Hari Kartini, Momentum Literasi Perempuan

Perpustakaan, salah satu indikator keberhasilan literasi. STIKES Muhammadiyah Klaten

Indonesia menempati peringkat kedua dari bawah setelah Botswana untuk rendahnya minat berliterasi. Sebuah fenomena tentang rendahnya kesadaran perempuan untuk eksis menunjukkan potensi diri.

Di negara maju, seperti Finlandia, jumlah jurnalis perempuan mencapai 49 persen. Sementara di Indonesia, keterlibatan perempuan dalam industri media massa masih sangat jauh. Hal ini terjadi karena berbagai faktor. Pertama, rendahnya minat literasi perempuan. Kedua, kurangnya akses perempuan ke media massa. Ketiga, lingkungan yang membentuk perempuan itu sendiri.

Proyek modernisasi menggeser nilai-nilai baik yang terkandung dalam sebuah upaya pendidikan masif. Munculnya produk-produk terobosan teknologi komunikasi seperti gawai menggeser komunikasi verbal, kontak mata, dan sentuhan fisik. Semua terganti secara virtual digitalis.

Produk-produk visual mendominasi telak untuk sebuah industri komunikasi. Tak bisa dipungkiri ini jauh lebih menarik dan diminati, terlebih kaum milenial. Akhirnya, secara perlahan dan pasti, kebiasaan dan karakter hobi membaca bergeser menjadi hobi penikmat konten video.

Apalagi, media-media di Indonesia tidak bosan mengangkat stereotipe perempuan dan melekat dalam berbagai tayangan, seperti sinetron, infotainment, telewicara, hingga berita. Gambaran tentang perempuan pemarah, pencemburu, dan pendendam ada dalam tayangan sinetron.

Tayangan infotainment memprogandakan pasangan sebagai hal yang paling penting dalam kehidupan perempuan. Jika seorang artis perempuan tidak berpasangan maka ia akan terus dikejar-kejar pertanyaan pekerja infotainment. Status lajang menjadi status buruk bagi perempuan yang dilekatkan oleh infotainment di televisi kita.

Hal lainnya adalah status cantik yang melekat dalam industri media televisi. Siapa saja yang tampil menjadi selebritas di televisi harus selalu cantik. Jika tak cantik maka ia akan mendapatkan ejekan tak seksi, kurang putih, wajah kurang menjual, atau kalah pamor dari perempuan cantik lainnya.

Perempuan Menulis

Untuk itu, perempuan menulis kini sebuah keniscayaan. Perempuan yang tidak bisa dan tidak biasa menulis akan kehilangan cara menunjukkan jejak kiprahnya. Setiap generasi membutuhkan referensi gerakan para pendahulunya untuk mengkomparasi tingkat keberhasilan, lalu mendorong lahirnya terobosan-terobosan baru dan temuan dalam pergerakan.

Gerakan sosial perempuan akan menguap jika tidak terekam dalam jejak digital. Itulah sebabnya media memegang peran penting dalam mendokumentasikan segala bentuk manuver pergerakan perempuan.

Selama ini, media menempatkan posisi perempuan sebagai obyek pasif dan asing di tengah meriahnya gebyar teknologi. Perempuan hanya pemuas kepentingan patriarki, akumulasi modal, juga sebagai model visualisasi obyek hasrat. Sesekali sebagai obyek reportase politik, tapi lagi-lagi dampak yang muncul tidak berpihak pada perempuan itu sendiri.

Michel Foucault, seorang pemikir berkebangsaan Prancis berpandangan bahwa tubuh merupakan pusat kenikmatan dan sensasi. Artinya, tubuh menjadi politis, akibatnya menjadi arena kekuasaan. Dalam konteks kekuasaan kapitalisme melalui industri medianya, tubuh perempuan dikategorisasi dan diidealisasi menjadi bukan sekadar tumpukan daging, melainkan melibatkan penilaian atas dasar seksualitas dan erotisme di dalamnya.

Untuk itulah mengapa harus mulai berpikir bagaimana ia menjadi subyek aktif. Mem-branding diri sebagai pelopor pergerakan dan perubahan setidaknya dalam ranah kecil keluarga. Perempuan harus menulis. Perempuan penulis akan mempunyai daya tawar eksklusif di kehidupan sosialnya.

Kartini, Sosok Perempuan Menulis

Kartini adalah sosok perempuan menulis. Karyanya Habis Gelap Terbitlah Terang adalah contoh karya seorang perempuan tangguh yang menceritakan kehidupan dan kesulitan-kesulitan pada zamannya. Dari karya itu, kita bisa melihat bagaimana cara berpikir Kartini, bentuk keaktifannya di kehidupan sosialnya, karakter pergerakannya, dan cita-cita serta keresahannya. Pada zamannya, saat perempuan harus tunduk pada bendera patriarki, seorang Kartini begitu memiliki nama yang disegani, meskipun banyak muncul pertentangan.

Perempuan menulis berarti perempuan melibatkan diri dalam ranah media massa. Menulis adalah aktivitas literasi di mana perempuan sebagai subyek menuangkan ide-ide dan gagasannya pada sebuah tempat yang tepat bernama media. Ia bisa menjadi penulis lepas atau pun menjadi jurnalis. Namun sayang, perbandingan jumlah jurnalis dan jurnalis laki-laki masih sangat jauh. Menurut riset Aliansi Jurnalis Independen, di antara 10 orang, 2-3 di antaranya adalah jurnalis perempuan.

Menulis merupakan hasil reviu apa yang kita baca, kita lihat, dan kita rasakan. Jika minat membaca telah bergeser maka kecenderungan untuk menulis pun akan menipis. Padahal, perempuan harus menulis, tak lagi bisa ditawar.

Media massa berfungsi menyampaikan fakta. Karena itu, gambaran perempuan dalam media massa merupakan cermin realitas yang ada dalam masyarakat. Mengharapkan setara dalam segala sesuatu adalah sebuah utopia. Meskipun kaum perempuan bisa saja berdalih itu adalah cita-cita dan perjuangan.

Ketimbang mempersoalkan terus-menerus mengenai kesetaraan gender, feminis-maskulin, alangkah lebih baiknya jika perempuan lebih menunjukkan prestasi, karya, kecakapan, dan peran dalam masyarakat yang tidak kalah dengan kaum laki-laki. Gambaran ideal tentang perempuan pun akan tampil dalam media massa. Dan perwujudan nyata prestasi perempuan yang bisa langsung terekspose media adalah karya tulisnya.

Selamat Hari Kartini. Teruntuk para perempuan yang siap sakit dan perempuan-perempuan yang pandai meracik sendiri obatnya. Pergerakanmu tak akan dibaca generasimu tanpa kau tulis. Ayo menulis.

Bahan Bacaan

Dwi Asrini . 2013,’ Gender dalam Konteks Teori Struktural-Fungsional dan Teori Sosial Konflik’. Makalah Universitas Surakarta.

Michel Foucault. 2002. Kuasa/Pengetahuan. Yogyakarta: Bentang Budaya.

Add Comment