Kepemimpinan Surakartan

Foto: Swiss-bell Hotel

Isu kepemimpinan selalu relevan diangkat jika mengingat ada konteks yang kompleks dan menyertai di belakangnya. Isu kepemimpinan selalu bisa diangkat dalam situasi dan ruang tertentu di mana kepemimpinan dibutuhkan untuk mengangkat kesejahteraan masyarakat. Dalam konteks kedaerahan, kepemimpinan membutuhkan pembacaan yang tepat sasaran dan tepat guna, agar daerah tak meninggalkan identitasnya ketika mencoba lebih berdikari di tataran yang lebih tinggi.

Surakartan atau semua wilayah eks-Karesidenan Surakarta telah saatnya melahirkan kepemimpinan representatif yang mampu mengayomi semua kepentingan promosi daerah. Momentum Pilkada belakangan telah menghasilkan pemimpin baru. Ini waktu di mana kepemimpinan daerah yang memadukan Tradisionalisme Surakartan dan modernisme global lahir menciptakan kemajuan daerah yang berbasis kearifan lokal.

Bagi saya pribadi, pada waktu lampau polemik tagline ‘Spirit of Java’ adalah tetenger penting melahirkan kepemimpinan di tingkat Surakartan. Saya tidak melihatnya sebagai ketidaksukaan salah satu daerah kepada daerah lain. Saya juga menilai, dinamika ini penting bagi persatuan Surakarta. Karena itu, Kepemimpinan Surakartan hadir di dalam konteks ini untuk menyatukan kebutuhan identitas dan potensi yang masih belum teraba.

Bagi saya penting untuk semua kalangan menatap jauh ke masa depan Surakarta dengan mereferensi sejarah penting pemersatu kawasan Surakartan. Dengan begitu, ego sektoral tidak lagi relevan menyelesaikan masalah. Alhasil, semangat kolaborasi pada waktunya akan menyatukan semuanya.

Kawasan Surakartan memiliki kesamaan budaya dengan Kota Solo sebagai punjer, karena ada keraton. Meski demikian daerah non-Kota Solo sangat berpengaruh pada lestarinya peradaban Jawa yang adiluhung tersebut. Legasi tradisionalisme ini adalah hal penting yang menjadi ciri khas. Dan tidak semua daerah memiliki keistimewaan ini.

Namun perlu juga diingat, belakangan interaksi sosial ekonomi yang selama ini terjadi antara warga di kawasan Surakartan adalah simpul pemersatu selain budaya. Mereka saling bersua lantaran susah diurai karena saling membutuhkan.

Kebersamaan di level akar-rumput tidak dapat disangkal eksistensinya. Nah, branding daerah tentu saja harus dapat merepresentasi dinamika yang ada, bukan malah berpisah dengan realitas. Branding harus jujur dan bernada optimis, tanpa muatan destruktif atau lebih meninggikan kalangan tertentu dan mengabaikan kalangan lain.

Saya kira kita semua, perlu mengetengahkan upaya yang pernah dilakukan untuk menyatukan Subosukowonosraten dalam orientasi promosi daerah manunggal. Upaya itu terbilang luput, karena tidak merepresentasi dinamika akar-rumput.

Ini saatnya kita semua berangkat dari interest akar-rumput untuk membersamai Surakrtan dan menemukan kembali kepemimpinannya. Kepemimpinan tersebut dapat lahir alamiah bila tidak dipolitisasi, karena sebenarnya warga sangat merindukannya.

Alangkan lebih baiknya, pihak yang punya wewenang lebih, menghimbau kepada semua kalangan untuk kembali pada Pranata Surakartan, sebuah tata nilai yang diakui sebagai fondasi kemasyarakatan kawasan istimewa ini. Pranata tersebut secara turun-temurun dijaga, dan tidak lekang oleh zaman.

Sebagian kita lupa bahwa Jawa meyakini unggah-ungguh, tepo seliro, dan handarbeni sebagai pranata penting membangun masyarakat. Kepentingan promosi daerah tidak terlepas dari cara warga saling memiliki dengan dasar welas asih dan kamanungsan yang tidak dibuat-buat. Selain itu Kepemimpinan Surakarta dapat direpresentasi oleh tokoh atau kelembagaan. Namun, satu yang pasti, kepemimpinan ini tidak lantas mencederai saling percaya rakyat Surakarta yang telah saling memiliki sejak lama.

Add Comment