Kronik, Resistensi, dan Kerja Literasi

Foto: Calonmahasiswa.com

Sebagai bagian terpenting dalam membentuk suatu kesadaran, wajar apabila ingatan kerapkali menjadi objek rekayasa sosial. Ketika berkembang dalam suatu cakupan yang lebih luas, ingatan dibakukan sebagai ilmu sejarah. Pada sejarah, berlaku suatu kesepakatan tidak resmi sekaligus tidak tertulis: ditulis, ditujukan, dan diabadikan untuk sang pemenang.

Lazim jika menemui sejarah terkadang berpihak atau memuat sifat tertentu dalam peristiwa yang ditulis. Sebab sang pemenang, jika memiliki kuasa tentu ingin mempertahankan kedudukannya. Perspektif inilah yang kerap dipakai untuk penulisan sejarah resmi negara. Namun, selalu ada resistensi di balik itu semua. Sebab, di setiap sejarah versi mereka yang berkuasa, ada sejarah yang melawan.

Di Amerika Latin kesadaran sejarah atau kesadaran historis yang resisten, kental muatannya pada tulisan-tulisan Eduardo Galeano. Jurnalis asal Uruguay ini ialah salah satu penulis yang paling getol mengupas sejarah imperialisme yang mempengaruhi kesadaran masyarakat Amerika Latin sampai hari ini. Ia konsisten menulis kronik-kronik sejarah negaranya sendiri serta negara-negara Amerika Latin lainnya.

Tulisan Eduardo Galeano tidak seperti karya sastra ataupun karya sejarah di arus utama. Justru karyanya diracik dari dua kategori itu. Gaelano menjadi visioner sekaligus futuristik karena dengan lihainya mampu mencampuradukkan gaya penulisan sejarah, esai, fiksi dalam setiap tulisannya. Namun dari semua elemen oplosannya itu, keahliannya meramu fakta sejarah yang ia tulis menahbiskan dirinya sebagai salah satu penulis tersohor di seantero Amerika Latin.

Sebagai catatan, Galeano tak pernah tunduk pada suatu rezim. Ia selalu melawan dengan tulisannya, dengan caranya, dan dengan pikirannya. Barangkali tak sekalipun terlintas di benaknya kehendak untuk berkuasa. Melalui segala upaya yang bisa ia lakukan sebagai jurnalis maupun sebagai sastrawan, ia terus melawan kezaliman seorang diktator. Dan sejarah menjelma senjata terampuh bagi prinsip melawannya itu.

Dalam suatu kesempatan, mendiang presiden Venezuela, Hugo Chavez memberikan buku gubahan Eduardo Galeano yang berjudul Open Veins in America Latin pada mantan presiden Amerika Serikat, Barrack Obama. Buku itu mengisahkan sejarah penindasan yang dialami masyarakat Amerika Latin. Termasuk di dalamnya ada peranan Amerika Serikat yang begitu dominan memainkan peran sebagai pawang imperialisme modern di benua itu.

Peristiwa itu tak urung segera beredar dan menjadi fenomenal. Tak ketinggalan Buku Galeano turut mengalami pencarian yang signifikan. Open Veins In America Latin jadi begitu dicari, dibaca, dan didiskusikan oleh masyarakat di negara dunia ketiga. Galeano pun mulai dikenal di luar Amerika Latin. Karya-karyanya mengilhami banyak aktivis cum penulis lainnya dalam menyikapi peristiwa sosial dan ekonomi-politik yang berkaitan dengan kecenderungan global.

Selain ketelatenannya merawat prinsip sejarah dan idealisme sastrawinya, yang juga patut diapresiasi dari Galeano adalah metodenya mendokumentasikan peristiwa sejarah. Ia bisa mengarsip banyak dokumen bersejarah lalu mengolahnya dalam bentuk tulisan yang khas. Itu mustahil bisa berjalan apabila perspektif sejarahnya tak dirawat dalam suatu determinasi tingkat tinggi. Hasilnya pun mujarab, ia telah menghasilkan 23 buku sepanjang hidupnya. Di mana sebagian besar menampung realitas historis dari benuanya sendiri.

Di Indonesia, penulis atau sastrawan yang identik dengan kerja pendokumentasian seperti Galeano ialah Pramoedya Ananta Toer. Pram, sapaan akrabnya, penulis yang tekun dengan kerja pengarsipan. Sehari-harinya ia lebih rutin membaca koran daripada membaca buku. Tindak lanjutnya, ia mengkategorikan berita yang ia baca lalu dikliping dalam suatu tempat. Kerja ini disebut Pram sebagai kerja etnografis : kerja yang memetakan perilaku masyarakat dalam peristiwa sehari-hari di suatu tempat.

Menurut Muhidin M. Dahlan dalam wawancaranya bersama Lembaga Pers Mahasiswa Ekspresi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), ia mengatakan bahwa Pram tipikal sastrawan yang tidak bergerak dari kota ke kota. Pram lebih memilih bergerak dari koran ke koran. Pram juga tidak bergelut dengan isu sastra, menurut Muhidin. ”Kerja Pram sangat teknikal,” ujarnya.

Sebagaimana Galeano, lewat karyanya Pram selalu punya ketegasan sikap dalam melawan. Pada suatu wawancaranya bersama jurnalis kontoversial Andre Vtlchek –yang dibukukan dalam buku berjudul Saya Terbakar Amarah Sendirian– ia meletupkan dendamnya yang lama mengeram pada Orde Baru dan juga segala pandangannya tentang politik. Dan rupanya sampai sejauh itu, ia tak mengendur satu jengkalpun. Pram tetaplah Pram.

Sepanjang hayatnya, Pram sudah merasakan dinginnya bui selama tiga kali : Di era kolonial, di era Soekarno, dan era Soeharto. Dari semua periode itu, tentu Orde Baru yang paling lama merampas waktunya, 16 tahun. Bagi Orde Baru yang telah merampas hak kewargaannya mungkin itu dianggap sebagai ongkos dari praktik politik. Tapi bagi Pram, itu lebih dari sekedar biaya sosial. Usia produktifnya adalah fragmen penting dari fase kehidupannya selama ini.

Novel Pram, terkenal bernas karena sifat historisnya. Salah satu karya monumentalnya, Tetralogi Buru bahkan ditulis hanya dengan ingatannya ketika masih menjadi tahanan politik di Pulau Buru. Karya-karya Pram yang dihasilkan dari Pulau Buru ini menunjukkan bahwa ingatannya masih terus bekerja untuk melawan. Dalam benaknya tersusun sejarah yang berbeda dari apa yang direka oleh penguasa.

Lalu, sekalipun Pram pernah mendapat tempat yang layak di era Orde Lama, di bawah organisasi Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), ia masih melawan. Pertarungannya di masa itu melibatkan sastrawan-sastrawan yang tergabung dalam kelompok Humanisme Universal. Pertarungannya ini bukannya tanpa alasan. Kelompok Humanisme Universal yang menamai dirinya sebagai Manifesto Kebudayaan (Manikebu) ini dianggap punya relasi dengan jaringan intelektual dari Amerika Serikat. Ia melawan sesuatu yang ada di belakang kelompok itu, Kapitalisme-Imperalisme.

Pada masa-masa sesudah Pram wafat, barulah fakta itu terbongkar. Ternyata, keberadaan kelompok Manikebu ini memang disponsori oleh Blok Barat untuk konteks kepentingan Perang Dingin. Dalam buku yang berjudul Kekerasan Budaya Pasca 65, terkuak fakta bahwa ada tokoh-tokoh penting dalam Kelompok Manikebu yang memiliki keterlibatan penting dalam perang kebudayaan di momen Perang Dingin. Di Indonesia Kelompok Manikebu dan Lekra saling merepresentasikan aliran ideologi yang bertarung di masa itu.

Pram agaknya sadar betul, apa makna ingatan bagi pihak-pihak tertentu. Ia juga memahami apa arti sejarah bagi mereka yang berkuasa. Maka, ketika Pram punya peran penting dalam arus kebudayaan di Indonesia, ia menorehkan perhatiannya pada sejarah dengan menulis teks pidato panjang berjudul, Sejarah Indonesia Modern. Sewaktu ia diberi panggung dan tempat di Orde Lama, ia tengah menyusun proyek sejarah besar yang dinamai Kronik Revolusi Indonesia.

Galeano dan Pram, dengan kata lain, berupaya membangun ulang sejarah dari perspektif kritis. Mereka berdua berasal dari negara bekas jajahan dunia pertama. Keduanya juga sangat menentang darwinisme sosial yang digalang para negara-negara adidaya. Sikap tersebut, termuat pada karya-karya mereka.

Dalam karya Galeano yang berjudul Open Veins In America Latin, ia menuliskan kronik imperialisme yang bermula dari niatan awal pemberadaban suku-suku terbelakang di benuanya. Imperialisme yang dimaksud oleh Galeano ini adalah bentuk dari darwinisme sosial yang berasumsi bahwa evolusi di daerah tertentu belum mencapai puncak. Dan Amerika Latin menjadi salah satu tempat yang dituju.

Sedangkan Pram punya cara unik untuk mengungkap ketidaksukaannya pada cara-cara pemberadaban ala kolonialisme. Dalam empat novel Tetralogi Buru, ia menempatkan tokoh utamanya bernama Minke sebagai protagonis yang membuka tabir muram kolonialisme di Hindia Belanda. Minke, oleh banyak kritikus sastra, disebut sebagai bentuk sublim dari kata pelecehan yang jamak dilakukan para kolonialis Belanda terhadap penduduk asli tanah Hindia, yaitu Monkey.

Bukan kebetulan apabila Galeano dan Pram punya banyak kemiripan. Mereka dua sosok penulis kronik yang sesungguhnya dibutuhkan oleh negaranya masing-masing. Keduanya berasal dari negara-negara berkembang yang sering disebut sebagai negara dunia ketiga. Tatkala negaranya masih mencari jati diri, mereka berdua terus memberi sumbangsih literer meski dari kejauhan, dari sunyi, dan terkadang dari pengucilan.

Situasi demikian, membutuhkan suntikan daya hidup dari para penulis lainnya. Kerja keras serta prinsip resistensi dari Pramoedya Ananta Toer dan Eduardo Galeano adalah ketelatenan sekaligus keistimewaan. Ketika mereka mengabdikan diri demi pembangunan jati diri bangsanya masing-masing, warisan karya-karyanya tak layak berakhir menjadi endapan belaka. Dan hanya literasi yang bisa meniupkan semangat itu kembali.

Ketika menghidupkan semangat kronik itu, kita mesti berkaca bahwa kita hidup dalam narasi yang berbeda. Kita, generasi termutakhir, hidup pada narasi zaman yang serba sepenggal-sepenggal. Tak utuh. Rumit. Terpecah-belah seperti kaca benggala. Sedangkan kedua penulis tadi hidup dalam narasi serba besar. Mereka melawan sebuah kelas. Sebuah entitas. Sebuah ideologi.

Kini kita dihadapkan pada kerumitan yang serba tak pasti. Simpang siur di mana-mana dan krisis verifikasi di sana-sini. Ketika literasi dihadapkan pada situasi demikian, kronik menjadi cara terbaik yang bisa dilakukan. Ia bisa dilakukan secara kolektif bersama-sama. Dengan menyusun kronik, kita membangun narasi yang terpecah-pecah tadi menjadi suatu bentuk yang utuh. Dan sejarah yang tersusun dari kronik itu, berfungsi mengingingatkan kita pada satu afiliasi identitas kolektif kita: bangsa.