Gerakan Literasi Sebagai Penguat Perkembangan Desa

Foto: Infopublik.id

“Membaca membuka cakrawala dunia” kalimat tersebut sering kita amati atau renungkan, entah di ruang belajar atau bahkan di kepala anda semua, karena pentingnya membaca alias literasi bagi manusia. Slogan membaca sangat sering didengungkan dengan harapan kesadaran masyarakat dari akar rumput hingga ujung gunung memprioritaskan kebiasaan itu.

Melek literasi sangat penting menjadi sebuah kebiasaan di negara ini. Belum lagi, kuatnya pengaruh teknologi semakin mengurangi rasa ingin tahu melalui membaca buku, kadang membuat getir penjual buku di bawah pohon beringan –Gladak yang kian hari selalu merenung.

Untuk mencapai prioritas utama, dibutuhkan tenaga ekstra baik dari dalam ataupun luar diri untuk sekadar mempromosikan dampak baik membaca. “Moitivasi membaca,” kata kunci peningkatan kesadaran literasi melalui membaca. Siswa SD, SMP sampai kuliah selalu dibenturakan dengan buku. “Menyuruh untuk bisa membaca saja sudah cukup, apalagi menambah porsi diluar buku diktat.” Begitulah celotehan teman, yang mengabdi untuk jadi guru.

Dinukilkan dari Most Litered Nation In The World (MLNW), hasil studi pada tahun 2016 minat baca di Indonesia berada pada urutan ke 60 dari 61 negara yang diteliti. Revolusi Industri 4.0? Benarkah siap?

Di tengah sistem yang lumayan liberal ini, sistem pergulatan dunia dipaksa untuk menjadi bebas alias liberal. Kesiapan dan kesanggupan diserahkan sebebasnya oleh negara. Tidak siap? Bukan urusan mereka. Apabila pemerintah ataupun bagian dari masyarakat kurang bisa peka dan memberikan alternatif gerakan lain, ketergantungan dan jadi urutuan kedua atau keempat tidak bisa dipungkiri lagi adanya.

Intelektual. Peranan intelektual tidak bisa kita lepaskan untuk mengurai benang ruwat sebagai subjek untuk mengatasi problematika tertentu. Tidak hanya itu pula, masyarakat juga harus menjadi bagian subjek untuk bergerak bersama dengan kaum intelektual mendedah realitas sosial yang hampir terasa semu-semu nyata.

Intelektual dibutuhkan agar bisa bekerja sama dengan masyarakat dalam mengatasi suatu dinamika atau problematika. Melibatkan masyarakat sebagai bentuk penghargaan menjadi subjek di dalam dinamika sosial tentu sangat perlu. Masyarakat bukan lagi objek yang dicari salahnya atau bahkan yang menyebabkan masalah, melainkan subjek (masyarakat) berpartisapasi untuk bersuara terhadap masalah yang terjadi.

Sejatinya, setiap manusia mempunyai sebuah kemampuan dalam menciptakan pengetahuan dan perubahan. Proses untuk menciptakan perubahan dibutuhkan beberapa subyek untuk mendukung dan saling memperkuat satu sama lain. Kaum intelektual bukanlah menara gading yang dianggap elegan dan cerdas dibanding dengan mereka sering dirasa kurang beruntung untuk mengenyam pendidikan di Universitas.

Kemampuan analisis dan dialektika sehingga membangun nalar kritis, umumnya di Indonesia didapatkan ketika belajar di universitas. Sedangkan kebutuhan tersebut tidak dikhususkan kepada mereka yang beruntung bisa melewati studi di dunia kampus. Setiap masyarakat mempunyai hak untuk bisa mendapatkan esensi tersebut atau bahkan lebih baik dari yang ada di kampus.

Intelektual organik dibutuhkan sebagai penjembatan masyarakat terhadap ilmu dan pengetahuan. Maka dari itu, peran intelektual organik ini sangat dibutuhkan untuk menunjang dan memperbaiki buruknya kualitas minat baca di Indonesia.

Lalu gerakan apa yang harus dilakukan? Terjun ke masyarakat merupakan pilihan konkrit dibanding hanya diam disangkar pengetahuan dan lupa bagaimana kembali kemasyarakat untuk mencerdaskan dan mengamalkan ilmu yang telah mereka dapatkan.

Benturan kebudayaan karena semakin kuatnya pengaruh teknologi, memberikan dampak minat membaca masyarakat di Indonesia. Pemerintah ataupun masyarakat pada khususnya harus bisa terjun untuk memberikan langkah konkrit dalam mengatasi hal ini. Lekat dan bahaya kuat ditimbulkan dari social media kadang membuat malas konsumen media untuk meningkatkan pengetahuan umum.

Kebebasan ini mempunyai dua mata pisau atas keuntungan dan kerugian yang ditimbulkan. Manusia hari ini bisa dengan mudah mengamati kondisi negara lain dalam hitungan detik, tanpa harus menghabiskan uang dan waktu besar. Liberalisasi dalam sistem sosial ini, apabila tidak diimbangi dengan penguatan martabat dan etika ke-Indonesian akan membawa peradaban Indonesia semakin jauh dari konsep luhur pancasila. Dan anak menjadi korbannya.

Menurut (Aris Purwanto dan Sri Lestari;2020), gerakan kembali ke desa untuk memberikan fasilitas edukasi literasi sangat didukung oleh masyarakat. Tak lain, masyarakat sebenarnya prihatin dengan kondisi hari ini, di mana anak-anak kecanduan dengan gadget dan membuat mereka melakoni hari-harinya dengan sangat tidak produktif.

Di dalam penelitian tersebut juga menyampaikan bagaimana peranan secara psikologis untuk melakukan pendekatan kepada anak-anak di Dusun Jayan, agar bisa membawa anak-anak untuk isa belajar bersama di taman literasi baca yang dibangun oleh mahasiswa.

Nampaknya semangat Revolusi Industri 4.0 harus kita baca kembali. Revolusi Industri 4.0 bukan hanya tentang robot dan penguasaan modal dengan fasilitas uang plastik saja. Ada beberapa aspek tertentu seperti kebudayaan, moralitas, dan pancasila untuk tetap kita pupuk keberadaannya.

Jangan sampai negara ini malah dipupuk oleh ketergantungan yang mengakibatkan kita rendah dan mudah didikte oleh pihak berkepentingan dengan harap bisa menjadi ketergantungan secara total. Penguatan literasi diibaratkan sebagai alat bedah dan memperkuat rasa seperti yang diharapakan oleh Ki Hajar Dewantara agar dapat mengilhami kehidupan hari ini dengan penuh kebijaksanaan.