Resiliensi Kampung Nelayan

Foto: Sahabatnestle.co.id

Segenggam optimisme harus terus kita pertahankan, meski itu tak seberapa. Pandemi ini membuktikan bahwa tanpa optimisme, upaya apapun terasa berbeda. Begitu pula dengan dunia kemaritiman, meski pandemi menerjang, buktinya budaya maritim kita mempertunjukkan daya tahan yang luar biasa.

Belum genap setahun berlalu, pada Oktober lalu kampung nelayan di Gresik memberi bukti jika budaya maritim yang terus mereka genggam erat dengan optimisme mampu menerjang badai pandemi. Para nelayan yang menempati kawasan Pangkahwetan sempat menjadi sorotan karena berperan besar mencegah penyebaran virus Corona terbaru, Covid-19.

Kampung nelayan di Desa Pangkahwetan merupakan salah satu kampung yang sering dijadikan destinasi wisata di Gresik. Kampung nelayan ini memiliki tempat pemancingan dan beberapa tempat yang menarik untuk dikunjungi. Ketika pandemi datang, mereka tetap membuka diri dengan persyaratan ketat, termasuk mengenai protokol kesehatan.

Menariknya, meski membuka tempat wisata yang merupakan hasil dari pengembangan turisme lokal, budaya setempat juga tak ditinggalkan. Pendapatan hasil dari turisme kemudian tak membuat mereka kelimpungan, justru mereka malah cepat menyesuaikan diri dengan keadaan. Inilah yang menarik dari daya tahan para penduduk pesisir. Mereka punya kapasitas adaptasi yang patut ditiru. Kampung nelayan dapat dijadikan salah satu sampel edukasinya.

Kampung Nelayan Modern

Untuk mewujudkan kampung nelayan modern, pranata asli menjadi fondasi utamanya. Meski berbingkai modern, justru keaslian akan menjadi diferensiasi kuat dalam mengangkat brand kampung nelayan. Brand ini yang nantinya sanggup mengangkat kawasan sekitar ke dalam atensi masyarakat di lingkup nasional.

Beberapa waktu lampau, rencana pemerintah beberapa waktu lalu untuk membangun kampung nelayan modern di Indramayu harus kita apresiasi. Karena, citra kampung nelayan yang selama ini dikesankan kurang layak dikunjungi karena beberapa konotasi dan stigma akan mulai hilang.

Meski demikian pemerintah tidak bisa semata-mata meninggalkan pranata asli nelayan Indonesia yang turun-temurun mewarnai kehidupan pesisir, seperti seremonial sedekah laut, kesetaraan, dan gaya nelayan yang ekspresif. Beberapa tradisi itu bagian dari persepsi masyarakat dalam menghadapi hidup sehari-hari. Barangkali itulah yang menjadikan mereka terus bertahan dengan profesi mereka sebagai nelayan.

Bolehlah misalnya belajar dari Sorrento Italia. Sebuah kampung nelayan yang telah berhasil ditransformasi menjadi kota menarik yang tidak barbau amis, bersih dari sampah, dan nelayan yang menjajakan menu kuliner dari ikan segar tangkapan mereka. Referensi di skala internasional seperti Sorrento akan memicu gairah bersaing di aspek produktivitas.

Namun kelemahannya, bila proyeksinya industri semata dan tanpa memasukkan perhitungan kearifan lokal, skema itu kurang bisa diterapkan di Indonesia pada jangka panjang. Karena, nelayan Indonesia memiliki khazanah nilai yang tentu saja berbeda dengan banyak nelayan di negara-negara maju.

Bila Anda berkunjung ke Alor NTT, misalnya. Sampai sekarang, masih ada nelayan yang bila pulang melaut, tak lupa ia membagi-bagikan sebagian hasil tangkapan kepada para tetangga. Tampak tidak ekonomis, tapi justru itu pranata penting yang tetap menyatukan mereka seperti keluarga.

Pranata memuat banyak hal seperti adaptasi zaman, dan warisan nilai dari masa lampau. Oleh karena itu, aspek kesesuaian periodik menuntut kita terus beradaptasi agar tidak ketinggalan ritme masa. Dan modernitas bukanlah alasan kita meninggalkan tradisi. Keduanya tidak untuk dipisahkan secara diametral. Karena, keberhasilan meramu dua hal tersebut justru memberi ruang segar baru bagi dunia.

Sekarang ini era di mana manusia kelebihan informasi. Mereka membutuhkan autentisitas dan originalitas. Pranata asli nelayan dapat memiliki nilai tambah secara ekonomi bila mampu menarik pengunjung. Bukan hanya secara fisik kampung nelayan modern, tapi juga karena filosofi hidup nelayan. Apalagi kita ini kan bangsa pelaut yang namanya pernah sangat mendunia.