Pasar Kliwon, Haul, dan Bani Alawiyyin

Foto: Pemkot Surakarta

Ada pemandangan yang berbeda di Surakarta, tiap kali menjelang tanggal 20 Rabiuts Tsani Hijriah. Hampir semua penginapan di Surakarta, dengan ragam kelasnya diisi oleh para peziarah, para murid, para muhibbin atau ‘para pecinta’. Jalanan dan penginapan dipenuhi pemandangan kerumunan orang dengan pakaian-pakaian khas santri atau khas timur tengah, dengan gamis, sarung, baju takwa dan penutup kepala, songkok, peci, surban, dan lain sebagainya. Tepat pada tanggal tersebut, digelar hajatan besar oleh keluarga salah seorang ulama keturunan Nabi Muhammad Saw., untuk memperingati ‘haul’ atau hari kewafatan buyutnya, yang bernama Habib Ali bin Muhammad al Habsy.

Habib Ali bin Muhammad al Habsy yang lahir di desa Qosam, Hadramaut Yaman pada 24 Syawal 1259 H/1839 M, dikenal sebagai guru dari banyak ulama pada zamannya, selain dikenal sebagai penulis buku puji-pujian kepada Rasulullah Saw. yang diberi nama Maulid Simtut Dhuror yang dibaca luas di kalangan umat Islam. Guru Ijai atau Tuan Guru Zaini Abdul Ghani dari Martapura adalah salah satu yang rutin membaca Maulid karangan Habib Ali ini, bersama dengan ribuan jamaahnya.

Namun beda dengan tahun-tahun sebelumnya, pada tahun 2020 ini, masih dalam situasi yang kurang kondusif karena faktor Pandemi Covid-19, dengan kebijaksanaan yang patut dicatat, keluarga Habib Ali al Habsy di Surakarta memutuskan untuk tidak menggelar acara rutin haul, yang biasanya dihadiri oleh ribuan orang dari penjuru Indonesia. Tepat di Masjid Riyadh kampung Gurawan puncak acara itu berlangsung, tempat di mana salah seorang putra Habib Ali bin Muhammad al Habsy yang bernama Habib Alwi bin Ali Al Habsy tinggal dan mendidik santri-santrinya. Majlis di Gurawan ini yang kemudian dilanjutkan oleh putra Habib Alwi dan cucunya sampai sekarang, seperti Habib Anis bin Alwi bin Ali bin Muhammad al Habsy, ulama yang dikenal murah senyum itu.

Seperti banyak kota besar lain di Indonesia, wilayah Surakarta, baik wilayah kuna pada masa Kerajaan Surakarta, atau wilayah Pemerintahan Kota Surakarta hari ini, menjadi basis penting perjumpaan Islam dengan tradisi lokal, tradisi Jawa khususnya. Perjumpaan-perjumpaan ini melibatkan banyak komunitas, etnis, dan individu-individu penting. Satu diantaranya ialah komunitas etnis Arab dari Bani Alawiyin atau anak cucu Nabi Muhammad Saw.

Banyak catatan menyebut bahwa anak cucu Nabi Muhammad Saw. tidak menetap dalam satu wilayah, mereka menyebar dari tempat asalnya Madinah, ke banyak wilayah di dunia ini. Dari benua India, Afrika, sampai dengan benua Asia dan Amerika, dari tanah Persia, sampai Eropa, termasuk Nusantara atau Indonesia. Salah satu tujuan dari perjalanan Bani Alawiyyin adalah pulau Jawa. Sehingga di wilayah pulau Jawa manapun, Anda bisa dengan mudah menemukan komunitas keturunan Nabi Muhammad Saw. ini, baik di kota atau di pelosok daerah, dari Jakarta sampai Banyuwangi, dari Jogja sampai dengan Semarang. Walisongo, dewan ulama yang dikenal sebagai pendakwah Islam pertama di pula Jawa, juga bagian dari bani Alawiyyin.

Salah satu daerah di Jawa yang ramai menjadi tempat para keturunan Nabi Saw. ini hidup, tinggal, berkumpul dan berdakwah adalah wilayah Surakarta. Tapi dari banyak tempat di Surakarta, ada satu tempat yang menjadi semacam titik kumpul dari para Bani Alawiyyin ini, yang berada tidak jauh dari pusat kekuasaan saat itu, yaitu kraton Kasunanan Surakarta. Tempat itu bernama Pasar Kliwon atau sekarang masuk di dalam wilayah Kecamatan Pasar Kliwon, berada tepat di sebelah Timur Kraton. Ada ratusan keluarga cucu Nabi Muhammad saw. yang tinggal di wilayah ini. Di antaranya adalah Keluarga Habib Ali al Habsy, seperti Habib Anis al Habsyi, dan ayahnya Habib Alwi bin Ali al Habsy. Termasuk pelantun kasidah dan shalawatan ternama, Habib Syekh bin Abdul Qodir Assegaf, satu di antara banyak cucu Nabi Muhammad Saw. yang tinggal di sana. Ayah Habib Syekh Assegaf yang bernama Habib Abdul Qodir Assegaf, juga dikenal sebagai ulama terpandang, yang menjadi imam tetap Masjid Bani Alawiyyin paling tua di Pasar Kliwon, Masjid Assegaf. Sekarang kedudukan Imam Masjid Assegaf diampu oleh putra Habib Abdul Qodir Assegaf yang lain, bernama Habib Jamal bin Abdul Qodir Assegaf.

Sebelum Surakarta dikenal sebagai kota asal pelantun Sholawat dan kasidah ternama, Haddad Alwi dan Habib Syekh bin Abdul Qodir Assegaf, Surakarta sudah menjadi tujuan para pencari ilmu yang hendak berguru kepada ulama dari kalangan Alawiyyin atau Bani Sadah. Nama-nama seperti Habib Abu Bakar Assegaf, Habib Alwi bin Ali Al Habsyi, dan Habib Abdul Qodir Assegaf, sudah menjadi tujuan dari para pencari ilmu dan keberkahan para keturunan Rasulullah Saw pada masa itu. Banyak murid berdatangan untuk mencecap ilmu dari para guru keturunan Rasulullah Saw. ini.

Sebenarnya jika diurut lebih jauh, pengaruh Bani Alawiyyin sudah ada atau bahkan sudah kuat menancap jauh sebelum pemerintah Kota Surakarta ada, atau sebelum Kasunanan Surakarta berdiri, yaitu pada masa Kerajaan Kartasura atau bahkan masa sebelumnya, pada masa Kasultanan Pajang, yang sisa peninggalan keratonnya masih ada sampai hari ini, berada di daerah Pajang Laweyan, dan Kartasura Sukoharjo.

Sebagian dari penanda pengaruh bani Alawiyyin ini adalah adanya kampung yang diberi nama “Saripan”, merujuk pada kata “Syarif” dalam bahasa Arab. Berada tidak jauh, sekira satu kilo meter dari kraton Kartasura, terdapat komplek pemakaman para ulama yang disebut Hastana Praci atau dikenal dengan nama lain “Makam Haji” atau “Aji”. Di pekuburan ini dimakamkan jasad para ulama penting, kiai-kiai berpengaruh pada zamannya, seperti Syekh Abdul Qodir yang disebut sebagai salah satu guru spiritual Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir, Sultan Pajang, kemudian Kiai Zahid bin Jayan Iman, Kiai Idris Jamsaren bin Zahid mursyid tarekat Syadziliah pengasuh Pesantren Jamsaren, Kiai Irsam bin Zahid, Kiai Dimyathi bin Irsam Kepala Madrasah Mambaul Ulum, Kiai Siradj bin Umar Panularan Pimpinan laskar ulama Sabilillah atau buyut dari Kiai Yahya Cholil Tsaquf Katib Am PBNU, lalu Kiai Abu Amar menantu Kiai Idris Jamsaren, Kiai Ma’ruf Mangunwijata Mursyid Syadiliah penerus jalur tarekat Kiai Idris Jamsaren, Kiai Muhammad Ghozali pendiri Yayasan Pendidikan Al-Islam, Kiai Ali Darokah bin Kiai Abu Amar, Kiai Ahmad Musthofa Daris pendiri Pesantren Al-Qur’any Mangkuyudan Surakarta, dan Prof. KH. Mohammad Adnan, pendiri Sekolah Tinggi Agama Islam yang menjadi cikal-bakal Universitas Islam Negeri di Indonesia.

Di antara ribuan nisan yang ada di pemakaman Praci tersebut, ada satu komplek makam khusus, dengan cungkup atau bangunan berbentuk rumah, ada pintu, beratap dan berdinding lengkap, sangat terawat, yang berada di sebelah Utara masjid Saripan. Di dalam cungkup makam itu dimakamkan para ulama penasehat Raja Amangkurat IV dari Bani Alawiyyin. Raja Amangkurat adalah salah satu penguasa Kerajaan Kartasura. Dalam catatan sejarah, Amangkurat IV merupakan ayah dari empat tokoh penting dalam sejarah kerajaan Mataram Islam. Empat tokoh itu adalah, Sinuhun Paku Buwana II pendiri Kasunanan Surakarta, Mangkunegara ayah pendiri Puri Mangkunegaran, Mangkubumi atau Hamengkubuwana I pendiri Kasultanan Yogyakarta dan putra Sulung yang bernama Kiai Nur Iman Mlangi, pendiri pesantren Mlangi.

Penduduk sekitar menamai komplek makam bercungkup itu dengan makam Mbah Sarip, atau Mbah Syarif. Tokoh yang dimaksud adalah Syarif Husain bin Ibrahim Al Haddad, Syarif Muhsin bin Ibrahim al Haddad dan Syarif Alwi bin Ibrahim Al Haddad. Selain dikenal sebagai penasehat kerajaan Kartasura, para syarif ini juga dikenal sebagai leluhur dari banyak ulama yang ada di wilayah Surakarta.

Kata “Sarip” atau “Saripan” merujuk pada istilah “Syarif” atau “Syarifain” untuk menyebut ulama yang diyakini sebagai keturunan Rasulullah Muhammad Saw. Selain istilah “Syarif”, saat itu juga lazim digunakan istilah lain yang kurang lebih maksudnya sama, yaitu istilah “Sayyid” atau “Sayyidan”, sebutan yang disematkan kepada keturunan Rasulullah Saw. yang berarti “tuan” atau “yang dipertuan”. Setau saya, ada di Jogjakarta, ada daerah yang diberi nama “Sayidan”, barangkali merujuk pada pengertian yang sama, tempat di mana dulu pernah ada keluarga Nabi Muhammad Saw. tinggal.

Sebenarnya ada banyak sebutan yang berlaku di tiap-tiap daerah, seperti “Yik”, “Ndoro Ayik” untuk istilah “Sayyid”, atau “Yip”, “Ayip”, dan “Kang Ayip” untuk istilah “Syarif”. Hal ini karena dipengaruhi oleh cara pengucapan yang berbeda di tiap-tiap daerah, tergantung pada gaya atau dialek bahasa setempat. Namun hari ini ada sebutan yang lebih mudah diucapkan dan hampir merata digunakan, yaitu sebutan “habib” atau “habaib”.

Ada penjelasan yang menerangkan bahwa perbedaan “Syarif” dan “Sayyid” ada pada pangkal dari garis jalur keturunannya. Sebutan “Syarif” digunakan untuk menyebut cucu Rasulullah Saw. dari jalur keturunan Sayyidina Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra. Sedangkan istilah “Sayyid” untuk menyebut keturunan dari Sayyidinan Husain bin Ali bin Abi Thalib ra. Sayyid Hasan dan Sayyid Husain adalah putra dari Sayyidah Fathimah Az-Zahra binti Rasulullah Muhammad Saw. Sekarang penggunaan istilah “syarif” dan “Syarif” sudah jarang ditemui, kecuali di daerah-daerah tertentu, seperti Magelang, Cirebon, Semarang, Rembang, dan lain sebagainya, seperti disebutkan di atas, sekarang ini sebutan itu sudah diganti dengan sebutan lain, yakni “Habib”.

Banyak sekali keturunan Rasulullah Saw. yang hijrah dari tempat kelahirannya di Hadramaut Yaman, menuju Nusantara. Gelombang pertama adalah dewan ulama pendakwah Islam yang kita kenal dengan Walisongo. Walisongo disebut sebagai ulama keturunan Nabi Muhammad Saw. dari jalur keturunan yang sempat singgah di India, lalu melanjutkan perjalan ke Nusantara. Lalu gelombang kedua adalah keturunan dari keluarga Nabi Saw. yang langung datang dari Hadramaut, Yaman, dengan fam atau tanda keluarga yang beraneka ragam itu, ada al Habsy, Assegaf, al Jufri, al Haddad, al Idrus, al Kaf, Mulachela, al Aidid, al Attas, Bin Syekh Abu Bakar, bin Yahya, dan Ba’abud. Keturunan dari keluarga Ba’abud, tercatat dalam sejarah perjuangan Pangeran Diponegoro sebagai pendukung Pangeran dari Kasultanan Jogjakarta itu.

Dengan mengetahui sejarah kedatangan Walisongo dan keturunannya, sekaligus sejarah para Habaib dari Hadramaut dan keturunannya, maka kita menjadi paham alasan kedekatan para Kiai dengan Habaib hari ini. Sebab masing-masing dari mereka sebenarnya berasal dari garis keluarga yang sama. Kebanyakan para ulama, Kiai, Ajeungan atau Tuan Guru adalah anak turun dari Walisongo, dan pendakwah awal dari kalangan keluarga Nabi Muhammad Saw. artinya keduanya, para habib dan kiai adalah keluarga, berasal dari sumber yang sama, yakni keluarga dari anak cucu Rasulullah Muhammad Saw.

Tokoh-tokoh muslim seperti Kiai Hasyim Asy’ari dan Kiai Ahmad Dahlan, disebut juga berasal dari garis keturunan atau nasab keluarga anak turun Walisongo, keduanya bertemu dalam garis nasab Sunan Giri. Masih banyak kiai-kiai lain yang memiliki hubungan darah atau nasab yang menyambung kepada Syarif atau Sayyid yang datang pada awal penyebaran Islam di Nusantara, yang menjadi jawaban mengapa persaudaraan antar ulama begitu kuat sampai hari ini.

Add Comment