatkan pada situasi seolah-olah akan menghilangkan kultur yang sudah berjalan bertahun-tahun. Padahal, tetap bisa dilakukan dengan cara yang berbeda. Momen ramadhan dan idul fitri biasanya identik dengan ziarah kubur.

Pada masa pandemi ini hal tersebut tetap bisa dilakukan dengan cara membacakan tahlil dari rumah begitu pula dengan tradisi sungkeman, masyarakat dinilai masih bisa melakukannya tanpa harus bersentuhan fisik atau berkerumun, jika bertemu sesama dijalan tetap sampaikan mohon maaf lahir batin, tidak usah bersalaman tetapi memberikan isyarat tubuh yang baik dan sopan.

Padahal upaya yang sama juga bisa dilakukan saat melakukan salat tarawih dan salat id selama ini tidak ada larangan untuk melakukan salat sunnah tersebut. Masyarakat tetap bisa melakukannya di rumah baik secara mandiri maupun berjamaah di rumah. Yang terpenting adalah menjaga kebersihan itu namanya kita sedang menajga jiwa. Menjaga jiwa adalah tujuan syariah yang paling besar.

Umat muslim di dunia termasuk di Indonesia tahun ini, mengalami suasana yang berbeda, dalam merayakan hari raya Idul Fitri. Pandemi covid-19 tidak mengubah makna lebaran namun, sebagian tradisi berubah seiring dengan pencegahan penyebaran virus corona baru penyebab pandemi.

Beberapa hal baru yang terjadi saat ini di antaranya: larangan mudik, shalat idul fitri pun diminta di gelar di rumah dan kebiasaan silaturahim dilakukan melalui piranti daring. Lantas, bagaimana cara masyarakat memaknai hari raya idul fitri di tengah pandemi covid-19 ini?

Dengan kata lain, wabah ini harus menjadikan pribadi muslim menjalani hidup sesuai nilai dan etika sosial yang diajarkan agama. Pandemi bukan membuat kita kehilangan rasa empati. Saling menolong, gotong royong, silaturahim dalam arti mengenal lebih dekat kesulitan saudara-saudara kita serta saling menguatkan dan memberi dukungan.

Dan inilah momentum guna menghadirkan manfaat dan keberkahan bagi masyarakat bangsa dan negara. Wabah ini harus mentransformasi kesadaran kita bahwa diluar takdir kehendak Allah untuk menguji hamba-Nya, melalui wabah ini Allah SWT ingin agar kita mengukuhkan kebersamaan serta memperkuat persatuan dan kesatuan untuk menyelesaikan masalah-masalah kemanusian.

Kuat iman dan kepribadiannya, bersih hati dan pikirannya, halus budi pekertinya, serta tumbuh kepeduliannya kepada sesama terutama pada kaum dhuafa. Itu semua buah dari ketakwaan yang diarih selama ramadhan dan di praktikkan pasca ramadhan dengan istiqamah.

 

Memaknai Upaya

Berkumandangnya takbir pada akhir Ramadhan nanti memberi pertanda bahwa hari-hari penuh dengan keprihatinan dengan kesadaran penuh itu telah berakhir. Setelahnya apa yang ada dalam diri kita menjelma bukti. Apakah kita beralih lebih baik ataukah justru mengalami kemersotan psikologis?

Hal ini akan mendorong untuk senantiasa minta ampun atas segala dosa. Demikian pula terkait dengan sesama manusia akan mendorong individu untuk dengan ikhlas minta maaf dan memaafkan.

Momen bermaafan mengandung nilai pengakuan salah, yang berarti juga kejujuran atas kelemahan diri. Selain kejujuran, ada nilai keterbukaan juga. Terbuka dalam mengakui kesalahan dan terbuka dalam menerima permintaan maaf. Kelonggaran hati yang sangat penting dalam mewujudkan pemaafan yang ikhlas.

Keikhlasan ini diharapkan tetap terbawa pascalebaran, sehingga individu akan selalu merasa lega dan jauh dari beban yang menggerogoti hati serta perasaannya. Rasa lega yang akan membuat hidup selalu penuh keceriaan, jauh dari kemurungan, selalu bersemangat dan optimis.

Ujung dari segala perasaan tersebut adalah munculnya kualitas kehidupan yang semakin tinggi, termasuk makin meningkatnya derajat kesehatan fisik dan psikis. Spiritual individu juga makin meningkat seiring terlatihnya diri untuk senantiasa beribadah saat bulan Ramadhan.

Ukuran nilai psikologis puasa yang bermuara pada idul fitri menunjukkan manfaat luar biasa yang diterima oleh umat Islam pada saat merayakan Lebaran setelah beribadah selama Ramadan.

Secara riil hal ini akan membuat masyarakat Indonesia lebih mudah dalam upaya mencapai kesejahteraan fisik maupun psikologis, sehingga mampu mewujudkan cita-cita masyarakat utama yang adil makmur dan merata. Meski demikian, di belakangnya ada hal-hal yang mengintai kebermaknaan ritus-ritus kita menjelang akhir puasa ini.

Menjelang akhir puasa ini, ketika informasi dan ekonomi berpadu-padan, arus informasi tak turut berhenti seiring mengendurnya tekanan. Justru momentum puasa membuka peluang bagi pihak manapun untuk mencari keterlibatan dalam pusaran aktivitas ekonomi dengan kemasan religius.

Sejalan dengan itu, Garin Nugroho, sineas sekaligus budayawan Indonesia memberi afirmasi pada fenomena ini dalam esainya yang berjudul Industrialisasi Puasa. Menurut Garin, ”Sesungguhnya puasa bukanlah sekedar tidak makan minum selama sebulan penuh, tetapi merujuk perilaku manusia muttawin, yakni nilai keutamaan manusia seperti tidak tamak, toleran, sabar, dan lain-lain. Dengan kata lain, puasa adalah sebuah perlawanan terhadap hasrat-hasrat konsumerisme.”

Karena itu, meski puasa adalah momen suci bagi umat Islam, kadangkala ada banyak hal yang mencampurinya. Ironisnya, ketika puasa ditujukan agar kita lebih banyak melakukan aktivitas menahan dan mengendalikan, ada tangan-tangan yang ingin mendorong banyak pihak lebih sering melakukan transaksi berlebih, atau cenderung konsumtif.

Namun, pokok dari hasrat konsumerisme dalam esai Garin, tidak terbentuk dalam semalam. Hasrat konsumerisme di masa kiwari, tentu dibentuk dari pusaran informasi yang bertebaran di semesta digital. Di masa-masa sekarang, kecanggihan teknologi informasi dan kreativitas mendorong upaya memikat massa menjadi subjek konsumen.

Godaan-godaan dari produksi informasi ini memang terkadang melenakan. Sebab, hidup kita sekarang seolah telah berpindah ke jagad digital. Terutama di waktu-waktu ketika pandemi menuntut kita menjaga jarak dan mengelola mobilitas lebih minim, digitalisasi hasrat menjadi niscaya. Informasi pun disebar demi sebuah transaksi yang lebih intens.

Selain itu tak bisa dipungkiri bahwa ledakan informasi memberi faktor kuat beragamnya preferensi konsumen. Derasnya arus informasi mendongkrak riuhnya hasrat sampai ke taraf-taraf yang nyaris overload. Tak sedikit orang kemudian gamang membelanjakan materi demi barang. Akibatnya, perilaku konsumtif merajarela, bahkan dalam momentum puasa hingga lebaran ke depan.

Perilaku inilah yang sebisa mungkin ditekankan dalam konteks berpuasa di masa-masa sekarang. Informasi dan hasrat konsumerisme seperti menyelinap ke dalam kognisi kita. Pengendalian diri pun tak lagi sekedar menahan haus dan lapar, tapi juga membekali diri dengan referensi kuat agar tak terjerembap pada tanda-tanda konsumerisme yang melenakan.

Dan religiusitas kita, kini tak bisa sekedar disandarkan pada ritus-ritus pada umumnya. Keseimbangan puasa di bulan Ramadhan di era termutakhir adalah soal memberi porsi lebih pada diri sendiri dengan ruang-ruang introvert dari semesta digital yang bising dengan banyaknya tanda-tanda konsumerisme.

Pada gilirannya, ruang-ruang introvert itulah salah satu perangkat terpenting dalam upaya penguatan diri. Sebab, dalam ruang-ruang introvert yang dibentuk secara sadar inilah moralitas reflektif dibangun dengan sengaja lantas memberi kesempatan pada otonomi individu untuk kembali ke dalam masyarakat dengan keadaan yang lebih baik.