Pemaafan, Sebuah Pranata Psikologis Masyarakat Beradab

Ilustrasi pemaafan. MEDIUM

Pada trimester pertama 2021, kita kembali dikejutkan oleh aksi-aksi teror. Tragedi kemanusiaan yang mewakili permusuhan tanpa ujung pangkal antar-beberapa pihak, bahkan dengan pijakan ideologis. Aksi teror tersebut jelas mengguncang nurani kita, tanpa harus berargumentasi panjang tentang motif, modus operandi, atau implikasinya.

Bagi saya, sekian lama merdeka, sebagian masyarakat kita ternyata belum benar-benar mampu mengentaskan kebencian, berikut praduga negatif yang sungguh merusak keharmonisan berbangsa dan bernegara. Sebuah cara pandang tentang ketidaksukaan yang dilestarikan, tanpa ada ruang sedikit pun untuk ‘pemaafan’.

Prosiding berjudul Dimensions of Forgiveness: A Research Approach (1998) yang dieditori Guru Besar Psikologi Klinis Virginia Commonwealth University (VCU), Everett L. Worthington, Jr. memuat tulisan Robert D. Enright dan Catherine T. Coyle berjudul ‘Researching the process model of forgiveness within psychological interventions’.

Enright dan Coyle berpandangan, pemaafan merupakan sebuah proses interpersonal. Sebuah proses yang sering kali muncul dalam hubungan antarindividu daripada dengan sebuah objek atau kejadian. Keduanya mendefinisikan pemaafan sebagai kesiapan untuk melepaskan hak yang dimiliki seseorang untuk meremehkan, menyalahkan, dan membalas dendam kepada pelaku yang telah bertindak tidak benar, dan pada saat yang bersamaan mengembangkan kasih, murah hati, bahkan cinta terhadap pelaku.

Dalam karyanya yang lain, ‘Forgiveness and justice: a research agenda for social and personality psychology’ yang ditayangkan National Center for Biotechnology Information, Worthington menulis, jika korban benar-benar siap memberi maaf, ia melakukan penggantian emosi negatif, seperti marah atau takut, dari transgresi yang telah dipersepsi individu atau keengganan untuk memaafkan (unforgiveness), ke arah emosi positif, seperti empati, simpati, belas kasih, dan cinta.

Emosi positif, lanjut Worthington, pada awalnya akan menurunkan intensitas emosi negatif. Jika penggantian emosi yang terjadi berlangsung cukup lama dan cukup kuat, keengganan untuk memaafkan akan berubah. Penggantian emosi pun terjadi, sehingga individu merasakan kedamaian. Usaha individu untuk beralih dari keengganan untuk memaafkan ke pemaafan merupakan modifikasi yang melibatkan respons-respons emosi yang muncul dalam dirinya. Modifikasi ini tentunya melibatkan regulasi emosi.

Man Yee Ho, Daryl R. Van Tongeren dan Jin You (2020) dalam jurnal Frontiers Psychology 11: 1084 berjudul ‘The Role of Self-Regulation in Forgiveness: A Regulatory Model of Forgiveness’ membahas bahwa regulasi emosi dapat digunakan untuk menurunkan emosi negatif setelah pelanggaran interpersonal. Dalam regulasi emosi melibatkan proses kognitif yang kompleks dalam memberi respons terhadap peristiwa emosional yang melibatkan upaya untuk mengubah pengalaman emosional individu, peristiwa dan atau tipe emosional. Individu akan mengubah pemahaman mereka tentang peristiwa emosional dengan memberikan makna baru pada peristiwa tersebut serta membingkai ulang peristiwa yang berpotensi menimbulkan emosi.

Konsep lain umum dari regulasi emosi disampaikan Nadia Garnefski dkk. (2001) dalam tulisan berjudul ‘Negative life events, cognitive emotion regulation and emotional problems, Personality and Individual Differences’ yang ditayangkan American Psychological Association menyebutkan bahwa dalam mengelola dan mengatur emosi tentunya melibatkan proses kognitif atau disebut kognitif regulasi emosi, bila cara adaptif yang digunakan maka jauh membuat seseorang untuk tidak cemas dan depresi.

Transformasi emosional dari emosi negatif ke emosi positif tentunya tidaklah terjadi secara alami atau mudah. Individu harus mengatasi kecenderungan alami mereka untuk menanggapi orang yang bersalah. Namun, mengingat pentingnya pemaafan dalam tatanan peradaban bermasyarakat maka perlu meneladani Rasulullah Muhammad SAW

Regulasi emosi adalah semua proses ekstrinsik dan intrinsik yang bertanggung jawab untuk mengawasi, mengevaluasi, dan memodifikasi reaksi-reaksi emosional, khususnya pada kedalaman dan jangka waktu reaksi, dalam mencapai tujuan individu.

Memberi maaf adalah hal yang penting, bukan hanya untuk seseorang, tapi juga bangunan kemasyarakatan. Penggantian emosi, dari negatif menjadi positif, lantas seseorang menjadi damai, merupakan energi penting untuk membawa masyarakat ke arah yang lebih baik.

Meneladani Rasulullah Muhammad SAW

Bagi Muslim, juga seluruh umat manusia, perihal pemaafan, Rasulullah Muhammad SAW dapat dijadikan teladan sepanjang masa. Gambaran tentang Sang Rasul yang sungguh pemaaf disampaikan seorang pemikir Islam ternama, Fazlur Rahman, atau disebut juga Afzalur Rahman, dalam Muhammad, Encyclopaedia of Seerah Volume 1 terbitan 1981.

Muhammad, tulis Fazlur Rahman, tidak pernah membalas dendam. Rasulullah SAW memaafkan semua musuh serta memperlakukannya dengan hormat dan bermartabat. Ia berkata, “Tuhanku telah memerintahkanku untuk memaafkan para penyerang saya, meskipun saya memiliki kekuatan untuk membalas dendam.”

Tentu tidak mudah membangun budaya pemaafan. Negeri Fazlur Rahman bernama Hazara yang kini menjadi bagian dari Afghanistan, porak poranda akibat perang yang belum juga selesai. Penulis genius itu menampilkan sisi terbaik buah pikirnya tentang pemaafan yang lahir dari sejarah perang sepanjang hidupnya. Ya, bukan berarti tidak bisa. Karena pemaafan, sebuah masyarakat beradab akan hadir.

Tidak terkecuali, untuk Indonesia yang sangat kita cintai. Begitu banyak catatan buruk tentang kekerasan yang semoga tidak lagi terulang, karena upaya pemaafan yang terus digalang. Mulai dari saya, mulai dari Anda, mulai dari keluarga, dan mulai dari kita semua.

Add Comment