Tibayan, Desa Tua Nan Subur di Hulu Air Merapi

Jeruk menjadi komoditas unggulan, wisata desa berbasis agro Desa Tibayan, Kecamatan Jatinom. MUHAMMAD ANSORI

Adalah Tibayan, sebuah desa di kaki Gunung Merapi, atau sekitar 15 km, dan termasuk dalam wilayah Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten. Tibayan berbatasan dengan Desa Bengking, Glagah, Mranggen, dan Randulanang.

Pada 2021, desa yang berada di ketinggian kisaran 800 mdpl ini memiliki jumlah penduduk 3.776 jiwa dan terbagi menjadi 24 Rukun Tetangga (RT). Sebagai daerah yang memiliki kesuburan tanah dikarenakan letak geografis maupun faktor seringnya mendapat taburan abu Merapi ketika erupsi, sebagian besar penduduk Tibayan, di antaranya adalah petani dan peternak sapi. Bahkan dari sejumlah 1232 kepala keluarga (KK) yang ada, lebih dari 400 Kepala keluarganya merupakan petani ladang kering yang sekaligus sebagai peternak-terutama sapi.

Di antara potensi besar yang dimiliki Tibayan adalah potensi di bidang pertanian dan peternakan, selain potensi kultur masyarakat desa yang masih menjaga berbagai tradisi maupun adat kebiasaan gotong royongnya. Jika dihitung menggunakan hitungan kasar, terdapat sekitar 400 KK yang beternak sapi, sedangkan masing-masing KK rata-rata memiliki 2-3 ekor sapi maka lebih dari 800 ekor sapi yang dipelihara oleh warga Tibayan.

Jadi, sangat wajar jika Pemerintah Desa Tibayan mencanangkan ‘Wisata Desa’ dengan basis agro yang menitikberatkan jeruk sebagai destinasi pembangunannya. Carik Wiji, Sekretaris Desa Tibayan berpandangan, dipilihnya jeruk sebagai pilihan destinasi, mengingat dekade 1980-1990, Tibayan merupakan supplier jeruk terbesar di Kabupaten Klaten. Jeruk dianggap sebagai tanaman agro yang sangat potensial untuk kembali dikembangkan di Tibayan. Meski tidak menutup kemungkinan untuk dikembangkan komoditas lain, karena kesuburan tanah Tibayan.

Asal-Usul Tibayan

Suyati, Kepala Desa yang memimpin Tibayan sejak 2007 sampai sekarang (2021), menjelaskan, asal-usul Desa Tibayan belum tercatat secara jelas. Meski begitu, Tibayan memiliki jejak sejarah yang sangat tua ditandai adanya situs Candi Montelan.

Menurut cerita yang dirangkum dari para sesepuh Tibayan, kata ‘tibayan’ berasal dari kata ‘setro’ dan ‘banyon’ atau ‘setrobanyon’. ‘Setro’, ada pula yang menyebutnya ‘sastro’ merupakan nama penduduk masa awal. Sementara ‘banyon’ berakar dari kata ‘banyu’ (air). Tibayan memang memiliki beberapa hulu sumber air yang oleh warga setempat sering diistilahkan dengan ‘tuk banyu’. Selain sumber air, Tibayan menjadi hulu dari aliran sungai Tibayan yang debit airnya masih terjaga kejernihannya, sampai saat ini.

Dari Setrobanyon kemudian mengalami disimilasi bahasa menjadi Trobayan. Sedang kampung Trobayan yang menjadi kampung cikal bakal Tibayan, saat ini menjadi Dukuh Tibayan itu sendiri.

Dari sumber lain, Suwandi, Kepala Desa Tibayan periode 1986-1994, membenarkan penuturan tentang asal-usul Tibayan dari kata ‘setrobanyon’ yang berubah menjadi ‘trobanyon’, ‘trobayan’, lalu ‘tibayan’ seperti yang dikenal saat ini. Akan tetapi, belum jelas sejak kapan nama-nama tersebut mengalami perubahan.

Masih menurut Suwandi, sebelum Tibayan menjadi desa seperti sekarang, dahulu penduduk Trobayan bertempat tinggal secara berkelompok di sekitar sumber air seperti kali (sungai) Tibayan, kedung (embung) Bogo, kedung Asem (perbatasan dengan Desa Glagah). Ada pula yang berkelompok di sekitar punden, berupa mata air yang terletak di bawah pohon ketapang, sebelah timur jembatan penghubung Tibayan-Cawan.

Masyarakat Tibayan sampai saat ini masih menjaga sejarah dan kesakralan punden melalui acara bersih desa yang diselenggarakan pada setiap tahunnya. Pada rangkaian acara bersih desa sekaligus berkirim doa untuk para leluhur Desa Tibayan. Dari beberapa kelompok masyarakat tersebut kemudian berkembang menjadi beberapa kampung (tua) di wilayah Tibayan, di antaranya Trobayan (Tibayan), Montelan, Karang, Soronayan, Doboyo (Nglondo), Goboyo (Bogo), dan Kalangon (Klangon).

Dalam perkembangannya, terang Suwandi, ada versi lain yang menyebutkan bahwa Tibayan berasal dari bahasa Arab, yaitu ‘Tabayun’. Tapi istilah ini sangat minim referensi dan data sejarah..

Pada era Kolonial Belanda, sekitar tahun 1930-an, Tibayan dipimpin oleh Somodimejo sebagai Lurah pertama dengan Carik bernama Sastro Suwiryo. Sastrodimejo kemudian dipindahkan menjadi Lurah di Mranggen sampai dengan meninggal, dan Lurah Tibayan digantikan oleh Sastro Suwiryo.

Sejak diangkatnya Sastro Suwiryo sebagai Lurah atau Kepala Desa pada tahun 1945 sampai 1986, Tibayan tercatat secara administratif sebagai Desa. Setelah berakhirnya periode Sastro Suwirto, Tibayan memulai proses pemilihan Kepala Desa secara demokratis melalui pemilihan secara langsung dan terpilihlah Kepala Desa Tibayan secara berturut-turut, yakni Suwandi (1986-1994), Tri Suseno (1994-2007), dan Suyati (2007 sampai sekarang).

Situs Candi Montelan

Oleh masyarakat sekitar, Candi Montelan disebut ‘gumuk’, karena berada di atas Jurang Jondil sekaligus berada pada pertemuan antara jurang dan sungai Tibayan. Candi Montelan masuk dalam wilayah Dukuh Montelan.

Candi Montelan diyakini lebih tua dari Candi Prambanan. Perkiraan ini diperkuat dengan pernyataan pamong budaya Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah, Deny Wahyu Hidajat, bahwa situs Candi Montelan satu masa dengan Candi Jaden dan dibangun pada masa Mataram Kuno atau kisaran abad ke-9.

Selain sangat tua, situs candi Hindu tersebut bisa diperkirakan lebih luas dan lebih besar dari yang terlihat kini. Hal itu ditandai dengan seringnya warga setempat menemukan batuan candi, baik berupa batuan isi, batu takik, bahkan yoni dan berbagai batu dengan ornamen mirip candi, pada radius ratusan meter dari situs utama.

Beberapa temuan tersebut ditata tidak jauh dari pos ronda di Dukuh Montelan. Peristiwa penemuan batuan mirip ornamen candi sampai saat ini masih beberapa kali dijumpai, terutama ketika warga melakukan kegiatan penggalian tanah.

Kesaksian lain diberikan oleh Mbah Ratno (82 tahun), salah satu warga sepuh Montelan. Saat Mbah Ratno kecil, bangunan tersebut masih berwujud candi, meski tidak sempurna. Tapi, karena berbagai faktor, baik karena kenakalan manusia maupun karena faktor bencana alam, kini bangunan tersebut hancur tak tertata dan bahkan terkesan kurang terawat.

Dulu, sekitar gumuk menjadi daerah yang wingit (angker), sehingga tidak semua orang berani bermain ke sana. Kalau pun ada yang berani, mereka sangat menjaga etika selama di daerah gumuk. Bahkan para pemilik lahan sekitar waktu itu tidak berani menggarap atau membajak tanahnya menggunakan sapi. Ini disebabkan adanya peristiwa kejadian beberapa kali sapi yang digunakan untuk membajak tanah tidak lama kemudian, mati. Para petani penggarap sekitar gumuk pun hanya menggunakan tenaga manual dan alat pertanian sederhana seperti cangkul dan sabit.

Mbah Ratno bertutur, pada awal 1980-an, atau mungkin sebelum tahun-tahun itu, warga pernah menemukan patung Gadjah Mada dan arca sapi (nandi) saat menggali tanah di belakang masjid di dukuh setempat. Oleh warga, patung tersebut ditaruh di pinggir jalan salah satu tikungan Dukuh Montelan. Tapi sayang, beberapa waktu kemudian patung yang sangat bernilai tersebut hilang dicuri oleh orang yang tak bertanggung jawab. Bahkan hilangnya bebatuan candi bukan peristiwa pertama dan juga bukan satu-satunya.

Candi Montelan, salah satu destinasi wisata sejarah Desa Tibayan. MUHAMMAD ANSORI

Faktor lain atas hilang dan rusaknya situs Candi Montelan dipengaruhi pula oleh tersiarnya kabar pada tahun 1980-an bahwa di sekitar gumuk candi terdapat harta karun berupa emas, permata, bahkan pusaka, sehingga banyak orang yang melakukan berbagai ritual, baik secara kebatinan maupun aktivitas fisik, untuk menemukan harta karun tersebut. Dari aktivitas itu, selain berakibat makin rusaknya struktur candi, juga hilangnya beberapa bagian candi.

Akhir tahun 2019 sampai awal 2020, Candi Montelan kembali ditata oleh Komunitas #PEDULIKLATEN bersama Klaten Heritage Community serta berbagai relawan lain. Tapi sayangnya, rencana penataan candi yang disambut baik Pemerintah Desa Tibayan, BPCB, maupun Balai Arkeologi beserta masyarakat setempat tersebut terhalang dan mandek setelah proses penataan kedua dikarenakan pandemi Covid-19.

Pada 2020, BPCB serta Balai Arkeologi Jawa Tengah dan DIY pernah melakukan pengecekan dan pendataan ulang atas keberadaan Candi Montelan, tapi masih belum berproses labih lanjut dikarenakan pandemi.

Terlepas dari lika-liku perjalanan Candi Montelan, Pemerintah Desa Tibayan telah mencanangkan Candi Montelan sebagai salah satu destinasi wisata budaya dan sejarah Desa Tibayan. Semoga visi Tibayan menjadi wisata desa berbasis agro segera terwujud.

Add Comment