Kekerabatan dan Takdir Institusi Sosial

Don Corleone pertama punya wibawa yang menyatukan banyak perbedaan. Namun, caranya kerapkali meresahkan. Lazim ia menggunakan kekerasan untuk menuntaskan silangsengkarut beberapa hal yang bertolakbelakang dengan kepentingannya. Meski ia punya wibawa yang pantang surut, rupanya ia tak selamanya mementingkan egoisme pribadi. Bahkan, tak satu dua kali, ia memprioritaskan keluarga demi mempertahankan roda organisasinya.

Lain anak lain ayah. Michael Corleone, Sang Don kedua, rupanya lebih dingin dari sang ayah, tak mengindahkan keutuhan keluarga, dan sangat terpaku pada perputaran bisnisnya. Di film Godfather kedua, ia mesti kehilangan beberapa sanak saudaranya, termasuk kakak kandungnya, lantaran mengutamakan dendam dan kepentingan bisnis. Ini berbeda dengan ayahnya, yang sangat mengutamakan relasi, kekeluargaan, serta rela melakukan sesuatu dari permintaan orang-orang terdekatnya.

Takdir dua Don ini berujung pada akhir yang berbeda di antara keduanya. Resiko dari keputusan mereka berdua pun juga tak sama. Ambisi yang bertolakbelakang pun melatari jalan hidup yang berbeda pula. Kendati begitu, keduanya selalu dihadapkan pada kenyataan yang kurang lebih sama: mengutamakan keluarga atau kekuasaan belaka.

Pada film Godfather kedua dan ketiga, Michael Corleone yang diperankan oleh Al Pacino ini selalu berdalih keluarga adalah prioritasnya. Namun, keputusannya selalu dipertentangkan oleh istrinya sendiri. Sang Istri mengira, itu tak lebih dari bujuk rayu pemanis kata. Pada akhirnya, klimaks pertengkaran rumah tangga mereka diakhiri oleh sang istri Don yang memilih menggugurkan kandungan dan lantas meninggalkan sang Don. Tamparan dari tangan sang Don melayang ke pipi istrinya sendiri. Perpisahan menjadi peluruh konflik ini.

Di Godfather ketiga, titik nadir sang Don kedua datang. Anak bungsu yang paling disayanginya tertembak oleh algojo rival bisnisnya. Ia menangis, meraung tak terkendali. Sang Istri yang menyaksikan kejadian ini membeku. Agaknya baru kali ini ia melihat betapa sang bekas suami betul-betul meluapkan ekspresi kekeluargaannya yang terdalam. Pada adegan ini, kita melihat bagaimana opsi mengutamakan keluarga mengarahkan nasib kedua Don pada jalan yang berbeda.

Penutup film legendaris ini mempertunjukkan kematian yang bertaut dengan dramatisme dan tragisme. Jika Don pertama mati dengan meninggalkan penerus dari darahnya sendiri dan berhasil menyelesaikan sisa dendam pesaing bisnisnya. Malah, sang Don kedua mesti melihat kerajaan bisnisnya diteruskan oleh anak dari kakak pertamanya, lantas menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, anak bungsunya mati tepat di depan matanya. Don Pertama mendapat dramatisme, Don Kedua tertimpa tragsime. Itu semua terjadi karena keputusan yang diambil tentang keluarga.

Di Indonesia, film pendek Lemantun karya sineas muda Wregas Bhanuteja, menggali keintiman sebuah keluarga Jawa. Dalam film ini, tragisme dan dramatisme melebur. Kedua elemen ini menyatu, sehingga adegan dalam film ini seakan meleburkan keduanya dalam dialog keluarga yang terlihat natural. Realisme bahasa yang diangkat oleh kreator, membuat pesan dari film ini dapat ditafsirkan dalam sudut pandang yang pusparagam.

Film ini dibuka dengan adegan pertemuan sebuah keluarga yang diisi lima anak dan seorang ibu tunggal. Kelima anak diceritakan memiliki pekerjaan yang berbeda. Empat dari lima anak digambarkan mengantungi gelar sarjana kecuali anak ketiga. Keempat anak itu diilutrasikan memuat kecenderungan karakter yang berbeda, namun punya satu tipikal yang terselubung: berharap lebih pada warisan ibunya dan sama-sama menaruh perhatian pada materi.

Tegangan dialog dalam film yang naik turun ini mulai menanjak kala ibunya mewariskan pelbagai lemari peninggalan mendiang suaminya ke anak-anaknya. Ada beberapa anaknya yang terheran-heran. Tapi ada juga yang menerima apa adanya. Perbedaan itu kemudian melebur ketika di salah satu scene film didapati kesemua lemari itu berakhir di tempat yang sama, kecuali lemari milik anak ketiga.

Film yang berdurasi kurang dari 22 menit ini secara umum menceritakan bagaimana seorang ibu, sebagai matriark dari sebuah keluarga, berupaya membuat semua anaknya dapat mengatasi peninggalan keluarga. Cara-cara mereka tidak dipertanyakan dan juga tidak digambarkan. Mungkin dengan cara itu sang Ibu ingin dianggap dapat mengikhlaskan semua jalan hidup yang ditempuh anak-anaknya.

Keluarga dalam film ini, ditampilkan dengan sangat menonjol dari awal. Keluarga adalah premis utama yang coba diangkat melalui perantara sebuah simbolisme lemari. Dalam lemari yang jadi warisan bagi semua anaknya, ada pesan terpendam yang nampaknya hendak disampaikan seperti teka-teki kepada penonton. Terlebih, lemari dan keluarga dalam Lemantun seperti menyatu dalam senyawa cerita. Lemari adalah keluarga, dan keluarga adalah lemari. Meninggalkan lemari rumah, sama seperti meninggalkan keluarga.

Dua film berbeda genre dan format yang dibahas dalam tulisan ini, memiliki potongan yang saling bertemu, yakni keluarga. Mereka dihadapkan pada pilihan antara keluarga dan materi. Ada yang ditampilkan memilih keluarga. Ada juga yang mengambil materi sebagai prioritas hidupnya. Kedua hal ini, keluarga dan materi, merupakan hal yang menjadi dilema kebanyakan dalam realitas hidup keluarga di sekitar kita. Kedua hal ini juga mempengaruhi cerita sehari-hari masyarakat kita pada level yang lebih luas.

Lain dari itu, sistem kekerabatan dalam sebuah institusi apapun, memang menuntut adanya komitmen para pelaku di dalamnya. Sebab, kekerabatan adalah variabel yang tidak tergantung. Ia mempengaruhi laku hidup, dan akan menentukan bagaimana nasib sebuah institusi. Sama halnya dengan institusi keluarga, ketika komitmen kekerabatan itu tak lagi konsisten berjalan, keutuhan terancam, tapi apabila komitmen kekerabatan itu terus diupayakan dengan cara apapun, ia beradaptasi dan mengalir dalam tiap diri individu yang ada di dalamnya.

Lagipula, kenyataannya keluarga adalah institusi tertua di dunia. Dari keluarga, peradaban kecil diawali. Dari keluarga juga, manusia mengawali hidup. Karena itu, laku manusia ditentukan dari cara keluarga atau sistem yang ada di dalamnya menangani kenyataan hidup sehari-hari. Dengan itu, jalan hidup seseorang berkembang ke arah yang telah bertemu di antara gambaran diri sendiri dan juga takdir.*

 

*Tribut untuk Marlon Brando yang memerankan sosok Vito Corleone dengan sangat autentik