Tembakau, Kopi, dan Kebermaknaan Hidup Kaum Pekerja

Foto: Indonesia.go.id

Kelembaman matahari, menjadi pertanda awal bagi para pekerja, buruh, dan petani untuk mempersiapkan diri mengais rezeki di kehidupan yang semakin pekik. Tanpa rasa takut dan putus asa tampak dari wajah mereka, yang terus merajut asa dengan harap keturunan mereka jauh dari penderitaan seperti kehidupan mereka yang sedang ia jalani. Sering terlintas dalam pikiran mereka, apa sebenarnya arti dari kehidupan? Takdirkah? Atau tertindaskah? Setiap hari terlintas dalam pikiran mereka, dan ada beberapa obatlah yang bisa mengurangi rasa sakit itu.

Kerja, Kerja dan kerja. Itulah semboyan yang terpatri dalam diri mereka. Tidak ada yang bisa diharapkan dan dipercayakan lagi selain dengan memperkuat motivasi diri untuk bekerja. Kotor, bau, kucuran keringat dan mengorbankan nyawa, menjadi bagian dari kehidupan seorang pekerja untuk mengasi rupiah demi kelanjutan hidup mereka. Wejangan agama sering mereka dengarkan untuk melipur lara dan untuk tetap meniti jalan yang kadang perih.

Berangkat petang pulang petang, sudah menjadi hal yang wajib mereka lakukan dan sering ia lupa terhadap kesehatan mereka. “Tubuh ini harus bekerja, kerja dan kerja sampai tak bisa lagi digunakan,” wejangan seorang penjual koran yang rawan tertimbun oleh eksistensi surat kabar media elektronik yang telah menjamur. “Hanya itu yang bisa saya lakukan pak, dari pada mencuri di negeri sendiri, syukur tidak dihakimi.”

Bertemu dengan keluarga sangatlah cukup untuk menambah ghirah bekerja agar bisa bekerja lebih giat. Memberikan semangat dan didikan kepada sang anak tak lupa dilakukan oleh para Bapak buruh dan petani, untuk mendorong anaknya agar senasib lebih baik dibanding mereka.

Setiap malam ia selalu berdiskusi dengan istrinya untuk memberikan sedikit wejangan dan beberapa opsi diskusi untuk kehidupan mereka yang lebih baik, tak lupa selinting tembakau yang ia beli di pasar dengan harga murah untuk mengatasi kenaikan tembakau. Tidak ada kata lain selain mencari jalan lain untuk membeli tembakau.

Tembakau bagi mereka adalah sebuah hiburan untuk menenangkan beberapa tekanan kehidupan selain penggunaan narasi-narasi religiusitas. Kalau sampai harga tembakau kiloan naik, matilah sudah hiburan bagi kaum pekerja. Tak lupa secangkir kopi yang setia menemani perbincangan hangat malam mereka. Sang pekerja juga merenung terkait dengan koran yang menyampaikan bakal ada kenaikan harga kopi. Semakin pusing ia dibuat oleh entitas yang kadang melatih kesabaran mereka.

Selepas pulang kerja, bersama-sama kawan, mereka membakar satu linting tembakau yang sarat akan keakraban dan penuh dengan wawasan yang akan terpantik. Setiap hisapan akan memaksa mereka untuk memaparkan beberapa narasi-narasi terkait dengan kehidupan ini. Sungguh ajaib, fungsi dari tembakau ini dan tak banyak yang membenci ciptaan tuhan tersebut.

Isu-isu pemberitaan sekalipun dapat dibahas dan dipecahkan dengan membakar selinting batang rokok dan secangkir kopi. Dengan secangkir kopi dan selinting rokok akan melumasi dan akan membuka perbincangan skala nasional maupun global. Tak pelak isu-isu strategis yang sering menghantui para buruh dan petani -RUU Omnibuslaw dapat terungkap dan tercerdaskan walaupun media acuh dan cenderung menutupi dengan isu-isu se-strategis tersebut.

Kopi dan tembakau tidak bisa dipisahkan oleh sebagian kehidupan kaum pekerja. Kedua ciptaan Tuhan tersebut sebagai bentuk anugrah yang wajib disyukuri. Dengan menghisap beberapa linting tembakau ia bisa hidup dan bekerja lebih giat. Walaupun kaum-kaum yang mengaku terpelajar kadang selalu mengkambinghitamkan rokok sebagai penyebab dari penurunan kualitas kerja masyarakat.

Yang ia tahu rokok adalah suplemen yang dapat memacu ghirah bekerja dan menghindarkan diri dari kuldesak. Rokok sering menjadi doping untuk mengamati celah realitas kehidupan yang bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan keuntungan. Mungkin tepatnya, ini bukan sebuah ketergantungan, melainkan tentang kebermaknaan yang ia dapat dari hisapan demi hisapan.

Kakek berusia 78 tahun yang sering ditemukan di pelosok desa yang sebagian besar bekerja sebagai petani, dengan rileks menghisap rokok mereka yang secara simultan dapat meningkatkan kinerja mereka. Usia bukanlah alasan, prinsip jawa –mati wes ono seng ngatur le!. mematahkan pernyataan yang kurang menyenangkan tentang rokok.

Sekelas Enstein yang mempunyai pengetahuan dan nalar yang luar biasa juga seorang perokok, begitu pula orator tergarang sepanjang masa Ir. Soekarno, tak lupa dan segan untuk menghisap ciptaan Tuhan yang luar biasa nikmatnya yaitu tembakau.

“Terima kasih tuhan telah menciptakan Tembakau dan kopi bagi kami sang penikmat ciptaanmu.”