Identitas yang Terbelah: Refleksi Budaya Jawa

Foto: Phinemo.com

Wong Jawa atau orang Jawa atau suku Jawa dikenal memiliki sikap dan perilaku santun, ramah, rendah hati dan humanis. Sampai saat ini khususnya di daerah pedesaan, predikat tersebut relatif masih terjaga. Lebih dari itu Wong Jawa juga dikenal sebagai figur yang religius, penuh toleransi, narima ing pandum, suka menolong dan bergotong – royong. Tentu saja predikat itu tidak mutlak. Ada juga diantara orang jawa yang sikap dan perilakunya kurang menggambarkan ciri – ciri sebagai Wong Jawa.

Kehidupan Wong Jawa memang sarat dengan norma dan adat budaya yang diwariskan secara turun temurun dari para leluhur. Doktrin selama berabad – abad itu membentuk suatu sikap dan pandangan hidup. Norma dan adat budaya Wong Jawa sesungguhnya merupakan manifestasi dari aspek – aspek spiritual yang berkembang. Idealisme tentang bagaimana menjaga keharmonisan hubungan antara Sang Pencipta – manusia dan alam semesta. Pandangan hidup Wong Jawa dikenal dengan istilah “Memayu Hayuning Bawana”. Menjaga kelestarian alam/dunia beserta segala isinya.

Implementasi nilai – nilai budaya Jawa sangat melekat dan mewarnai kehidupan masyarakatnya. Dijabarkan dalam berbagai bentuk yang cukup konkret, antara lain: budaya menjalani “laku” sebagai bentuk panyuwunan kepada Tuhan; adanya simbol atau lambang dalam berbagai ritual; wejangan – wejangan yang disebut sabdatama; ila-ila atau ilah-ilah; paribasan dan sebagainya. Selain itu ada pula beragam seni-budaya yang adiluhung. Bentuk-bentuk penjabaran itu berfungsi sebagai “bingkai” dalam kehidupan masyarakat jawa sehari-hari. Wong Jawa meyakini bahwa norma budaya yang berfungsi sebagai bingkai itu dapat menciptakan keharmonisan dalam kehidupan masyarakat.

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sikap dan perilaku Wong Jawa pun berubah. Di zaman globalisasi sekarang ini segala sesuatunya dituntut serba cepat, praktis dan berbasis teknologi. Sebaliknya norma dan adat-budaya jawa dianggap rumit, kaku, bahkan tidak rasional. Banyak orang jawa yang kemudian kehilangan predikatnya sebagai Wong Jawa, karena sedikit demi sedikit mulai meninggalkan budayanya. Bahkan tidak sedikit pula orang jawa yang tidak lagi faham budaya jawa, tetapi justru sangat memahami dan bangga terhadap budaya bangsa asing.

Di kalangan masyarakat Jawa juga kental dengan hal-hal yang bernuansa metafisik, percaya pada mitos, ramalan dan hal-hal mistis lainya. Ada sebuah ramalan yang berkembang di tengah masyarakat Jawa yaitu “Wong Jawa Kari Separo” – “Wong Cina Kari Sajodho”. Ramalan itu dipercaya adalah karya dari Prabu Jayabaya, raja dari kerajaan Kediri yang bertahta pada tahun 1135 – 1157 M. Ramalan-ramalan Prabu Jayabaya ditulis oleh para pujangga Jawa secara turun-temurun.

Istilah “Wong Jawa Kari Separo” sering dimaknai secara kuantitas. Namun sebenarnya lebih berorientasi secara kualitas. Yaitu semakin berkurangnya pemahaman masyarakat Jawa terhadap nilai-nilai yang terkandung didalam budaya mereka. Berkurangnya pemahaman itu kemudian berpengaruh terhadap sikap dan perilaku. Sebagian masyarakat Jawa kemudian menganggap bahwa budaya jawa tidak harus “diugemi” dan dilaksanakan.

Memang cukup memprihatinkan melihat sikap dan perilaku sebagian orang jawa sudah berubah. Dalam momen-momen tertentu sering terjadi budaya Jawa seakan menjadi tamu dirumah sendiri. Tersisih oleh pernik-pernik pola kehidupan modern yang lebih populer. Sebagian orang jawa tidak lagi merasa terpanggil untuk mengekspresikan budayanya.

Pada dasarnya ramalan “Wong Jawa Kari Separo” merupakan sebuah pesan bagi Wong Jawa. Fenomena “Wong Jawa Kari Separo” berlangsung dalam rentang waktu yang tidak diketahui kapan dimulai dan kapan berakhir. Terlepas dari keyakinan yang dianut; norma dan adat budaya jawa adalah prinsip hidup Wong Jawa yang juga bersumber dari aspek-aspek religius. Norma dan adat budaya jawa tersebut terus bergulir seiring dengan perkembangan jaman dan saling mempengaruhi. Menyelaraskan antara eksistensi budaya jawa dengan berbagai perubahan yang terjadi ditengah perputaran roda jaman adalah tantangan tersendiri bagi Wong Jawa.

Konteks “Wong Jawa Kari Separo”, bisa jadi merupakan bahan kajian yang menarik. Orientasinya sangat kompleks menyangkut relevansi serta pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat luas dan Wong Jawa sendiri. Akankah nilai-nilai budaya Jawa sebagai “jati diri” Wong Jawa mampu bertahan hingga akhir jaman. Atau terkikis dan akhirnya habis, hilang disela perputaran roda perubahan. Segala sesuatunya berpulang kepada cara pandang dan sikap Wong Jawa terhadap kelestarian jati dirinya.